Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Posesif


"Mama, danan tulun tanda cendilian. Meding didendong Kei caja cini" ucap Kei seakan dirinya kuat untuk menggendong mamanya itu.


"Yang ada mama ngegendong kamu, Kei" ucap Lili sambil geleng-geleng kepala.


"Danan ladi dendong Kei. Atu belat, tacian adit teciltu" ucap Kei yang menjadi posesif pada Lili dan adik yang masih ada di dalam perutnya itu.


Lili langsung saja mengelus lembut kepala Kei dengan sayang. Pasalnya Kei ini sifatnya hampir sama dengan Aldo yang begitu posesif dengannya. Bahkan semenjak semalam ia memberitahu kalau ia tengah hamil, mereka begitu menjaganya.


"Ya udah, ayo kita gandengan tangan saja buat turun dari tangganya" ucap Lili yang langsung meraih tangan anaknya.


"Ciap. Ati-ati, mama. Pelan-pelan caja, ndak ada yang culuh cepat-cepat tok" ucap Kei yang terus saja memperingati Lili.


Lili hanya bisa menghela nafasnya pasrah saja mendengar cerewet dan posesifnya Kei ini. Apalagi kalau sudah bertambah Aldo, keduanya sangat kompak dalam urusan beginian. Saat sampai di bawah, Kei masih enggan melepaskan genggaman tangannya dari Lili.


"Tumben Kei sudah siap buat berangkat sekolah. Biasanya banyak alasan mulu kalau disuruh sekolah" ucap Mama Nei saat melihat cucunya sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Kei tan cudah dadi kakak. Ndak oleh manja atau akal ladi. Kei halus mandili, ndak oleh nyucahin mama. Kacian duga nanti mana pelutna mama tambah becal lho" ucap Kei yang kasihan melihat mamanya.


Lili dan Mama Nei begitu terharu dengan apa yang diucapkan oleh Kei itu. Pemikiran Kei yang begitu mengerti akan keadaan mamanya itu membuat Lili tak menyesal menikah muda. Apalagi mempunyai anak yang begitu luar biasa pengertian dan kasih sayangnya.


"Terimakasih anak mama yang tampan. Pokoknya mama akan selalu sayang sama kamu dan membahagiakanmu. I love you, Kei" ucap Lili dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lup yu tu, mama" ucap Kei yang langsung memeluk mamanya.


Lili tersenyum dengan langsung mencium pucuk kepala Kei begitu lama. Sungguh ia sangat bahagia dikaruniai anak yang begitu manis seperti Kei. Walaupun ia hanya ibu tiri, namun tak ada drama Kei yang tidak mau menerima dirinya.


"Pagi-pagi dah bikin mewek aja nih" ucap Mama Nei sambil mengusap sudut matanya yang basah dengan air mata.


"Oma ceneng" ucap Kei dengan sedikit meledek omanya itu.


"Ish... Orang lagi terharu gini kok. Masa dibilang cengeng sih. Merusak suasana sekali kamu itu, Kei" ucap Mama Nei kesal dengan cucunya itu.


Kei hanya terkekeh kecil mendengar gerutuan dari omanya. Kei langsung menggandeng mamanya untuk duduk di kursi makan. Mereka pun duduk di sana sambil berbincang seru sekalian menunggu yang lainnya berkumpul.


"Hari ini kamu nggak usah praktik di rumah sakit, Li. Setidaknya sampai mual-mualmu itu hilang" ucap Mama Nei.


"Mualnya kalau hanya pagi hari saja, ma. Kalau siang sampai malam kaya biasa saja. Cuma agak repotnya kok ini rasanya ingin ngemil yang segar-segar mulu ya" ucap Lili.


"Kamu yakin udah nggak mual? Kalau masalah kamu mau ngemil buah atau yang segar-segar gitu ya tinggal bawa dari rumah saja, Li. Nanti di sana bisa kamu makan, jangan lupa banyakin air minum" ucap Mama Nei memberikan pesan.


Lili menganggukkan kepalanya. Ia tetap akan melakukan praktik di rumah sakit sampai menjelang kelahirannya nanti. Apalagi waktu sepertinya juga cukup, apalagi ia memasuki jam praktik agak siang.


"Iya, ma. Lili yakin kalau bisa melakukan praktik seperti biasa" ucap Lili meyakinkan.


Mama Nei akhirnya menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Tentu saja ini karena mualnya biasa datang pagi pagi hari. Kalau siang sampai malam, ia biasa saja dan malah seperti orang yang tidak hamil. Setelah menunggu cukup lama, semuanya kini telah berkumpul di ruang makan.


"Banyakin makan sayurnya, Li. Ini juga susu hamil buat kamu" ucap Mama Ningrum yang langsung meletakkan susu khusus ibu hamil di depan Lili.


"Makasih, ma. Tapi ini mama kapan beli susunya? Perasaan kemarin belum ada susu hamil di rumah ini" tanya Lili dengan raut kebingungannya.


"Gampanglah kalau itu. Kan ada apotik yang bisa delivery 24 jam juga" ucap Mama Ningrum dengan santainya.


Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun ada sedikit rasa mual saat meminum susu itu, namun ia mencoba tetap minum. Apalagi melihat bagaimana perhatian semua orang kepadanya. Mungkin nanti ia akan membeli susu sendiri sesuai dengan rasa yang diinginkannya.


***


"Kalau kamu masih kurang sehat, biar aku ijinkan kamu nggak berangkat ke rumah sakit. Lagian itu rumah sakitku lho dan aku juga yang bakalan mengeluarkan nilai untuk mahasiswa yang praktik di sana" ucap Aldo mencoba membujuk Lilo agar istirahat saja di rumah.


Apalagi kehamilan Lili ini masih muda dan rawan keguguran sehingga harus banyak istirahat. Bahkan Lili juga tak boleh terlalu banyak pikiran agar kondisinya dan bayi dalam kandungannya stabil. Saat ini mereka ada di sekolah Kei karena mengantar bocah cilik itu dulu.


"Aku sehat dan semuanya baik-baik saja. Lagian ini babyku juga pasti kuat kok diajak kerja mamanya. Baby pasti mendukung mamanya yang ingin menjadi dokter ini" ucap Lili yang kekeh dengan keputusannya.


Aldo hanya bisa pasrah saja dengan apa yang diinginkan oleh Lili itu. Seperti apa yang diucapkan oleh mamanya kalau dia harus menuruti keinginan istrinya asalkan itu tak membahayakan bayinya. Setelah selesai dengan perdebatan itu, Aldo mengantar Lili ke rumah sakit.


Untuk Kei sendiri nantinya akan ditunggu oleh Mama Nei. Dalam perjalanan, Lili bersenandung kecil seakan bahagia karena dapat melaksanakan praktik. Aldo hanya bisa pasrah saja asalkan itu bisa membuat bahagia istrinya.


"Janji bakalan jaga diri baik-baik ya. Jangan makan aneh-aneh. Kalau capek langsung istirahat. Bisa ke ruanganku kalau kamu butuh kasur yang empuk" pesan Aldo pada istrinya setelah sampai di depan pintu masuk rumah sakit.


"Iya, aku akan jaga diri baik-baik. Di ruang istirahat dokter juga ada kasur empuknya kok. Aku ingin bekerja dengan tenang tanpa adanya embel-embel namamu, mas" ucap Lili sambil tersenyum manis.


Aldo menganggukkan kepalanya mengerti. Lili keluar dari mobil setelah dikecup dahinya oleh Aldo. Laki-laki itu memandang istrinya yang masuk dalam area rumah sakit dengan pelan. Bahkan Aldo tetap tak mengalihkan pandangannya sampai tubuh istrinya tak dapat ia lihat.