Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Perhatian


"Nanad, napa tuh mutana lecek tayak belum dicetlika?" tanya Kei pada Nadeline yang duduk di dalam kelas sendirian.


Kei yang baru saja datang ke sekolah dan memasuki kelas pun merasa heran dengan wajah sahabatnya. Pasalnya Nadeline tak seperti biasanya yang selalu ceria jika berangkat sekolah. Kei pikir karena tak diperbolehkan menginap semalam di rumahnya sehingga seperti ini.


"Nanad lagi sedih" ucap Nadeline dengan senyum sendunya.


"Cedih tenapa? Talna ndak bica ninep di lumah Kei? Atau ndak temu cama Baby Della?" tanya Kei yang penasaran.


"Bukan, Nanad sedih karena belum punya mama dan adik kaya Kei." ucap Nadeline dengan tatapan sendunya.


"Cabal ya, Nanad. Cemoda Allah cepat kacih tamu ibu dan adit. Cebelum dapat, Nanad boleh lho talo andap Baby Della dan Mama Lili dadi kelualda tamu" ucap Kei dengan tenang.


Nanad hanya tersenyum tipis mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Pasalnya ia ingin ada sosok dua orang itu dalam hidupnya secara nyata dan selalu menemaninya setiap hari. Kalau Lili dan Baby Della kan tidak setiap hari bisa bersama dengannya.


Kei langsung memeluk Nadeline dari samping. Gadis cilik itu terkejut, namun tak ayal membalas pelukannya. Kei berusaha menghibur Nadeline yang menginginkan keluarga yang lengkap seperti dirinya.


"Nanad codalana Kei. Danan cedih-cedih mulu ya, Nanad. Kami celalu ada buat Nanad" ucap Kei penuh perhatian membuat Nadeline menganggukkan kepalanya mengerti.


Semua interaksi keduanya itu tak luput dari guru dan beberapa teman sekelas mereka. Bahkan salah satu guru juga merekam dan memotret keduanya. Guru itu mengirimkannya pada Lili yang tengah mengurus Baby Della di rumah.


***


"Apa ini?" gumam Lili yang melihat ada sebuah video dan beberapa foto yang dikirimkan kepadanya.


Lili pun membuka ponselnya kemudian terkejut saat melihatnya. Ternyata guru itu memberikan apresiasi dan ucapan terimakasih karena Kei begitu perhatian kepada sesama temannya. Apalag kepedulian Kei ini bisa menjadi contoh teman-temannya yang lain.


"Alhamdulillah... Ternyata anakku bisa lebih peduli sama temannya. Setidaknya dia tak secuek Aldo yang galak dan menyebalkan" gumam Lili sambil tersenyum.


Hari ini dia tak masuk praktik di rumah sakit karena mendapatkan jatah libur. Lili seharian mengurus Baby Della yang sangat menggemaskan di matanya. Apalagi pipi gembulnya itu, membuat ia ingin mencubitnya.


"Lucunya anak mama. Saat besar nanti, akur ya sama Abang Kei. Kalian harus jadi anak yang bahagia dunia dan akhirat. Kami akan selalu memprioritaskan kalian berdua, bagaimana pun caranya" ucap Lili sambil mengelus pipi gembul anaknya.


Lili sampai terkekeh geli melihat Baby Della memainkan lidahnya dan menyemburnya. Lili langsung memeluk anaknya yang sudah wangi itu dan membawanya dalam pelukan hangatnya. Lili sangat bahagia mendapatkan keluarga yang begitu hangat seperti ini.


***


"Terimakasih sudah jadi anak yang peduli dengan sesama, Kei. Setidaknya kamu tak cuek pada orang sekitarmu" ucap Lili setelah melihat anaknya pulang dari sekolah.


"Makcud mama apa?" tanya Kei dengan tatapan penasarannya.


Bahkan Mama Ningrum dan Mama Nei yang ada di sana juga terlihat kebingunhan dengan apa yang diucapkan oleh Lili. Mereka tak tahu apa-apa mengenai video Kei yang tengah menenangkan dan menjadi pendengar yang baik untuk Nadeline.


"Memangnya mama nggak dikirimin video sama pihak sekolah? Apa kalian juga tidak mengetahui kejadian yang terjadi di sekolah? Masalahnya ini menyangkut Kei lho" ucap Lili dengan pandangan herannya.


"Ada apa memangnya dengan Kei? Kejadian apa? Kami nggak tahu apa-apa dan Kei juga terlihat dalam keadaan baik kok" ucap Mama Nei dengan raut khawatirnya.


Bahkan Mama Nei terlihat memeriksa tubuh Kei yang memang tak ada luka sama sekali. Mama Nei sampai memutar-mutar cucunya untuk memeriksa keseluruhan tubuhnya. Mama Nei tak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang di luar harapan keluarganya.


"Oma, napa Kei diputal-putal. Pucing nih tepalana Kei" ucap Kei menegut apa yang dilakukan oleh omanya itu.


"Di cekolah ndak ada apa-apa. Memangna ada apa?" tanya Kei sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Mama Ningrum dan Lili hanya bisa menghela nafasnya kesal karena mendengar dan melihat apa yang dilakukan oleh Mama Nei. Padahal Lili belum menjelaskan namun Mama Nei malah sudah menyimpulkan segala sesuatunya.


"Mbak, dengarkan dulu penjelasan Lili. Jangan disela kaya gitu. Malah bikin semua orang bingung dan khawatir nantinya" ucap Mama Ningrum yang menegur besannya itu.


Mama Nei hanya bisa cengengesan mendengar teguran dari besannya itu. Sudah kebiasaan bagi Mama Nei kalau langsung menyimpulkan segala sesuatunya dengan cepat. Apalagi ini sudah berkaitan dengan keluarganya.


"Ini lho, ma" ucap Lili sambil menunjukkan sebuah video yang ada di ponselnya.


Mama Nei langsung mengambil ponsel itu dan Mama Ningrum juga Kei ikut melihatnya. Mama Nei dan Mama Ningrum segera menatap Kei dengan pandangan yang sulit diartikan setelah melihat video itu. Keduanya bangga melihat cucunya sangat peduli antar sesama. Sedangkan Kei bingung karena ada video antara dirinya dengan Nadeline.


"Cucu oma sweet sekali" ucap Mama Nei yang langsung memeluk cucunya dengan erat.


"Cwet apa cih, oma? Kei tauna celewet ditu" ucap Kei dengan tatapan penasarannya.


"Sweet itu artinya manis. Perlakuan Kei kepada Nadeline yang perhatian dan terlihat sayang ini sangat manis juga baik" ucap Mama Nei.


"Biaca caja. Tita tan talo cama teman memang halus beditu. Talo ada yang cedih, tita halus menghibul" ucap Kei dengan santai.


"Kamu mah nggak tahu saja. Ini bagi orang dewasa sangat manis tahu. Besok kalau kamu sudah dewasa pasti paham dengan apa yang kita maksud" ucap Mama Nei sedikit kesal dengan cucunya.


"Baitlah... Baitlah... Kei cwet atau manis tayak dula itu" ucap Kei sambil geleng-geleng kepala.


Lili dan Mama Ningrum sampai terkekeh geli mendengar keduanya yang malah berdebat. Lili segera membawa Kei untuk membersihkan dirinya sebelum bertemu dengan Baby Della. Tentu saja Mama Nei dan Mama Ningrum juga demikian. Siapapun yang berada dari luar rumah harus membersihkan diri dulu sebelum bertemu Baby Della.


***


"Mas, tahu nggak kalau tadi Kei di sekolah dijadikan contoh kepedulian sesama teman oleh gurunya. Ini videonya, kamu harus lihat" ucap Lili sambil memeperlihatkan ponselnya kepada Aldo.


Setiap hari Lili dan Aldo berusaha untuk menceritakan semua kejadian hari ini pada malam harinya. Hal ini merupakan cara agar komunikasi mereka terjalin dengan baik. Apalagi Aldo yang memang cuek haruslah diajak terus berbincang.


"Beruntung sekali aku punya istri kaya kamu. Walaupun sibuk dengan pendidikan, tapi tetap mau mengajarkan Kei seperti ini. Aku yakin kalau ini merupakan hasil didikanmu" ucap Aldo yang memuji kehebatan istrinya.


"Ini semua berkat keluarga kita yang selalu bersama dalama keadaan susah dan senang. Kita juga selalu berusaha saling perhatian satu sama lain jadi Kei menirunya dengan baik. Aku harap kamu juga jangan terlalu cuek, biar kita bisa melangkah sama-sama" ucap Lili.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya kemudian memeluk istrinya itu dengan erat. Kebahagiaannya sudah lengkap namun ada sedikit ganjalan dalam hatinya. Ia bingung mengungkapkan ganjalan ini pada istrinya itu.


"Hmm... Sayang, aku boleh tanya sesuatu? Setidaknya ini bisa mengurangi beban pikiranku. Tapi aku mohon untuk kamu jangan terlalu tersinggung dengan ucapanku" ucap Aldo dengan hati-hati.


"Mau tanya apa? Kalau memang jawabanku nanti bisa membuatmu tenang, aku tak masalah. Tanyalah, ini juga pasti akan membuat hubungan rumah tangga kita lebih erat lagi" ucap Lili sambil tersenyum.


Lili semakin deg-degan untuk mendengar pertanyaan yang akan diajukan oleh Aldo. Apalagi wajah Aldo terlihat begitu serius dengan apa yang akan diucapkannya. Aldo terlihat menghela nafasnya pelan dan menutup matanya seakan tengah menenangkan dirinya.


"Jujur... Apa kita..."