Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Cemburu


Nadeline sangat bahagia melihat papanya kini datang ke sekolahnya. Padahal sudah satu bulan ini dia tak bisa menemaninya ke sekolah. Namun seolah mendapatkan kejutan, papanya hadir di sekolah saat jam istirahat tiba


"Papa..." panggil Nadeline sambil melambaikan tangannya kearah sang papa.


Papa Nadeline yang bernama Brama pun langsung berjalan mendekat kearah anaknya. Wajahnya yang datar dengan kemeja yang digulung ke lengan atasnya itu membuat beberapa wanita di sana mengamatinya terus menerus. Bahkan Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu-ibu di sana.


"Nadeline makan sama apa?" tanya Brama dengan lembut.


"Makan nasi goreng sama sosis dan ayam krispy, papa. Ini diberi sama mamanya Kei lho, papa" ucap Nadeline sambil menunjukkan bekalnya pada sang papa.


"Terimakasih" ucap Brama tanpa melihat kearah Lili.


Bahkan Lili yang berada di samping Kei pun heran dengan sikap Brama. Pasalnya laki-laki itu seperti tak sedang berbicara dengan siapapun. Namun Lili tahu kalau Brama sedang mengucapkan terimakasih padanya.


"Sama-sama, pak. Lagi pula ini hanya kebetulan saja saya bawa bekalnya double" ucap Lili menjelaskan.


"Nggak nanya" ucap Brama.


Sontak saja ucapan Brama itu membuat Lili memelototkan matanya. Nadelin sendiri hanya bisa terkekeh geli. Seakan pemandangan keduanya itu sebuah hiburan. Namun tidak bagi Kei yang kesal dengan papanya Nadeline itu.


"Om ndak boleh tayak ditu cama mamana Kei. Dia cudah cucah-cucah lho macak ini dali tadi padi. Cetidakna halus menghaldaina" ucap Kei menegur Brama.


"Berapa?" tanya Brama singkat.


"Maksudnya?" tanya Lili yang bingung dengan ucapan yang disampaikan oleh Brama itu.


"Berapa harga bekal makanan ini. Biar saya bayar, gitu aja nggak paham" ucap Brama dengan sedikit sinis.


"Saya nggak butuh uang anda. Bahkan uang saya sampai menjamur karena jarang saya jemur" ucap Lili yang langsung melengoskan wajahnya.


Brama hanya mengedikkan bahunya acuh mendengar ucapan dari Lili itu. Kei dan Nadeline sudah asyik makan, tanpa menghiraukan Lili dengan Brama yang masih perang dingin. Lili benar-benar kesal dengan manusia seperti Brama yang sangat cuek melebihi Aldo dulu.


***


Kei dan Nadeline sudah memasuki kelasnya lagi setelah jam istirahat usai. Sedangkan Lili menunggu bersama Brama di bawah pohon. Beberapa wali siswa yang juga menunggu sedari tadi mencuri pandang kearah keduanya.


"Mending anda pindah deh, pak. Itu ibu-ibu pada ngelihatin ke sini terus lho. Saya nggak enak, malah dikira nanti kita mau berbuat sesuatu lagi" ucap Lili mengusir Brama agar berpindah duduknya.


Sontak saja Brama yang sedari tadi fokus dengan ponselnya pun langsung melihat kearah sekitar. Memang benar kalau ia dan Lili tengah menjadi pusat perhatian. Namun Brama cuek saja dan kembali fokus dengan ponsel yang ada di tangannya.


"Mereka biasa aja tuh. Atau kamu yang ingin melakukan sesuatu yang tidak-tidak di sini?" tanya Brama seakan menuduh Lili.


"Sembarangan aja kalau ngomong" ucap Lili dengan kesalnya.


***


"Lili... Ngapain kamu dua-duaan di sini sama laki-laki lain?" tanya seorang laki-laki yang baru saja tiba.


Sontak saja Lili mendongakkan kepalanya karena ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Ternyata itu adalah Aldo. Laki-laki itu langsung ke sekolah Kei saat pekerjaannya selesai. Ia tak jadi pergi keluar kota bersama dosen lainnya karena ternyata hanya perwakilan saja.


"Eh... Pak Aldo, kok ada di sini? Bukannya ada urusan di luar" tanya Lili gelagapan seperti seseorang yang sedang ketahuan selingkuh.


Padahal Lili hanya terkejut saja dengan kehadiran Aldo yang tiba-tiba. Lili juga melihat keanehan pada wajah Aldo yang terlihat marah. Wajahnya memerah dengan mata yang menatap tajam pada Lili. Sedangkan Brama yang melihat drama di depannya itu malah melihat seakan sedang menonton sinetron.


"Terus kalau saya ada urusan di luar, kamu bisa berduaan dengan laki-laki ini gitu?" tanya Aldo dengan ketus.


"Astaga... Ini ayah dari temannya Kei. Kasihan dia kaya orang hilang, di sini nggak ada temannya. Makanya daripada ditemani setan, mending duduk didekatku. Kalau dia kesurupan kan ada aku yang bisa teriak" ucap Lili dengan santainya.


Padahal Brama sudah mendengus kesal dengan ucapan Lili yang terlalu dilebih-lebihkan. Ia duduk di sini agar tak ada ibu-ibu rempong yang mengajaknya berbincang. Ia tahu sedari tadi banyak ibu-ibu yang tengah melihat dan memperbincangkannya.


Aldo pun segera saja duduk di tengah-tengah antara keduanya itu. Aldo cemburu karena Lili dan Brama seperti pasangan orangtua yang tengah menunggu anaknya sekolah. Brama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan Aldo itu.


"Nah... Setannya baru saja duduk nih. Biasanya kalau ada orang berduaan, yang ketiganya setan" ucap Brama seperti menyindir seseorang.


Dugh...


Arrghhh...


Mendengar sindiran sekaligus ledekan itu, Aldo segera saja menyikut perut perut Brama. Hingga pekikan kesakitan terdengar karena Aldo menyikutnya dengan kencang. Lili hanya bisa menahan tawanya melihat wajah kesakitan dari Brama itu.


"Jadi orang malah ngatain setan. Lha ya setannya itu situ. Ada pasangan tapi ada di sini" ucap Aldo sengan ketus.


"Ya elah... Cemburuan amat sih jadi laki-laki. Bucin aku, mas? Nggak akan saya ambil itu perempuan nyablak dari anda. Saya itu sukanya yang lemah lembut dan nggak banyak tingkah" ucap Brama yang kemudian berdiri dan pergi dari hadapan keduanya.


Lili ingin sekali melempar kepala Brama dengan batu. Pasalnya kalau ngomong asal nyablak saja. Padahal ia tadi niatnya hanya bercanda saja. Namun malah membuat semuanya seperti sedang serius.


"Sayang, jangan dekat-dekat sama dia lagi. Awas aja kalau aku nggak ada di sini tapi kamu malah dekat-dekat sama dia" ucap Aldo dengan rengekannya.


Sontak saja rengekan itu membuat Lili geli sendiri. Pasalnya ia belum pernah melihat Aldo merengek kepadanya. Ia seperti melihat Kei kecil pada diri Aldo. Lili hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Aldo ini.


"Apaan sih? Malu tahu diliatin ibu-ibu di sana lho. Wajahnya udah datar dan cool gitu, kok malah merengek" ledek Lili membuat Aldo melengoskan wajahnya.


Aldo hanya diam sambil fokus dengan ponselnya. Sedangkan Lili sibuk membaca beberapa buku referensi skripsinya. Sidang skripsi tinggal beberapa hari lagi, membuat dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca. Walaupun waktunya tersita dengan mendampingi Kei di sekolah atau saat bermain.