Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
97.Jangan khawatir(Gavin).


Anandita menoleh kekanan dan kekiri sebelum masuk kedalam mobil mereka.


Melihat Anandita melakukan itu Gavin hanya menggelengkan kepalanya.


"Sampai kapan kamu mau berdiri disitu Yank?"tanya Gavin pada Anandita.


Anandita langsung menempelkan jarinya kemulut Gavin.


"Jangan bicara nanti ada yang mendengar".


Gavin melepaskan jari Anandita dari bibirnya dan langsung membuka pintu mobil untuk Anandita.


"Ayo masuk!",perintahnya.


Anandita menuruti Gavin masuk kedalam mobil,setelah itu Gavin menutup pintu mobilnya pelan dan segera masuk kesisi kemudi.


Setelah mereka berdua berada didalam mobil Anandita langsung menghadap kearah Gavin.


"Vin sebaiknya mulai besok aku berangkat dan pulang kesekolah sendiri aja,supaya nggak ada orang yang iri atau curiga sama aku".


Mendengar ucapan Anandita Gavin hanya diam saja,malah menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan area parkir sekolah.


"Vin!"Anandita mencoba bicara lagi pada Gavin.


Tapi Gavin hanya menatap sekilas kearah Anandita.


"Vin kamu dengar nggak apa yang aku katakan barusan?"tanya Anandita.


"Duduk yang benar,jangan mengatakan hal yang aneh aneh!"perintah Gavin.


Mendengar ucapan Gavin Anandita langsung diam tidak bertanya lagi sampai mereka tiba di Apartemen.


Setelah mobil berhenti Anandita langsung keluar dari mobil dan masuk lebih dulu ke Apartemen tanpa menunggu Gavin.


Anandita langsung melepas semua baju kerjanya dan menggantinya dengan baju rumah setelah itu dia langsung merebahkan tubuhnya keranjang dengan diam.


"Masih ngambek?"tanya Gavin dengan ikut merebahkan tubuhnya disamping Anandita.


"Siapa yang ngambek aku hanya lelah ingin istirahat",jawab Anandita dengan memunggungi Gavin.


Melihat itu Gavin langsung menarik tubuh Anandita untuk dipeluknya.


"Lepas aku mau tidur Vin!"


"Aku juga,ayo kita tidur bareng",jawab Gavin.


"Tapi jangan seperti ini sempit,"protes Anandita karena Gavin memeluknya sangat erat,membuatnya sedikit sesak.


"Biar saja,supaya kamu tau seposesif apa aku ",ucap Gavin.


"Kamu menyebalkan tau nggak sih!,gerutu Anandita.


Tapi Gavin tidak perduli dengan ucapan Anandita dia malah menyelusupkan kepalanya keceruk leher Anandita.


"Vin!"


Anandita masih berusaha mendorong tubuh Gavin,melihat itu Gavin mengalah agak menyingkir dari tubuh Anandita dan tidur dengan posisi telentang.


"Jangan khawatir",ucap Gavin tiba tiba.


"Bagaimana aku nggak khawatir,kalau sampai orang tau hubungan kita,lalu kamu dikeluarkan dari sekolah bagaimana".


Mendengar itu,tiba tiba Gavin langsung mencubit hidung Anandita gemas.


"Vin sakit,kebiasaan banget kamu!"gerutu Anandita.


"kamu yang kebiasaan,kamu sadar nggak dengan apa yang baru saja kamu katakan?".


"Yang mana ?"tanya Anandita bingung.


"Kalau aku dikeluarkan dari sekolah".


"Oh,itu iya kita harus bagaimana,Vin?"tanya Anandita dengan wajah khawatir.


"Kamu lupa siapa aku?"


Anandita langsung menggeleng,membuat Gavin semakin gemas.


Terpaksa dia mengatakannya.


"Yank,jangan khawatir soal itu sekolah itu punya Ayah masa iya aku anaknya mau dikeluarkan dari sekolah sendiri".


Mendengar ucapan Gavin Anandita terdiam dia benar benar lupa soal itu,tapi bagaimana dengan orang iseng yang tadi siang mengirimkan makanan padanya apakah tidak papa,batin Anandita.


"Tapi bagaimana soal makanan yang tadi siang,siapa kira kira yang berani melakukannya!"tanya Anandita masih khawatir.


"Semoga hanya orang iseng saja karena kalau dia mau macam macam seharusnya dia berpikir lagi untuk melakukannya".


"kenapa,apa yang akan kamu lakukan?"tanya Anandita khawatir.


Gavin langsung menggeleng.


" Nggak ada Yank".


"Nggak serius aku nggak akan melakukan apa apa aku lebih fokus padamu dan beby kita dan juga sekolahku yang sebentar lagi selesai".


"Serius,Vin".


Gavin mengangguk.


"Jangan khawatirkan apapun selama disekolah sekarang,kalau besok masih ada orang yang melakukan hal yang aneh padamu,dia sendiri yang akan menyesal",ucap Gavin.


"Kenapa?"


Gavin mencubit ujung hidung Anandita lagi.


"Berhentilah bertanya mommy beby,kamu membuatku semakin gemas",jawab Gavin.


"Tapi aku penasaran",


"Ssstt!"Gavin meletakkan telunjuknya dibibir Anandita.


"Dari pada kamu meributkan hal itu terus mari kita lakukan hal lain ynag lebih berguna",bisik Gavin diceruk leher Anandita.


"Vin,hentikan aku masih lelah karena ulahmu semalam",ucap Anandita berusaha mendorong tubuh Gavin.


"Tapi aku merindukan beby aku ingin menengoknya lagi Yank",rayu Gavin mulai menyesap leher jenjang Anandita.


"Vin.."


"Satu kali saja hari ini aku janji ya,Yank",ucap Gavin mulai mengungkung tubuh Anandita dibawahnya.


Melihat itu mau tidak mau Anandita mengangguk pada Gavin.


"Tapi satu kali aja,jangan lebih ",jawab Anandita.


Mendengar itu Gavin hanya tersenyum devil.


"Nggak janji Yank,karena kamu selalu bikin nagih kalau cuma sekali rasanya kurang",ucap Gavin mulai melancarkan aksinya untuk membuai tubuh Anandita yang berada dibawah kungkungannya.


***


Mereka tertidur setelah melakukan sesi olah raga panas sore itu.


Gavin terkejut saat mendengar bunyi berisik dari ponselnya,dengan segera dia mencari dimana ponselnya berada sebelum Anandita ikut bangun nanti.


Setelah menemukan ponselnya Gavin langsung melihat siapa yang menghubunginya,ternyata ayahnya yang menelpon.


Gavin segera turun dari ranjang dan berjalan keluar dari dalam kamar.


"Halo Ayah ada apa?"tanyanya menjawab telpon Bagaskara.


"Apa yang terjadi disekolah?"tanya Bagaskara tothe point.


"Bukan hal besar,hanya ada orang iseng yang mengirim makanan atas namaku kepada Anandita tadi".jawab Gavin.


"Lalu bagaimana denganmu?"tanya Bagaskara dengan nada terdengar khawatir.


"Aku baik baik saja".


"Syukurlah,jangan lakukan apapun biar anak buah ayah yang mengurusnya",perintah Bagaskara.


"Hemm"jawab Gavin.


"Dimana kamu sekarang?"tanya Bagaskara .


"Dirumah hari ini sudah mulai ujian jadi kami pulang lebih cepat ada apa?"


"Tidak ada,aku hanya khawatir padamu saat tadi mendengar laporan dari Willi".


"Ayah masih menyuruh pengawal ayah mengikuti kami".Tanya Gavin.


"Aku tidak akan tenang kalau tidak mendengar khabar tentang kalian sehari saja",ucap Bagaskara.


"Aku sudah tidak papa berhentilah menghawatirkan aku ayah,"


"Aku tidak bisa,aku tidak ingin hal seperti yang dulu terulang lagi,apalagi saat mendengar laporan dari Willi bahwa ada orang yang mencurigakan tadi".


"Baiklah terserah ayah tapi bisakah ayah menyuruh Anak buah ayah jangan mengikuti kami dirumah,karena aku merasa seperti diawasi apalagi kalau sampai Anandita tau ini,karena sekarang dia sedang...".


"Siapa yang mengikuti kita Vin?"tanya Anandita yang tiba tiba sudah berada dibelakang Gavin


Mendengar suara Anandita Gavin segera menoleh kebelakang.


"Bukan siapa siapa hanya ayah yang menelpon",jawab Gavin.


"Ayah Bagas?"


Gavin mengangguk"Biar aku yang bicara tentang masalah tadi,"Anandita langsung merebut ponsel dari tangan Gavin.


"Halo Ayah,apa Ayah tau..."Anandita mulai memceritakan semua apa yang dialaminya disekolah tadi dengan sangat detail.


"Aku akan menyuruh anak buahku untuk mengurusnya katakan itu pada Gavin",jawab Bagaskara pada Anandita.


Gavin yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua ditelpon hanya diam dengan dongkol.