Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
143.Kenyataan Sesungguhnya.


Bagaskara langsung terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan Willy,seperti ada sebuah batu besar yang menimpa kepalanya saat ini dan membuat waktu disekitarnya seolah berhenti, Willy khawatir melihat Bagaskara yang langsung terdiam setelah dia mengatakan hal itu.


"Tuan anda baik baik saja,saya tidak bermaksud membuat anda terkejut tapi...".


"Keluarlah",perintah Bagaskara pelan pada Willy.


"Anda benar baik baik saja atau perlu saya panggilkan dokter kalau anda merasa tidak nyaman".


"Keluar!!!!!!,kau tidak dengar apa yang kuperintahkan!!!!",teriak Bagaskara dengan melempar semua barang yang ada diatas mejanya kearah Willy.


Melihat Bagaskara seperti itu Willy perlahan pergi meninggalkan ruang kerja Bagaskara dengan wajah sedikit pucat.


Dia tau kalau Bagaskara sudah sampai semarah itu dia tidak bisa diajak bicara atau akibatnya akan sangat fatal.


'Untung saja sekarang hanya dia yang melihat emosi Bagaskara kalau Cinta melihat ini lagi bisa bisa dia gemetar seperti dulu,batin Willy.


***


Sementara itu Bagaskara masih merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Willy barusan.


Dia Sudah menikah dengan Cinta'Oh Tuhan',gumamnya dengan menarik keras rambut dikepalanya,' apa dia benar benar sudah gila saat itu sampai menikahi anak dibawah umur kemudian melupakannya'.


Dengan tangan gemetar Bagaskara mengambil file yang diberikan Willy disana tercatat semua pengeluaran yang selama lebih tiga tahun dikirimkan Willy pada foto seorang gadis yang masih berseragam SMA saat itu.


Disentuhnya foto Cinta saat masih memakai seragam sekolah itu dengan tangan gemetar,


'Ini pasti dia yang gila sampai menikahi anak kecil yang seharusnya menjadi putrinya',batin Bagaskara dan kemarin malam.....


Bagaskara menghela nafasnya bagaimana dia bisa melakukan hal itu pada gadis itu, dia sudah menciumnya'Ini salah sangat salah ini kesalahan yang harus dibetulkannya sekarang saat dia sudah tau.


Mempunyai pemikiran yang muncul tiba tiba dalam kepalanya, Bagaskara lalu bangkit dari kursinya dan langsung keluar dari dalam ruangannya.


Willy yang masih berada diluar ruangan terkejut melihat Bagaskara keluar dan sudah siap untuk pergi.


"Tuan mau kemana?",tanya Willy dengan berjalan mengikuti Bagaskara disampingnya.


"Aku akan pulang menemui Cinta untuk bicara dengannya",ucap Bagaskara sambil masuk kedalam mobilnya.


Mendengar itu Willy diam disamping mobil Bagaskara tidak ikut masuk.


"Apa kau hanya akan berdiri saja disana,tanpa masuk kedalam mobil!",ucap Bagaskara dengan menatap kearah Willy.


"I...iya..tuan..maaf".


Willy segera masuk kedalam mobil lalu membawa mobil itu pergi meninggalkan area parkiran kantor.


Selama dalam perjalanan berkali kali Willy melirik kearah Bagaskara yang memejamkan mata dikursi belakang,dia sedikit khawatir apakah Bagaskara baik baik saja sekarang.


"Tu...tuan",panggil Willy pelan.


Bagaskara diam tidak menjawab panggilan Willy.


"Tu...tuan..anda baik baik saja",tanya Willy lagi.


Tapi lagi lagi Bagaskara tidak menyahut.


saat Willy bermaksud bersuara lagi tiba tiba Bagaskara bicara lebih dulu.


"Bawa saja aku segera pulang kerumah itu untuk bicara dengan Cinta",ucap Bagaskara yang membuat Willy langsung terdiam mendengarnya.


Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih mereka sampai di rumah mungil itu.


"Kamu jaga Cello aku perlu bicara dengan Cinta berdua",ucap Bagaskara pada Willy.


Mendengar perintah itu,Willy langsung mengangguk.


"Baik,tuan".


Bagaskara masuk kedalam rumah dilihatnya Cinta sedang menonton televisi diruang tengah bersama Cello.


Melihat Bagaskara masuk Cello langsung bangkit dan berlari menghampirinya.


"Oppa!!",panggilnya.


"Cello pergi main dengan om Willy ya,Oppa mau bicara sebentar dengan oma",ucap Bagaskara sambil melirik kearah Cinta.


Cinta hanya menatap bingung mendengar apa yang dikatakan Bagaskara itu.


"Cello mau main ayunan ditaman",ucap Cello.


"Pergi sama om Willy main ayunan sana",perintah Bagaskara pada Cello.


Willy yang mendengar itu segera mengajak Cello pergi keluar meninggalkan Bagaskara dan Cinta berdua dirumah itu.


"Ada apa tuan,apa ada yang ingin anda bicarakan dengan saya?",tanya Cinta sambil menatap Bagaskara.


"Duduklah aku ingin bicara hal penting denganmu",ucap Bagaskara.


Mendengar perintah itu Cinta menurutinya dia langsung duduk disofa bersebrangan dengan Bagaskara.


Bagaskara diam sambil menatap kearah Cinta sulit rasanya untuk mulai berbicara masalah ini,karena jujur saja dia tidak pandai menyelesaikan masalah seperti ini.


Bagaskara menarik nafas berusaha menekan segala perasaannya takut kalau sampai dia nanti emosi dan menakuti Cinta saat mulai bicara.


"Apa kau ingat padaku?",tanya Bagaskara pada Cinta.


Cinta menatap Bagaskara bingung mendengar pertanyaan itu.


"Maksud tuan?",tanya balik Cinta.


Bagaskara kembali menarik nafas dan menghembuskannya pelan,rasanya saat ini dia seperti sedang berada dipengadilan karena apa yang sudah dilakukannya,dia merasa gugup meskipun tidak terlihat.


Apalagi dengan Cinta menatapnya seperi itu,dia merasa benar benar seperti sedang diadili dan Cinta adalah hakimnya yang sedang menatap kearahnya sekarang.


"Saat kita bertemu apa kau ingat aku suamimu".


Wajah Cinta langsung pucat saat mendengar itu,dia tidak menyangka Bagaskara akan mengajaknya bicara soal itu,sekarang dia benar benar tidak siap.


"I....itu...sa...saya..ingat".


Mendengar itu Bagaskara mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangannya,Cinta berpikir apa setelah ini Bagaskara akan sangat marah padanya seperti dulu.


Bagaskara menatap Cinta sebelum mulai bicara Cinta pikir kata makian atau amarah yang akan keluar dati mulit Bagaskara karena terlihat sekali saat ini ekspresi Bagaskara tidak baik baik saja.


"Maaf",ucap Bagaskara.


"Hah!!!",Cinta langsung terkejut mendengar Bagaskara mengatakan itu.


"Maaf karena telah merusak masa mudamu saat itu",ucap Bagaskara lirih.


Cinta hanya bisa mengedipkan matanya berkali kali karena bingung,dia memang marah pada Bagaskara saat itu karena sudah memberinya hukuman yang tidak normal dengan menikahinya disaat dia masih sekolah,tapi seiring berjalannya waktu dan Bagaskara tidak melakukan apa apa padanya bahkan sudah membiayai hidupnya selama ini dia menjadi tidak mempermasalahkan hal itu lagi.


Sejak dia menyadari itu dia tidak lagi marah atau membenci pernikahan ini tapi dia malah merasa bersyukur pernah bertemu dengan orang seperti Bagaskara,meskipun caranya aneh tapi sudah membuatnya baik baik saja sampai saat ini.


"Kau pasti marah dan benci padaku saat itu".


Cinta mengangguk mendengar apa yang dikatakan Bagaskara itu.


"Bahkan sampai sekarang kau pasti masih membenciku".


Cinta langsung menggeleng mendengar lanjutan ucapan Bagaskara.


"Tidak saya tidak membenci tuan".


"Kenapa?",tanya Bagaskara.


"I...itu...saya..merasa..anda...pasti...punya...alasan melakukannya saat itu".


Bagaskara langsung menggeleng"Itu hanya amarah sesaatku saja dan keputusan gila lainnya yang sudah kulakukan".


"Maksud anda?",tanya Cinta bingung.


"Pernikahan itu adalah sebuah kesalahan yang kulakukan padamu",ucap Bagaskara.


Seketika wajah Cinta memucat mendengar apa yang dikatakan oleh Bagaskara.