
Anandita terbangun dan merasa kepalanya sangat pusing mungkin efek terlalu banyak menangis kemarin sampai dia lupa untuk makan,sehingga saat bangun dia merasa perutnya seperti diaduk aduk, jadi dia bergegas berlari kekamar mandi untuk muntah meskipun tidak ada yang bisa dimuntahkannya,karena perutnya kosong dari kemarin.
Anandita mengurungkan niatnya untuk mandi karena merasa kepalanya semakin pusing jadi dia hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja dikamar mandi,setelah itu dia mengganti bajunya dengan yang bersih sebelum turun kebawah.
Sampai dibawah dilihatnya meja makan sudah sepi kemana Gavin dan Ayah mertuanya pergi sepagi ini,batinnya.
"Neng Dita sudah bangun",sapa bik Siti saat melihat Anadita menghampirinya ke dapur.
"Iya aku baru saja bangun,kemana Gavin dan ayah bik kok sepi?"tanya Anandita.
"Mereka pergi keluar,neng Dita mau makan?"bik Siti menawari Anandita tapi Anandita segera menolak,karena saat mencium aroma masakan yang dibuat bik Siti tiba tiba perutnya kembali merasa mual.
Anandita segera berlari kekamar mandi yang ada didapur dan kembali memuntahkan cairan bening dari perutnya.
"Neng Dita baik baik aja?"tanya bik Siti khawatir melihat Anandita tampak pucat.
"Iya,sepertinya asam lambungku naik lagi"jawab Anandita sambil mengambil air putih dari dalam kulkas.
"Apa perlu saya panggilkan dokter atau saya belikan obat?"tawar bik Siti.
"Tidak usah bik nanti biar aku saja pergi sendiri,kebetulan hari ini aku mau kembali kerumah karena ada beberapa barang yang ingin kuambil"terang Anandita pada bik Siti.
"Nggak menunggu sampai Bapak sama Mas Gavin pulang pergi keApartemennya?"tanya bik Siti.
"Nggak aku ingin keluar sendiri hari ini,bilang saja sama ayah aku keApartemen kalau mereka bertanya",jawab Anandita sambil berjalan kembali kekamar untuk bersiap pergi .
Anandita mengenakan baju senyaman mungkin untuk keluar hari ini setelah siap dia langsung keluar menuju pintu depan.
"Neng Dita beneran mau keluar sendiri?"tanya bik Siti,tampak khawatir karena melihat wajah Anandita yang sedikit pucat.
"Iya,aku tidak akan lama,aku pergi sekarang bik, itu taxi onlineku sudah menunggu",ucap Anandita lalu berlalu meninggalkan bik Siti yang masih terlihat khawatir.
Anandita tidak segera pergi menuju Apartemen,tapi sengaja mampir kerumah sakit untuk memeriksakan dirinya dulu,karena dia merasa kembali mual saat dalam perjalanan menuju Apartemen,jadi dia meminta supir taxi online untuk membawanya kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
Sampai dirumah sakit Anandita langsung menuju klinik dokter umum,tidak lama mengantri karena hari masih cukup pagi akhirnya namanya dipanggil.
Dokter langsung memeriksa kondisi Anandita setelah mendengar keluhan yang disebutkan Anandita.
"Bu Dita boleh saya tau kapan terakhir anda dapat tamu bulanan?"tanya dokter itu membuat Anandita baru ingat bahwa bulan ini dia belum dapat tamu bulanan yang seharusnya sudah datang dari seminggu yang lalu,tapi dia lupa karena terlalu banyak pikiran akhir akhir ini.
"Sepertinya bulan ini saya belum dapat tamu bulanan dok"jawab Anadita jujur.
"Kalau menurut diagnosa saya sepertinya anda saat ini sedang hamil"ucap Dokter itu
Anandita terdiam mendengar apa yang dikatakan dokter itu padanya,dia tidak tau perasaan apa yang dirasakannya sekarang antara senang dan sedih mendengar khabar itu.
"Selamat ya,tapi untuk lebih memastikannya lagi saya sarankan anda memeriksakannya kedokter kandungan sekarang".
Sampai diluar ruangan Anandita tidak langsung memeriksakan diri kebagian kandungan tapi memilih duduk diam ditaman rumah sakit sambil merenung.
Anandita duduk sambil memandang orang yang berlalu lalang ditaman itu,rasanya nyaman saat tidak perlu memikirkan masalah yang sedang menimpanya sekarang ini,sampai dia melihat seorang ibu yang sedang menggendong anaknya membuat Anandita tanpa sadar langsung menyentuh perutnya yang masih rata.
Pasti dia juga akan cantik dan lucu seperti anak ibu itu,pikir Anandita.
membayangkan itu Anandita kembali bersemangat,dia langsung berjalan menuju kebagian kandungan untuk memeriksakan kehamilannya.
Sampai disana untung tidak terlalu banyak yang memeriksakan kandungan saat itu, jadi dia tidak perlu lama untuk mengantri.
Setelah namanya dipanggil Anandita masuk kedalam ruangan dan langsung diperiksa oleh dokter kandungan.
"Banyak banyaklah istirahat,dan jangan terlalu banyak berpikir yang bisa mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan bayi dalam kandungan anda".Saran dokter pada Anandita.
"Baik dok,tapi saya merasa sering mual dan sakit kepala apakah tidak berbahaya?"tanya Anandita.
"Selama tidak parah tidak apa apa,saya akan memberikan vitamin dan obat anti mual".
"Baik dok,tapi dia baik baik sajakan?"tanya Anandita masih khawatir.
"Untuk saat ini iya tidak masalah anda sehat,dan bayinya juga sehat".
"Trimakasih banyak dok,".
Anandita langsung keluar ruang prakterk dengan hati bahagia.
Sampai diluar rumah sakit dia bermaksud mengabarkan khabar gembira itu pada Gavin,tapi saat dia bermaksud menekan nomor Gavin dia ingat bahwa Gavin tidak bisa dihubungi lagi,tanpa sadar air matanya mengalir dipipinya, tapi sebelum semakin banyak Anandita segera menyapunya dengan punggung tangannya agar tidak ada yang melihat dia menangis ditempat umum.
Anandita langsung menuju Apartemen dengan menggunakan taxi online dari rumah sakit.
Sampai diApartemen Anandita langsung masuk ke Apartemen yang sudah lebih dua bulan ini tidak pernah dia datangi.
Setelah membuka pintu Anandita mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan Apartemen itu,terlalu banyak kenangannya bersama Gavin disana,bagaimana nanti kalau dia harus tinggal disini sendiri sebelum anak mereka lahir, akankah dia sanggup hidup bersama kenangan,tapi untuk ikut Gavin melakukan pengobatan juga sepertinya tidak mungkin,karena sekarang dia sedang hamil ayah Bagas pasti akan melarang demi keselamatannya dan saat mengingat itu tiba tiba dia ingat ucapan Gavin dengan ayahnya saat diruang kerja apakah ini yang dipikirkan Gavin tentangnya,Gavin mencoba tetap menjaganya meskipun dia akan membencinya nanti.
Memikirkan hal itu membuat Anandita tiba tiba menjadi sangat sedih,Airmata yang sudah ditahannya dari tadi langsung keluar deras bahkan dia sampai terisak membayangkan akan menghadapi kehamilan dan melahirkan seorang diri.
Anandita terduduk disudut ruangan dengan menekuk kakinya dan kepala menunduk dengan terisak,sampai dia tidak mendengar ada orang yang masuk kedalam Apartemen dan langsung menghampirinya yang terduduk dilantai.
"Yank apa yang terjadi" .
Mendengar suara Gavin Anandita langsung tersentak,seketika dia langsung mengangkat wajahnya dan langsung mendekap Gavin erat dan menangis semakin kencang dalam pelukan Gavin yang juga ikut bersimpuh dilantai bersamanya, sambil memeluk tubuh Anandita yang masih terguncang hebat karena menangis.
"Kamu jahat,Vin,aku membencimu"isak Anandita sambil memukul tubuh Gavin.
"Maaf Yank,aku minta maaf kita mulai lagi dari awal ya",ucap Gavin dengan memeluk Anandita yang masih terisak kencang dipelukannya.