
Setelah pembicaraan lama dan alot dengan Cinta akhirnya Bagaskara mengatakan setuju melepas Gavin dan Anandita untuk pindah keluar negeri.
Dan sekarang Bagaskara dan Cinta sedang mengantar kepergian Gavin dan Anandita serta Cello ke Bandara.
"Ayah kami pergi dulu". pamit Gavin sambil memeluk ayahnya erat.
"Hemm,jaga diri baik baik,jangan lupa pulang kalau kau sudah selesai kuliah disana,"pesan Bagaskara.
Cinta yang mendengar pesan Bagaskara langsung menegur.
"Mas!,"tegur Cinta.
"Kenapa?,apa aku salah bicara sayang?",tanya Bagaskara bingung.
"Tidak itu betul,sebagai ayah",jawab Cinta.
Sementara Gavin hanya diam mendengar pesan sang ayah yang terdengar biasa tapi sangat menyentuh itu.
"Baik baik kalian semua disana",ucap Bagaskara lagi"Titip Cello jangan sampai dia lupa pada oma sama opanya",lanjut Bagaskara.
Mendengar itu Cinta kembali menegur Bagaskara.
"Mas!".
Bagaskara kembali menoleh",Apa aku salah bicara lagi sayang?",tanya Bagaskara merasa tidak nyaman karena Cinta menegurnya lagi.
Kembali Cinta menggeleng.
"Lanjutkan seperti yang mas Bagas pikirkan" jawab Cinta.
Gavin mengangguk mendengarkan apa yang dikatakan Bagaskara.
"itu pasti ayah,Cello akan menjadi cucu opa yang paling membanggakan nanti".
Mendengar itu Bagaskara mengangguk",Aku akan menyiapkan surat wasiat untuk mengangkat Cello sebagai penggantiku diperusahaan Nanti,jadi kalian tidak perlu menghawatirkan masa depan Cello lagi nantinya".
Cinta ingin menegur Bagaskara lagi tapi langsung disela oleh Anandita.
"Bunda yang sabar ya menghadapi sifat ayah Bagas yang seperti ini, sebenarnya ayah Bagas orangnya baik kok cuma caranya memang sedikit ekstrim",ucap Anandita.
Mendengar itu Cinta mengangguk.
"Sepertinya aku harus banyak punya stok sabar dirumah sekarang",gerutu Cinta.
"Semangat ya bunda",ucap Anandita dengan menepuk lembut pundak Cinta.
Mau tidak mau terpaksa Cinta mengangguk.
Setelah pesan panjang lebar dan perdebatan tidak jelas selama diBandara antara Bagaskara dan Gavin yang membuat kepala Cinta sakit , akhirnya Bagaskara dan Cinta harus melepaskan kepergian Gavin, Anandita dan Cello keluar negeri.
Dimobil setelah mengantar mereka Bagaskara hanya diam tidak mengatakan sepatah katapun membuat Cinta berpikir mungkin Bagaskara masih terlalu sedih karena baru berpisah dengan Gavin Anandita dan juga Cello jadi Cinta juga memilih diam.
"Hufft !".
Bagaskara menghembuskan nafas keras membuat Cinta sampai menoleh.
"Ada apa Mas?",tanya Cinta khawatir.
"Aku masih belum terima ditinggal seperti ini oleh mereka",ucap Bagaskara pelan.
"Iklaskan mas,toh mereka juga cuma sementara disana".
"Sepertinya tidak".
"Maksud mas?",tanya Cinta.
"Sepertinya Gavin sengaja mau balas dendam padaku, karena aku dulu sudah bersikap begitu buruk padanya sebagai seorang ayah,jadi sekarang saat aku tua dia membalas dengan meninggalkanku sendiri disini dan memaksaku berpisah dengan Cello".
"Huffft".
Kali ini Cinta yang menghela nafas keras setelah mendengar apa yang dikatakan Bagaskara.
Bagaskara yang mendengar itu langsung menoleh.
"Kamu baik baik saja sayang?",tanya Bagaskara khawatir.
Cinta menatap balik Bagaskara,"lumayan",jawab Cinta.
"Apanya yang lumayan?",tanya Bagaskara bingung.
"Kelakuan mas lumayan membuat aku sakit kepala,tidak bisakah mas berhenti berpikir buruk pada anak mas sendiri,itu baru satu anak nanti kalau kita punya banyak anak gimana?,apa mas juga tetap akan memakai pemikiran seperti itu kalau mereka akan mengambil keputusan untuk hidup mereka".
"Maaf nggak akan menyelesaikan masalah tapi mas harus berusaha memahami orang orang disekitar mas jangan terlalu egois lagi jangan suka berasumsi sendiri lagi,semua bisa dibicarakan baik baik dan belajarlah punya pikiran baik dengan orang disekeliling mas terutama keluarga mas".
"Iya sayang akan aku coba".
"Mulai kapan?',tanya Cinta dengan menatap tajam Bagaskara.
"Apanya sayang?',tanya Balik Bagaskara.
"Merubah sifat mas yang seperti itu",ucap Cinta.
"Dalam waktu dekat ini,aku akan berusaha sedikit demi sedikit merubah sifatku yang membuatmu marah itu".
"Berarti proses membuat keluarga baru kita juga dimulai dalam waktu dekat ini,tidak mulai nanti malam".
Bagaskara mengerutkan kening mendengar ucapan Cinta.
"Kenapa mas?",tanya Cinta yang melihat Bagaskara terdiam sambil berpikir.
"Tidak ada,seperti katamu aku akan mencoba memahami apa yang kamu katakan barusan".
"Oooo,syukurlah",jawab Cinta dengan senyum dikulum karena berhasil mengerjai Bagaskara .
"Aku akan kekantor apa kamu mau ikut?",tawar Bagasakara pada Cinta.
Cinta menggeleng,"Ada yang ingin kulakukan,bisa nggak mas menurunkan aku dipinggir jalan saja".
Bagaskara terkejut mendengar itu,"Apa yang kamu lakukan dipinggir jalan?",tanya Bagaskara sedikit emosi.
"Aku mau pergi kesuatu tempat tapi arahnya berlawanan dengan kantor mas jadi turunkan aja aku dipinggir jalan, aku akan naik taxi online ketempat tujuanku nanti",terang Cinta.
Mendengar itu Bagaskara terdiam, tapi tiba tiba mengambil ponselnya dan menghubungi Willy.
"Berangkat kejalan XX sekarang juga,aku tunggu dalam sepuluh menit kamu harus sudah sampai disini kalau tidak kau akan tau apa akibatnya".
Setelah mengatakan itu Bagaskara langsung mematikan panggilannya.
Cinta yang mendengar Bagaskara bicara dengan nada tajam pada Willy harus menahan perasaan ingin marahnya lagi,untuk menghindari perdebatan panjang mereka nanti dan membuat Bagaskara malah melarangnya untuk pergi.
"Aku sudah menghubungi Willy,jadi kamu bisa minta antar dia hari ini ketempat tujuanmu".
"Iya mas".
"maaf aku nggak bisa mengantarmu pergi hari ini",ucap Bagaskara sambil mengelus kepala Cinta.
Cinta hanya tersenyum kecil," nggak papa mas,toh mas sudah menyuruh om Willy untuk mengantarku pergi".
"Apa kamu akan lama perginya?",tanya Bagaskara penasaran.
Cinta menggeleng,"Hanya ingin jalan jalan sendiri,mungkin aku mau belanja sedikit nanti",jawab Cinta.
"Baiklah,lain kali akan aku temani kamu pergi,tapi hari ini aku benar benar tidak bisa",ucap Bagaskara terdengar kecewa.
"Nggak papa mas masih banyak waktu kita pergi bersama,aku ngerti kok,jadi sampai jumpa nanti dirumah",ucap Cinta.
Bagaskara ingin bicara lagi saat dilihatnya mobil Willy sudah sampai ditempat mereka.
Melihat itu Cinta bermaksud langsung keluar dari dalam mobil,tapi Bagaskara menahan lengannya.
"Ada apa mas?',tanya Cinta.
"Kamu nggak pamit sayang?".
Mendengar itu Cinta langsung meraih tangan Bagaskara dan menciumnya.
"Aku pergi dulu mas sampai jumpa nanti dirumah",ucap Cinta.
"Sayang masa pamitnya cuma seperti itu,aku kan suamimu sayang,kok cuma salim kaya bapak bapak aja",gerutu Bagaskara.
Mendengar itu Cinta langsung tertawa.
"Mas kan emang sudah bapak bapak masa nggak sadar diri" goda Cinta,lalu mengecup sekilas pipi Bagaskara.
"Sayang!",panggil Bagaskara lagi.
"Apa lagi mas!?",tanya Cinta gemas pada suaminya itu.
"Kurang, tambah dong pamitnya",pinta Bagaskara sambil menunjuk bibirnya untuk dicium Cinta.
Melihat itu Cinta menggeleng,"Nanti malam aja dirumah",ucapnya lalu pergi meninggalkan Bagaskara yang cemberut karena keinginannya ditolak Cinta.