
Gavin memeluk tubuh Anandita yang duduk dilantai apartemen dengan memukuli tubuhnya disela isak tangisnya.
"Aku membencimu sangat membencinmu,Vin kamu tega tau sama aku!"dengan air mata yang masih deras mengalir dipipinya.
Melihat kondisi Anandita hati Gavin terasa semakin nyeri,dia hanya bisa memeluk Anandita erat untuk mengurangi kepedihan yang dirasakan Anandita saat ini.
"Maaf Yank,aku minta maaf kita mulai dari awal lagi ya"bisik Gavin pada Anandita.
Anandita terlalu histeris saat ini jadi hanya bisa membalas bujukan Gavin dengan menggelengkan kepalanya.
Melihat itu Gavin langsung mengangkat tubuh Anandita agar tidak lagi duduk dilantai yang dingin.
"Lepas,Vin aku membencimu aku membencimu sekarang!"teriak Anandita dengan marah perasaran sakit dan kecewa selama berbulan bulan akhirnya keluar saat itu juga, melihat itu bukannya melepaskan Anandita Gavin semakin erat memeluk tubuhnya yang mencoba meronta dalam pelukan Gavin.
"Maaf Yank aku tau aku salah,tapi aku janji aku nggak akan menyakitimu lagi mulai sekarang",bisik Gavin mencoba menenangkan sang istri.
"Kamu bohong kamu bohong!,aku dengar kamu mau menceraikanku malam itu,kamu jahat,aku membencimu!"
Mendengar apa yang dikatakan Anandita Gavin terkejut jadi ternyata Anandita mendengar pembicaraannya dengan sang ayah malam itu,pantas saja sekarang saat melihatnya Anandita sangat marah,melihat itu Gavin langsung menggendong tubuh Anandita kesofa meskipun dia memberontak minta diturunkan.
"Aku akan menjelaskannya padamu Yank!,"ucap Gavin dengan mendudukkan Anandita diatas pangkuannya sambil memeluk tubuhnya erat.
"Aku nggak mau dengar,jangan merayuku lagi,aku nggak mau!"
Ditempelkannya tubuh Anandita kedadanya supaya bisa lebih tenang sambil dibelainya seolah dia membelai anak kecil sampai dirasa Anandita sedikit tenang,tidak lagi histeris baru Gavin mulai berbicara"Maaf melukaimu sampai titik ini Yank"ucapnya pelan dengan membelai punggung Anandita yang masih bergetar karena sisa tangisnya barusan.
Anandita tidak menjawab apa yang diucapkan Gavin,dia hanya menyerusukkan wajahnya semakin dalam kepelukan Gavin.
"Aku memang mengatakan ingin menceraikanmu tapi aku bilang andai pengobatanku kemarin gagal,karena aku tidak mungkin membiarkanmu menungguku bertahun tahun tanpa kepastian Yank,sakit semacam itu bukan sakit yang bisa didiagnosa dokter apakah aku akan sembuh atau tidak karena itu aku memutuskan hal itu".
"Tapi kenapa sampai kamu ingin kita bercerai,Vin kamu tau aku sakit saat mendengarnya".
"Aku tau,tapi kupikir saat itu hanya itu pilihan terbaiknya,karena selama lebih sebulan sejak pertama kali aku sadar aku sudah mencoba berbagai macam cara seperti saran dokter Rumi dan pengetahuanku yang sebelumnya tapi tidak ada hasilnya,apalagi setiap kali aku sadar aku melihat bagaimana kondisimu semakin hari semakin tertekan karena aku,itu benar benar menyakitkan untukku,aku sangat khawatir bahwa kamu bisa ikut sakit".
"Aku nggak papa,aku baik baik saja saat itu".
"Aku tau kamu tidak baik baik saja,karena saat tidur kamu sering menangis".
"Bagaimana kamu tau aku menangis,saat kamu tidur!"tanya Anandita dengan menatap Gavin.
"Aku sudah bilang aku mencoba berbagai macam cara sebelum memutuskan untuk melakuka terapi hipnotis ,salah satunya aku sering berusaha untuk tidak tidur agar kesadaranku tidak hilang,tapi ternyata itu juga tidak berhasil",jelas Gavin.
" Lalu apakah terapi hipnotisnya berhasil kamaren?"tanya Anandita karena terlalu sedih kemarin dia menangis sangat lama didalam kamar sampai dia tertidur dan saat bangun tau tau sudah pagi, dia juga tidak bertanya tadi pada bik Siti karena terlalu takut mendengar hasil pengobatan Gavin kemaren apakah gagal atau berhasil.
Karena itu dia hari ini sengaja pergi keluar untuk menenangkan diri sebelum nanti bertemu dengan Gavin dan ayahnya lagi.
Tapi ternyata Tuhan memberinya kejutan lain hari ini,saat memeriksakan diri kedokter ternyata dokter mengatakan kalau saat ini dia hamil.
Karena sebenarnya sejak Gavin sakit dia lupa sudah tidak memakai alat pencegah kehamilan seperti sebelumnya,sedangkan saat itu kalau sesekali Gavin sadar mereka tetap melakukan hubungan suami istri seperti biasa.
Jadi tadi saat mendengar ucapan dokter perasaannya terasa campur aduk antar senang dan sedih sekaligus dalam waktu bersamaan.
Anandita menatap Gavin menunggu jawabannya.
"Maksudmu?"tanya Anandita lirih takut kalau dia terlalu berharap barusan dengan jawaban Gavin.
"Iya,berhasil Yank karena itu sekarang aku disini"jawab Gavin dengan menangkup wajah Anandita dengan kedua tangannya.
"Kamu serius?"tanya Anandita masih tidak percaya seolah apa yang diucapkan Gavin itu hanya mimpi dan nanti dia bisa terbangun.
"Iya,coba kamu lihat aku baik baik sekarang aku sudah sembuh,karena aku tidak ingin berpisah denganmu makanya aku kembali"ucap Gavin dengan tersenyum kearah Anandita.
Tapi ekspresi Anandita tidak berubah dia masih belum percaya dengan ucapan Gavin.
"Yank kamu nggak percaya sama aku?"tanya Gavin karena Anandita hanya menatapnya dalam diam,tapi tiba tiba "Auw,yang kenapa kamu mencubitku dengan keras"tanya Gavin terkejut.
Tapi Anandita tidak menjawab dia malah turun dari pangkuan Gavin dan berjalan mengambil tasnya yang tergeletak dilantai tadi,lalu dia memcari ponselnya dan langsung menghubungi dokter Rumi.
Setelah beberapa kali bunyi akhirnya ponselnya tersambung.
"Halo Anandita ada apa?"tanya dokter Rumi ramah dari seberang sana.
"Halo dokter saya ingin tau bagaimana dengan hasil pengobatan Gavin kemarin?"tanya Anandita.
"Oh soal itu,selamat ya akhirnya Gavin sudah kembali lagi!"ucap dokter Rumi.
"Ma..maksud dokter?"
"Selamat pengobatan kemarin berhasil dan Gavin sekarang sudah kembali menjadi Gavin dewasa".
"Maksudnya dia benar benar sudah sembuh dok!"tanya Anandita masih setengah tidak percaya.
"Iya benar, karena itu selamat buat kalian semua,aku benar benar terharu dengan perjuangan kalian selama ini".
"Trimakasih dok"jawab Anandita dengan tersenyum bahagia.
"Iya,tapi untuk sementara aku tetap harus memantau kondisinya",terang dokter Rumi.
"Kenapa apakah masih ada masalah dok?"tanya Anandita terdengar kembali khawatir.
"Dari pemeriksaan yang kulakukan hari ini semua baik baik saja, tapi sebaiknya sementara ini dia jangan mendengar khabar yang mengejutkan dulu".Terang dokter Rumi.
"Apakah berita bahagia juga jangan dok?"tanya Anandita.
"Kalau terlalu bahagia atau sedih sebaiknya tunda dulu karena dia baru sembuh ",terang dokter Rumi.
"Bsik dok trimakasih banyak penjelasannya",ucap Anandita lalu mengakhiri panggilan telpon dengan dokter Rumi.
Setelah Anandita selesai menelopon Gavin menghampiri Anandita dan langsung memeluk tubuhnya.
"Bagaimana sekarang kamu sudah percaya kan Yank,kalau aku sembuh?",tanya Gavin.
Anandita menatap kearah Gavin,setelah mendengar penjelasan dokter Rumi.
Anandita berpikir sebaiknya dia menyembunyikan dulu khabar tentang kehamilannya saat ini,karena Gavin baru sembuh,dia tidak ingin mengambil resiko dengan mengatakan soal itu pada Gavin,kesehatan Gavin sekarang lebih penting,pikirnya.