Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
109.Cemburu.


Anandita sudah berkali kali melirik kearah Gavin dan Siska,bahkan kadang dia sengaja berdehem agar mereka tau ada orang lain diruangan itu,selain mereka berdua.


Tapi tetap saja mereka sibuk membahas tentang pembukuan yang membuat Anandita pusing mendengarnya.


Anandita melihat jam diponselnya sudah ada dua jam mereka belum juga selesai membahas hal itu dari tadi,karena merasa semakin sebal dianggap tidak ada Anandita lalu bangkit dari ranjang dan berjalan keluar dari ruangan itu,tapi saat dia masih berada didepan pintu Gavin menegurnya.


"Kemana Yank?",mendengar itu Anandita kembali senang dia berpikir bahwa Gavin sudah selesai dan menyuruhnya untuk tidak keluar dari sana.


"Aku ingin keluar bosan disini",ucap Anandita.


Mendengar apa yang dikatakan Anandita Gavin hanya diam membuat Anandita kembali sebal,lalu segera keluar dan saat menutup pintu ruangan itu dia sengaja sedikit membantingnya agar Gavin mendengar,tapi ternyata Gavin tetap sibuk membahas pembukuan dengan Siska, membuat Anandita semakin sebal pada mereka berdua.


Sampai diluar,suasana Kafe sudah cukup rame meskipun Kafe hanya buka saat malam tapi pengunjungnya selalu rame mungkin karena mereka sudah tau bagaimana pelayanan dan keadaan Kafe ini karena itu mereka tetap kembali lagi,apalagi seperti malam ini yang merupakan malam senin,banyak pengunjung yang sengaja menghabiskan sisa akhir pekan mereka dengan hanya duduk duduk menikmati Live musik yang disediakan Kafe Gavin.


Anandita duduk dikursi pengunjung ikut menikmati Live musik yang sedang berlangsung, lumayan membuat kepalanya dingin dari pada saat berada didalam tadi melihat Gavin dan Siska sangat dekat.


Saat Anandita sedang asyik menikmati Live musik,tiba tiba Beni datang menghampiri mejanya dan memberikan segelas minuman kepada Anandita lalu duduk disamping Anandita,membuat Anandita terkejut.


"Ini Dita minumannya,"ucap Beni.


Anandita menatap sebentar kearah Beni,"Makasih tapi aku nggak minta minuman",ucap Anandita.


"Bos yang memerintahkan",ucap Beni.


Mendengar itu Anandita hanya mengangkat bahunya tidak perduli.


Tapi saat melihat Beni duduk setelah meletakkan minuman dimeja,Anandita mengerutkan dahi heran,sebelum Anandita bertanya Beni sudah lebih dulu menjawab.


"Bos juga yang nyuruh agar aku duduk disini menemanimu".


Mendengar itu bukannya senang Anandita malah semakin sebal pada Gavin.


"Tidak perlu kamu kembali saja kebelakang aku sedang ingin sendiri,bilang begitu pada bos besarmu itu,aku baik baik saja disini sendiri silahkan dia selesaikan pekerjaannya nggak perlu menyuruh orang untuk mengawasiku".ucap Anandita dengan nada sewot pada Beni.


Mendengar itu Beni bingung antara ingin tetap duduk atau berdiri meninggalkan Anandita sendiri.


Melihat Beni ragu ragu Anandita langsung mendorong tubuh Beni pelan menyuruhnya untuk pergi dari sampingnya.


"Sana pergi!,aku lagi pengen sendiri!",perintahnya.


"Tapi Dit,?"Beni masih tampak ragu ragu rasanya sekarang dia seperti makan buah Maja pahit sekali nggak ada manis manisnya rasanya.


"Pergi dengar nggak!,"gertak Anandita mengusir Beni.


Dengan berat hati Beni pergi meninggalkan Anandita duduk sendirian dikursi Kafe.


Anandita masih memandang Beni,sampai Beni pergi kebelakang tidak terlihat lagi baru Anandita mengalihkan pandangannya kedepan panggung yang masih menyuguhkan Live musik,yang sebenarnya tidak terlalu menarik hatinya,jadi dia hanya mendengarkan saja suara penyanyi yang menyuguhkan lagu lagu lembut malam itu,tapi matanya sibuk menatap layar ponselnya berharap Gavin akan menghubunginya dan menyuruhnya kembali kedalam .


Tapi sudah lebih satu jam dia duduk di kursi ,pengunjung Kafe sudah silih berganti dari tadi,sampai Anandita merasa sangat bosan,ingin kembali kedalam dia merasa gengsi,apalagi kalau didalam ruangan masih ada Siska dia akan semakin sebal nanti.


Anandita menghela nafas kasar karena sebal pada Gavin,dasar menyebalkan,rutuknya dalam hati.


Baru saja Anandita bermaksud meninggalkan kursinya untuk masuk kedalam ruangan pribadi Gavin dia ingin pulang saja malam ini, pikirnya,tapi tiba tiba dia mendengar suara familiar dari atas panggung.


"Selamat malam semua,selamat datang di Orange Kafe malam ini".


"Lagu spesial untuk bidadariku malam ini dari Al Gazali yang ber judul' Kesayanganku'ucap Gavin dengan mulai memetik gitar yang ada ditangannya.


Anandita yang sudah berdiri kembali duduk ditempatnya mendengarkan Gavin bernyanyi dengan suara yang tidak kalah merdu dengan penyanyi asli lagu yang dibawakannya Apalagi Gavin bernyanyi dengan terus menatap kearahnya membuat Anandita jadi tersipu malu dengan apa yang dilakukan Gavin padanya.


Semua pengunjung bertepuk tangan dengan meriah setelah Gavin selesai membawakan lagu yang dinyanyikannya.


"Terimakasih semuanya,terutama terimakasih untuk Bidadariku karena telah hadir melengkapi hidupku,selamat malam semua,"ucap Gavin dengan membungkukkan badan kearah semua pengunjung kafe, lalu menatap kearah Anandita yang juga menatap kearahnya dan Gavin sengaja mengedipkan sebelah matanya kearah Anandita,membuat wajah Anandita langsung bersemu merah,untung saja suasana Kafe itu sedikit remang jadi tidak ada orang yang melihat bagaimana malunya dia sekarang.


Anandita bermaksud masuk kebelakang Kafe setelah melihat Gavin tidak ada lagi dipanggung,tapi dia terkejut saat dia berbalik tiba tiba Gavin sudah berada didepannya.


"Vin!"


"Ayo!,"Gavin menarik Anandita untuk ikut dengannya.


"Kemana?"tanya Anandita bingung.


"Pulang",jawab Gavin.


"Kamu sudah selesai dengan siapa itu tadi namanya",ucap Anandita pura pura lupa nama perempuan yang bicara dengan Gavin didalam ruangannya.


Mendengar cara Anandita bicara membuat Gavin ingin sedikit menggoda istrinya yang sedang cemburu itu.


"Namanya Siska Dita".


Mendengar Gavin memanggilnya seperti itu membuat Anandita jadi sebal.


"Oooo,Sis...ka ya,"jawab Anandita sinis lalu pergi meninggalkan Gavin dengan menggerutu.


'Dasar laki laki,baru lima menit yang lalu memuji mujiku sekarang sudah menyebut perempuan lain dengan manis lagi menyebalkan,awas saja nanti',gerutu Anandita.


Gavin yang berjalan dibelakang Anadita menuju keparkiran mobil hanya tersenyum mendengar Anandita menggerutu padanya.


Sampai di mobil Anandita masih memasang wajah cemberut,apalagi sebelum naik keatas mobil Gavin sempat melambai kearah Siska dan dibalas oleh Siska dengan lambaian juga.


"Sudah?",tanya Gavin sebelum menghidupkan mobilnya.


"Hemmm",gumam Anandita sambil menatap lurus kedepan tanpa mau menegok kearah Gavin.


Melihat itu Gavin mengurungkan niatnya untuk langsung menghidupkan mobilnya,tapi malah mendekatkan wajahnya kearah Anandita.


"Kenapa kamu belum...!".


"Cup!"


Anandita terkejut karena Gavin tiba tiba mengecup bibirnya saat dia menoleh kearahnya.


"Kamu lucu kalau cemburu aku suka,"ucap Gavin dengan menatap Anandita lembut.


Mendengar apa yang dikatakan Gavin Anadita hanya mengerjapkan matanya antar terkejut dan bingung dengan apa yang dilakukan Gavin yang selalu penuh kejutan menurutnya.


"Ilove you my Anggel,"ucap Gavin lembut didepan wajah Anandita.