
Anandita terbangun saat merasa bantal disebelahnya kosong,dimana Gavin batinnya diliriknya jam diatas nakas masih malam apa mungkin Gavin turun kebawah.
Anandita langsung memasang pakaiannya dan berjalan keluar kamar sambil mengedarkan pandangan siapa tau Gavin ada diluar.
Lamat lamat Anandita mendengar suara orang sedang berbicara dia segera menghampiri asal suara yang ternyata berasal dari ruang kerja Ayah mertuanya yang pintunya tidak tertutup rapat.
dengan berjingkit Anadita mengintip dengan siapa sang ayah mertua sedang berbicara,ternyata dengan Gavin sedang membicarakan apa mereka tengah malam begini,batin Anandita dengan lebih mendekatkan tubuhnya kepintu supaya bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan,dan betapa terkejutnya dia saat mendengar inti pembicaraan mereka berdua
Anandita langsung menutup mulutnya tidak sanggup lagi mendengar kelanjutan ucapan Gavin pada ayahnya.
Anadita langsung berlari kembali kekamar mereka dan langsung membenamkan tubuhnya didalam selimut.
Perasaannya benar benar hancur saat ini tega sekali Gavin ingin menceraikannya kalau pengobatannya nanti gagal.
Anandita masih tetap membungkus tubuhnya dibawah selimut saat didengarnya pintu kamar terbuka pelan dari luar dan dirasakannya ranjang disebelahnya agak bergerak menandakan Gavin naik kembali keranjang.
Dengan airmata masih mengalir didalam selimut,Anandita menunggu sampai mendengar nafas teratur Gavin sebelum dia perlahan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
Anandita berbalik pelan menghadap kearah Gavin yang sudah tertidur lelap disampingnya,ditatapnya wajah tampannya yang terlihat lebih tirus dari sebelum sakit dulu,dengan pelan diangkatnya tangannya untuk membelai wajah itu.
"Ini pasti berat untukmu karena itu kamu ingin melepaskanku,tapi aku memutuskan untuk berjuang sampai akhir bersamamu,kalau kamu tidak menjadi suamiku lagi kamu tetap menjadi Gavinku jadi maaf aku tidak bisa mendengarkan dan menuruti keinginanmu,kebahagianku sudah berpusat padamu jadi selama kamu bernafas maka aku akan berada disisimu bagaimanapun kondisimu",bisik Anandita pada Gavin yang sudah tertidur.
***
Paginya Anandita bersikap seperti biasa pada semua orang termasuk pada Gavin yang sudah berubah lagi menjadi anak anak.
Dokter Rumi datang untuk melakukan pemeriksaan rutin dan mengatakan bahwa dalam dua hari ahli Hipnotis yang akan melakukan pengobatan untuk Gavin akan tiba ,jadi dia meminta pada seluruh orang dirumah itu untuk bersiap dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.Anadita hanya diam saja mendengar apa yang diucapkan dokter Rumi.
"Kamu baik baik saja?"tanya dokter Rumi saat melihat Anandita diam.
"Iya,saya sudah berusaha ikhlas dengan semua yang akan terjadi"jawabnya pelan.
"Jangan pernah menyerah sekecil apapun kemungkinan selama itu masih ada maka harapan kesembuhannya tetap ada,yang paling penting bagi mereka adalah dukungan kalian sebagai keluarga,kami hanya perantara saja".
"Trimakasih dokter saya juga tidak akan pernah patah semangat selama dia masih hidup bagi saya harapan itu akan tetap ada".
"Bagus tanamkan terus itu pada dirimu dan yang lain".
Anandita mengangguk,lalau mengantar dokter Rumi keluar.
***
Dua hari kemudian seperti yang dijanjikan dokter Rumi datang bersama seorang pria paruhbaya yang berasal dari luar negeri kerumah besar untuk melakukan pengobatan hipnotis pada Gavin.
Selama dua hari sejak terakhir kali Gavin bicara pada Anandita dan ayah mertuanya itu, dia sama sekali tidak muncul lagi,meskipun itu pada malam hari,membuat Anandita dan yang lain sangat khawatir.
Saat mereka datang Anandita langsung mundur kebelakang karena tidak sanggup untuk mendengar apa yang mereka katakan lagi.
Anandita memilih masuk kedalam kamar dan menutup pintunya rapat, dia ingin menenangkan diri sebentar dengan sendirian didalam kamar tapi tiba tiba pintu kamarnya dibuka dari luar, dia langsung berbalik terkejut melihat Gavin muncul didalam kamar.
"Gavin kenapa kamu kemari?"tanya Anandita.
"Anna kamu sedih?"tanyanya dengan duduk dipinggir tempat tidur disamping Anandita.
Anandita menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya merasa kurang enak badan"ucap Anandita karena memang sebenarnya beberapa hari ini dia merasa sering pusing dan perutnya terasa tidak nyaman mungkin asam lambungnya naik karena terlalu stres akhir akhir ini,batinnya.
"Kalau sakit sebaiknya kamu istirahat aku akan diperiksa sendiri bersama ayah saja"ucap Gavin.
Anandita mencoba tersenyum dan mengangguk pada Gavin.
"Tapi sebelum turun boleh aku memelukmu dulu,aku merasa sedikit takut diperiksa hari ini"ucapnya dengan menundukan wajahnya layaknya bocah kecil yang benar benar takut disuntik.
"Tentu,sini aku juga ingin memelukmu"jawab Anandita,lalu merangkul tubuh Gavin.
"Anna"
"Hemm"
"Aku menyukaimu,kalau nanti aku besar aku akan cari uang yang banyak dan akan menikahimu"ucap Gavin tiba tiba membuat Anandita mengerutkan keningnya heran.
"Kamu menyukaiku?"tanya Anandita menatap Gavin yang dijawab anggukan olehnya.
"Kenapa?"
"Karena kamu baik juga cantik jadi aku menyukaimu"ucapnya dengan ekspresi polos.
"Aku juga menyukaimu sangat menyukaimu",jawab Anandita merasa terharu
"Jadi tunggu aku sampai besar nanti aku akan datang mencarimu dan menikahimu,kamu mau kan?".
Anandita mengangguk pada Gavin."Aku akan menuggumu sampai kamu besar,aku janji".
"Baiklah kalau begitu,aku sudah berani sekarang menemui dokter sendiri kamu juga harus berobat jangan banyak menangis lagi ya?"
Anandita mengangguk,lalu melepaskan tangannya dari Gavin.
"Selamat tinggal Anna sampai jumpa lagi"ucapnya dengan berjalan keluar kamar.
Anandita tidak menjawab salam perpisahan yang diucapkan Gavin,tapi hanya memandang kepergiannya dengan airmata yang mengalir deras dipipinya sampai punggung itu menghilang dari pandangannya.
Setelah Gavin keluar,Anandita hanya bisa menelungkupkan wajahnya diatas kasur menangis meratapi kepedihan yang dialaminya saat ini.
Dia tidak memperdulikan apa yang terjadi diluar kamarnya perasaannya terlalu hancur saat ini,jadi satusatunya cara dia menumpahkan kesedihannya adalah dengan menangis sepuasnya sebelum besok memulai lembar baru perjalanan hidupannya,itu pikirnya.
Karena terlalu lama menangis dan juga terlalu lelah secara fisik dan mental selama ini Anandita tidak sadar sampai tertidur sambil masih mengalirkan airmata.
Sampai dia tidak tau ada yang masuk lagi kedalam kamarnya dan saat melihat dia tertidur dengan menangis dengan lemvut orang yang masuk itu langsung menyapu sisa air mata dari kedua pipi Anandita dengan jarinya.
"Maaf sudah menyakitimu sampai titik ini,mari kita mulai lembar kedua perjalanan cinta kita Yank,"bisiknya dengan mengecup jejak jejak airmata diwajah Anandita yang terlihat pucat karena kelelahan.
Setelah itu orang itu menarik tubuh Anandita masuk kedalam pelukannya dan ikut tidur bersama Anandita diatas ranjang.
Anandita yang merasakan ada seseorang memeluknya,balik memeluk tubuh orang itu erat.
Akhirnya setelah beberapa bulan dia merasakan perasaan tidak menentu baru sekarang Anandita bisa merasa tidur dengan tenang,dengan aroma tubuh dari orang yang sangat dia rindukan