Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
44.Terbongkar.


Anandita duduk diranjang dengan kesal karena Gavin tidak datang datang,dengan malas karena masih merasa lemas badannya setelah cumbuan mereka yang tidak selesai tadi ,Anandita mencoba bangkit dari ranjang dengan pelan mencoba mencari pakaiannya yang tadi dilepas Gavin,tapi ternyata dia tidak melihat lagi baju yang dipakainya tadi, hanya kaos milik Gavin yang terlihat dilantai,jadi Anadita memutuskan memakai itu untuk keluar mencari Gavin yang sudah keluar dari tadi.


****


Sementara itu Gavin yang berada diruang tamu,mulai gugup karena sang ayah menatapnya dengan pandangan yang semakin menyelidik.


"Apa yang kau sembunyikan lagi dariku!"ucap Bagaskara sambil menatap kearah putranya itu.


"Apa maksud Ayah,tidak ada yang aku sembunyikan,meskipun aku sembunyikan aku yakin ayah pasti akan tau".


"Benarkah?,saat ini mungkin kau masih menutupinya tapi nanti pasti...".


"Vin!!"


Kedua orang yang sedang bersitegang diruang tamu itu langsung menatap kearah sumber suara yang memanggil Gavin.


"Oh...Shittt!!"maki Gavin dia lupa dengan Anandita tadi,dan sekarang,Oh tuhan apa yang bakal terjadi ini,batin Gavin sambil memejamkan matanya.


Seketika Bagaskara melayangkan tangannya kewajah Gavin dengan sangat marah mendengar suara perempuan berasal dari kamar putranya,dan melihat bagaimana penampilan Gavin saat ini,baru dia mengerti apa yang ditutupi Gavin dari tadi.


"Plak!!!,Dasar kurang ajar!!!"bentak Bagaskara emosi," jadi ini kelakuanmu selama ini,siapa perempuan sialan itu yang berada didalam kamar!!!".


Gavin bermaksud menjawab ucapan ayahnya tapi sebelum sempat menjawab Anandita sudah lebih dulu keluar dari kamar tanpa wajah berdosa,dan hanya mengenakan atasan kaos miliknya yang membuat gavin benar benar terdiam seribu bahasa.


Tapi bukan hanya dirinya yang tidak bisa lagi bicara,Ayahnya dan Anandita juga sama sama terkejut dengan situasi ini.


"Om,Bagas!!!"pekik Anandita sambil menutup mulutnya.


Sementara Bagaskara tidak menyangka perempuan yang keluar dari kamar Gavin adalah Anandita ,dia benar benar syok apa lagi melihat bagaimana penampilan Anandita saat ini.


Bagaskara memejamkan matanya lalu menghela nafasnya dengan keras,dia benar benar sangat terpukul saat ini.


"Ganti pakaian kalian dan temui aku diruang tamu"ucapnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang diam membeku.


Gavin menghela nafasnya dengan berat sebelum mulai berjalan menghampiri Anandita.


"Ayo"Gavin mengajak Anandita masuk kedalam kamar untuk berganti baju.


Anandita hanya diam saja saat Gavin menariknya masuk.


"Ganti bajumu"ucap Gavin sambil membantu mengambilkan baju Anandita dari dalam lemari.


Anandita menerima baju yang diberikan Gavin dan langsung memakainya tanpa suara.


Setelah selesai berganti baju Gavin menggenggam tangan Anandita yang dingin seperti es karena syok.


"Tidak papa Yank..,jangan takut ada aku".


Anandita hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


*****


Diruang tamu Bagaskara duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangan bertumpu pada paha dia menatap tajam kearah Gavin dan Anandita yang sudah duduk dihadapannya.


"Bicaralah"ucap Bagaskara sambil menatap mereka berdua secara bergantian.


"Ini tidak seperti yang ayah pikirkan"jawab Gavin menatap kearah Bagaskara.


"Benarkah ,jadi sudah berapa lama kalian bersama?"


"Sudah hampir dua bulan"jawab Anandita sambil menundukan wajahnya tidak berani menatap kearah Bagaskara.


"Apa !!,sudah hampir dua bulan jadi sejak kamu baru bekerja menjadi guru diSMA Gavin!!"bentak Bagaskara.


Gavin sudah berusaha menekan emosinya sebisa mungkin saat bicara dengan Ayahnya hari ini,karena dia tidak ingin membuat Anandita jadi takut.


"Lalu kalau tidak seperti yang aku bayangkan,kalian sebut apa hubungan kalian dengan tinggal serumah...!"


"Kami sudah menikah!!"jawab Gavin dengan keras memotong pembicaraan ayahnya yang dia tau pasti akan panjang dan sangat menyakitkan nanti saat didengar.


Mendengar jawaban Gavin,Bagaskara langsung terdiam,mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan Gavin.


Bagaskara menghela nafas panjang sebelum kembali menatap kearah mereka berdua.


"Kapan kalian menikah"tanya dengan nada lebih pelan.


"Sudah hampir dua bulan"terang Gavin.


"Maksudmu?,kapan tepatnya dan kenapa kau tidak memberi tau aku sebagai ayahmu".


"Aku masih menunggu waktu yang tepat Yah".


"Kapan sampai Anandita hamil atau bahkan sampai kau punya anak nanti,Hah!!,dimana pikiranmu sebsgai seorang laki laki kau ingin anakmu disebut anak haram atau dia dihujat hamil diluar nikah,kau benar benar menyebalkan,Brak!!!"Bagaskara melempar vas yang ada diatas meja dengan marah kearah Gavin membuat Anandita langsung menjerit ketakutan melihatnya.


"Ayah hentikan!!,Ayah membuat Anandita takut!!"teriak Gavin dengan emosi.


"Lalu kenapa !!!,apa kau pikir aku tidak berhak marah pada kalian berdua karena tidak memberi tau hal besar seperti ini padaku!!,kalau Gavin tidak bisa mengatakannya seharusnya kau bisa mengatakannya bukan Dita!!!,apa aku tidak kau anggap ayahmu sendiri selama ini!!!"


"I...iya,om...ta..ta..pi,"Anandita semakin terisak karena takut melihat kemarahan dari Bagaskara.


"Berhentilah berteriak padanya Ayah pernikahan ini diluar rencana kami,tapi bukan berarti kami main main dengan pernikahannya".ucap Gavin dengan suara pelan agar suasana diruang tamu itu tidak semakin panas dan Gavin khawatir melihat Anandita sudah sangat pucat ketakutan karena melihat bagaimana sang ayah dari tadi berteriak.


"Maksudmu?"melihat Gavin mulai merendahkan nada suaranya Bagaskara pun melakukan hal yang sama,dia menatap kearah putranya dengan perasaan sedikit berbeda,dia merasa pemuda pemberontak itu sudah hilang berganti dengan seorang laki laki yang lebih tenang,membuat dia merasa sedikit lega saat memikirkan tentang apa yang sudah mereka lakukan.


Gavin mulai menceritakan bagaimana mereka bisa sampai menikah malam itu,kepada sang ayah.


Bagaskara menghela nafas dengan keras,menatap mereka berdua secara bergantian.


"Kalian harus meresmikan pernikahan kalian secepatnya supaya kuat dibadan hukum".


Anandita langsung menatap kearah Bagaskara dengan terkejut.


"Tapi om kami tidak bisa melakukannya sampai Gavin lulus sekolah,bagaimana nanti kalau orang orang banyak menggunjing kami disekolah!".


"Jadi kau lebih khawatir pada Gavin dari pada pada dirimu sendiri?"


"Iya...itu.."


Gavin menggenggam erat tangan Anandita memintanya untuk berhenti mendebat dengan sang Ayah.


"Kami akan melakukannya"ucap Gavin


"Tapi,Vin!,kita tidak harus melakukannya sekarang!"


"Baik akhir minggu ini kita lakukan ulang pernikahan kalian"ucap Bagaskara tanpa mendengarkan protes dari Anandita.


"Om ini tidak adil kenapa om memaksakan kehendak om!".


"Berhenti memanggilku Om,panggil aku ayah,dan kenapa kalian harus melakukan secepatnya, agar aku tidak merasa bersalah pada kedua orang tuamu disurga karena tidak menikahkanmu dengan benar,paham!"


"Iya,om..eh Ayah.."


"Besok setelah pulang sekolah akan kusuruh Asistenku untuk menjemput kalian,untuk mempersiapkan semuanya".Ucap Bagaskara,lalu bangkit dari sofa dan pergi keluar dari Apartemen meninggalkan mereka berdua.