Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
67.Pergi Honeymoon.


Dengan sebal Anandita mengikuti Gavin masuk ke dalam kamar.


Dia bingung melihat Gavin malah mengambil tas Anandita dan memberikannya pada yang empunya.


"Ini ayo!"ajak Gavin.


"Kemana?",tanya Anandita dengan bingung.


"Pulang!"jawab Gavin dengan menggandeng tangan Anandita untuk keluar dari kamar.


"Sekarang?"tanya Anandita masih tidak percaya.


"Iya...Yank!,kapan lagi",ucap gavin.


"Tapi kita belum bilang ayah",ucap Anandita masih merasa tidak nyaman karena pulang tanpa memberi tau ayah Bagas dulu.


"Aku sudah bilang tadi sebelum kamu bangun",terang Gavin yang membuat Anandita merasa lega mendengarnya.


Anandita pamit pada bik Siti lalu mengikuti Gavin keluar dan naik kedalam mobil mereka.


Saat masuk kemobil Anandita melihat kekursi belakang disana terdapat banyak barang barang Gavin dan juga sebuah piala besar yang diletakkan dilantai mobil.


Melihat itu Anandita langsung bertanya pada Gavin.


"Kamu menang lombanya?"tanya Anandita sambil menunjuk piala yang ada dilantai mobil mereka.


"Iya,aku menang",jawab Gavin.


"Selamat ya Vin!"Anandita langsung memeluk Gavin mendengar itu.


"Iya makasih Yank",Gavin membalas pelukan Anandita.


"Kita harus merayakannya sekarang"ucap Anandita dengan Anatusias.


"Dimana kita akan merayakannya?" tanya Gavin.


"Bagaimana kalau kita pergi berlibur sekarang mumpung masih ada libur beberapa hari lagi sebelum masuk sekolah".


"Sepertinya bukan ide yang buruk",ucap Gavin.


"Bagaimana kalau kita keVila?"saran Anandita.


"Nggak aku mau kita berlibur kepantai kali ini".


"Pantai?,tapi pantai jauh Vin kita harus naik pesawat dulu".


"Nggak masalah Yank,bukankah kita belum pernah jalan jalan jauh berdua,aggap aja kita honeymoon,bagaimana?"


"Tapi aku nggak bawa baju,Vin",ucap Anandita.


"Nggak perlu mencemaskan itu,mungkin saja kamu bahkan tidak sempat pakai baju lagi ".


Anandita menatap Gavin bingung mendengar ucapan terakhir Gavin,tapi Gavin tidak perduli,karena dia sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumah besar Bagaskara.


****


Gavin menggandeng mesra Anandita masuk kearea Bandara tanpa memperdulikan tatapan dari orang orang yang berpapasan dengan mereka.


"Kita langsung naik?"tanya,Anandita heran karena mereka tidak perlu menunggu lama untuk naik kepesawat .


"Iya,kebetulan masih ada dua kursi kosong,saat aku pesan tadi,ayo Yank!"Gavin menarik Anandita mengajaknya naik.


Anandita pikir mereka akan duduk dikelas ekonomi seperti yang lain tapi ternyata Gavin membeli tiket untuk dikelas Vip.


"Semua yang terbaik untuk istriku yang paling kucintai"bisik Gavin lirih setelah pramugari meninggalkan mereka,membuat pipi Anandita langsung merona mendengar kata kata manis Gavin.


Selama perjalanan mereka Gavin tidak melepaskan genggaman tangannya pada Anandita sedikit pun,seolah olah kalau dia melepaskannya Anandita akan menghilang dari sampingnya.


"Kamu nggak ingin istirahat sebentar",tawar Anandita karena melihat Gavin tampak lelah.


"Iya,sebentar aku ingin tidur,peluk sini Yank!"


Anadita meletakkan kepala Gavin dipundaknya dan mulai membelainya lembut supaya Gavin bisa segera tertidur.


Tidak membutuhkan waktu lama,nafas Gavin sudah terdengar teratur dipundaknya.


Pramugari menawarkan memberikan bantal untuk Gavin tapi dengan sopan Anandita menolak tawaran itu,dia menikmati kedekatan mereka seperti ini,dibelainya lembut wajah Gavin yang bersandar dipundaknya.


"I Miss You,Too"ucap pelan Anandita dengan menyandarkan kepalanya kekepala Gavin sampai tidak sadar dia juga ikut tertidur.


Anandita membuka matanya saat mendengar suara pramugari yang memberi tau bahwa pesawat yang mereka naiki akan segera mendarat.


"Sudah bangun?"


"Kapan kamu bangun?"tanya Anandita karena seingatnya tadi Gavin tidur kenapa sekarang malah dia yang tidur,dan posisi tidurnya bukan bersandar dikepala Gavin lagi tapi Anandita menyandarkan setengah badannya kebadan Gavin.


Anandita langsung menegakkan tubuhnya kembali ketempat duduknya sendiri.


"aku sudah bangun dari tadi,Yank",jawab Gavin sambil meregangkan tubuhnya,karena dari tadi memeluk Anandita.


"Kenapa nggak mbangunin aku?"tanya Anandita merasa tidak nyaman, karena dari tadi tidur dipelukan Gavin.


"Kenapa, aku nggak keberatan meluk kamu terus?!"


"Tapi tanganmu jadi kram,gara gara aku".


"Nggak papa,nanti juga hilang sendiri,ayo turun!"Gavin menggandeng tangan Anandita mengajaknya turun dari pesawat.


Sampai di Bandara mereka naik Taxi menuju sebuah hotel yang berada dipinggir pantai.


Saat turun dari taxi Anandita terkagum kagum melihat tempat itu.


"Wah ini indah sekali,"ucap Anandita.


"Kamu suka,Yank?"tanya Gavin dengan memeluk pinggang Anandita.


"Suka sekali kapan kamu pesan tempat ini?"


"Sudah lama,aku memang berencana mengajakmu untuk berlibur kesini tapi baru bisa melakukannya sekarang".


"Jadi ini alasanmu untuk cepat pulang?".


"Hemm,aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu kamu Yank".


"Makasih untuk semuanya,kamu pasti salah satu anugrah Tuhan untukku".Ucap Anandita dengan memandang kearah Gavin.


Gavin hanya diam tidak menjawab ucapan Anandita.


"Ayo kita masuk",Gavin mengajak Anandita masuk kedalam Bungalow yang disewanya selama beberapa hari kedepan itu.


Sampai didalam Anandita benar benar terpesona dengan suasana Bungalow itu.


Anandita berjalan masuk kedalam kamar disana terdapat ranjang dengan kelambu putih yang menambah estetik ruangan berwarna putih itu.


Tanpa pikir panjang Anadita langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang terasa nyaman karena lelah.


"Bagaimana?"tanya Gavin dengan tubuh membungkuk diatas Anandita.


"Aku suka disini,makasih,"jawab Anandita dengan mengalungkan kedua tangannya keleher Gavin.


"Hanya itu",ucap Gavin dengan menyentuh anak anak rambut yang menutupi wajah Anandita.


"Maksudmu?"


"Bagaimana dengan hadiahku Yank?"ucap Gavin dengan suara mulai terdengar parau.


Anandita langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Gavin itu,dia benar benar lupa tentang itu karena merasa terlalu bahagia.


Dia lupa bahwa apapun yang dilakukan suaminya itu pasti tidak jauh dari pikiran mesumnya.


"Itu....".


"Aku minta hadiahku sekarang,Yank".


"Ya"Anandita hanya bisa pasrah kalau Gavin sudah mode devil seperti itu,karena dia tau bagaimana pun dia berusaha untuk menolaknya kalau untuk masalah itu Gavin tidak akan perduli sebelum Anandita setuju.


Dan begitulah liburan mereka setelah sampai diawali dengan kegiatan panas penuh gairah siang itu, Gavin benar benar tidak melepaskan Anandita,sepertinya rasa rindu selama sebulan tidak bisa bertemu ingin ditumpahkannya saat itu juga.


Anandita benar benar dibuatnya tak berdaya karena buasnya Gavin padanya siang itu.


Sampai menjelang malam mereka baru berhenti melakukan adegan plua plus itu.


"Makasih Yank hadiahnya"ucap Gavin dengan mengecup lembut puncak kepala Anandita.


Dengan nafas terengah engah dan tubuh lemas Anandita hanya mengangguk tidak sanggup lagi untuk berbicara,karena terlalu lelah.


Melihat Anandita tak berdaya,Gavin menarik tubuh Anandita kedalam pelukannya.


"Mau kubantu pergi kekamar mandi?"tawar Gavin.


"Iya,tolong aku tidak sanggup lagi berjalan",ucap Anandita lemah.


Dengan sigap Gavin membopong tubuh Anandita kekamar mandi dan langsung membantunya mandi tanpa diminta.