Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
51.Kerumah Besar.


Anandita baru sampai diArea parkiran sekolah, saat dilihatnya Sekretaris Santy sudah menunggunya disana.


"Mbak Dita ayo"Santy mempersilahkan Anandita untuk masuk kemobilnya.


"Kita langsung ke Butik bu Ajeng Mbak?"tanya Anandita.


"Iya,setelah dari sana baru saya akan mengantar mbak Dita untuk Spa".


Anandita hanya mendengarkan apa yang diucapkan oleh sekretaris Bagaskara itu.


Sampai dibutik Ajeng Maharani sendiri yang menyambut mereka datang.


"Akhirnya kau datang,aku sudah tidak sabar melihatnya untuk mencoba baju yang kubuat ini".


Anandita hanya tersenyum sopan menanggapi ucapan Ajeng Maharani itu.


Ajeng Maharani mengajak Anandita kedalam ruang pajangan khusus yang sepertinya diperuntukan hanya untuk tamu tamu Vipnya saja.


"Lihatlah!"ucapnya sambil menunjukan baju kebaya warna putih dengan bawahan kain batik coklat yang sangar cantik bahkan Anandita tidak bisa menggambarkan secantik apa gaun itu.


Anandita berjalan mendekat kearah baju pengantinnya yang masih dipajang dipatung.


menatapnya dengan terkagum kagum.


"I..ini cantik sekali"ucapnya dengan mata berkaca kaca karena terharu.


"Ini kubuat khusus untukmu dan kujahit sendiri dengan kedua tanganku,jadi kuharap saat kau memakainya nanti kau akan menjadi pengantin paling bahagia"ucap Ajeng Mahari dengan menyentuh kedua tangan Anandita.


"Te..terimakasih,banyak"ucapnya dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.


"Iya,aku berbahagia untukmu".Jawab Ajeng Maharani.


Setelah selesai mencoba baju pengantin yang akan dipakainya hari sabtu nanti,Anandita diajak oleh sekretaris Santy ke sebuah Spa terkenal untuk melakukan perawatan pengantin sebelum besok hari H acara pernikahannya.


Anandita hanya membiarkan saja saat para pegawai disalon itu melakukan tugasnya untuk membuat Anandita tampil sempurna besok.


Saat menjelang malam baru Anadita selesai melakukan perawatan diSpa.


Sekretaris Santy langsung mengantar Anandita untuk menuju rumah besar milik Bagaskara.


Setelah berkendara sekitar 30 menit dari pusat kota baru mereka memasuki sebuah kawasan perumahan elit yang hanya dimiliki oleh para konglomerat dan orang orang berduit tebal.


Anandita sampai terkagum kagum saat melihat gerbang besar yang akan menuju kawasan elit itu.


"I..ini tempat tinggal Ayah Gavin?"tanya Anandita dengan kagum.


"Iya Mbak,besok acara ijab qobulnya akan diadakan disini",terang Sekretaris Santy.


"Wah pasti hanya orang kaya saja yang tinggal disini",ucapnya yang membuat sekretaris Santy tersenyum dengan ekspresi Anandita.


"Maaf"ucap Anadita malu karena ketahuan terpesona dengan tempat itu.


"Nggak papa,saya juga dulu pertama kali melihat tempat ini terkagum kagum tapi karena sekarang sudah sering kesini jadi terbiasa"jelas sekretaris Santy.


"Mbak Santy sudah lama kerja dengan Ayah Bagas?"Tanya Anandita.


"Ya,sekitar lima tahun,kenapa mbak?"


"Nggak,hanya ingin tau saja".Jawab Anandita.


Dari pintu gerbang besar menuju rumah yang ditempati Bagaskara berjarak sekitar 500 meter.


"Mbak Dita kita sampai"ucap sekretaris Santy yang sudah menghentikan mobilnya didepan rumah besar berbentuk klasik seperti kastil jaman pertengahan membuat Anadita tidak bisa menahan celetuknya saat melihat model rumah itu.


"Mbak Santy disini nggak ada naganya kan?"


"Maksud mbak Dita?"


"Nggak ada saya cuma bercanda karena saat melihat bentuk rumah ini mengingatkan saya pada cerita naga naga jaman dulu,"terang Anandita.


"Tentu saja disini ada naganya karena itu kau tidak bisa macam macam".


Seketika Anandita dan sekretaris Santy menengok kesumber suara.


"Om..eh Ayah Bagas!!"ucap Anandita terkejut.


sedangkan sekretaris Santy hanya menundukkan hormat.


"Kau tidak lihat bukankah aku juga seperti naga jahat",celetuknya lagi yang membuat Anadita jadi malu.


"Saya hanya bercanda"terang Anandita.


"Jadi karena itu malam ini aku sengaja menahanmu disini,supaya pangeranmu itu datang menyelamatkanmu kalau tidak mana mau dia menginjakkan kakinya disarang naga ini"gerutu Bagaskara sambil berjalan masuk kedalam rumah diikuti oleh Anadita dan sekretaris Santy.


Bagaskara mengajak Anadita menaiki tangga menuju lantai dua kemudian menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh Anadita malam ini.


"Kau tidur disini malam ini"ucapnya pada Anadita.


Anandita masuk kedalam kamar besar yang sangat indah itu.


"Ini kamar tamu Ayah?" tanya Anadita karena melihat kamar itu seperti belum pernah ditempati tapi terlihat bersih dan rapi,juga sangat lengkap dengan dinding berwarna putih tulang.


"Bukan ini kamar yang kusiapkan untuk Gavin dulu",terang Bagaskara.


"Tapi sepertinya belum pernah ditempati".


"Iya,karena Gavin memang tidak pernah datang kerumah ini".Anandita langsung diam saat mendengar keterangan dari Bagaskara tentang kamar itu.


"Sudahlah ayo turun kita makan malam dulu,bik Siti sudah tidak sabar menunggu ingin bertemu kamu".


"Iya".Anandita berjalan mengikuti Bagaskara menuju ruang makan besar yang ada dirumah itu.


Sepanjang dinding rumah sampai menuju rung makan Anandita banyak melihat foto foto Gavin dari mulai kecil sampai dia sekarang dan ada juga satu foto yang lebih tepatnya lukisan keluarga sepasang suami istri dengan seorang balita dalam gendongan si Ayah yang tampak sedang tersenyum bahagia.


Anandita tidak berani bertanya apapun soal foto foto yang dilihatnya itu, karena dia tidak ingin merusak suasana bahagia yang terpancar dari wajah ayah mertuanya itu.


Sampai dimeja makan Anandita disambut oleh seorang perempuan paruhbaya yang langsung tersenyum lebar saat melihatnya.


"Ini calon istrinya Mas Gavin ya pak?"tanyanya Antusias.


"Bukan calon istri tapi memang sudah istri Gavin,jadi sebenarnya dia sudah resmi jadi anakku mulai dua bulan lalu"terang Bagaskara pada perempuan itu.


"Benarkah,nengnya cantik sekali pantas Mas Gavinnya nggak sabar untuk cepat cepat nikahin".


Anandita hanya tersenyum pada wanita itu.


"Neng mulai sekarang neng harus ngajak Mas Gavin untuk sering datang kerumah ini,kasihan tu pak Bagas kesepian kalau dirumah,makanya itu beliau juga jadi jarang pulang,kalau ada kalian pasti rumah besar ini nggak sepi lagi neng,apalagi kalau neng sama mas Gavin cepat punya anak rumah ini jadi semakin rame,jadi nggak usah menunda ya neng untuk punya anak,kasihan pak Bagas".


Anandita hanya mengangguk sopan pada perempuan setengah baya yang dipanggil bik Siti itu.


"Mereka belum akan punya anak dalam waktu dekat karena Gavin masih sekolah".Ucap Bagaskara.


"Tapi Nengnya kan sudah nggak sekolah pak jadi nggak papa,neng psk Bagas nggak usah didengari dia itu kaya singa dikebun binatang,kelihatannya aja garang padahal nyalinya kecil".ucap bik Siti yang membuat Anadita mau tidak mau terpaksa tertawa mendengar perumpamaan ynag disebutkan bik Siti tentang ayah mertuanya itu.


"Sepertinya kau benar benar ingin cepat pensiun",ucap Bagaskara pada pembantunya itu.


"Saya memang sudah lama pengeng pensiun, Bapak saja nggak mbolehin,kalau memang bapak mau menyuruh saya pensiun,besok antarkan saya sesudah acara mas Gavin pulang kekampung!".