Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
139.Makan malam Diluar.


Cinta mengikuti langkah Bagaskara keluar dari dalam rumah menuju mobilnya.


"Masuklah",perintah Bagaskara.


Cinta mengangguk kemudian masuk kedalam mobil milik Bagaskara,setelah itu Bagaskara melajukan mobilnya meninggalkan rumah mereka.


Bagaskara membawa Cinta kesebuah kafe 24 jam karena saat itu sudah hampir tengah malam sudah banyak restoran dan rumah makan biasa yang tutup.


"Ayo turun",perintah Bagaskara.


Dengan patuh Cinta turun dari dalam mobil, tapi dia langsung berhenti disamping mobil membuat Bagaskara yang sudah berjalan didepannya terpaksa berbalik menatapnya.


"Ada apa apa kamu berubah pikiran untuk makan".


Cinta menggeleng"Bukan..i..itu...baju saya",ucap Cinta dengan menatap pakaian yang dikenakannya.


Cinta hanya memakai celana panjang longgar dengan atasan kaos yang dilapisi sweter longgar diluarnya serta rambutnya hanya diikat asal tadi, benar benar tidak siap untuk masuk ketempat sekelas Kafe yang sekarang berada didepannya itu.


Bagaskara memperhatikan penampilan Cinta dari atas kebawah membuat Cinta secara tidak sadar langsung merapatkan sweternya karena merasa tatapan Bagaskara begitu intent padanya.


Tiba tiba Bagaskara menghampiri Cinta membuat Cinta secara reflek mundur kebelakang karena gugup,apalagi Bagaskara tiba tiba menarik lepas ikat rambut yang dipakai oleh Cinta,membuat Cinta terkejut dengan apa yang dilakukan laki laki itu padanya.


"Sekarang lebih baik ayo masuk",ajak Bagaskara dengan berjalan didepan Cinta membuat Cinta benar benar tidak percaya bahwa Bagaskara sudah merapikan penampilannya tadi.


"Ayo",ajak Bagaskara lagi karena melihat Cinta belum beranjak dari tempatnya.


"I..iya tu..tuan",jawab Cinta lalu berjalan mengikuti Bagaskara dari belakang untuk masuk kedalam Kafe itu.


Bagaskara mengajak Cinta duduk dikursi yang sedikit terlindung dari pandangan orang membuat Cinta merasa lebih nyaman.


"Kamu pesanlah",perintah Bagaskara saat seoarang pelayan memberikan buku menu pada mereka.


Cinta membolak balik buku menu karena bingung harus pesan apa saat ini,semua makanan yang ada dimenu semuanya makanan Western dan yang pasti harganya sangat mahal menurut Cinta.


Bagaskara memperhatikan apa yang dilakukan Cinta dan setelah beberapa saat Cinta masih melakukan hal yang sama pada buku menu, dengan tidak sabar Bagaskara mengambil buku menu dari tangan Cinta kemudian menyerahkannya kepada pelayan membuat Cinta terkejut,dia pikir Bagaskara marah tapi ternyata dia mengatakan pesanannya tanpa melihat buku menu pada pelayan itu.


Setelah mendengar apa yang dipesan Bagaskara,pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka.


Melihat itu Cinta bisa menarik nafas lega karena tak perlu mengatakan pesanannya pada pelayan tadi.


Tak lama makanan yang mereka pesan datang,Cinta terkejut karena pelayan membawa sepiring daging stik porsi lengkap dan segelas minuman.


"Makanlah",perintah Bagaskara.


"I...ini tuan tadi memesankan ini untuk saya",ucap Cinta.


"Iya apa kau tidak suka?",tanya Bagaskara.


Cinta langsung menggeleng"sepertinya enak tapi...saya tidak pernah makan ini"jawab Cinta jujur sambil menatap kearah Bagaskara.


Mendengar itu tiba tiba Bagaskara mengambil piring milik Cinta dan mulai membantunya memotong daging dalam piring itu supaya mudah dimakannya.


Cinta terkagum kagum melihat kelihaian Bagaskara memegang alat makan yang baru hari ini dilihatnya.


"Sudah kau bisa memakannya sekarang?",tanya Bagaskara.


Cinta segera mengangguk dia khawatir kalau dia bilang ini pertama kalinya dia melihat alat makan itu dan baru malam ini akan menggunakanya nanti Bagaskara juga akan menyuapinya makan.


"Bagaimana?",tanya Bagaskara sambil menatap Cinta makan.


"Sangat lezat",ucapnya jujur dengan memasukkan potongan daging kedalam mulutnya.


"Habiskan makananmu karena setelah ini kau akan butuh energi besar untuk merawat Cello",ucap Bagaskara.


Cinta hampir saja salah mengira saat Bagaskara mengatakan dia akan butuh energi besar malam ini,untung saja Bagaskara melanjutkan kata Cello jadi dia tidak jadi berpikiran yang lain.


Cinta mengangguk untuk menjawab ucapan Bagaskara.


"Sudah sebelum pulang tadi dengan rekan bisnisku" jawab Bagaskara.


Mendengar itu Cinta hanya diam sambil meneruskan makannya,orang seperti Bagaskara pasti tidak pernah merasa lapar atau kesulitan seperti dirinya, batin Cinta sambil mengamati penampilan Bagaskara disela sela menyuap makananya,karena saat itu Bagaskara terlihat sedang sibuk dengan ponselnya jadi tidak sedang memperhatikan dirinya.


"Habiskan makananmu dan berhenti menatap kearahku",ucap Bagaskara masih sibuk dengan ponselnya.


Mendengar itu Cinta langsung tersedak.


"Uhuk...uhuk...".


"Kubilang makan dengan benar,jangan melihat kearah lain",ucap Bagaskara dengan menyodorkan gelas minum untuk Cinta.


"Maaf",ucap Cinta dengan menerima gelas itu dan langsung meminum isinya.


Bagaskara menatap langsung kearah Cinta membuat Cinta langsung gugup.


"A..apa..ada yang salah tuan?",tanya Cinta gugup ditatap dengan pandangan menyelidik pada Cinta.


"Tidak,aku hanya sedang mencoba mengingat kapan tepatnya kita pernah bertemu sebelum ini,karena wajahmu terlihat familiar".


Cinta seketika langsung merasa udara disekitarnya terasa dingin mendengar apa yang dikatakan Bagaskara.


"I..itu..hanya pertemuan biasa saat saya masih disekolah menengah,tapi kalau dengan om Willy saya sering bertemu dengannya karena dia sering mengirimkan bantuan atas nama tuan untuk yayasan panti asuhan kami".


"Benarkah?",tanya Bagaskara seolah menyelidik menatap Cinta.


Cinta mengangguk.


"Apa kamu sangat dekat dengan Willy?",tanya Bagaskara.


Cinta menggeleng" hanya sebatas kenal".


"Tapi kalian sepertinya sangat dekat kenapa Willy tidak pernah mengatakannya padaku".


"Ti...tidak...kami...tidak dekat...saya tidak berani tuan",ucap Cinta.


"Kenapa,apa kamu tau Willy sudah menikah?".


Cinta langsung mengangguk ,padahal dalam hatinya bukan itu ,'tapi karena saya juga sudah menikah dengan anda karena itu saya tidak berani dekat dengan lelaki manapun', batin Cinta.


"Habiskan makananmu lalu kita pulang",ucap Bagaskara.


Cinta mengangguk,tapi selera makannya sudah hilang sejak Bagaskara menanyakan masalah pribadi padanya barusan.


"Saya sudah kenyang bisa kita pulang sekarang",pinta Cinta sekarang dia merasa ingin pulang dan tidur saja,untuk menghilangkan sedikit sesak didadanya.


Bagaskara tidak memaksa Cinta dia segera


memanggil pelayang untuk membayar makanan mereka,setelah itu dia mengajak Cinta pulang.


Sampai dirumah Cinta bermaksud langsung turun dari mobil ,tapi tiba tiba Bagaskara mencekal lengannya membuat Cinta terkejut dan langsung menoleh kearah Bagaskara.


"Apa aku sudah menyinggungmu?",tanya tiba tiba.


Cinta langsung menggeleng"Kenapa tuan?",tanya Cinta.


"Tidak ada masuklah,oh iya mulai besok ingatlah tidak perlu melakukan pekerjaan rumah yang tidak penting dan kalau kau butuh sesuatu gunakan ini untuk keperluan Cello dan kamu".


Cinta terkejut melihat Bagaskara memberikan kartu debit untuknya.


"I..ini..tidak perlu tuan saya bisa mengatakan pada om Willy kalau Cello butuh apa apa".


"Ambil saja, jadi kau tidak perlu merepotkan Willy terus kalau butuh apa apa,nomor pinnya ulang tahun Cello",ucap Bagaskara kemudian menyebutkan beberapa angka pada Cinta.