Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
108.Mengunjungi Orange Kafe.


Anandita menatap Gavin yang sudah selesai bersiap,sementara dia baru selesai membersihkan diri dikamar mandi.


"Kita jadi pulang sekarang?",tanya Anandita.


Gavin mengangguk,"Bersiaplah aku tunggu dibawah Yank",ucap Gavin lalu keluar dari dalam kamar.


Mendengar itu Anandita segera memakai baju dan bersiap.


Tidak butuh waktu lama dia sudah selesai memakai bajunya dan keluar juga dari kamar.


Saat sampai diluar dilihatnya Gavin tidak ada hanya ada bik Siti yang sedang membersihkan rumah,jadi Anandita bertanya pada bik Siti dimana Gavin.


"Bibik melihat Gavin?",tanya Anandita.


"Mas Gavinnya sudah diluar neng",jawab bik Siti.


"Oh iya makasih bik,"mendengar itu Anandita langsung berjalan kedepan,tapi waktu melewati bik Siti Anandita sempat menanyakan tentang keberadaan ayah mertuanya.


"Ayah Bagas belum kembali?,"tanya Anandita.


"Belum,dia juga nggak ada menelpon bibik neng",ucap bik Siti terdengar khawatir.


"Mungkin pekerjaan ayah Bagas belum selesai jadi belum kembali",ucap Anandita berusaha menenangkan Bik Siti, lalu pamit untuk pulang keApartemen mereka.


"Sering sering datang kesini ya neng supaya bibik tidak kesepian",ucap bik Siti saat melepas kepergian mereka dari depan pintu.


Mendengar itu Anandita hanya mengangguk lalu melambai ke bik Siti dari dalam mobil sebelum mobil mereka melaju meninggalkan Rumah besar Bagaskara.


Saat keluar dari pintu gerbang komplek perumahan Anandita seperti melihat mobil milik ayah mertuanya melewati mereka kearah rumah.


"Vin itu sepertinya ayah pulang",ucap Anandita dengan menegok kearah mobil yang sudah berselisihan dengan mereka.


"Biarkan saja",jawab Gavin dengan tetap melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan itu.


"Kita tidak kembali dan berpamitan pada ayah?",tanya Anandita.


Gavin menggeleng.


"Tapi...".


"Biarkan saja Yank,ayah pasti tau kita kembali hari ini,jadi biarkan saja".


Mendengar itu Anandita diam,tetap dingin,batin Anandita gemas pada mereka berdua,kadang dia bingung bagaimana caranya supaya hubungan antara Gavin dan sang ayah tidak kaku seperti sekarang,meskipun akhir akhir sudah ada komunikasi antar mereka berdua tapi tetap saja Anandita merasa hubungan mereka terlalu dingin sebagai orang tua dan anak.


Karena asyik dengan pikirannya sendiri Anandita tidak sadar kalau Gavin tidak mengarahkan mobilnya menuju rumah.


"Vin kita mau kemana?",tanya Anandita bingung.


"Kita mampir keOrange Kafe dulu ya Yank",ucap Gavin.


"Kamu ada urusan disana?",tanya Anandita karena tau selama ini urusan tentang Kafe sudah diserahkan pada Heru dengan Beni,dan ayah Bagas juga memperkerjakan seorang pegawai lagi yang khusus mengurusi masalah pembukuan Kafe.


Karena saat itu Gavin sakit jadi Anandita yang menyetujui saran sang Ayah dan setelah Gavin sembuh pengelolaan Kafe masih tetap berada dibawah Heru dan Beni,ayah mengatakan itu agar Gavin lebih fokus pada sekolah dan kesembuhannya.


"Kenapa Yank?",tanya Gavin menatap kearah Anandita.


Anandita hanya menggeleng.


"Aku sudah lama tidak datang keKafe aku ingin melihat bagaimana sekarang keadaan Kafe",ucap Gavin.


"Tapi kamu sebentar lagi akan ujian dan bukankah di Kafe sudah ada Mas Heru dengan Beni",jawab Anandita.


Mendengar itu Gavin diam tidak menjawab Anandita lagi,tapi terus melajukan mobilnya menuju Orange Kafe yang sudah terlihat didepan mereka.


Gavin turun setelah itu dia membantu Anandita untuk turun dari mobil.


"Ayo",dengan membantu Anandita turun,setelah itu Gavin tidak langsung masuk kedalam tapi berdiri menatap bangunan Kafe itu.


"Aku merindukan tempat ini",ucapnya lalu menatap kearah Anandita.


"Ini salah satu hal berharga yang kumiliki selain kalian",ucapnya dengan menatap kearah Anandita.


Anandita hanya diam tidak menjawab apa yang diucapkan Gavin,dia mengerti bagaimana perasaan Gavin pada Kafe ini banyak kenangannya disini,baik yang sedih dan senang dia lebih banyak menghabiskan waktunya disini,jadi wajar saja dia ingin kembali mengunjungi tempat ini.


"Ayo masuk",Gavin menggandeng tangan Anandita untuk masuk kedalam Kafe.


Sampai didalam para karyawan sedang dibrifing oleh Heru, kebiasaan sebelum mulai Kafe buka.


Mereka terkejut saat melihat Gavin dan Anandita tiba tiba berdiri didepan pintu Kafe.


"Bos!",ucap Heru yang pertama kali menyadari kehadiran mereka berdua.


Mendengar Mas Heru menyapa mereka,karyawan yang lain langsung menoleh kebelakang mereka melihat semua karyawan menoleh Anandita melambai kearah mereka,sementara itu Gavin haya mengangguk seperti biasa.


Heru menghampiri Gavin "Bos ada perlu,atau hanya mampir?",tanya Heru.


"Hari ini aku hanya mampir tapi mungkin aku juga akan sedikit lama malam ini karena sudah lama aku tidak datang aku ingin melihat bagaimana suasana Kafe sekarang".


"Apa bos ingin melihat pembukuan Kafe juga?",tanya Heru.


Gavin langsung mengangguk,


"Siska yang mengerjakan pembukuan Kafe saya akan suruh Siska membawa laporannya".


"Aku akan berada diruanganku,kutunggu disana",ucap Gavin lalu mengajak Anandita menuju ruang pribadinya,Anandita tersenyum ramah pada Heru dan karyawan yang lain sebelum mengikuti langkah Gavin masuk keruang pribadinya itu.


Sampai didalam Gavin menyuruh Anandita untuk beristirahat diranjang singgle yang ada dikamar itu,sementara itu dia langsung duduk dimeja kerjanya.


"Istirahatlah dulu mungkin aku akan lama",ucap Gavin.


Anandita mengangguk dan mulai duduk dengan menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang,dia bermain dengan ponselnya agar tidak mengganggu Gavin yang mulai melihat kelaptop yang ada diruangan itu,tak lama setelah mereka masuk pintu ruang pribadi diketuk dari luar, Gavin menyuruh orang yang mengetuk masuk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop didepannya.


"Masuk!",perintah Gavin.


Seorang gadis muda yang memakai seragam Orange Kafe masuk,Anandita menatap gadis muda itu saat masuk,apa ini Siska yang diperintahkan oleh ayah Bagas untuk bekerja disini masih sangat muda dan cantik.


"Bos",sapa Siska.


Mendengar itu Gavin menatap kearah Siska lalu kembali menatap layar laptopnya.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Anandita meskipun hanya dengan melirik.


"Kamu Siska?",tanya Gavin.


Siska mengangguk"Iya bos,saya yang mengerjakan pembukuan selama bos tidak ada",ucap Siska.


"Aku perlu mendengar penjelasanmu secara langsung tentang semua ini",ucap Gavin.


Mendengar itu Siska mendekat kearah Gavin dan menunduk kearah laptop yang berada didepan Gavin dan mulai menjelaskan tentang kumpulan angka angka itu.


Anandita yang melihat Gavin dan Siska sedang membahas tentang pekerjaan dengan posisi sangat dekat merasa dongkol,berkali kali diliriknya mereka berdua, tapi mereka tidak perduli bahkan Gavin terus saja bertanya berbagai hal tentang masalah angka angka,yang membuat Anandita semakin sebal dan menurut Anandita posisi Siska terlalu dekat dengan Gavin,bahkan Anandita melihat seolah olah Siska sengaja mendekatkan tubuhnya kearah Gavin.


Membuat Anandita merutuk dalam hati,dasar ganjen,gerutu Anandita dalam hati sebal.