Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
45.Akhirnya...Lega..


Setelah Bagaskara keluar dari Apartemen,suasana diruang tamu itu sunyi tidak ada diantara mereka berdua yang bicara,mereka terlalu syok dengan apa yang baru saja terjadi.


Gavin menengadahkan wajahnya sambil menghela nafas keras,meskipun terkejut tapi dia merasa lega akhirnya masalah yang selama ini mengganggu pikirannya sudah selesai,dia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana cara manjelaskan pada Ayahnya tentang dia dan Anandita lagi.


Melihat Gavin dengan posisi seperti itu membuat Anandita semakin merasa bersalah.


"Vin...,maaf..semua gara gara aku kalau saja aku tidak keluar kamar pasti Om..Eh Ayah Bagas tidak akan marah seperti tadi"ucap Anandita pelan.


"Kemarilah"Gavin menarik tubuh Anandita untuk duduk dipangkuannya.


Anandita menuruti apa yang diperintahkan Gavin,untuk naik keatas pangkuannya.


Gavin menatap kearah Anandita yang masih saja menunduk.


"Yank lihat sini"perintah Gavin sambil mengangkat dagu Anandita untuk menatap kearahnya.


Dengan pelan Anandita mengangkat wajahnya untuk menatap kearah Gavin.


"Vin!!,wajahmu!"Anandita menyentuh wajah Gavin yang memar karena tamparan dari ayahnya tadi.


"Tidak papa besok juga sembuh"ucap Gavin.


"Tapi ini mulai bengkak,akan kuambilkan es batu untuk mengompresnya"ucap Anandita bermaksud turun dari pangkuan Gavin,tapi segera dicegah oleh Gavin.


"Sini aja Yank,jangan kemana mana"ucap Gavin sambil menarik tubuh Anandita semakin merapat padanya.


"Aku hanya mau kedapur ngambil es batu,untuk ngompres bengkaknya".


"Nggak usah,biarkan aja itu, lebih baik kau mengempeskan bengkak ditempat lain".


"Memang masih ada,dimana?"tanya Anandita bingung sambil mengamati seluruh wajah Gavin.


"Ini,dibawahmu...Yank"ucap Gavin.


"Mana Vin!!"


"Jangan bergerak kalau kau mengerakkan tubuhmu seperti itu,dia akan semakin besar bengkaknya".


Anandita semakin bingung dengan ucapan Gavin,karena seingatnya tadi om Bagaskara saat marah hanya memukul wajah Gavin dan melempar Vas bunga diatas meja,atau jangan jangan bengkak karena lemparan vas bunga tadi batin Anandita.


"Vin bengkak yang satu itu karena lemparan Vas bunga ya?"


"Emm"jawab Gavin sambil menyelusupkan wajahnya keceruk leher Anandita,dan mulai menghisap leher itu.


"Vin..!!,apa yang kau lakukan aku sedang bertanya serius!"ucap Anandita berusaha untuk melepaskan mulut Gavin dari lehernya.


"Yank,kita lanjutkan yang tadi ya,aku masih pengen"ucap Gavin dengan mulai menyelusupkan tangannya kedalam baju milik Anandita dan mulai meremas gundukan kenyal yang sudah mulai normal lagi itu.


"Itu..Isssh..Vin!"Anandita tidak bisa lagi berbicara karena Gavin langsung menarik keatas kaosnya dan langsung menghisap puncak dada Anandita tanpa melepaskan dulu penutupnya,membuat Anandita hanya bisa mendesis saat merasakan gelenyar gairahnya bangkit.


Melihat Anandita tidak lagi bicara Gavin memandang wajah Anandita sebentar yang sudah mulai tersulut gairah dengan apa yang dilakukannya.


Gavin menarik lepas baju Anandita dari badannya,setelah itu dia segera melakukan hal yang sama pada baju yang dipakainya.


"Vin..."


"Aku mau sekarang Yank..."ucap Gavin lalu mulai mencumbu tubuh Anandita dari mulai leher.


Anandita mengalungkan tangannya keleher Gavin agar tidak terjatuh kebelakang karena posisi mereka berdua masih duduk diatas sofa.


"Vin.."suara Anadita semakin parau saat Gavin semakin menurunkan ciumannya keperut rata Anadita menyesap dan memberikan gigitan gigitan kecil disana menggoda tubuh Anandita agar semakin terbuai.


Anandita semakin erat mengalungkan tangannya keleher Gavin,karena merasa tubuhnya mulai lemah akibat gairah yang semakin naik.


Melihat itu Gavin langsung mengangkat tubuh Anandita dan membawanya untuk pindah kedalam kamar mereka.


Anandita hanya pasrah sambil menyelusupkan wajahnya didada Gavin dengan nafas yang tersengal sengal.


Sampai didalam kamar Gavin langsung merebahkan tubuh Anandita diatas ranjang kemudian menarik lepas sisa kain yang melekat ditubuh mereka berdua tanpa menunggu lama seperti tadi.


"Yank...sekarang ya?"


Anandita hanya mengangguk pelan sebagai jawaban permintaan Gavin.


Dengan pelan Gavin memposisikan dirinya diatas tubuh Anadita lalu mulai mencoba menggesekkan senjatanya keinti tubuh Anadita agar Anadita tidak terkejut saat nanti benda itu masuk.


setelah merasa bagian inti sang istri mulai basah Gavin mulai mencoba mendorong miliknya untuk bisa masuk ,tapi ternyata sangat sulit,bahkan Anandita sampai mencengkram keras lengannya saat Gavin mencoba menerobos masuk.


"Sakit,"Bisik Gavin karena melihat wajah sang istri mengkerut menahan rasa sakit.


Anadita hanya mengangguk karena tidak sanggup lagi untuk bicara, perasaan nya terlalu campur Aduk antara sakit dan menginginkan Gavin untuk terus menerobos masuk kedalam sana.


Melihat itu Gavin menunda memaksa masuk tapi sekarang kembali mencium bibir Anandita dengan lembut menelusupkan lidahnya masuk kedalam rongga mulut Anadita,mengajak lidah mereka untuk saling membelit pelan tapi intens sehingga Anadita merasa kembali terbuai dan dia sedikit melupakan rasa sakit dibagian bawannya.


Melihat itu Gavin tidak ingin menyianyiakan kesempatan,dengan sekali hentak didorongnya masuk benda pusaka miliknya yang sudah keras sempurna itu kedalam inti tubuh Anadita.


"Jleb!!"


Seketika Anandita langsung melentingkan tubuhnya dan mencengkrem erat pundak Gavin.


Setelah berhasil masuk Gavin sengaja berhenti diam tidak menggerakkan pusakannya,menunggu Anandita merasa sedikit rilex.


"Vin..."desis Anadita dengan nafas tersengal sengal masih merasa sakit akibat Gqvin mendorongkan miliknya dengan sekali sentak.


"Aku akan pelan pelan..Yank"bisik Gavin dengan kembali menciumi tubuh Anadita supaya Anandita lupa dengan rasa sakitnya sekarang.


Anadita mengerang saat merasakan Gavin kembali menyesap puncak dadanya dengan penuh gairah, sehingga dia merasa lupa dengan rasa sakit dibagian inti tubuhnya itu.


Dengan pelan Gavin mendorong benda pusakanya semakin kedalam inti tubuh Anadita sambil tetap membuai Anadita dengan ciuman ciumannya,saat dilihatnya Anadita sudah terbuai Gavin mulai menggerakkan benda pusakanya maju mundur didalam inti tubuh Andita dengan pelan,membuat Anadita mulai merasakan sensasi nikmat meski masih bercampur perih didalam sana.


"Akh...Vin.."erang Anandita saat merasakan gerakan Gavin semakin kuat memaju mundurkan miliknya.


"Vin...aku.. mau... pipis.. sekarang.."desis Anadita sambil mencengkaram kepala Gavin yang berada di atas dadanya menyesap dadanya dengan semakin kencang,sesuai dengan gerakan penyatuan bagian bawah mereka yang juga semakin cepat Gavin menggerakkan maju mundur miliknya.


Anadita melentingkan tubuhnya saat merasa sesuatu menyembur seperti lahar dari benda pusaka Gavin kedalam inti tubuhnya,disertai miliknya yang juga keluar seperti pipis yang tidak bisa ditahan.


"Akh...,Yank...!!"erang Gavin sambil memeluk erat tubuh Anadita yang melenting keatas karena puncak dari penyatuan mereka akhirnya selesai.


Dengan nafas terengah engah dan keringat yang bercucuran Diseluruh tubuh mereka,akhirnya mereka berdua tumbang diatas ranjang.


Akhirnya lunas hutang Autor,Makasih reader yang sudah sabar nunggu mereka unboxing ya,😅😅😅.


.