
Anandita dan Gavin turun menuju ruang makan,dilihatnya Bagaskara sudah duduk menunggu mereka untuk sarapan.
"Selamat pagi ayah",sapa Anandita.
Mendengar itu Bagaskara menatap kearah menantunya itu lalu kembali menatap kelayar ponselnya.
"Ayah tadi malam tidak pulang?"tanya Gavin menatap kearah Bagaskara.
"Kenapa kalian sudah mulai memperhatikan diriku",jawab Bagaskara.
"Aku hanya kebetulan terbangun dan melihat bik Siti bolak balik melihat kekamar ayah".
Mendengar itu Bagaskara menatap perempuan tua yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Berhenti menghawatirkan diriku!",perintah Bagaskara pada bik Siti.
"Kalau bukan saya yang mengkhawatirkan Bapak siapa lagi",ucap Bik Siti lalu berlalu pergi dari meja makan.
"Kalian juga berhenti menghawatirkan diriku",ucap Bagaskara lalu bangkit dari kursinya tidak jadi menyantap sarapannya.
Anandita dan Gavin hanya saling pandang.
"Kenapa Ayah?"Tanya Anandita bingung.
Gavin hanya mengangkat pundaknya saja.
"Vin!".
"Biarkan saja Yank mungkin ayah sedang banyak masalah dengan pekerjaannya",jawab Gavin menenangkan Anandita.
"Ayo makan sarapanmu,supaya beby kita sehat",ucap Gavin dengan menambahkan makanan kepiring Anandita.
Melihat Gavin menambahkan lagi makanan kepiringnya Anandita langsung protes.
"Hentikan kamu ingin membuatku jadi gendut !,"gerutu Anandita.
"Kamu harus makan lebih banyak Yank",ucap Gavin lagi.
Anandita menggelengkan"Cukup Vin dia baru 16 minggu jangan suruh aku makan terus".
"Secepat itu,kenapa dia belum juga terlihat atau karena aku jarang berkunjung ya akhir akhir ini",ucap Gavin dengan mengelus elus perut Anadita yang tidak terlihat dibalik baju longgarnya.
"Hentikan Vin geli kamu ngapain sih".
"Cuma megang aja kok,emang mau ngapain ada bik Siti juga disini nggak bisa ngapa ngapain",bisik Gavin didekat Anandita.
Mendengar itu Anandita langsung menyingkirkan tangan Gavin dari perutnya dan langsung menoleh kebelakang kursi.
Bik Siti hanya tersenyum lalu berlalu dari sana.
"Kebiasaan banget sih kamu,kan jadi nggak enak sama bik Siti",gerutu Anandita.
"Udah pergi juga,makanya kalau nggak mau kelihatan bik Siti sama ayah kita kekamar aja Yank".
Mendengar itu Anandita melotot kearah Gavin.
"Vin kamu!".
"mumpung hari ini libur ayo kita tengok beby,"ucap Gavin.
Mendengar itu Anandita langsung menutup mulut Gavin.
"Ada ayah Bagas Vin!".
Mendengar itu Gavin langsung menoleh.
"Nggak ada, ayah sedang diruang kerja nggak akan keluar sampai dia selesai bekerja",ucap Gavin.
"Kamu yakin?",tanya Anandita khawatir.
Gavin mengangguk.
"Ayah itu workaholic jadi jangan khawatir dia akan memergoki kita,kalau nggak percaya mau coba",ucap Gavin dengan ekspresi jahil.
Melihat itu Anandita langsung menyentuh perutnya.
"Aduh aduh Vin...,sepertinya perutku sakit ",ucap Anandita dengan memegangi perutnya sambilpura pura meringis.
Gavin yang melihat itu langsung melepaskan tangannya dari perut Anandita yang dari tadi masih dibelainya.
"Yank kamu baik baik ajakan?",tanya Gavin khawatir.
Anandita sengaja menggeleng,"Perutku sakit ini semua gara gara kamu menyuruhku banyak makan dan menekan nekannya terus dari tadi,jadi bebynya marah dan menendangku!"mendengar itu Gavin menatap Anandita bingung.
"Kamu bohongkan Yank?".
"Bilang bohong?".
Anandita kembali menggeleng" Enggak Vin aku serius".
"Baik kalau serius aku periksa sekarang mana yang sakit",ucap Gavin lalu mengangkat tubuh Anandita membawanya kekamar.
"Gavin turunkan apa apaan sih kamu!".
Tapi Gavin tidak mendengarkan ucapan Anandita bahkan saat akan naik keatas dia berpapasan dengan Ayahnya, Gavin tetap cuek tidak menurunkan Anandita,setelah sampai dikamar mereka barulah Gavin menurunkan tubuh Anandita diatas ranjang.
Setelah Gavin menurunkannya dari gendongan Anandita bermaksud langsung bangkit tapi Gavin dengan cepat sudah mengurung tubuh Anandita dibawahnya.
"Vin awas menyingkir dari atas tubuhku".
Mendengar itu Gavin hanya menggeleng.
"Vin.."Anandita mendorong tubuh Gavin tapi Gavin malah meletakkan kedua tangan Anandita kelehernya.
"Vin malu ada ayah,"ucap Anandita.
"Biar saja ayah juga pernah muda",jawab Gavin mulai menundukan wajahnya.
"Vin.."tapi belum selesai Anandita bicara Gavin sudah lebih dulu mencium bibirnya sampai mereka hampir kehabisan nafas baru Gavin melepaskan pagutannya.
"Masih sakit?",tanya Gavin pada Anandita yang masih belum pulih akibat ciuman Gavin barusan.
"Apanya?",jawab Anandita bingung.
"ini",Gavin menelusupkan tangannya kebalik baju Anandita dan membelai lembut perut Anandita yang mulai terasa membuncit.
"I..itu..",Anandita tidak bisa menjawab ucapan Gavin karena tangan Gavin semakin naik keatas dan mulai masuk kebalik branya menyentuh puncak dadanya.
"Kayanya disini juga sudah tumbuh Yank",ucap Gavin dengan memilin pelan puncak dada Anandita secara bergantian.
"I..iya",
Perbuatan Gavin benar benar membuat otak Anandita kosong.
Jadi saat Gavin menyingkap baju yang dipakainya dan mulai menyesap puncak buah dadanya Anandita hanya pasrah menikmati apa yang dilakukan Gavin padanya.
"Yank mau nengok beby boleh?",tanya Gavin mendongakkan kepalanya menatap Anandita dengan ekspresi memohon seperti biasanya,dan kalau Gavin sudah berekspresi seperti itu Anandita hanya bisa mengiyakan keinginan Gavin.
Setelah mendapat lampu hijau Gavin mulai melancarkan aksinya untuk mulai mendaki bukit bukit keindahan milik Anandita.
Hari libur mereka benar benar sangat mereka nikmati dengan berlibur di paradise island milik mereka sepanjang pagi itu.
Mereka baru berhenti setelah puas menjelajahi paradise island dan tertidur dengan saling memeluk karena kelelahan.
Saat makan siang bik Siti bermaksud membangunkan mereka untuk makan tapi segera dicegah oleh Bagaskara.
"Biarkan saja mereka",ucap Bagaskara.
"Tapi pak neng Dita belum makan biasanya orang hamil sering merasa lapar",protes bik Siti.
"Mereka sudah dewasa jadi biarkan saja toh ini rumah mereka juga,jadi kalau mereka membutuhkan apa apa mereka bisa mencari sendiri".
"Tapi... ".
"Berhenti memperlakukan Gavin dan Anandita seperti anak kecil mereka juga butuh waktu pribadi dan privasi meski tinggal disini,jadi biarkan saja, sebaiknya dari pada bik Siti mempermasalahkan itu gunakan waktu luangmu untuk beristirahat agar kamu masih sempat melihat anak mereka nanti".
Mendengar itu Bik Siti langsung diam dan berjalan masuk kebelakang tidak menjawab Bagaskara lagi.
Gavin dan Anandita yang baru turun saat bagaskara hampir selesai makan siang,melihat bik Siti yang pergi kebelakang dengan diam menjadi heran.
"Ada apa ayah dengan bik Siti?"tanya Anadita penasaran.
"Tidak papa itu biasa terjadi kalau umur kita sudah semakin tua,maka sifat yang seperti anak kecil juga akan semakin muncul",ucap Bagaskara.
Gavin dan Anandita saling tatap tapi kemudian tidak membahasnya lagi.
"Sambil makan Anandita menatap Bagaskara yang terlihat rapi dengan setelan kerjanya meskipun hari ini hari libur.
"Ayah mau pergi",tanya Anandita heran,
"Hemm",jawab Bagaskara dengan sibuk menatap kearah ponselnya.
"Ayah keluar kota ?",tanya Gavin.
Bagaskara menatap mereka berdua secara bergantian. sebelum menjawab.
"Aku akan pergi beberapa hari keluar kota,kalian disini saja untuk menghibur bik Siti ",jawab Bagaskara lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah.