
Anandita masih menatap Gavin,sulit digambarkan bagaimana perasaannya saat ini.
Dia berjalan menghampiri Gavin dan langsung memeluknya erat.
"Aku seperti mimpi sekarang"ucapnya lirih.
"Kamu tidak mimpi Yank aku benar benar ada sekarang",jawab Gavin dengan membalas pelukan Anandita.
"Kamu benar benar tidak akan menghilang lagikan Vin?"tanya Anandita.
"Aku tidak ingin itu terjadi lagi Yank".
"Maksudmu apa,aku tidak mengerti?"tanya Anandita bingung.
"Aku memang sudah kembali menjadi Gavin yang dulu tapi aku tetap harus melakukan pengobatan dengan bimbingan psikiater",terang Gavin.
"Sampai kapan?"tanya Anandita kembali merasa khawatir.
"Jangan khawatir itu tidak parah lagi Yank",ucap Gavin dengan membawa Anandita untuk duduk disofa.
"Bagaimana aku tidak khawatir,kalau kamu tiba tiba bisa menghilang seperti kemaren!"ucap Anadita dengan nada mulai meninggi.
"Itu sepertinya tidak akan terjadi Yank,tapi bukan berarti aku tidak perlu bantuan psikiater".
"Aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti,bicaramu membuat kepalaku semakin sakit"gerutu Anandita lalu mendorong tubuh Gavin menjauh.
"Kamu mau kemana Yank,sini aja sama aku"ucap Gavin mencoba menarik tubuh Anandita kembali kepelukannya.
"Hentikan aku lapar,ingin makan sesuatu sekarang!"
Mendengar apa yang dikatakan Anandita Gavin baru ingat bungkusan yang dibawanya tadi dari luar.
"Duduk saja disini aku ambilkan sesuatu yang bisa kamu makan!"perintah Gavin.
"Emang ada sesuatu disini yang bisa dimakan ?"tanya Anandita bingung karena setahu dia mereka sudah lebih dua bulan tidak datang kesini jadi pasti tidak ada apa apa didapur.
Tapi Gavin tetap berjalan kedapur dan tidak lama dia sudah kembali dengan membawa semangkuk bubur ayam dan sebotol air mineral.
"Ayo makan!"perintahnya dengan meletakkan mangkuk yang dibawanya keatas meja.
"Kamu membuatnya?"tanya Anandita dengan ekspresi bingung.
"Tentu saja nggak Yank,kamu pikir bikin bubur cukup satu menit",terang Gavin.
"Lalu dari mana?"
Gavin mencubit pipi Anandita dengan gemas.
"Sulap"ucapnya dengan ekspresi jahil.
"Hah,emang bisa?"tanya Anandita bingung.
"Berhenti berwajah seperti itu,dan cepat makan buburnya!"perintah Gavin.
"Tapi jawab dulu Vin",rengek Anandita membuat Gavin semakin gemas dibuatnya rasanya dia ingin menerkam Anandita saat ini juga kalau tidak ingat ucapan bik Siti bahwa Anandita tadi sempat muntah waktu dirumah besar dan bilang bahwa asam lambungnya naik.
Karena memang sekarang wajah Anadita terlihat pucat meskipun tidak parah.
"Aku membelinya tadi sebelum kesini karena kata bik Siti kamu sedang tidak enak badan,"terang Gavin membuat Anandita langsung terdiam.
"Aku tidak apa apa",jawabnya dengan mengambil mangkuk dimeja dan mulai menyuap bubur ayam itu.
"Kamu sudah pergi kedokter,kalau belum ayo aku antar setelah ini"ucap Gavin sambil membantu Anandita membersihkan bubur yang ada disudut bibirnya.
Mendengar pertanyaan Gavin Anandita hampir tersedak.
"Uhuk!"
Gavin segera memberikan botol air mineral pada Anandita.
"Pelan pelan yank",ucapnya.
"Aku sudah selesai",ucap Anandita sambil meletakkan mangkuk buburnya.
"Kan masih ada Yank aku bantu menyuapi ya?"tawar Gavin karena melihat Anandita hanya makan sedikit bubur dimangkuknya.
Anandita langsung menggelengkan kepalanya.
"Sudah,Vin kalau dipaksa lagi nanti akan keluar".Jawab Anadita mencegah Gavin yang ingin menyuapkan bubur dimangkuk kemulutnya.
Melihat ekspresi Anandita Gavin mengurungkan niatnya untuk menyuruhnya makan lagi.
"Mau kubantu Yank?"tawar Gavin.
Mendengar itu Anandita langsung membalikkan badannya.
"Jangan berpikir yang aneh aneh,atau aku marah!"Ucap Anandita.
"Aku hanya ingin membantumu Yank"jawab Gavin sambil berjalan mendekat kearah Anandita.
Melihat itu Anandita bergegas masuk kedalam kamar dan langsung masuk kedalam kamar mandi sebelum Gavin mengikutinya.
Setelah selesai mandi Anandita keluar dari kamar mandi dan langsung berpakaian,'untung saja Gavin tidak memaksa mengikutinya kekamar mandi tadi karena waktu dikamar mandi tadi dia kembali muntah,kalau Gavin melihatnya pasti langsung mengajaknya untuk kedokter,pikirAnandita.
Setelah keluar kamar Anandita langsung mengambil obat yang diberikan dokter untuk mengurangi rasa mualnya dan segera kedapur mencari air putih untuk meminum obatnya.
"Kamu baik baik aja Yank?"tanya Gavin yang tiba tiba sudah berdiri dibelakangnya.
Mendengar itu Anandita segera berusaha menyembunyikan obat miliknya.
"Iya,aku hanya minum obat yang diberikan dokter tadi",jelas Anandita.
"Boleh kulihat obatnya?"tanya Gavin bermaksud meminta obat Anandita.
"Ini hanya obat untuk pencegah mual karena asam lambungku naik"terang Anandita langsung memasukkan obatnya kedalam tas.
"Kamu yakin,tidak papa sepertinya kamu lebih pucat"tanya Gavin sambil menyentuh dahi Anandita.
"Aku tidak papa,hanya kepalaku masih pusing dan perutku mual ingin muntah saja",jawab Anandita.
Setelah mengatakan itu Anandita berjalan menuju sofa meninggalkan Gavin didapur.
Gavin mengikuti Anandita kesofa ruang tamu dan langsung duduk disamping Anandita.
"Kita tinggal disini lagi ya Yank",ucap Gavin tiba tiba.
"Emang nggak papa kita pindah kesini lagi?"tanya Anandita.
"Nggak papa,aku tadi juga sudah bilang sama Ayah tentang itu".
"Kamu serius,Vin?".
Gavin mengangguk,"Aku merasa lebih nyaman disini berdua aja sama kamu Yank"ucap Gavin.
Anandita juga merasa seperti itu tapi tentu saja dia tidak berani bilang karena dia tau bagaimana kondisi Gavin sekarang yang baru sembuh dan masih perlu pengawasan ekstra dari semua orang.
"Kalau kamu memang mau begitu aku tidak masalah".
"Sini!"Gavin menarik tubuh Anandita masuk kedalam pelukannya.
"Maaf ya Yank aku sudah menyusahkanmu selama sakit",ucap Gavin dengan memeluk Anandita.
"Itu bukan apa apa,sebagai pasangan suami istri sudah seharusnya kita saling berbagi segala hal termasuk dalam keadaan sedih dan senang".
"Pasti sangat melelahkan sampai membuatmu juga ikut sakit sekarang".
Anandita menggelengkan kepalanya.
"Bukan apa apa,sudah kukatakan dulu aku juga bisa sakit seperti ini bukan".
"Tapi aku benar benar khawatir Yank apa lagi kamu tadi bilang muntah lagi dikamar mandi".
"Sudah kubilang aku tidak papa Vin,jangan mencemaskan hal yang membuat pikiranmu khawatir,kamu lebih membuatku khawatir dari pada apa yang kualami sekarang",terang Anandita sambil semakin merapatkan pelukannya ketubuh Gavin.
"Apa kamu ingin tidur ?"tanya Gavin melihat Anandita memejamkan matanya.
"Hemm,aku masih pusing mungkin efek terlalu banyak menangis tadi",ucap Anandita.
"Tidurlah aku akan memelukmu sampai kamu tidur"ucap Gavin sambil membelai punggung Anandita lembut.
"Jangan kemana mana kalau aku tertidur",Pesan Anandita.
"Iya aku akan terus memelukmu sampai kamu bangun".
"Janji ya jangan pergi lagi".
"Iya,aku berjanji sekarang tidurlah".
"Hemm,aku mencintaimu Vin,"Gumam Anandita sebelum tertidur karena kelelahan.
"Aku juga mencintaimu Yank,maaf sudah membuatmu khawatir".Bisiknya dengan mengecup puncak kepala Anandita yang masih basah sisa mandi barusan.