
Anandita sedang berjalan sendiri dilorong kelas,hari ini jadwal mengajar dikelas Gavin.
Suasana lorong kelas sudah sunyi karena sekarang masuk jam kedua,saat melewati persimpangan lorong tiba tiba tangan Anandita ditarik oleh seseorang membuat Anandita sedikit terpekik.
"Auw!"Tapi saat tau siapa yang menariknya Anandita langsung marah.
"Lepas!,apa apaan kamu Bima!"sentak Anandita dengan marah.
"Beraninya kamu mengabaikan aku!,hardik Bima dengan marah.
"Apa maksudmu,aku tidak mengerti!"
"Kau berani memblokir nomorku,kau pikir siapa dirimu!".
"Bima,apakah aku kurang jelas mengatakan padamu bahwa aku tidak ingin punya hubungan apapun denganmu,kita hanya teman sekolah,tidak lebih dan kuharap berhenti mengganggu hidupku,aku sudah menikah dan yang pasti aku tidak tertarik padamu!".
Setelah mengatakan itu Anandita bermaksud untuk pergi meninggalkan Bima,tapi tiba tiba Bima kembali menarik tangannya dan mendorong tubuh Anandita kedinding.
"Berhenti jualmahal padaku,kamu hanya perempuan murahan,sebutkan berapa hargamu,Hah!"
"Buak!! buak!!!"
Tiba tiba sebuah pukulan keras menghantam di badan Bima,membuat Bima langsung terhuyung kebelakang.
Bima langsung menatap siapa orang yang memukulnya dengan terkejut,tapi belum sempat dia bersuara pukulan bertubi tubi kembali menghantam tubuh dan wajahnya,membuat darah segar mengalir dari bibirnya yang pecah,Bima hanya bisa menutupkan kedua tangannya didepan wajah saat hantaman keras kembali mengenai tulang rusuknya yang terasa sangat sakit.
"Gavin,Stop!!!"teriak Anandita histeris melihat bagaimana Gavin memukuli Bima.
Dia berusaha menarik tubuh Gavin menjauh tapi sepertinya sia sia,Gavin terlalu marah sampai suara Anandita tidak lagi bisa didengarnya.
"Gavin berhenti!!!,kamu bisa membunuhnya!!!,"teriak Anandita histeris hingga membuat banyak orang berdatangan ketempat keributan.
Setelah beberapa orang melerai termasuk Aldo baru Gavin mau melepaskan Bima yang sudah setengah pingsan akibat pukulan Gavin.
Melihat kondisi Bima yang sangat parah beberapa orang membawa Bima pergi dari situ dan langsung membawanya kerumah sakit.
Sementara itu Gavin langsung dibawa kekantor kepala sekolah.
Anandita terlalu syok untuk berpikir apa yang baru saja terjadi.
Dikantor kepala sekolah Gavin hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun meskipun beberapa guru dan kepala sekolah mencoba bertanya sampai membentaknya Gavin tidak bergeming.
Bahkan sampai petugas polisi datang kesekolah karena menerima laporan dari pihak Bima, mereka mencoba bertanya tentang duduk masalahnya tapi Gavin tetap hanya diam tidak mengatakan sepatah katapun,sampai akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Gavin kekantor polisi dan memanggil orang tuanya nanti.
Sementara itu Anandita dibawa oleh beberapa guru keruang UKS,karena mengalami beberapa luka akibat melerai Gavin dan dorongan Bima tadi.
Jadi dia tidak tau kalau Gavin dibawa kekantor polisi karena laporan dari Bima.
******
Bagaskara yang sedang berada diluarkota sangat terkejut mendapat laporan tiba tiba dari pihak sekolah,bahwa Gavin baru saja buat masalah lagi dengan memukuli seorang guru baru sampai masuk rumah sakit ,mendengar itu dengan marah Bagaskara langsung meminta sekretarisnya untuk langsung memesankan tiket pesawat tercepat yang bisa membawanya pulang ke kota A.
Setelah sampai kembali kekota A Bagaskara langsung pergi menuju sekolah Gavin,sampai disana dia mendapat laporan bahwa Gavin sekarang sudah berada dikantor polisi.
"Apa!!!,kenapa langsung dibawa kesana?!"tanyanya dengan marah.
"Itu pak,pihak dari pak Bima yang membawa",terang kepala sekolah dengan gugup.
"Saya yang sudah dipukulnya pak Bagaskara!",tiba tiba Bima masuk dengan memakai tongkat dan wajah yang penuh luka.
"Siapa kamu?!"tanya Bagaskara sambil menatap tajam pada pria muda didepannya.
"Saya guru baru disini,baru sekitar tiga minggu saya mengajar disini,tapi entah kenapa tiba tiba tadi saya bertemu dengan Gavin saat sedang bicara dengan bu Dita,lalu tiba tiba dia langsung memukul saya tanpa tau apa salah saya".
"Lalu dimana Anandita sekarang,panggil dia aku mau dengar langsung apa yang terjadi!!".
Mendengar perintah menggelegar dari Bagaskara beberapa orang langsung pergi keUKS untuk menjemput Anandita.
Anandita yang mengira dia disuruh kekantor untuk memberi keterangan pada para guru tentang perkelahian Gavin bergegas keluar meskipun siku dan kakinya masih terasa sakit karena jatuh tadi.
Sampai di Kantor kepala sekolah yang memang terpisah dari kantor para guru kelas Anandita langsung dibawa masuk oleh rekan sesama guru.
Dilihatnya masih ada beberapa guru ,kepala sekolah,Bima yang penuh luka,serta Ayah mertuanya yang tampak sedang sangat marah tapi dimana Gavin, batinnya dengan bingung.
Anandita langsung menatap keayah mertuanya bermaksud bertanya dimana Gavin,sebelum dia melakukannya ayah Bagas lebih dulu bertanya dengan suara keras padanya.
"Apa yang terjadi!!!"tanyanya langsung pada Anandita.
Anandita terkejut melihat kemarahan dari ayah Bagas membuatnya sedikit gugup.
"Itu...itu..",
Belum selesai Anandita bicara tiba tiba Bima langsung menyela.
"Ini bukan salah bu Dita pak Bagaskara, tapi ini murni kesalahan Gavin,dia benar benar murid yang tidak tahu diri,karena berani tiba tiba menghajar gurunya yang tidak bersalah,seperti yang saya katakan bahwa saya dan bu Dita sedang bicara dilorong kelas membahas soal pelajaran,tapi tiba tiba dia datang dan langsung memukul saya,mungkin karena dia cemburu dengan kedekatan saya dan bu Dita,padahal saya dan buDita memang sudah lama saling kenal karena kami berasal dari SMA yang sama".
Bagaskara menatap Anandita lagi.
"Benar begitu?",
"I..iya kami memang satu angkatan dulu",jawab Anandita dengan gugup.
"Karena itu saya sengaja mengirim Gavin kekantor polisi untuk memberi efek jera dan agar orang tuanya yang tidak bisa mendidik anak dengan baik itu tau, bahwa meskipun mereka sudah membayar mahal guru tapi tidak boleh sembarangan memperlakukan gurunya dengan semena mena".
Semua orang yang mendengar apa yang dikatakan Bima hanya diam sambil melirik kearah Bagaskara dengan takut.
Sementara itu Anandita langsung menjadi pucat mendengar Gavin sekarang sedang berada dikantor polisi.
Bagaskara berjalan pelan menghampiri Bima yang duduk dikursi depan meja kepala sekolah,disentuhnya kedua bahu Bima dan menatap wajah pria muda itu dengan ekspresi sangat dingin.
"Pak Bima,anda baru beberapa minggu mengajar disekolah ini,apakah anda kenal saya?"tekan Bagas.
"Iya saya kenal anda adalah pak Bagaskara pemilik sekolah ini dan beberapa perusahan besar lainnya,saya sudah lama tau nama anda".
"Lalu apakah anda tau siapa ayah Gavin anak yang sudah dengan lancang anda bawa kekantor polisi?!"
Bima langsung menggeleng.
"Tidak lama lagi orang tuanya pasti akan datang kemari".
"Bagaimana kalau sekarang anda berhadapan dengan orang tua Gavin putra Bagaskara!!".