Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
107.Alasan Bagaskara


Gavin dan Anandita hanya menatap kepergian ayah Bagaskara dengan diam.


Karena meskipun hubungan mereka sekarang sudah membaik tapi karena sejak awal Gavin tidak terlalu dekat dengan sang ayah jadi,dia tidak terlalu ambil pusing saat Bagaskara pergi begitu saja.


Bukan mereka berdua yang meributkan kepergian sang ayah tapi Bik Siti yang setelah Bagaskara meninggalkan rumah menatap khawatir.


Anandita yang melihat itu,langsung menatap Gavin dengan bertanya pelan.


"Kenapa Bik Siti?"tanya Anandita.


"Hal biasa sejak dulu bik siti selalu bersikap seperti itu pada kami.


"Jadi bukan cuma pada ayah Bagas saja seperti itu?'.


Gavin menggelengkan kepalanya.


"Tapi hanya ayah yang tidak perduli dan itu mungkin yang membuat dia tahan bekerja disini>


"Apa bik Siti pernah bekerja ikut Almarhum Bunda?'.


Gavin mengangguk.


 "Kapan?',tanya Anandita merasa penasaran.


 "Waktu aku kecil dulu bik Siti yang merawatku tapi dia mulai pindah ikut ayah lagi sejak aku mulai masuk sekolah,aku nggak tau apa alasannya,karena saat itu hubungan keluarga kami sudah tidak baik"


Anandita diam dan melanjutkan makannya.


"Dulu bik Siti masih sering meminta ayah dan bunda untuk rujuk tapi sejak dia tau bagaimana buruknya hubungan mereka kalau bersama,bik Siti ganti haluan menyuruh ayah untuk menikah lagi".


"Bagaimana denganmu Vin?"


Maksudmu Yank?"


"Bagaimana tanggapanmu kalu ayah menikah lagi?"


"Kupikir ayah juga berhak bahagia."


 "Apa dulu ayah dan bunda tidak bahagia?"


Mendengar itu Gavin menghela nafas kasar,"Aku tidak tau,apakah selama menikah mereka pernah merasakan itu".


Mendengar ucapan Gavin, Anandita tidak lagi bertanya masalah itu lagi..


"Apa kita akan menginap disini akhir pekan ini?"


Gavin mengangguk,"tidak ada salahnya kita menginap disini lebih lama,toh ayah juga tidak dirumah".


Mendengar itu Anandita langsung menatap tajam kearah Gavin,tapi Gavin terlihat cuek.


Dasar egois,batin Anandita.


*******


Sementara itu Bagaskara yang  pergi bersama Willy,dia mampir dulu kekantor pusat Bagaskara Group sebelum berangkat keluar kota untuk melihat proyek pembangunan Universitas baru yang akan segera dibangunnya dalam waktu dekat.


"Kita langsung kekampus tuan?"


Bagaskara yang duduk dikursi belakang menatap Willy tajam,membuat Willy langsung menundukan wajahnya.


"Apa maksud ucapanmu!?"tanya Bagaskara.


"Tidak ada tuan, karena tempat yang kita tuju searah dengan tempat tinggal istri anda".


Mendengar apa yang dikatakan Willy Bagaskara diam sebentar.


"Apa kau sudah membereskan masalah itu?'tanya Bagaskara.


Mendengar pertanyaan Bagaskara Willy bingung dia tidak merasa Bagaskara memerintahkan sesuatu padanya.


"Maaf tuan,apa yang tuan perintahkan pada saya?".


  Bagaskara kembali mennatap Willy"Apa kamu lupa?".


Willy langsung mengangguk dari kaca spion mobil.


Mendengar itu Wlly langsung terkejut',Jangan tuan saya sangat butuh uang itu sebagai persiapan menikah tahun depan'.


"Kalau kamu butuh uang itu kenapa kamu tidak ingat apa yang kuperintahkan padamu".


"I..iya saya ingat soal istri anda itukan">


"Ehemmm!'.


"Maksud saya soal mengawasi Cinta dan mengirimkan uang padanya itu sudah saya laksanakan".


"Lalu kenapa kamu malah memindahnya kedekat kampus yang kubangun apa kau ingin mempertemukan mereka lagi nanti!",ucap Bagaskara marah.


"Maaf soal itu tuan karena sebenarnya Cinta memang tinggal disini sebelum masuk di sekolah milik tuan".


Mendengar itu Bagaskara diam sebentar.


"kalau begitu itu termasuk tugasmu untuk membuat gadis itu agar jangan mengacau lagi,paham!'.


"Baik tuan".


Dalam hati Willy bingung apa sebenarnya mau tuannya ini menikahi anak seorang perempuan tapi setelah itu menyuruhnya untuk merawatnya,atau mungkin memang seperti itu kebiasaan orang kaya,batin Willy.


"Apa yang kamu pikirkan?"tanya Bagaskara tiba tiba membuat Willy terkejut karena ternyata dari tadi Bagaskara menatapnya dari spion.


"Tidak ada tuan".


"Aku tau kamu pasti berpikir aku aneh".


"Saya tidak berani tuan".


Bagaskara menyandarkan tubuhnya dikursi mobil sepertinya sedang banyak pikiran.


'Berapa lama kamu bekerja untukku Willy ?"tanyanya tiba tiba.


"Sudah cukup lama tuan"


"Pasti kamu merasa aneh dengan apa yang kulakukan ini".


Willy hanya menatap Bagaskara dari kaca spion tanpa berani berkomentar karenameskipun tuan Bagaskara itu baik tapi dia juga bisa kejam saat dia marah atau tersinggung.


"Saat aku memikirkannya dari tadi malam aku juga merasa aku aneh,ini sesuatu yang diluar rencana hidupku apalagi gadis itu masih sekolah tapi sat dia mengganggu anak dan menantuku aku marah dan khawatir kalau smpai Anandita kenapa napa Gavin akan kembali seperti beberapa bulan yang lalu".


"Tapi seharusnya aku tidak perlu sampai menikahinya psti kamu berpikir begitu">


"Saya tidak berani tuan".


"Karena pernikahan ini sudah terjadi jadi sementara biar saja anggap saja supaya aku lebih mudah mengawasi gadis ini".


"Anda tidak ingin mengunjunginya tuan?'


Mendegar pertanyaan Willy Bagaskara menatapnya tajam.


"Kamu pikir aku sebejad itu sampai mau melakukan hal tidak senonoh pada seorang gadis kecil yang bahkan belum lulus sekolah".


"Dia sudah 18 tahun tuan jadi dia sudah cukup besar"


Bagaskara menatap Willy dengan pandangan membunuh.


"Kau ingin tetap ikut aku atau kau ingin kuturunkan disini?".


Mendengar itu Willy jadi takut.


"Maaf tuan".


"Mulai sekarang jangan bahas masalah ini lagi kalau kau masih ingin tetap bekerja untukku,kau kirimkan saja padanya uang seperti yang kujanjikan padanya kemarin".


"Baik tuan",jawab Willy tidak berani  bertanya lagi.


 "Dan awasi dia jangan sampai dia berulah".


"Baik tuan".


WIilly kembali menjawab singkat pada Bagaskara.