Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
118.Aku Butuh Waktu Sendiri.


Gavin membenamkan wajahnya semakin dalam keceruk leher Anandita,hatinya terlalu sakit mendengar permintaan Anandita padanya.


Apapun akan diberikan Gavin unyuk Anandita tapi tidak dengan bercerai,Gavin benar benar tidak akan sanggup membayangkan hidupnya tanpa Anandita.


Begitupun Anandita, setelah lelah menangis dan mengeluarkan semua perasaan sedih dan marahnya akibat perkataan bu Margaret tadi padanya yang seolah menyalahkannya karena sudah menikah dengan Gavin sekarang dia memilih diam.


Ada rasa bersalah karena sempat mengatakan ingin bercerai tadi pada Gavin padahal dia tau sehari saja berpisah dengan Gavin dia tidak akan sanggup,tapi saat ini karena perasaannya masih tidak nyaman dia benar benar butuh pergi dari Apartemen mereka meski hanya sebentar untuk menenangkan hati dan perasaannya.


"Vin lepas aku mau turun dari ranjang",pinta Anandita dengan nada yang sudah lebih pelan tidak seemosi tadi.


Gavin masih saja tidak mau melepaskan pelukannya ,dia tetap bertahan diposisi seperti itu untuk menahan Anandita agar tidak pergi.


"Vin aku ingin pergi kekamar mandi jadi lepas".


Mendengar itu Gavin melepaskan pelukannya,tapi langsung mengangkat tubuh Anadita membawanya kedalam kamar mandi.


Anandita ingin protes tapi segera ditahannya karena sudah lelah marah.


Dikamar mandi Gavin menurunkan tubuh Anandita diatas toilet dengan pelan.


"Tolong keluar aku ingin mandi sekarang",pinta Anandita tapi Gavin kembali menggeleng membuat Anadita sebal,tapi masih berusaha ditahannya.


"Baiklah ayo kita bicara sekarang!"ajak Anandita langsung menatap kearah Gavin.


"Tapi janji jangan minta untuk pisah Yank aku nggak mau",ucap Gavin dengan memelas.


Anandita harus memejamkan matanya untuk menahan keinginannya yang ingin marah lagi.


"Aku nggak akan minta untuk pisah tapi aku benar benar merasa sesak sekarang tolong beri aku ruang!".


Mendengar itu Gavin langsung memundurkan tubuhnya menjauh dari Anandita sampai mentok kedinding kamar mandi.


"Sudah,segini cukup?",tanya Gavin.


Antara ingin tertawa dan marah Anandita melihat apa yang dilakukan Gavin,apakah memang seperti itu laki laki,mereka benar benar makhluk yang paling nggak paham kata kiasan,batin Anandita dengan menghela nafas dan mengangguk pada Gavin.


"Iya berdiri disana saja supaya aku tidak sesak nafasnya berada di dalam toilet ini".


Gavin menuruti apa yang dikatakan Anandita dengan patuh.


"Baik mari kita bicara sekarang",ucap Anandita lagi.


"Kenapa harus disini Yank",ucap Gavin pelan menatap Anandita jujur saja pikirannya lelah hari ini,jadi rasanya tidak sanggup lagi berpikir secara normal.


"Lalu dimana sebaiknya?",tanya Anandita dengan menatap Gavin.


"Baiklah",jawab Gavin.


Dia akan mendengarkan apa keinginan Anandita sekarang tanpa bermaksud protes lagi.


Anandita menghela nafas sebelum mulai bicara.


"Aku minta maaf karena sudah sangat emosi tadi,dan juga beberapa waktu ini,aku tidak serius dengan apa yang kukatakan tentang ingin minta bercerai padamu",


Mendengar itu Gavin langsung menarik nafas lega.


"Tapi aku tetap perlu waktu sendiri saat ini,jadi kumohon biarkan aku pulang kerumahku untuk beberapa hari".


Mendengar itu Gavin kembali pucat,dengan berat dihelanya nafas sebelum menjawab pertanyaan Anandita.


"Haruskah sampai seperti itu Yank?",tanya Gavin lirih.


Gavin diam mendengar itu.


"Tapi aku nggak akan sanggup Yank,aku pasti akan sangat rindu sama kamu dan.."Gavin menunjuk kearah perut Anandita.


"Aku juga akan sangat rindu padamu tapi aku yakin kalau kita berpisah selama beberapa hari ini pasti pikiran kita akan lebih jernih dan terbuka,aku lelah terus marah tidak jelas,dan aku tau itu bisa berakibat tidak baik untuk bayi kita dan juga dirimu".


"Aku nggak papa kok kamu marah marah terus padaku,aku akan tetap mendengarkan apa yang kamu katakan".


"Sampai kapan?,sampai semua saraf kepekaanmu hilang dan kamu menganggap amarahku sebagai sesuatu hal yang tidak perlu didengarkan lagi,aku tidak ingin kamu sampai pada titik itu,Vin".


"Enggak Yank,aku nggak akan seperti itu".


"Vin aku baru hamil belum sampai lima bulan dan masih ada empat bulan lagi apa kamu akan sanggup terus menghadapi aku yang seperti ini?",tanya Anandita.


Kali ini Gavin terdiam,mungkin dia akan menahannya terus tapi apa itu yang terbaik untuk hubungan mereka.


"Jadi apa keinginanmu?",tanya Gavin pasrah.


"Ijinkan aku pulang kerumahku sendiri untuk beberapa hari",ucap Anandita.


"Tapi rumah itu sudah lama tidak ditempati bagaimana kalau kamu tinggal dihotel saja,atau kusewakan tempat lain atau..".


"Vin..!".


"baiklah,tapi boleh aku mengantarmu kesana, dan juga membantumu sedikit membersihkan rumah itu".


Mendengar itu Anandita tidak tega untuk menolaknya jadi dia menganggukkan kepala.


"Tapi besokkan Yank kamu kesana nggak sekarang?",tanya Gavin tidak rela kalau malam ini Anandita sudah harus pergi dari Apartemen mereka.


Sebenarnya Anadita ingin pergi sekarang, tapi melihat wajah Gavin yang seolah memohon membuatnya tidak tega jadi akhirnya dia memutuskan untuk pergi besok saja kerumah lamanya yang tidak pernah dijenguknya lagi semenjak dia menikah dengan Gavin.


"Baiklah aku akan pergi besok pagi tapi sekarang aku ingin mandi jadi sebaiknya kamu keluar sekarang,"pinta Anandita.


"Mau kubantu mandi Yank?",tanya Gavin dengan wajah polos.


"Vin keluar!,"perintah Anandita langsung mendorong tubuh Gavin untuk keluar dari dalam kamar mandi.


Sampai didepan pintu kamar mandi Gavin kembali berhenti.


"Yank,aku bisa membantu menggosok bagian punggungmu kalau kamu nggak bisa jadi boleh aku membantumu mandi?",tanya Gavin lagi.


Mendengar itu Anandita kembali meradang "keluar!!"bentaknya lalu segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya sebelum Gavin kembali mencoba untuk masuk.


Setelah itu Anandita langsung menyandarkan tubuhnya dipintu dan menghela nafas kasar.


"Sepertinya aku memang perlu waktu sendiri untuk beberapa hari ini",gumamnya sebelum mulai mandi.


Anandita sengaja mandi lama ,dia ingin menikmati saat mandi sebagai me time kecil tanpa gangguan dari Gavin dan untuk menenangkan segala macam emosi yang dialaminya hari ini.


Tapi bukan Gavin kalau bisa membiarkan Anandita tenang sebentar,karena selama Anandita mandi Gavin sudah berkali kali mengetuk pintu kamar mandi bertanya kapan Anandita selesai mandinya,bahkan Anandita yakin Gavin sejak tadi tidak beralih dari depan kamar mandi itu.


"Yank sudah selesai belum kamu mandi?",mendengar itu untuk yang kesekian kalinya dari balik pintu,bukannya cepat menyelesaikan mandinya Anandita malah sengaja berlama lama mandi,dan setelah merasa puas baru dia keluar dari kamar mandi.


Seperti dugaannya Gavin berdiri tepat disamping pintu kamar mandi menunggu Anandita membuka pintu.


"Yank akhirnya kamu selesai juga mandi aku hampir saja mendobrak pintu kamar mandi karena khawatir",ucapnya dengan mengekori Anandita dibelakangnya.