Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
114.Emosi Bumil.


Gavin terbangun lebih dulu sebenarnya dia masih merasa mengantuk karena tadi malam mereka tertidur saat hampir dini hari,setelah mereka saling memahami dan diselesaikan dengan acara menengok beby tadi malam barulah mereka berdua tertidur,tepatnya Anandita yang lebih dulu tertidur,setelah mereka bercinta.


Pagi ini sebenarnya Gavin malas untuk pergi kesekolah tapi mengingat masih ada ujian lagi,jadi dia terpaksa bangun.


Sebelum bangun dia menoleh kearah Anandita yang masih tertidur pulas disebelahnya,'biarlah saja dia tidur lebih lama hari ini',pikir Gavin sengaja tidak membangunkan Anandita dan lebih memilih bersiap sendiri untuk pergi kesekolah.


Setelah siap Gavin langsung turun tanpa membangunkan Anandita yang masih nyenyak tertidur tanpa terganggu dengan apa yang dilakukan Gavin dikamar itu.


Sebelum keluar Gavin mengecup sekilas dahi Anandita lalu menyentuh lembut perutnya takut membuat Anandita terbangun.


"Nanti Poppy jemput ya",ucapnya lalu keluar dari dalam kamar dengan menutup pintu pelan.


Sampai dibawah dilihatnya Ayahnya sudah duduk dimeja makan dengan segelas kopi dimeja.


Melihat itu Gavin langsung duduk dikursi bersebrangan dengan sang ayah.


"Kapan kamu datang?",tanya Ayah Bagas karena kemaren saat Gavin dan Anandita datang dia tidak dirumah.


"Kemarin, Anandita ingin menginap disini",terang Gavin sambil mengambil makanan dipiringnya.


"Lalu mana Anandita?".


"Dia masih tidur sepertinya efek kehamilannya yang mulai besar jadi dia lebih cepat lelah".


Bagaskara diam mendengar itu,tidak lagi bertanya lebih jauh.


"Ayah,aku mau minta tolong?".


Mendengar itu Bagaskara langsung menatap kearah Gavin.


"Ada apa,ada masalah serius?",tanyanya terdengar khawatir.


"Iya bisa dibilang begitu,aku ingin minta ayah menggantikan Siska dengan akuntan laki laki saja".


"Kenapa,apa kamu bermasalah dengannya,kupikir Siska cukup kompeten dalam bekerja".


"Itu benar ,dan sejujurnya aku sangat terbantu dengan adanya dia,tapi karena sekarang Anandita sedang hamil dan emosi wanita hamil agak sensitif,jadi dia merasa kurang nyaman kalau aku bekerja dengan Siska".


Mendengar itu Bagaskara mengerutkan kening tidak paham.


"Intinya supaya tidak ada masalah dengan Anandita aku ingin ayah menarik kembali Siska keperusahaan ayah dan kirimkan saja Akuntan laki laki yang membantuku diKafe".


"Baiklah tidak masalah kalau kamu memang ingin seperti itu nanti akan kusuruh santy yang mengaturnya untukmu".


Mendengar itu Gavin merasa lega,"kalau begitu aku pergi dulu,Ayah".


Gavin pamit pada sang ayah.


"Anandita tidak ikut bersamamu?",tanya Bagaskara.


"Biarkan saja hari ini dia istirahat tidak perlu kesekolah dulu,aku juga hanya sebentar,tolong ayah katakan pada tante Santy untuk segera memindahkan Siska".


"Ya",jawab Bagaskara singkat.


Setelah itu Gavin keluar meninggalkan rumah besar menuju sekolah.


***


Anandita terbangun dan langsung meraba bantal disebelahnya sudah kosong,lalu dia mengambil ponsel dari atas nakas untuk memeriksa jam,saat dilihatnya sudah pukul 10 siang Anandita terkejut dan langsung bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri,baru setelah itu langsung turun kebawah untuk mencari dimana Gavin berada.


"Neng Dita sudah bangun?",sapa bik Siti yang sedang membersihkan rumah.


"Dimana Gavin bik?",tanya balik Anandita karena melihat rumah terlihat sudah sepi.


"Mas Gavin susah berangkat kesekolah dari tadi pagi".


"Kenapa saya nggak dibangunkan,saya juga harus pergi kesekolah hari ini".


ucap Anandita sambil mendudukkan tubuhnya dimeja makan.


"Itukan Gavin,kalau saya punya kewajiban sendiri sebagai gurunya",gerutu Anandita sambil menyuapkan makanan kemulutnya dengan marah.


Sebenarnya Anandita juga merasa sekarang dia lebih sering emosi, tidak bisa ada orang salah bicara atau melakukan hal yang tidak dia suka pasti dia langsung merasa marah tanpa sebab.


Mendengar ucapan Anandita yang bernada ketus bik Siti hanya diam tidak lagi menyahut karena tau sepertinya suasana hati Anandita sedang tidak baik.


Anandita yang merasa bik Siti langsung diam menghentikan makannya dan langsung berbalik menghadap kearah bik Siti.


"Bik Siti maaf,saya bukan bermaksud untuk bicara kasar atau ketus pada bibik tapi entah kenapa akhir akhir ini saya merasa saya sangat mudah marah tanpa sebab",terang Anandita merasa tidak nyaman pada bik Siti karena sempat bicara ketus.


"Nggak papa neng Dita,mungkin saya yang salah bicara",jawab Bik Siti.


Anandita langsung menggeleng merasa tidak nyaman karena sepertinya bik Siti sedikit tersinggung padanya.


Anandita mencoba untuk menjelaskan pada bik Siti lagi,saat tiba tiba Gavin datang menghampiri mereka.


"Ada apa Yank?",tanyanya pada Anandita.


"Itu,aku sudah bicara kasar pada bik Siti",aku Anandita pada Gavin.


mendengar itu Gavin mengerutkan dahinya,"Maksudnya?".


Tapi Anandita hanya diam menunduk masih merasa tidak nyaman pada bik Siti,melihat itu terpaksa Gavin mendekat kearah bik Siti dan langsung merangkul pundaknya dengan sayang.


"Bik Siti, Anandita sebenarnya tidak bermaksud untuk bicara kasar,tapi sekarang mungkin karena pengaruh kehamilannya, dia menjadi sedikit lebih emosian.Jadi saya harap apa yang diucapkannya tidak bibik masukkan kehati,karena kalau bibik merasa tersinggung dengan ucapannya moodnya akan tiba tiba berubah dan dia bisa tiba tiba menagis dengan alasan tidak jelas,jadi saya mohon untuk sementara bibik bisa mengerti,maaf ya bik".


Mendengar penjelasan Gavin perasaan wanita tua yang jauh lebih peka dari saat muda merasa lebih baik.


"Iya sepertinya karena faktor usia juga saya langsung tidak nyaman dengan perubahan ekspresi neng Dita tadi,tapi sekarang saya sudah tidak papa".


"Makasih banyak bik".


Setelah itu Gavin menghampiri Anandita dan ikut duduk disampingnya.


"Bagaimana bik Siti?",tanya Anandita.


"Nggak papa Yank,kamu baru bangun?"tanya Gavin dengan membantu Anandita makan.


"Itu juga gara gara kamu",tuding Anandita.


"Kok aku,akukan baru datang?",tanya Gavin heran.


"Iya,karena kamu baru datang,kenapa kamu nggak bangunin aku untuk pergi kesekolah!".


"Jujur saja aku nggak tega melihat kalian tidur nyenyak sekali".


"Kalian?,aku cuma tidur sendiri kok?",tanya Anandita bingung.


" Kan berdua sama beby kamu tadi tidur masa nggak ingat",ucap Gavin sambil menyentuhkan tangannya keperut Anandita.


Mendengar itu Anandita hanya menatap kearah Gavin.


Lalu Gavin melanjutkan bicaranya.


"Aku sudah bicara pada Ayah tentang Siska",ucap Gavin menunggu reaksi Anandita saat mendengar nama itu.


"Lalu?",tanya Anandita dengan tetap menyuapkan makanan kemulutnya.


"Ayah akan menyuruh tante Santy untuk segera mencarikan penggantinya.


"Oooo".


"Kok ooo sih Yank,nggak ada reaksi apa apa lagi".


"Memangnya aku harus bereaksi seperti apa,kemaren kan sudah apa kamu mau aku marah marah terus saat mendengar nama Siska,nggak penting banget tau orang dia juga bukan siapa siapa ngapain aku cemburu terus".


Mendengar ucapan Anandita Gavin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal lagi,'Benar benar harus perbanyak stok sabar menghadapi emosi bumil',batin Gavin.