Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
79.Harus Bersabar.


Bik Siti yang semula heran dengan sikap Gavin saat baru datang akhirnya mengerti dan merasa sangat sedih melihat kondisi Gavin, bagaimanapun dia yang telah mengasuh Gavin dari kecil jadi saat melihat tuan mudanya seperti itu hatinya ikut sakit.


Awal awal sikap Gavin berubah membuat suasana rumah besar itu sangat suram,mereka harus berusaha bersikap biasa didepan Gavin,tapi saat Gavin tidak melihat mereka harus menyeka airmata menahan kesedihan melihat pemuda tampan mereka bertingkah seperti anak kecil lagi.


Sudah lebih sebulan tapi kondisi Gavin tidak ada perubahan,dokter Rumi sudah beberapa kali memeriksa kondisi psikis Gavin ,tapi setiap diakhir pertemuan dia hanya menggelengkan kepala dengan lemah"belum,masih harus bersabar lagi"ucapnya sendu.


Setiapkali mendengar hal itu Anandita dan Bagaskara hanya bisa menghela nafas tidak tau apa yang akan dilakukan.


Tingkah Gavin juga semakin sepertinya anak kecil usia tujuh tahun yang selalu ingin dituruti dan diperhatikan oleh semua orang,bahkan kadang dia juga bisa meraju dan menangis kalau apa yang diinginkannya tidak dituruti oleh orang orang dirumah.


Tapi yang tidak berubah meskipun dia menganggap Anandita sebagai Annastasia, dia selalu memperlakukan Anandita baik dan lembut, bahkan tanpa malu malu dia sering memeluk Anandita didepan siapa saja dan satu kebiasaannya yang masih bisa membuat Anandita cemberut adalah menyuruh Anandita untuk memakai barang barang berwarna pink.


"Vin emang harus pakai ikat rambut pita ini?"tanya Anandita saat Gavin menyuruhnya memakai ikat rambut untuk mengikat dua rambutnya.


"Iya Anna,kamu pasti cantik seperti boneka barbie,oh iya besok kita ajak ayah jalan jalan keMall ya,akan kubelikan kamu boneka barbie beserta rumahnya sebagai hadiah",ucap Gavin bersemangat.


Anandita langsung menggeleng"Nggak usah",jawabnya.


"Kenapa,uang ayah sama Bundaku banyak jadi tidak masalah kalau cuma membelikanmu boneka barbie aku bisa".


"Itu tidak perlu Vin,"Anandita masih berusaha menolak keinginan aneh Gavin yang entah sudah keberapa kali itu.


"Pokoknya beli,kita besok akan beli! sama ayah!"teriak Gavin membuat Anandita akhirnya mengangguk untuk membuat Gavin tenang.


****


Anandita menatap wajah damai Gavin saat tidur dia merasa sekarang lebih seperti pengasuh Gavin dari pada istri atau temannya.


Dibelainya pelan wajah tampan itu"Aku merindukanmu Vin kapan kamu kembali?"bisik Anandita sambil berusaha menahan isaknya yang hampir keluar.


Anandita segera menyingkir dari pinggir tempat tidur agar Gavin tidak bangun karenanya.


Anandita berdiri dibalkon kamar sambil berusaha menenangkan perasaannya yang sangat sedih berkali kali dia menyapu air matanya yang terus mengalir meskipun sudah berusaha ditahannya,dadanya terasa sesak meskipun dia selalu berusaha kuat didepan semua orang tapi dia tetap punya sisi lemah sebagai seorang wanita,dia merindukan Gavin saat ini ingin rasanya dia bisa kembali mendengar panggilan mesranya mengingat semua apa yang telah mereka lalui membuat perasaan Anandita semakin sedih berkali kali dihela nafasnya yang terasa sangat sesak.


Anadita berdiri diam berusaha menenangkan hatinya,tiba tiba saja dia terkejut saat merasa seseorang memeluknya dari belakang.


"Greb!"


Dilihatnya tangan Gavin sudah melingkar erat diperutnya,dengan pelan Anandita mencoba memanggil Gavin.


"Vin kenapa bangun?"tanyanya dengan nada selembut mungkin seperti akhir akhir ini sudah dia lakukan.


"Yank aku kangen"ucap Gavin membuat Anandita terkejut.


"A..apa katamu tadi,Vin!?"tanya Anandita takut dia salah dengar ucapan Gavin barusan.


Seketika Gavin langsung memutar tubuh Anandita untuk menghadap kearahnya.


"Yank aku kangen kamu!?"ulang Gavin membuat Anandita membelalakkan matanya terkejut dan syok,dia tidak menyangka akhirnya Gavinnya kembali lagi.


"A..aku juga sangat rindu kamu Vin"jawab Anandita langsung menubruk Gavin dan memeluknya erat.


"Kenapa kamu nggak suka kupeluk?"tanya Anandita sedikit kecewa.


"Bukan Yank".


"Lalu?"Anandita mulai memasang wajah cemberutnya.


"Aku pengen yang lebih dari peluk",ucap Gavin.


"Ini!"Anandita berjingkit dan langsung mencium pipi Gavin.


"Lagi,Yank",ucap Gavin.


Anandita merasa bingung"Sebelah lagi?"tanyanya tapi Gavin langsung menggeleng.


"Lalu?"otaknya benar benar kosong saat ini tidak tau apa yang diinginkan Gavin,karena selama lebih dari sebulan ini dia menghadapi Gavin kecil dengan sifat anak anak jadi dia sedikit mulai terbiasa,dan dia sedikit melupakan sifat asli Gavin yang mesum.


"Ini,Yank",Gavin langsung memagut bibir Anandita dengan rakus membuat Anadita sedikit terkejut dengan ciuman tiba tiba Gavin hampir saja dia terjatuh kalau tidak cepat berpegangan pada kedua pundak Gavin.


"Yank mau lagi yang lain"ucap Gavin dengan suara parau setelah puas mencium bibir Anandita tanpa jeda.


Dengan nafas masih terengah engah Anandita menatap Gavin sayu,otaknya sudah kosong sejak tadi,rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan getaran hasrat seperti ini sejak semua masalah yang terjadi diantara mereka.


Gavin masih menunggu jawaban Anandita untuk melanjutkan apa yang ingin dilakukannya selanjutnya.


"Ya,aku juga mau Vin"jawab Anandita.


Mendapat jawaban itu Gavin tidak mau membuang waktu langsung diangkatnya tubuh Anandita ala koala langsung kembali dipagutnya bibir sang istri dengan penuh Gairah,sambil membawanya berjalan menuju ranjang mereka,sampai diranjang langsung direbahkan tubuh Anandita pelan.


lalu Gavin mulai mencumbu tubuh Anandita dengan penuh Gairah setelah melepaskan seluruh pakaian mereka berdua.


"Vin..."erang Anandita saat merasakan benda pusaka Gavin mulai menerobos inti tubuhnya,mendengar suara itu Gavin semakin bersemangat menggerakkan miliknya didalam inti tubuh Anandita rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan ini dengan erangan panjang akhirnya mereka berdua mengakhiri penyatuan mereka.


Dengan nafas masih terengah engah dan tubuh mereka yang masih menyatu Anandita menarik tubuh Gavin kebawah memeluknya erat.


"Aku benar benar merindukanmu Vin,jangan tinggalkan aku lagi,bisik Anandita dengan terisak tidak dapat lagi membendung airmata yang sudah ditahannya selama ini,Gavin hanya diam sambil membalas pelukan Anandita dengan sama eratnya.


Cukup lama mereka dalam posisi itu sampai Anandita merasa tenang baru dia mulai melonggarkan pelukannya dari tubuh Gavin.


Merasa Anandita melonggarkan pelukannya Gavin lalu menggulingkan tubuhnya kesamping Anandita dan menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Tidurlah Yank"ucapnya sambil mendekap erat tubuh Anandita masuk kedalam pelukannya.


"Hemmm",Anandita hanya bergumam tanpa sanggup lagi menjawab Gavin karena apa yang baru saja mereka lakukan dan luapan emosi yang baru saja dikeluarkannya benar benar telah menguras seluruh energinya malam ini,jadi dia menuruti perintah Gavin untuk langsung tidur.


Anandita balik memeluk Gavin erat sebelum memejamkan matanya yang sudah sangat berat.


"Ilove you,Vin"gumamnya sebelum masuk kealam mimpi.


"Ilove you too,Yank"balas Gavin ikut masuk kealam mimpi bersama Anandita.