
Sudah hampir satu minggu Bagaskara tidak pulang kerumah bahkan saat Cinta mengirim pesan pun hanya direadnya saja,kalau ditelpon selalu ditolak membuat Cinta benar benar habis kesabaran.
"Om Willy sebenarnya sesibuk apa sih mas Bagas sampai tidak sempat membalas pesanku",gerutu Cinta dengan sebal.
"Tuan memang sangat sibuk minggu ini Cinta jadi kuharap kamu bisa mengerti".
"Aku mengerti tapi bukan seperti ini caranya,jangankan pulang atau menelpon balik,hanya untuk membalas pesanku saja dia tidak sempat dia pikir aku satpam apa yang setiap malam disuruhnya berjaga menunggu dia pulang".
"Jangan begitu Cinta tuan Bagas benar benar sibuk bekerja dia tidak kemana mana cuma ini memang saat yang sangat sibuk".
"Aku nggak perduli bilang sama tuanmu kutunggu dirumah malam ini juga",ucap Cinta lalu bergegas keluar dari dalam mobil Willy dengan sebal.
Willy hanya menggeleng kepala melihat Cinta yang marah marah itu.
"Sepertinya kali ini tuan dapat lawan seimbang",gumam Willy.
***
Willy masuk kedalam kantor Bagaskara setelah sebelumnya mengetuk pintu dan Bagaskara menyuruhnya untuk masuk.
"Bagaimana keadaan rumah Will?",tanya bagaskara dengan tetap sibuk memeriksa tumpukan berkas didepannya.
"Baik tuan tapi...".
Mendengar nada bicara Willy yang ragu ragu Bagaskara langsung menoleh kearahnya.
"Ada apa?",tanya Bagaskara.
"Cinta menitipkan pesan malam ini tuan harus pulang".
"Aku tidak bisa kau tidak lihat tumpukan berkas ini masih banyak yang harus kuperiksa,mungkin dalam tiga empat hari lagi aku baru akan pulang menengok Cello, karena sekitar dua minggu lagi Gavin dan Anandita rencananya akan pulang jadi aku harus menyelesaikan pekerjaan ini sebelum mereka datang",terang Bagaskara.
Willy terdiam mendengar apa yang dikatakan Bagaskara tampaknya jalan Cinta untuk meluluhkan Bagaskara masih panjang apa lagi nanti kalau kedua orang tua Cello sudah pulang, itu akan semakin sulit karena tidak ada alasan Bagaskara untuk menahan Cinta seperti sekarang,jadi sebelum itu terjadi sepertinya dia harus bisa memaksa Bagaskara untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama Cinta,pikir Willy.
Meskipun Bagaskara orang yang keras tapi setelah bertahun tahun menjadi asistennya dia tau sebenarnya Bagaskara hanya orang yang tidak bisa mengekpresikan perasaannya sendiri karena sudah terbiasa bersikap tegas dalam hidupnya.
Tapi Willy tau sejak hubungannya dengan Gavin membaik,sifat keras kepala Bagaskara juga mulai berkurang,apa lagi setelah bertemu Cinta lagi Bagaskara semakin menjadi orang yang lebih manusiawi meskipun dia belum menyadari perasaannya.
"Tapi sepertinya kondisi Cinta sekarang sedang kurang baik,apa tuan tidak ingin pulang untuk melihatnya".
Mendengar itu Bagaskara mengerutkan keningnya.
"Benarkah apa dia sakit,tapi setiap dia mengirim pesan padaku tidak terlihat kalau dia sedang sakit".
Mendengar itu Willy hanya bisa menghela nafas.
Sepertinya kalau dia bilang Cinta sekarang sedang sakit maka Bagaskara baru akan pulang.
'Berbohong sedikit tidak papa itu semua demi kebaikan',batin Willy.
"Iya tadi pagi dia merasa kurang enak badan bahkan sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu dia kurang sehat, tapi dia bilang dia tidak berani mengatakannya pada tuan,takut membuat tuan khawatir".
Bagaskara terdiam mendengar itu"Lalu bagaimana dengan Cello?tanya Bagaskara.
Cello baik baik saja,hanya Cinta yang kurang sehat".
"Kenapa kamu baru bilang sekarang dan kenapa kamu tidak membawanya berobat!",hardik Bagaskara.
"Cinta tidak mau tuan,dia bilang hanya demam biasa saja".
"Nggak ada demam biasa bagaimana kalau semakin parah,kau benar benar tidak bisa diandalkan".
"Jadi apa anda akan pulang malam ini tuan?",tanya Willy setelah Bagaskara berhenti mengomelinya dan mulai terlihat lebih tenang.
"Hemm".
"Maksudnya tuan?',Willy bingung mendengar jawaban singkat itu.
"Iya,dengar!",hardik Bagaskara.
Willy menarik nafas lega mendengar itu,misinya selesai sekarang tinggal terserah bagaimana Cinta menghadapi Bagaskara,batinnya.
"Kalau begitu saya akan menghubungi Cinta mengatakan bahwa anda akan pulang malam ini".
"Tidak usah,biar nanti aku langsung pulang saja,karena aku juga sudah rindu ingin menemui Cello".
Mendengar itu Willy mengangguk dan akan keluar dari ruangan Bagaskara tapi sebelum dia mencapai pintu Bagaskara kembali bicara padanya.
"Ingatkan aku setelah jam 8 malam nanti untuk berhenti bekerja dan juga siapkan mobilku aku akan pulang sendiri kerumah sana".
"Baik tuan".
Lalu Willy keluar dari ruangan itu.
***
Seperti permintaan Bagaskara, Willy kembali mengetuk pintu ruang kerja Bagaskara tepat pukul 8 malam untuk memberitaunya bahwa sekarang waktunya untuk pulang.
"masuk!",perintah Bagaskara.
Wlly masuk kedalam ruangan itu dikiranya Bagaskara masih sibuk dimeja kerjanya tapi ternyata dia salah, Bagaskara sudah terlihat rapi mengenakan pakaian yang lebih santai dan sudah siap untuk pergi dari sana.
"malam ini pulanglah kerumah,aku juga sudah siap untuk pulang",ucap Bagaskara dengan berjalan keluar dari ruang kerjanya diikuti Willy dibelakangnya.
"Mobilku sudah siap?",tanya bagaskara sambil berjalan menuju area parkiran khusus direktur.
"Sudah tuan".
"Baiklah pulanglah sekarang kamu pasti juga lelah" ucap Bagaskara menyuruh Willy pergi meninggalkannya sendirian berjalan menuju mobilnya.
***
Bagaskara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,meskipun dia khawatir saat mendengar Willy mengatakan bahwa Cinta sakit tapi dia tidak bisa langsung pergi meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk dikantor jadi setelah Willy mengatakan itu,dia segera menyelesaikan separo dari tumpukan pekerjaan itu,baru dia berani pulang.
Setelah berkendara lebih dari tiga jam Bagaskara sudah dapat melihat pagar rumah nya itu,ada perasaan berdesir senang saat melihat rumah itu, seolah disanalah tempatnya pulang sebenarnya dengan seorang istri yang sedang menunggunya sekarang.
Tanpa sadar Bagaskara tersenyum saat wajah Cinta melintas dipikirannya sudah hampir seminggu dia tidak bertemu dengan Cinta ada rasa yang sulit diungkapkan tapi yang pasti dia merasa senang pulang kerumah ini.
Bagaskara segera menghentikan mobilnya didepan rumah yang terlihat sudah sepi itu,karena ini memang sudah cukup malam biasanya jam segini Cello pasti sudah tidur,tapi bukan Cello yang diharapkannya ditemuinya saat ini tapi Cinta.
Dengan pelan Bagaskara membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang dibawanya.
ruang tamu nampak sudah gelap tapi,masih terlihat cahaya redup dari ruang tengah, apa mungkin Cinta belum tidur bukannya Willy bilang dia sedang sakit.
Dengan langkah lebar tapi pelan Bagaskara melangkah menuju arah Cahaya itu dan benar saja dilihatnya disana Cinta masih duduk diam sambil menatap kelayar televisi.
"Kenapa belum tidur?",tanya Bagaskara dengan berjalan menghampiri Cinta.
Cinta terkejut dan langsung menoleh kearah sumber suara yang berasal dari belakangnya.
"Mas Bagas!",panggilnya.