
"Ap-apa..????
DUARRRR!!
Bagai disambar petir, Diana membulatkan matanya dengan sempurna, dadanya bergemuruh dan nafasnya tersengal, tiba-tiba.
"BRUKK!
"Mama...!!!
Nathan tidak sempat meraih tubuh sang Mama, Diana terjatuh di ambang pintu setelah mendengar keputusan Nathan.
"Mah! ya Tuhan..." Nathan menoleh kearah dua orang bodyguard yang berjalan mendekat. "Cepet kau bawa Mama kedalam kamar."
"Baik Bos!
Dua orang Bodyguard dengan sigap menggotong tubuh Diana kedalam kamar dan menaruhnya diatas ranjang.
"Siapa yang harus aku utamakan, Mama atau Alea? kedua nya orang yang sangat aku sayangi." gumam Nathan seraya menatap tubuh sang Mama diatas ranjang.
"Bos, Apa yang harus kita lakukan pada nyonya? kondisinya terlihat lemah dan keluar keringat dingin.
"Segera panggilkan dokter Erick dan secepatnya untuk datang ke villa."
Pria berkepala plontos mengangguk seraya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi dokter pribadi keluarga Nathan.
"Dokter Erick segera datang Bos, langsung menuju villa."
"Bagus, jaga Mama ku disini, aku akan menyusul Alea."
"Saya akan antarkan bos, kondisi bos belum stabil." tukas salah satu bodyguard Nathan.
"Tidak usah, kalian berdua jaga lah Mama ku, jangan kemana-mana sampai Dr Erick datang."
Keduanya mengangguk, Nathan melangkahkan kakinya, saat baru sampai di ambang pintu terdengar suara teriakan Diana.
"Berhenti Nathan!
Nathan terkejut dan membalikkan tubuhnya. "Mah! Nathan mengeryitkan keningnya "Jadi Mama hanya pura-pura pingsan?! tega-teganya Mama mempermainkan aku?" tukas Nathan tak percaya. "Mama sengaja pingsan agar aku tidak mengejar Alea."
"Kenapa? kau mau marah! Diana terduduk di tepi ranjang dengan tatapan menghunus "Kau adalah anak mama yang sudah mati-matian mama besarkan tanpa ada papamu di samping kita, tapi ini kah balasan mu pada mama? kenapa kau lebih memilih wanita dari anak membunuh itu daripada mamamu sendiri! teriak Diana histeris.
Nathan mengusap kasar wajahnya "Ya Tuhan mah, Nathan sangat menyayangi dan menghormati Mama sebagai ibu yang telah melahirkan dan membesarkan Nathan. Tetapi please Mah, jangan pernah pisahkan Nathan dari wanita yang aku cintai." tutur Nathan dengan mata berkaca-kaca.
"Sebesar itu kah cinta mu pada anak wanita pembunuh itu di banding Mama yang sudah mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui dan merawat mu hingga kau jadi seorang pria sukses. Inikah balasan mu pada wanita yang sudah berkorban banyak untuk mu?
"Sekarang Mama tekankan sekali lagi, kau pilih Mama atau wanita itu?! tunjuk Diana pada sang anak yang kondisi tubuhnya masih lemas setelah berhasil keluar dari mulut anaconda.
Nathan terdiam, tak terasa airmatanya sudah menetes membasahi pipinya, kedua tangannya mengepal kuat menahan sesak didada. Tidak mungkin ia memilih salah satu dari dua wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
"Jawab!!! bentak Diana
"Aku mohon Mah! jangan pernah suruh aku memilih. Aku sangat menyayangi dan mencintai Mama juga Alea. Nathan tak sanggup bila harus memilih kalian berdua." ucapnya dengan bibir bergetar
"Mama tidak bisa biarkan kau hidup bersama anak pembunuh! Tolong nak, pahami perasaan Mama..." hiks.. hiks.. "Hati Mama sakit melihat kau lebih peduli pada anak pembunuh itu daripada Mama!" seru Diana di sela isakan tangisannya sambil memukuli dadanya.
"Anak kurang ajar! Diana turun dari ranjang dan menarik kasar kerah baju Nathan "Bukannya membela Papa mu, malah membela wanita pembunuh itu, dimana hati nurani mu sebagai seorang anak, Hah!
"Menyesal Mama melahirkan anak seperti dirimu! teriak Diana di depan wajah Nathan sambil mendorong tubuhnya kebelakang.
"Mah, ma'afkan Nathan, jangan pernah katakan itu. Aku akan lakukan apapun untuk Mama tapi jangan pernah meminta aku untuk berpisah dari Alea."
Diana terdiam dengan nafas turun-naik menahan sakit hati.
"Izinkan Nathan pergi mencari Alea! pria blasteran itu melangkah pergi sambil tertatih tanpa melihat amarah Diana yang sebentar, lagi akan meledak.
"Tunggu! Diana berseru dengan dada bergemuruh "Selangkah lagi kau berjalan, kau sudah bukan anakku lagi!!"
Nathan berhenti, lalu kembali berbalik "Mama yang meminta seperti itu, tetapi aku tetap menganggap Mama ibu kandungku." airmata pria bermata biru itu sudah berlinang. Nathan sungguh di hadapkan pada pilihan yang sulit, ia tidak mungkin memilih satu dari keduanya.
"Percuma Mama meminta dan memohon untuk melepaskan wanita itu, tetapi kau tidak ingin melepaskan nya. Baiklah... lebih baik Mama mati saja dari dunia ini menyusul Papa mu Thomas! Diana berlari kearah meja makan dan mengambil pisau yang berada di atas buah.
"Mama! teriak Nathan saat melihat aksi Diana yang akan mengiris urat nadinya.
"Jangan pernah lakukan itu mah! Nathan sangat menyayangi Mama." Nathan terlihat prustasi atas ulah Mama nya. "Ingat Shella dan Om Bastian, adikku.. anak dan suami Mama." Nathan berjalan mendekat sambil terus membujuk.
"Untuk apa Mama hidup di dunia ini bila anak kandung sendiri lebih memilih anak pembunuh Papanya, daripada ibunya yang sudah melahirkan nya." huhuhuhu... tangisan Diana semakin pecah.
Diana masih menggenggam kuat pisau tajam itu ditangan kanannya, mata pisau itu masih menancap di pergelangan tangannya, sekali gores urat nadinya akan putus, darah segar akan keluar dengan deras.
Sungguh Nathan sangat terluka melihat ibu kandungnya yang ingin bunuh diri, karena dirinya lebih memilih Vana, wanita yang sudah memenuhi relung hatinya. Dua pilihan yang sangat sulit, Namun ia harus bisa memilih dan memutuskan demi Ibunya yang sudah kalap dan nekad.
"Kenapa diam!! jadi kau lebih memilih anak wanita pembunuh Ayahmu. sekarang pergilah dan biarkan Mama mati!!! Diana mengiris kulit pergelangan tangannya hingga keluar darah segar.
"Mama jangan! Nathan mendorong tubuh Diana dan merebut pisau ditangannya, Namun sayang darah sudah keluar dari pergelangan tangannya, Diana langsung terjatuh dan terkulai lemas.
"Mama!!!! teriak Nathan dan mengangkat kepala sang Mama diatas pangkuannya "Mah, kenapa harus melakukan ini semua. Ku mohon mah bertahan lah!"
"Rian, cepat hubungi lagi dokter Erick. Mama banyak mengeluarkan darah." perintah Nathan pada salah satu anak buahnya.
"Baik Bos!
"Ambillah selendang di kamar mama untuk membungkus pergelangan tangannya dan menghentikan darahnya." seru Nathan pada Pria berkepala plontos.
Pria itu berlari kedalam kamar dan kembali cepat. Dengan sigap ia membantu Nathan menghentikan darah sang Mama.
"Lebih baik nyonya di bawa kedalam kamar."
Nathan mengangguk.
"Biar saya yang angkat Nyonya." pria berjas hitam itu mengangkat tubuh Diana kedalam kamar.
Nathan menatap nanar sang Mama yang terbaring lemah, ia mengusap wajahnya berkali-kali dan sesak ia rasakan.
"Demi keselamatan Mama, haruskah aku pergi dari kehidupan Alea?
😢😢😢
@Seperti biasa ya All... jangan lupa untuk bantu Bunda.. VOTE, LIKE, RATE BINTANG 5 DAN komentar kalian 😍 Biar Bunda semngat nulisnya 🤗🙏