
Wajah Bagas sudah babak belur, tentu saja staminanya tidak sekuat Dave yang sering fitness dan menguasai ilmu bela diri. Darah segar keluar dari bibir dan hidungnya, kelopak mata Bagas juga membiru. Dave begitu puas bisa membalaskan dendamnya, yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun.
"Kau akan mendapatkan pasal penganiayaan dan mendekam di penjara! teriak Bagas.
Dave mengangguk "Akupun akan melakukan hal yang sama, demi ibuku yang telah kau sakiti hati dan fisiknya! aku tidak ingin hancur sendirian! teriak Dave mengancam, membuat Bagas bungkam.
"Kita lihat saja siapa yang pecundang disini! seru Bagas seraya mengusap darah yang berada di sudut bibirnya.
"Aku sendiri yang akan jebloskan anda ke tahanan!
Bagas tergelak "Kau tidak punya bukti untuk menjebloskan aku ke penjara! justru kau akan mendapatkan pasal yang akan membawa mu kedalam tahanan!"
Tak lama kemudian, beberapa petugas berpakaian coklat-coklat masuk kedalam ruangan Bagaskara dan berdiri di antara mereka.
"Siapa orang yang telah buat kekacauan? tadi ada yang melaporkan kekantor kami." ucap petugas polisi.
"Dia orang nya! tunjuk Bagas kearah Dave yang berdiri tegak. "Lihat pak, dia masuk kedalam kantor saya dengan mengancam dan memukuli saya. Beruntung teman-teman lawyer membantu saya untuk melaporkan ke kantor polisi. Tangkap dia Pak, saya akan buat laporan penganiayaan dan tindakan tidak menyenangkan!" ujar Bagaskara dengan jumawa nya.
Dua orang polisi berjalan mendekati Dave dan bertanya "Apa anda yang bernama Devanto!"
Dave mengangguk "Iya! saya Devanto! ucap Deve tegas
"Mari ikut kami, karena anda telah membuat onar di kantor Lawyer." tanpa banyak berdebat, salah seorang polisi memborgol tangan Dave.
Dave tidak membantah atau memberontak, sikapnya masih terlihat tenang dan tidak takut sedikitpun. Saat melewati Bagaskara, netra keduanya saling bertemu. Dave membalas tatapan Bagaskara dengan sinis.
"Tunggu! seru Bagas
"Saya ingin bicara sebentar dengan nya."
"Silakan! pak polisi itu mundur beberapa langkah untuk menjauh.
Bagas berdiri di depan Dave dan tersenyum meremehkan "Kau tahu kenapa aku membuang Ibumu dari hidupku? seketika tubuh Dave menegang dan menatap benci pada pria di depannya "Itu karena ibumu sudah berkhianat dan memiliki hubungan kembali dengan Ayah kandung mu!" ucap Bagas yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.
"Deg! jantung Dave berdebar cepat.
"Ayahku? berarti kau mengenal ayah kandung ku?!
"Tanyakan saja pada ibumu, dia yang lebih tahu daripada aku!
Tiba-tiba Bagas mendekatkan kepalanya kesamping "Selamat menikmati tempat tinggal mu yang baru." bisik Bagas terkekeh.
Dave menggertak kan gigi-giginya dan tak ingin terpancing dengan sindiran Bagas.
"Sudah pak! silakan bawa orang ini!
Dua orang polisi berseragam coklat itu mendorong Dave untuk segera pergi di tempat itu.
***
Sementara di tempat lain. Dua orang pasangan kekasih masih terus berputar mencari jalan keluar.
"Sepertinya kita tersesat, sejak kemaren kita terus berputar-putar di tempat ini."
Vana bersandar pada sebuah pohon besar "Aku lelah kak, kita istirahat dulu."
"Baiklah!
Mereka berdua duduk di bawah batang pohon besar "Ponsel ku sejak kemaren sudah lowbet."
kita harus cari rumah penduduk untuk cash ponsel ku, agar aku bisa hubungi orang-orang ku dan menjemput kita."
Vana mengangguk, rasa lelah membuatnya lemas.
"Sayang, apa kau lapar? sejak kemaren kita hanya makan buah-buahan yang ada di hutan."
"Kita cari air kak, aku sangat haus! ucap Vana lemas.
"Baiklah kau tunggu disini ya, Kakak cari air dulu, kalau sudah ketemu kakak kasih tau kamu."
"Aku ikut, aku tidak ingin terpisah lagi."
Nathan tersenyum seraya mengusap lembut pucuk kepala Vana "Oke, apa perlu ku gendong?"
"Jangan kau pikir aku lemah, aku hanya lelah karena haus kak."
"Ya sudah Ayo kita jalan lagi!
Mereka melanjutkan perjalanan nya dan mencari pancuran atau sumber air. Nathan dengan setia terus menggandeng tangan Vana, hatinya begitu bahagia bisa dekat dengan wanita pujaannya walau mereka masih tersesat dan berada di asing.
"Kau dengar suara air? Nathan berhenti untuk memastikan
Vana menajamkan pendengarannya "Benar kak, sepertinya ada suara air terjun, tapi sangat jauh."
"Kau tunggu disini, aku mau naik keatas pohon itu untuk memastikan berada dimana sumber air itu." Nathan mulai melompat keatas pohon dan merambat naik keatas dengan gerakan cepat. Ilmu bela diri mampu meringankan tubuhnya. Nathan sudah berada di atas pohon paling atas dan memandang di sekelilingnya. Tak lama ia turun kembali dengan gerakan salto.
"Posisi air terjun berada di sebelah barat. Kelihatannya masih jauh."
Vana sudah mulai terlihat lelah, wajahnya terlihat pucat. Rasa haus di dahaganya membuat ia terduduk di bawah pohon.
"Sayang, naik lah ke punggung ku." Nathan membelakangi Vana dengan menyodorkan punggungnya.
"Aku laki-laki dan bertanggung jawab atas dirimu. Aku masih memiliki tenaga yang kuat. Ayo naiklah ke punggung ku."
Karena di desak, akhirnya Vana menurut dan naik keatas punggung Nathan. "Kau sudah siap? aku akan berlari dengan cepat. Berpeganglah yang erat."
Vana mengangguk, walau anggukan nya tidak Nathan lihat Nathan berdiri dan mulai berlari cepat menyusuri hutan yang di penuhi pepohonan besar dan rindang. Vana merasa kasihan melihat Nathan yang mulai berkurang kecepatan larinya.
"Kak sudah berhenti dan turunkan aku!
"Tidak apa-apa sayang, sebentar lagi akan sampai. Air terjunnya mulai terdengar."
Nathan tidak ingin terlihat lemah di depan kekasihnya. Sekuat tenaga ia terus menggemblok Vana. Hampir satu kilometer perjalanan menuju air terjun dan akhirnya Nathan berhenti di depan air terjun yang jernih. Pemandangan sangat indah dan menyejukkan
"Kak kita sudah sampai!"
Nathan menurunkan tubuh Vana dan ia terduduk ditanah untuk mengatur nafasnya yang tersengal "Kita harus turun kebawah untuk sampai di sana."
"Ayo kak, rasanya aku ingin mandi dan sudah gak tahan sudah hampir dua hari gak ketemu Air." ucap Vana riang
Nathan mengangguk dan melangkah turun kebawah bawah bersama Vana menuruni undakan tanah setapak.
"Kak, air terjunnya jernih sekali! teriak Vana berlari cepat kearah sungai.
"Alea hati-hati nanti jatuh!"
Vana langsung terjun bebas kedalam air dan berdiri di depan Air terjun yang membanjiri tubuhnya dengan air deras.
"Astaga Alea! kenapa kau tidak lepas bajumu, lihat baju mu basah semua!"
"Hey kak! dasar modus! kalau aku lepas semua bajuku, kau bisa melihat tubuh polos ku! seru Vana seraya menyipratkan air kearah Nathan "Cepat mandi jangan berdiri saja disana!"
Benar juga apa yang di katakan Vana, kalau bajunya di lepas akan terlihat tubuh seksinya. Bukankah itu sama saja mengundang birahinya? Nathan menggeleng cepat, menepis pikiran kotornya.
"Tunggu aku! Nathan melepas kemeja dan celana jeans nya, tersisa celana boxser selutut yang masih menutupi area sensitif nya. Gegas Nathan terjun kedalam air menyusul Vana.
"Kak lihat, banyak ikannya di sini!
"Kau benar, ada banyak ikan Mas!
"Cepat kak ditangkap! Vana bersorak riang.
"Aku akan mencari bambu untuk menjerat ikan." Nathan berjalan kedarat dan mencari bambu yang berada di sekitar. Beruntung tempat air terjun itu di kelilingi pohon bambu, jadi memudahkan Nathan untuk menarik salah satu bambu. Untungnya dia selalu membawa pisau kecil untuk berjaga-jaga di saku celananya. setelah bambu di potong runcing bagian atasnya, Nathan terjun kembali dan mulai menusuk satu-persatu ikan yang lewat dekatnya.
"Kak itu.. itu ikannya di belakang kakak! seru Vana yang sangat senang melihat Nathan menangkap ikan menggunakan bambu. Dengan gerakan cepat, Nathan berhasil menusuk ikan-ikan itu dengan ujung bambu.
"Wah kak, ikannya lumayan banyak. kita bisa makan kenyang hari ini! Vana tak hentinya begitu senang, seakan melupakan dirinya yang tersesat di hutan bersama Nathan.
Nathan naik kembali ke darat dan mulai membersihkan isi perut Ikan itu. Vana ikut membantu nya.
"Kak! bagaimana kita mau masak ikan ini, tidak ada api dan minyak goreng." seru Vana yang sejak tadi tak hentinya banyak bicara.
Nathan tersenyum "Lebih baik kau ganti bajumu, nanti masuk angin." perintah pria tampan yang terlihat cool dengan dada bidang berbulu, menampakkan otot-ototnya kekar dan perut kotak-kotak nya. Dari rambutnya yang basah berjatuhan titik-titik air, membuat Vana terpesona menatap keindahan di depannya. Sungguh ia baru merasakan kembali getaran dalam hatinya saat melihat dari dekat wajah tampan Nathan.
Tangan Nathan masih membelek isi perut ikan dan membuang nya, melihat Vana tidak bersuara lagi, ia mengangkat wajahnya "Hey! kenapa menatapku seperti itu?! tanya Nathan saat tak sengaja Vana kepergok menatap dirinya. "Apa kau baru menyadari kalau aku tampan? goda Nathan terkekeh
Vana tersentak kaget dan menarik paksa dari lamunannya. Ia hanya tersenyum malu-malu sambil mengalihkan pandangan nya.
"Pakailah kemeja ku, lalu kau jemur pakaian mu, setelah kering kau bisa kenakan lagi. Aku nggak mau kau sakit."
"Okeh, tapi kau tidak boleh mengintip saat aku membuka pakaian."
"Kau tenang saja, aku bukan pria brengsek yang ingin memanfaatkan keadaan."
Lalu Vana mengambil kemeja Nathan yang tergeletak diatas batu "Jangan menoleh ke belakang, aku sedang mengganti pakaian."
Nathan menurut perintah kekasihnya dan berjalan pergi untuk mencari batu dan dedaunan kering yang berjatuhan. tak lama ia menemukan dua batu Kolar dan menggesekkan dua batu itu hingga mengeluarkan percikan api, dengan cepat ia membakar dedaunan kering dan ranting pohon. Api mulai membesar lalu ia bakar ikan-ikan yang sudah di bersihkan di atas bambu.
Vana sudah menjemur kemeja dan celana jeans nya, namun ********** masih ia kenakan.
"Lea kemarilah! teriak Nathan dari balik batu besar.
Vana gegas berlari kearah Nathan dan mencium aroma wangi ikan bakar "Wah sepertinya enak kak, wanginya saja sudah bikin laper." tukas Vana seraya duduk di samping Nathan dan terkekeh
Vana terlihat seksi dengan memakai kemeja Nathan yang kebesaran hingga sampai selutut. "Cantik! ucapnya spontan.
"Kakak bilang apa?!
"Cantik sayang... kau adalah bidadari yang di kirim Tuhan untukku."
"Ish gombal! mendengar ucapan Nathan membuat Vana tersenyum malu-malu, semburat warna merah merona di kedua pipinya.
"Ikan-ikannya sudah matang, ayo kita makan,."
Mereka berdua mulai menikmati ikan bakar Mas, dan memakan dengan lahap, sesekali mereka bercanda dan saling mengejek. Tanpa mereka sadari sepasang bola mata tajam menatap mereka berdua.
💜💜💜
Ma'af ya readers ku. Karena ini momen bulan ramadhan dan sebentar lagi akan memasuki Idul Fitri, jadi untuk beberapa hari Bunda libur nulis dulu karena aktivitas di real, Insyaallah sehabis Lebaran akan bunda lanjutkan lagi setiap hari.
@Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin 🙏