
Mobil sedan putih memasuki gerbang mansion. Seorang pria berperawakan tinggi besar membuka pintu mobil. Sebelum masuk kedalam rumah, ia berdiri sambil memandangi mansion yang berdiri kokoh dengan tiang-tiang penyangga besar.
"Kini kedua adikku telah pergi, tidak ada lagi rumah yang ceria seperti dulu. Gelak tawa mereka yang selalu menghiasi rumah ini tidak akan pernah terdengar lagi." gumam Vano pelan, bola matanya mulai berembun.
"Zee... dimana sekarang kau berada dek, kenapa perasaanku tidak resah saat kau pergi, kita saudara kembar dan sudah pasti insting kita kuat. Aku bisa merasakan apa yang sedang kau rasakan." Vano masih bergeming seraya menatap kedepan dengan posisi tubuh bersandar pada badan mobil. "Insting ku mengatakan kalau kau baik-baik saja. Tetapi kenapa kau harus pergi tanpa memikirkan keluarga terutama Daddy dan Mommy." Vano masih bicara sendiri.
Kini ingatan Vano kembali pada sosok gadis yang telah pergi mansion dan kembali pada kelurganya. "Bagaimana perasaan Savira bila ia berada di tengah keluarga nya sendiri tetapi merasa sangat asing." hah..." Vano mendesah pelan.
"Savira... aku tidak akan bisa bertemul lagi dengan mu, seakan ada jarak diantara kita. Aku tidak akan bisa lagi menyentuh dan membelai rambut wangi mu lagi." Vano mendesah panjang, dia melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. telunjuknya mengusap cairan yang sudah menetes dari sudut matanya. "Doa ku, semoga ada keajaiban dari Tuhan untuk kita kembali berkumpul lagi."
Dddrrreeettt
Dddrrttteeett
Ponsel Vano bergetar di dalam saku celananya. Antensinya beralih pada getaran ponsel, tangan kanannya merogoh benda pipih itu dan melihat nama si penelpon dari layar datar. Dengan cepat ia menggeser tombol berwarna hijau.
"iya Bell.."
"Sayang... kau dimana? aku mencarimu ke kantor, kata sekertaris mu sudah tiga hari kau tidak datang ke kantor, apa kau Sakit? tanya Bella yang terlihat khawatir, dengan berondong pertanyaan
Vano terdiam dan belum bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang akan Bella lontarkan.
"Sayang..." pelik Bella dari ujung sana.
"I-ya Bell." Jawab Vano sedikit gugup. seperti ada yang menarik paksa pikiran Vano untuk melupakan semua kejadian yang sudah beberapa hari ia alami.
"Kau sedang mikir apa? apa aku mengganggu mu? bila aku mengangguk, baiklah aku tutup telponnya." ucapan Bella terdengar kecewa.
"Tidak Bel, aku hanya sedikit lelah." Vano mengusap tengkuknya untuk menghilang kan gugup nya.
"Ya sudah kalau kau lelah berisrahat lah, tadinya aku mau mengajak mu dinner malam ini ditempat yang biasa kita kunjungi."
"Ma'af ya sayang, sepertinya malam ini aku tidak bisa, besok aku usahakan ke kantor mu untuk makan siang, bila sudah selesai pekerjaan ku."
"Oke, aku tunggu besok. Bay.." dengan cepat Bella memutuskan sambungan telepon. Vano merasa bersalah dengan wanita dari sahabat adiknya
Vano menarik nafas dalam-dalam serta membuang nafas kasar. Seakan masih ada beban yang belum bisa ia lepaskan.
"Ma'afkan aku Bell, ma'afkan...." ucapnya lirih seakan ada sebuah kesalahan yang akan membuat Bella terluka. "Seharusnya kau bisa hidup bahagia bersama laki-laki yang tulus mencintaimu."
Vano menaruh ponselnya kedalam saku celananya dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Van, kau sudah pulang nak, tumben cepat sekali." sapa Delena yang baru melihat anaknya datang.
"Iya mom, sudah dua hari ini badan Vano ngilu dan mudah letih."
"Pasti kau kurang istirahat, banyak minum vitamin dan jangan terlalu banyak pikiran."
"Sudah pasti pikiran itu ada Mom, bagaimana tidak? Zee masih menghilang, Savira juga sudah kembali pada keluarga nya."
"Ya sudah sayang, kamu yang sabar ya. Daddy masih melacak orang-orang yang terlibat menculik Vana, walau sebenarnya mommy sangat sedih dan menderita dengan hilangkannya Vana." ucap Delena pilu.
"Iya Mom, Vano juga merasakan hal yang sama. Ys sudah Vano ke kamar dulu." saat Vano akan beranjak, Delena bertanya lagi.
"Ohiya Van, sudah beberapa hari ini mommy tidak melihat Dave kerumah, bisanya ia selalu nginap disini."
"Apa Daddy belum cerita?!"
Delena mengerutkan keningnya "Cerita apa? tanyanya bingung.
"Huft! Vano membuang nafas kasar, sepertinya pernyataan sang mommy akan ada perang kembali dengan sang Daddy.
"Dev, sedang pulang kampung!" ucapnya berbohong agar Delena tidak terus bertanya.
"Sejak kapan Dave punya Kampung? setahu Mommy ia sudah tidak memiliki Kampung semenjak neneknya meninggal, bahkan bertahun-tahun tidak pernah pulang."
"Dave juga masih punya kerabat, bibi dan Pamannya di kampung. Biarkan saja dia pergi mom, mungkin Dave mau rehat di kampung dulu dan mengunjungi kerabat nya."
"Dimana Daddy mom?! vano mengalihkan pembicaraan.
"Di ruangan kerjanya."
Saat Vano akan pergi, Delena masih belum puas dengan jawaban sang anak. "Apa pekerjaan kantor mu tidak terbengkalai bila tidak ada Dave? kok sepertinya janggal ajah, kenapa Dave tidak pamitan sama mommy."
Lagi, lagi Vano mendesah panjang "Ya Tuhan, kenapa mommy tidak bisa di bohongi? kalau aku katakan sejujurnya, sudah pasti mommy dan Daddy akan perang lagi." batin Vano.
"Mommy.., Dave sudah bilang ke Vano, nggak bisa ketemu mommy karena ia terburu-buru keluarga nya ada yang sakit."
"Ya sudah ya Mom, Vano mau mandi dulu."
Tanpa menunggu jawaban sang mommy, gegas Vano langsung melangkah pergi dan masuk kedalam kamar Savira. Sudah dua hari setelah kepergian Savira, Vano pindah kamar dan tidur di tempat gadis bersurai hitam itu.
Vano mengambil sebuah kotak yang berada di atas meja belajar dan membukanya. Ya di dalam kotak itu banyak pernak-pernik dan barang-barang pemberian Vano yang Savira simpan dengan rapih. Bahkan kado-kado yang setiap tahun Vano berikan tertata apik di dalam lemari kaca. Vano membuka Album photo yang berada di dalam kotak itu, lalu ia membuka lembar demi lembar foto kenangan nya bersama Savira. Ada getir yang Vano rasakan saat Savira menyimpan foto-foto di usianya 11 tahun hingga dewasa. Ada satu foto kebersamaan nya saat memeluk Savira dari belakang, saat ulang tahun yang ke-17, kala itu Vano memberikan kalung emas putih dengan gandulannya berbetuk 💜 foto itu Vana yang mengambilnya. Tanpa Vano sadari, airmatanya sudah menetes deras.
"Savira, kenapa aku baru menyadari, betapa sakit harus kehilangan orang yang kita cintai. saat kau di dekat ku aku berusaha menghindar dan tidak peduli dengan keberadaan mu, Saat kau sudah tak ada lagi. aku begitu merindukanmu."
"Baru kusadari, ternyata kau menyimpan semua dengan baik barang-barang pemberian ku, ku pikir kau tidak pernah jatuh cinta lagi padaku setelah aku melukai mu berkali-kali." tetesan air mata itu semakin berjatuhan.
Vano merebahkan tubuhnya diatas ranjang seraya memeluk erat bingkai foto Savira, hingga ia tertidur lelap.
***
"Bagaimana perkembangan nya?
"Sudah cukup bagus." ujar seorang dokter setelah melihat hasil rongent kaki Vana.
"Apa kaki Alea akan sembuh total?! tanya Nathan yang begitu antusias agar kekasihnya sembuh.
"Kemungkinan adanya Lumpuh atau yang di sebut juga Disabilitas fisik adalah terganggunya fungsi gerak antara lain lumpuh layu atau kaku, paraplegi, cerebral palsy (CP), bisa jadi karena keterkejutan atau penyebab faktor lain seperti merasa kurang percaya diri atau bersalah hingga menimbulkan lumpuh dan pergerakan kakinya lemas."
Nathan sempat berpikir akibat dari Vana lumpuh, karena ia pun tahu kejadian yang dialami Vana.
"Alea lumpuh ada penyebabnya."
Dokter Alfred mengeryitkan keningnya dan menghentikan tangannya yang sedang menulis di atas kertas.
"Apa penyebabnya?"
"Alea, mengalami tekanan akibat penculikan adik bungsunya dan ia drop karena merasa bersalah, juga mengalami koma satu minggu. setelah bangun dari koma di nyatakan lumpuh, tiba-tiba saja kakinya terasa lemas seperti tak bertulang." terang Nathan memberikan penjelasan, namun ia tidak menceritakan pertempuran Vana dengan Genk kalajengking, hal itu tentu saja Nathan tutupi.
Dokter Alfred mengangguk "Sepertinya akan kembali normal bila terus terapi, drop atau tekanan, itu adalah kondisi saat perasaan bersalah dan otaknya berpengaruh pada jaringan sistem hingga otot dan peredaran darahnya menyumbat."
"Tolong berikan rangsang*n atau lakukan spontanitas yang membuat jaringan sistem otot-ototnya bekerja." ujar Dokter Alfred lagi.
"Baik Dok! Nathan mengangguk mengerti.
"Ambil resep obat ini di apotek. Dan berikan sesuai anjuran. Nona Alea sedikit depresi, Kau harus terus berada di samping nya, karena orang lumpuh itu emosinya kadang tidak stabil."
"Baik Dok, terima kasih banyak." Nathan menerima resep dari dokter dan berpamitan dari ruangan.
***
Nathan mendorong kursi roda Vana dan membawanya ke parkiran. Membuka pintu mobil lalu mengangkat tubuh proporsional itu kedalam mobil. Sebelum ia masuk kedalam mobil, Nathan melipat kursi roda dan menaruhnya di bagasi.
"Sayang... kita belum makan malam hari. apa kita akan makan di tepi pantai menikmati makanan seafood atau di restoran." ucap Nathan kala sudah berada di dalam mobil
"Tolong, jangan ada embel-embel Sayang! tukas Vana tegas.
Nathan hanya menarik nafas dalam "Kenapa? kau tidak suka? padahal aku sangat menyayangi mu dan itu tulus aku lakukan."
"Cukup Nathan! aku tidak ingin merasa banyak bersalah padamu, dan aku juga tidak ingin punya hutang budi padamu!" pekik Vana seraya melipat kedua tangan didada.
"Kenapa kau selalu bicara hutang budi! yang aku lakukan tulus padamu, tidak ada hutang budi bila kita saling menyayangi."
Vana membuang nafas kasar bersamaan membuang wajahnya kesamping. "Kak, andaikan kau tahu yang aku lakukan demi kebaikan mu? agar kau tidak berurusan lagi dengan Daddy ku dan kembali membunuh mu bila Daddy tahu kau yang menculik ku. Aku sengaja membenci mu dan ingin melepaskan cinta mu padaku, agar aku terbebas dari rasa bersalah." tiba-tiba airmata Vana meleleh dari sudut matanya. ia mengusapnya perlahan agar Nathan tidak melihatnya menangis.
Tiba-tiba mobil berhenti di depan apotik. "Dek, aku kedalam dulu tebus obatnya, kau nggak apa-apa kan aku tinggal?"
Vana hanya mengangguk tanpa menoleh. Nathan menutup pintu mobil dan berjalan masuk kedalam apotik.
Hening.....
Nathan sengaja memarkirkan mobil di bahu jalan agar tidak menggangu aktifitas yang lainnya, ia tidak masuk kedalam apotik karena parkirannya tidak luas dan sudah penuh. Suasana jalanan tampak sepi, hanya beberapa mobil yang melintasi, maklum saja tempat tingal Nathan di sebuah villa yang jauh dari keramaian, Namun bila pagi hari di pantai yang jaraknya 200 meter dari villa, tampak ramai dengan pengunjung lokal dan juga para turis asing.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.20 waktu Bali. Vana sudah tak sabar menunggu Nathan kembali, belum terlihat batang hidungnya, padahal sudah setengah jam ia menunggu.
"CK! sejak aku tinggal bersama kak Nathan, sejak saat itu aku tidak memegang ponsel, padahal berkali-kali Kak Nathan menawarkan, aku selalu menolaknya, karena aku tidak ingin Daddy dan kak Vano tahu keberadaan ku, sebenarnya aku masih melindungi kak Nathan dengan menutup semua akses agar keberadaan ku tidak terlacak."
"Bagaimana aku harus masuk kedalam? sedangkan kakiku terasa lemas dan sulit untuk di gerakan." Vana mencoba gerakan kakinya dan berusaha menendang apa saja yang ada di bawah. namun nihil, Semua seakan sia-sia saja.
"Ya Tuhan! kenapa ini harus terjadi padaku?! seakan aku wanita yang tak berguna, untuk apa aku hidup!!! untuk apa?! teriak Vana dalam mobil dan terus memukul-mukulkan dadanya karena kesal.
Saat Vana sedang menangis terisak dan terus memaki dirinya sendiri. Tiba-tiba ada yang menggoyangkannya mobil nya, awalnya pelan lama-lama semakin kuat membuat Vana ingin muntah dan pusing.
"Hentikan siapa kalian! seru Vana menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada siapa-siapa, tetapi mobil itu semakin cepat guncangan nya.
"Kak Nathan....!!!!! teriak Vana yang mulai panik dan emosinya terpancing.
💜💜💜💜