Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Pertemuan Dua kekasih


"Sekali lagi aku minta maaf karena telah menyakiti dan melukai hatimu. Besok akan aku siapkan keberangkatan ke Jakarta."


Deg!


Hati Vana berdenyut nyeri, ia hanya bisa terdiam tanpa keluar satu Katapun. Sehingga Nathan melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.


"Hiks.. hiks.. Vana menangis setelah kepergian Nathan dan punggung lebar Nya menghilang dari pandangannya. Vana membenamkan wajahnya di lutut.


"Kak Nathan ma'afkan aku?' hiks.. hiks..


"Aku juga tidak tahu dengan perasaanku sendiri, Apakah aku menyukaimu Kak Nad atau tidak. Tetapi melihat foto-foto mu dengan suster Lena membuat ku semakin ilfill. Sekarang aku bingung apakah meninggalkan mu sudah benar?" hiks.. hiks..


Vana membiarkan tubuhnya terus terguncang bersama tangisannya yang semakin dalam. Hingga akhirnya ia tertidur pulas.


Sementara Alvin dan karyawan medisnya sudah menyelesaikan semuanya. Suster Lena dan suster Anna sudah di bawa kerumah sakit besar untuk menjalani perawatan. kini tinggal Nathan dan Alvin yang masih berada di ruangan tamu dengan dua cangkir kopi hitam untuk menemani mereka ngobrol.


"Nad! ada apa? sejak tadi aku lihat kau begitu gelisah seperti tidak ada semangat hidup! tukas Alvin seraya menyeruput kopi Hitam di tangannya.


Nathan menghela nafas panjang seraya mengusap wajahnya berkali-kali "Entahlah aku bingung dengan perasaanku sendiri. Ternyata aku salah telah membawa pergi Alea dari keluarganya. kupikir dengan membawa Alea ke villa ku, bisa membuatnya bahagia dan menyembuhkan kelumpuhannya agar ia tidak terpuruk. Namun perkiraan ku salah." Nathan menatap langit-langit dan pandangannya kosong. Alvin yang melihat sahabatnya tidak baik-baik saja, Ia menepuk pundaknya.


"Jangan melamun tidak baik! cepat atau lambat Kau pasti akan menyadarinya. Memang tidak baik mengambil anak orang dari keluarganya dan tidak inilah akibat dari perbuatan mu yang melanggar hukum. menculik anak orang bisa dipidanakan bila keluarganya menuntut mu!" ujar Alvin panjang lebar.


Nathan mengangguk pasrah "Aku harus siap bila keluarga aja menuntut, Aku tidak akan lari dari tanggung jawab!


"Semoga kau menemukan jalan yang terbaik Nad! sekali lagi Alvin menepuk pundak sahabatnya sebagai bentuk rasa setia kawan.


"Aku akan pergi!


"Maksud mu? tanya Alvin sambil menyeruput kopi yang sisa separuh.


"Aku harus kembalikan Alea pada keluarganya. Jika mereka menuntut ku untuk memasukkan aku ke penjara, aku sudah siap dan itu adalah resiko yang harus aku terima. Setelah itu aku akan pergi selamanya dari kehidupan Alea." Nathan menarik nafas dalam untuk menetralisir keadaannya. "Dan aku tidak akan pernah mengganggu Alea lagi di kehidupan selanjutnya!" Wajah Nathan tertunduk dalam dengan raut muka memerah menahan tangisan seakan hatinya telah rapuh Dan harapannya telah hilang.


"Sabar dan ikhlaskan semuanya. Kau laki-laki baik kelak akan menemukan orang baik juga. Aku percaya Kau Pasti bisa melewati semua ini! Alvin merangkul pundak sang sahabat.


***


Tak, tok, tak, tok...


Suara hells menggema di dalam ruangan, wanita cantik ini terus mengumbar senyum saat beberapa karyawan yang berpapasan dengan nya menyapa dengan ramah.


"TING!


Pintu lift terbuka lebar, kaki jenjang wanita itu berjalan kearah ruangan presdir.


"Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu? tanya sekertaris Alya di depan ruangan presdir.


"Ada Bapak Zevano, saya ingin bertemu."


"Sebentar ya Nona, Bapak Zevano sedang mengadakan pertemuan dengan Manager keuangan."


"Baik, saya tunggu disini." wanita itu duduk di sebuah sofa samping meja sekertaris.


"Plak!


Vano melempar lebaran kertas di atas meja "Periksa dulu sebelum anda laporkan ke saya! Pria tampan beraura dingin itu menatap tajam pada pria kurus di depannya. "Ap-apaan ini, kerja saja tidak becus, menaruh angka nominal salah, hilang nol saja sudah berbeda nominal pendapatan nya!"


"Maaf pak, akan saya coba perbaiki kembali!


"Bila sekali lagi kau salah memberikan laporan keuangan, Aku tidak akan memberimu toleransi kau harus undur diri dari perusahaan Mahesa Group! tekan Vano dengan wajah memerah menahan emosi.


"Dan bila kalian berdua terlibat dalam hilang nya dana yang tidak sesuai dengan budget perusahaan siap-siap posisi anda sebagai Manager dan wakil manager akan lengser dan berakhir di penjara!" tukas Vano penuh amarah yang meletup-letup.


Kedua pria yang berdiri di hadapan Vano saling bersitatap. terlihat wajahnya yang memucat seakan kehabisan darah.


"Sekarang pagi kalian dari hadapanku! bentak Vano dan langsung menghempaskan bokongnya di atas kursi Presdir.


"Ba-ik Pak, kami permisi dulu." mereka berdua membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan ruangan Presdir dengan langkah gontai.


"Ya Tuhan! Kenapa semuanya menjadi kacau semenjak Dave tidak ada disini! Vano menyugar rambutnya berkali-kali, remasan dia lakukan pada bagian belakang kepala. Berharap sensasi tarikan pada kulit kepala dapat meringankan pening yang ia rasakan.


Ceklek!


Suara heels terdengar nyaring di lantai keramik yang wanita itu pijak.


"Sayang...."


Suara itu sudah pasti Vano tahu siapa pemiliknya, ia memutar kursinya dengan malas. Sebab perasaannya saat ini dalam tidak baik-baik saja.


"Maaf aku tidak mengabari mu dulu untuk datang kesini, apa aku mengganggu?! tanya Bella dan berharap jawaban Vano tidak. Bella menatap dalam mata iris abu-abu itu dan dicarinya tatapan Cinta yang sering Vano tunjukkan.


"Bila aku mengganggumu, Baiklah aku akan pergi! Bella membetulkan tas di pundaknya dan saat akan melangkah pergi, Vano menahannya.


"Tunggu Bel! Vano menarik tangan Bella "Kita harus bicara, tapi tidak disini. kita makan siang di restoran yang biasa kita kunjungi."


Akhirnya Bella mengangguk sebagai respon.


"Aku ambil kunci mobil dulu!


"Pakai mobil ku saja! Bella mengangkat kunci mobilnya.


"Oke, ayo kita berangkat! Vano merangkul pinggang Bella dan berjalan meninggalkan ruangan kerjanya.


"Alya, bila ada tamu tolong cansel dulu, temuin aku besok pagi."


"Baik Pak!


***


Mobil sport merah meninggalkan halaman luas milik Mahesa Group dengan Vano yang mengendarai kemudinya. Tidak ada percakapan seperti biasanya yang sering mereka lakukan bila bertemu. Vano masih fokus dengan menyetirnya, sementara Bella beberapa kali menoleh ke arah Vano berharap ia bisa mengobrol.


"Van! akhirnya Bella membuka percakapan.


"Hmm..."


"Apa kau sedang ada masalah?! tanya Bella penuh hati-hati.


Yang di tanya malah membuang nafas kasar. "Seperti yang kau lihat dua orang Manager tadi, banyak nominal yang kurang dan tidak tercatat. Sementara budget terus berkurang. Antara pasukan dan pengeluaran tidak sesuai sama sekali, lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan."


"Apakah sudah kau teliti sebelumnya? mungkin saja ada nominal yang salah ketik atau kau melihat digit angka nya."


Vano geleng-geleng kepala "Bella.. Bella.. kau juga memiliki perusahaan, apa kau tidak pernah curiga bila manajemen di perusahaan mu ada kecurangan?!


"Aku selalu mengikuti cara kerja Ayahku. Jadi selama aku pegang perusahaan kelurga, tidak ada kendala apa-apa, karyawan ku semua sangat solid dan jujur."


"Apa kau yakin?! tanya vano tak percaya. Vano melirik Bella yang masih terpatut dalam keyakinan nya kalau seluruh karyawan nya orang-orang baik dan jujur. "Bell, masih banyak di dunia ini manusia serakah dan tidak pernah cukup dengan apa yang mereka miliki."


"Mungkin iya, ada segelintir orang yang jujur dan tak berani memakan uang perusahaan. namun tidak menutup kemungkinan orang yang kita anggap baik, bila dia kepepet pasti akan melakukan hal di luar batasannya, dengan cara menggelapkan uang perusahaan! ucap Vano mengingatkan.


Bella menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan "Baiklah Van!" ucapanmu akan aku ingat semoga perusahaanku tidak mengalami hal itu." ucap Bella yakin.


Dua puluh menit menempuh perjalanan, hingga mobil mereka masuk ke dalam restoran mewah yang ada di bilangan Jakarta pusat. Setelah mobil terparkir dengan sempurna Vano dan Bella masuk ke dalam restoran itu dan di sambut oleh para pelayan.


"Silakan Tuan, Nyonya! Wanita berpakaian hitam putih itu menunjuk sebuah ruangan rooms private yang biasa Vano dan Bella pesan. Sebenarnya Vano paling tidak suka keramaian dan di lihat banyak orang bila sedang makan bersama. Vano seorang pria tertutup dan dingin. Ia paling tidak suka menunjukkan identitas dirinya yang seorang CEO terbesar di Asia.


Wanita pelayan itu menggeser sebuah pintu yang terbuat dari kaca, yang tidak tembus pandang. ruangan private yang nyaman yang terdiri dari Sofa dan karoke. Ada meja makan lesehan yang terbuat dari bambu negeri tirai.


Ruangan Ac yang sejak dan aroma bunga-bunga menguar didalam ruangan. Bella dan Vano duduk saling berhadapan yang terhalang oleh meja.


"Silakan Tuan, Nyonya." wanita pelayan itu menyerahkan katalog berisi aneka makanan kepada Vano dan juga Bella. setelah membulak-balikan katalog, mereka memesan makanan yang sama. Yaitu kerang saus tiram, bawal bakar, capcay kuah dan ayam mentega.


"Baiklah Nona akan saya buatkan, tunggu sepuluh menit hidangan akan kami sajikan."


Bella mengangguk sebagai respon. Seorang pelayan lainnya datang dengan membawa juice jeruk dan juice mangga serta dua buah air putih hangat. Bella menggeser gelas juice jeruk untuk Vano "Minumlah Van, kenapa kau tampak gelisah. Bila ada masalah di kantor, baiknya kau rileks dulu dengan menikmati hidangan disini.


Vano menarik sedotan dan menyedot juice jeruk hingga setengah gelas.


"Bell, Sebenarnya aku mengajakmu ke sini ada hal yang harus aku bicarakan."


Bella yang sedang mengaduk just mangga, mengangkat wajahnya dan menatap pria yang telah mencuri hatinya. "Bicaralah, aku akan mendengarkannya kan Van! ucap Bella terbata, seakan ada sesuatu yang akan terjadi dengan hubungan nya.


Vano menghirup udara sebanyak mungkin dengan mata terpejam, lalu membuka matanya kembali dan menatap Bella penuh kesedihan.


Di raihnya tangan Bella, lalu digenggamnya erat "Ma'afkan aku Bella, Bila aku harus mengatakan kejujuran nya padamu."


"DEG!


Hati Bella mulai tak tenang, seketika darahnya berdesir dari atas sampai bawah.


(Tolong jangan di skip ya, walaupun peran nya kalian sukai atau tidak, biar tidak ketinggalan kisah TWINS ini)


💜💜💜💜


BERSAMBUNG