Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Kemenangan


"VANA!!!!


"Sayang ada apa?! Reno terbangun kalah mendengar teriakan istrinya lalu ia menyalahkan lampu pojok yang berada di atas nakas. Seketika kamar menjadi terang benderang. Reno melihat sang istri masih berbaring dengan mata terpejam. Telapak tangannya mengusap kening Delena yang sudah dipenuhi keringat dingin.


"Sayang, bangun! Reno menepuk-nepuk pipi Delena pelan, hingga wanita itu terbelalak. "Vana! pekik Delena dan langsung terduduk. Dengan sigap Reno mengambil gelas berisi air putih yang berada di atas nakas samping tempat tidur, lalu menyodorkannya pada Delena.


"Minumlah dulu biar kau tenang."


"Delena menerima gelas berisi air putih dari tangan suaminya lalu meneguknya hingga setengah


"Ada apa sayang? Kenapa kau berteriak? tanya Reno lembut.


Nafas Delena masih tersengal "Vana Mas! aku bermimpi Vana berteriak memanggil nama ku. Aku melihat dirinya berada di kursi roda dan di belakang nya ada dua orang wanita yang ingin mendorong anakku ke jurang." hiks.. hiks.. Delena menangis terisak.


"Sayang, itu kan hanya mimpi dan bunga tidur. tidak usah kau risau kan lagi. Mas yakin Zee dalam keadaan baik-baik saja." tutur Reno menenangkan sang istri, walau sejujurnya Ia juga khawatir dengan keadaan anaknya.


"Tetapi, Mimpi itu seperti nyata Mas! ucap Delena dengan bibir gemetar.


Reno memeluk tubuh istrinya "Ya sudah besok Mas akan mencari informasi lagi dari Steve, dia sudah membayar detektif untuk mencari keberadaan anak kita.


Delena mengangguk dan berbaring kembali, Reno mencium kening Delena dan memeluk pinggang sang istri erat. Reno memejamkan mata walau sebenarnya pikirannya sedang kalut memikirkan anak gadisnya.


"Zee, Daddy pasti akan menemukan mu, bersabar lah Nak. Tidak lama lagi kita akan berkumpul kembali." gumam Reno dalam hati.


***


Malam sudah semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari. Nathan yang masih menunggu di depan ruangan dokter Anak, terbangun dari lamunannya saat mengingat sang kekasih.


"Kenapa tiba-tiba perasaan ku tidak enak? Alea! panggil Nathan seraya merogoh ponsel dari saku celananya dan mencari kontak suster Lena. "Ahh sial! kenapa malah nggak aktif! aku harus menghubungi siapa?!


Nathan beranjak dari duduknya dan mundur-mandir di depan pintu Dokter anak. "Kenapa lama sekali Ayu Dewi di dalam, aku menunggu sudah hampir satu jam!


"Huft! Nathan membuang nafas kasar.


Tak lama pintu terbuka lebar, keluar Ayu Dewi sambil menggendong anaknya.


"Anak mu bagaimana? sudah selesai kan? tanya Nathan.


"Sudah, ia baru saja habis di observasi. Seharusnya di rawat, tapi aku menolaknya."


"Ya sudah ayo kita pulang, aku meninggalkan kekasih ku di villa!"


"Kekasih mu? di villa..? tanya Ayu Dewi dengan kening mengeryit.


"Kau tidak usah berpikir macam-macam, kami tidak pernah berbuat apapun!"


Nathan membukakan pintu mobil untuk Ayu Dewi, lalu ia masuk dan duduk di kursi kemudi. Mobil berjalan cepat menembus dinginnya malam yang sepi, keinginan Nathan harus segera pulang dan sampai villa.


Lima belas menit kemudian mobil sudah sampai di depan halaman rumah Ayu Dewi. "Maaf, aku tidak bisa mengantarnya sampai dalam. Jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa." Nathan melajukan mobilnya kembali dan meninggalkan rumah teman lama nya.


***


Vana dan suster Lena masih terus berebut pisau itu, Tubuh besar suster Lena menendang tubuh Vana dari samping dan berhasil merebut pisau itu.


"Kau pikir bisa menang dariku! wanita itu terus mengacungkan pisau tajam itu kearah Vana dengan mata melotot, wajahnya sudah di penuhi luka akibat lukisan tangan maha karya Vana.


Vana tergelak "Sungguh menjijikkan, wajahmu saja sudah rusak!" ledeknya


"Bangs*t! Kau telah merusak wajah ku, aku akan merusak juga wajah mu! wanita itu semakin kalap dan mengarahkan pisau ke arah Vana, dengan sigap Vana menendang nya hingga tubuhnya tersungkur ke belakang. Lalu Vana berdiri secara perlahan, walau sebenarnya otot-ototnya masih kaku.


"Ayo lawan aku! jangan jadi wanita pengecut yang beraninya sama wanita lumpuh!


Suster Lena bangkit dari lantai sambil memegang pisau di tangannya. Dia terlihat sudah ketakutan melihat Vana berdiri gagah dengan kedua kakinya. Suster Lena melemparkan pisau kearah Vana, lalu ia berlari, secepat kilat Vana berhasil menjambak rambut pirangnya dan tanpa ampun ia hantam kan kembali wajahnya ke dinding.


"DUGH


"DUGH!


"Dasar JAL*NG! terima hukuman dariku!" teriak Vana penuh emosi.


"Aaakkhhh!


Seketika suster Lena sudah tak bisa berontak lagi, Vana melepas jambakkan di rambut pirangnya bersamaan tubuh wanita itu jatuh ke lantai.


Wanita cantik bertubuh sintal itu membuang nafas kasar dan menatap kearah dua wanita yang sudah tak berdaya. "Kalian sendri yang meminta ini semua! tukasnya dengan nafas yang masih tersengal.


"Aku ingin melihat reaksi Nathan, bagaimana sikapnya bila melihat teman satu ranjang nya terkapar tak berdaya. Aku akan mainkan sandiwara dan terus menjadi wanita lumpuh di depan mata Nathan!


Vana mendongakkan kepalanya keatas "Cctv, aku harus menghapus jejak ini agar Nathan tidak curiga!"


Nathan yang sejak tadi tidak tenang, akhirnya sampai di villa. Setelah mobil terparkir sempurna, ia berlari kearah pintu lalu menekan tombol.


"TING-TONG!


"TING-TONG!


Tidak ada yang membukakan pintu, tangan nya mencoba memutar knop pintu dan terbuka "Ternyata tidak di kunci?" Nathan berjalan masuk kedalam ruangan dan mencari suster Lena.


"Suster Lena, kau dimana?!


"Lena!!!


Teriak Nathan yang terus memanggil namanya, tetapi batang hidungnya tidak muncul juga. Nathan mencari keberadaan suster Lena, hingga ia di kejutkan oleh tubuh seorang wanita di depan pintu yang menghubungkan kearah ruangan makan dan membalikkan tubuhnya yang tengkurep. Mata Nathan melotot saat melihat Suster Lena tergeletak dan wajahnya di penuhi luka.


"Masih hidup! gumam Nathan saat melihat urat nadinya.


"Perbuatan Siapa ini?! Nathan mengedarkan pandangannya kearah meja makan dan melihat wanita juga yang sudah terkapar. Nathan berdiri dan berjalan kearah meja, ia membentang kan tubuh wanita yang sedang miring, Nathan masih dibuat terkejut melihat wajah wanita yang ia kenal.


"Suster Anna? kenapa ia masih berada disini? bukankah dia sudah ikut suaminya?!


Melihat kejadian yang di luar dugaannya. Nathan teringat akan kekasihnya Vana.


"Alea!


Nathan berdiri dan berjalan kearah kamar Vana. "Alea! Nathan memutar knop pintu, namun terkunci dari dalam.


"Alea!!


TOK! TOK! TOK!


"Buka pintunya, apa kau baik-baik saja?! seru Nathan mulai khawatir, apalagi melihat kekacauan di dalam Villa nya, sungguh yang Nathan takutkan Vana dalam bahaya dengan kondisi kaki lumpuh.


"ALEA! BUKA PINTUNYA!!! teriakan Nathan semakin terdengar keras.


(Malam masih update ya All, terus ikuti kisah Nathan dan Vana. Mana dukungan kalian? BUNDA sudah Up setiap hari, bahkan hari ini tiga bab berturut-turut.)


💜💜💜💜