Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Perdebatan ibu dan anak


"Kenapa kau bawa anak gadis pembunuh itu, Nathan!" bentak seorang wanita yang sudah berdiri didepannya dengan tiba-tiba sambil melipat tangannya di dada.


"Mama!!!


"kenapa? Kau ingin membela anak wanita pembunuh ini! tunjuk Diana di depan wajah Vana penuh amarah.


"Mah, please... jangan pernah menyalahkan Vana, ia tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kedua orang tuanya."


"Kau jangan membela wanita ini Nathan!" bentak Diana masih belum terima anaknya membela Vana.


"Bukannya Nathan membela Vana, tetapi masalah Papa dan keluarga Ayahnya Vana terjadi saat kami masih kecil dan tidak tahu apa-apa mah!"


"Kau memang anak mama yang bodoh, percuma Mama membesarkan mu, ternyata otak mu sudah di racuni oleh wanita ular ini!" tunjuk Diana sambil mendorong tubuh Vana sekuat tenaga, reflek Vana kaget dan terdorong kebelakang.


"Mama cukup! seru Nathan, seraya menangkap tubuh Vana kedalam pelukannya saat hampir terjatuh.


"Apa-apaan Mama ini, jangan pernah menyakiti Vana mah! bentak Nathan tak terima.


"Ohh jadi kamu berani bentak-bentak Mama demi anak pembunuh ini!"


"Sudahlah Mah! jangan pernah katakan Vana anak pembunuh! bila mau marah, marah saja pada Nathan!"


"KAU!!! Diana menunjuk wajah Nathan dengan tatapan menghunus, bola matanya memerah menahan emosi dengan nafas tersengal. "Inikah balasan mu, Hah?! anak tak tahu diri, bukan nya membela Ayahmu yang sudah di tembak mati oleh Ibu dari wanita ular ini, tapi justru kau malah membelanya dan melawan ibu kandung mu sendiri!' teriak Diana.


"Apa istimewanya wanita ini, sampai-sampai kau melindungi anak dari musuh Ayahmu sendiri!" cerocos Diana yang belum puas juga memaki dan menyalahkan Vana.


"Karena Aku mencintai Alea, Mah!


"CIIH!!! Diana membuang ludah


"Tolong mah, hargai perasaan Alea, dan restui hubungan kami. Lepaskan semua dendam pada keluarga Reno Mahesa."


"Anak kurang ajar! beraninya kau minta restu pada Mama demi anak pembunuh ini! kau itu sudah dibutakan oleh cinta wanita ini, apa sih yang dia cari dari kamu kalau bukan untuk penjebak mu Nathan, dan suatu saat kaupun akan bernasib sama seperti Papa mu!"


Tentu saja Vana terkejut oleh tuduhan Diana, ia menahan sesak di dadanya yang sejak tadi terus dicaci-maki.


"Mah!!!"


"Sudah kak! potong Vana seraya melepas rangkulan Nathan "Jangan pernah lagi berdebat dengan mama mu, masalah ini ada hubungannya dengan Mommy dan Daddy ku di masa lalu, hingga Tante Diana masih ada perasaan sakit hati." Vana menoleh pada Diana dan menatap wajah nya "Tante, ma'afkan Mommy dan Daddy ku bila ada salah."


"Apa kau bilang? memaafkan mommy dan Daddy mu? CIHH!!! nggak sudi saya memaafkan manusia-manusia pembunuh, gara-gara ulah ibumu aku Kehilangan suami dan Nathan menjadi yatim!" teriak Diana kembali dan semakin kalap.


Wajah Vana tertunduk sedih, airmata mulai berjatuhan di pipinya, perasaannya sedang campur aduk, Iapun sadar tidak mudah mendapatkan restu dari Diana, Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan Nathan. Apalagi perang dingin dua kelurga tidak pernah usai. keadaan semakin pelik, Vana tidak ingin Nathan semakin terpojok dan membantah ibu kandung nya demi membela dirinya.


"Sayang, ma'afkan Mama ya." Nathan mengusap lembut airmata Vana.


"Jangan cari muka didepan anak saya! merasa paling tersakiti, akulah yang terluka dan sakit hati oleh kekejaman ke-dua orangtua kamu! Dasar anak pembunuh!!!"


"Sekarang mau kamu apa, Hah?! baiklah kalau begitu Mama harus buat keputusan! Diana menatap wajah keduanya bergantian "Sekarang putuskan, pilih Mama atau anak dari wanita pembunuh itu!!!


Vana mengangkat wajahnya dan menatap Nathan penuh haru, ia menggeleng lemah, tetesan airmatanya semakin berjatuhan. "Kita sudahi semua ini kak." ucapnya dengan bibir bergetar.


"Tidak Lea, aku tidak ingin berpisah dari mu." Nathan menggeleng sambil menggenggam erat tangan Vana.


"Jangan pernah durhaka pada ibu yang sudah berjuang dan melahirkan kakak. Turuti kemauan nya." Vana melepas genggaman tangan Nathan.


"Nggak usah cari perhatian segala!" cetus Diana sambil melipat kedua tangannya.


"Aku tidak ingin berpisah darimu Lea, Aku akan memilih__"


"Sudah cukup!!! seru Vana seraya mundur kebelakang, lalu berlari pergi meninggalkan tempat itu.


"Alea, tunggu!!!! Nathan berusaha mengejar walau tubuhnya masih lemah dengan tertatih ia berjalan.


"David!


David yang berdiri sejak tadi didepan mobil, dari kejauhan ia memperhatikan perdebatan antara ibu dan anak itu, Namun ia tak berhak ikut campur karena bukan wewenang nya. David berjalan mendekat saat Nathan memanggilnya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Cepat kau kejar Alea, aku tidak ingin Lea kenapa-napa."


"Oke, serahkan sepenuhnya pada ku. kau jangan banyak bergerak, tubuh mu masih lemah." Nathan mengagguk, David setengah berlari mengejar Vana yang sudah keluar pagar, Nathan berusaha berjalan mengikuti langkah David di belakang nya.


"Untuk apa kau kejar wanita itu! seru Diana lagi.


Tiba-tiba Nathan menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya di depan Diana "Ma'afkan Nathan mah, aku memilih Zevana Alea Mahesa." tukas Nathan tegas.


"Ap-apa..????


DUARRRR!!


Bagai disambar petir, Diana membulatkan matanya dengan sempurna, dadanya bergemuruh dan nafasnya tersengal, tiba-tiba.


"BRUKK!


"Mama...!!!


🥰🥰🥰


@Bersambung