
"Berarti kau sadar dan sudah tahu kalau istrimu seorang jal*ng dan pel*cur murahan!"
"PLAKK!!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Diana, ia mengusap pipinya yang mulai terasa panas. Lima jari bergambar warna merah tercetak jelas di wajah Diana yang putih glowing.
"Kau yang meminta ini, padahal aku sudah menahan nya sejak tadi! Robert menurunkan tangannya dengan tangan mengepal kuat.
Kaca-kaca sudah terlihat jelas di bola mata Diana. Melihat ibu kandungnya terdiam dan menahan perih di pipinya membuat Nathan iba. Lalu ia berusaha turun dari ranjang di bantu David yang sejak tadi hanya melihat keseruan drama di depannya.
"Mah! Nathan berjalan tertatih, Vana ingin ikut membantu Nathan berjalan, Namun ia menggeleng pelan. Vana pun tahu arti gelengan itu untuk tidak mendekati wanita yang sangat membenci dirinya.
"Mah! ma'afkan Nathan." Nathan meraih lengan sang ibu untuk menciumnya, Namun dengan kasar Diana menepisnya "jangan kau sentuh Mama mu sebelum kau tinggalkan wanita dari anak pembunuh itu!
Nathan menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan, ada sesak di dadanya yang menghimpit. Sungguh ia hanya ingin keluarga nya berdamai dengan kelurga kekasihnya Reno Mahesa dan menyudahi perseteruan yang tidak ada ujungnya.
"Sudahi semua ini Mah! kita berdamai dengan keluarga Reno Mahesa. Hilangkan dendam dan ego Mama!
Diana menoleh dan melototi anak kandungnya dengan perasaan kecewa. "Berani kau perintahkan Mama mu untuk menghilangkan dendam yang sudah berkobar sejak ayahmu meregang nyawa! Mama tidak akan sudi berdamai dengan kelurga Reno sebelum ibu wanita itu masuk kedalam penjara!!
"Percuma kau meminta dan memohon kepada mama mu untuk berdamai dengan keluarga Reno, itu tidak akan pernah terjadi! karena hatinya terbuat dari batu!
"Diam! tutup mulutmu! sentak Diana "kau telah berani menampar ku, aku pastikan akan membalasnya! Diana tersenyum sinis "kita lihat saja apa yang akan terjadi kedepannya karena kau telah lancang menampar ku! ancam Diana berapi-api pada Robert yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Kau pantas mendapatkannya, karena kau telah menghina istriku! menghina wanita ku sama saja menghina diriku!
"Papi! Vana berjalan mendekat dan merangkul tangan Robert "Sudah pih jangan terbawa emosi." Vana berusaha menenangkan Robert yang masih tersulut emosi.
Diana menatap sinis penuh kebencian terhadap Robert dan Vana, lalu beralih pada Nathan "Kau pikirkan kata-kata Mama, bila tidak ingin kehilangan Mama dan adikmu Shella! setelah berbicara pada Nathan, Diana melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut melewati Robert dan Vana tanpa menoleh kebelakang.
Robert menghempaskan nafas panjang "Papi baik-baik saja?!
"Iya, papi tidak apa-apa."
"Om, ma'afkan perlakuan Mama ku tadi, sungguh aku sangat malu dengan perbuatan Mama yang di luar kendali, bahkan aku tidak pernah tahu masa lalu kedua orang tua ku dan melibatkan ibu Alea juga istri Om."
"Sudah jangan di bahas lagi, Om tidak ingin menoleh lagi kebelakang dan akan membuat sakit hati."
"Zee, papi mau ke ruangan kerja dulu. kembalilah ke kamar mu dan beristirahat."
"Pih! biarkan Zee disini dulu menemani Kak Nathan."
"Iya pih!
Robert melangkah meninggalkan ruangan rawat inap Nathan dan kembali keruangannya. Ia hempaskan bokongnya keatas kursi kerja, lalu menyadarkan punggungnya ke belakang. Perasaannya dengan kacau dan sedang tidak baik-baik saja saat ini, masa lalu sang istri harus teringat kembali. Ya, 20 tahun sudah berlalu dan melupakan sosok Davina yang liar. Setelah bertekad menikahi Davina yang hampir merusak kehidupan adik kembarnya bersama Reno sahabatnya, Robert telah berjanji akan merubah sikap buruk Davina. Pada akhirnya ia berhasil merubah sifat Arogan dan bar-bar Davina, dan melahirkan buah cinta mereka yang di beri nama Chika Adelia.
Saat masih melamun dan mengingat masa silam, tiba-tiba netranya beralih pada benda pipih di atas meja. Robert di kejutkan oleh pesan masuk yang berturut-turut. Rasa penasaran membuat ia cepat mengambil ponselnya, lalu membuka pesan masuk di aplikasi hijau.
Robert di kejutkan oleh sebuah foto bayi mungil yang sedang Davina gendong. Iya terus mengamati foto tersebut yang berada di rumah sakit. Foto selanjutnya ia melihat seorang Pria tampan berwajah bule bermata biru sedang memeluk Davina dan anak dalam gendongannya. Seketika nafas Robert memburu, dadanya berdenyut nyeri melihat foto mesra itu.
"Anak siapa kah yang Davin gendong? lalu siapa pria itu? wajah itu seperti familiar, dan aku pernah melihatnya. Tapi dimana? otak Robert terus bekerja dan memutar ke belakang, beberapa tahun silam. "Ahh sial! aku tidak bisa mengingat pria itu! decak nya frustasi.
Masuk lagi pesan masuk yang lebih mencengangkan.
["Laki-laki yang bersama isteri mu adalah selingkuhan nya, dan anak itu hasil hubungan haram mereka berdua]
DEG! Nyawa Robert hampir ditarik paksa. seketika jantungnya berdegup kencang, aliran darahnya hampir berhenti. Robert meremas kuat ponsel di genggaman nya. Belum selesai ia tenang karena perbuatan Diana tadi, kini ia harus di hadapkan kenyataan pahit tentang masa lalu isterinya.
"Kenapa kau menyimpan rahasia yang begitu besar Davin! serunya dengan nafas tersengal "Ternyata kau telah memiki anak haram dari pria lain!
PRANKK!!!!
PRANKK!!!
Robert menghempaskan semua benda yang berada di atas meja hingga hancur berantakan ke lantai. semua berkas-berkas berterbangan memenuhi ruangan kerjanya. Dengan perasaan sakit dan amarah yang kian memuncak. Robert beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan kerjanya yang sudah berantakan seperti kapal pecah.
Sementara di depan ruangan kerja Robert, beberapa suster dan petugas medis yang melewati ruangan kerja pemilik rumah sakit tersebut, di kejutkan oleh suara benda berjatuhan. Mereka saling berbisik dan bertanya-tanya, sebab belum pernah mereka melihat atau mendengar amarah sang CEO yang begitu dahsyat selama bekerja disana bertahun-tahun. Suara pintu dibuka kasar, keluar sang CEO dengan wajah memerah menahan amarah. Melihat pemilik rumah sakit dengan wajah tegang dan menatap mereka dengan tatapan tidak suka, membuat mereka ketakutan dan menunduk.
"Mau apa kalian disini!
"Sa-ya mau mengantarkan berkas ini Dok! ucap seorang suster takut-takut, sambil menyerahkan berkas itu dengan wajah tertunduk.
"Besok saja kau serahkan, saya mau pulang! Robert berjalan melewati beberapa suster yang masih berdiri terpaku, baru beberapa langkah berjalan, ia berhenti dan memutar tubuhnya "Panggilkan OB dan bereskan kekacauan di ruangan kerja saya!" tukas Robert dingin lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari para suster.
💜💜💜
@Beberapa readers meminta kisah kisah Vano dan Savira. Tunggu ya All, bunda selesaikan satu-persatu dulu kisah masa lalu Davina dan akan segera di tuntaskan, biar kisahnya gak gantung.
@Selamat hari weekend...🥰🥰