
Daddy....!!! teriak Vana.
Reno yang masih menelpon dan bersandar pada badan mobil menoleh, ia terkejut melihat anak gadisnya berdiri dengan kedua kakinya. "Zee...! seru Reno, seraya mematikan ponselnya dan berlari kearah sang anak gadisnya. Rasa rindu yang membuncah sudah tak tertahankan lagi, Reno menarik Vana kedalam pelukannya, mereka saling melepas rindu, suara isakan Vana terdengar lirih, Reno terus menciumi wajah anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.
Sementara Nathan masih berdiri tak jauh dari Vana dan Reno melepas rindu. Pesawat yang mereka tumpangi sudah take-off kembali dan meninggalkan kota Jakarta.
Reno mengurai pelukannya dan mengusap lembut airmata Vana yang terus berjatuhan. "Ma'afkan Daddy yang terlambat menemukan mu. Daddy tidak becus menjadi seorang ayah yang tidak bisa menjaga anak gadisnya."
Vana gelengkan kepala "Tidak Dad, Daddy tidak bersalah, sekarang Daddy lihat sendiri bukan? Zee dalam keadaan baik-baik saja." Vana tersenyum dan kembali memeluk sang Daddy, dengan penuh kasih sayang Reno mengusap pucuk rambut sang anak sambil mencium kening nya.
Reno menarik nafas dalam-dalam dan membuang nafas panjang, sehingga netra nya bersitatap dengan mata biru Nathan. Mendapat tatapan tajam dari Ayah Vana, Nathan memberanikan diri melangkah mendekat.
"Maaf Om, saya akan jelaskan semuanya kenapa membawa pergi Alea, saya tidak ingin ada kesalahpahaman." ucap Nathan yakin dan terlihat percaya diri.
Vana menoleh kearah Nathan dan berkata "Daddy, Kak Nathan tidak bersalah, Justru dia yang telah pulihkan kaki Vana sampai sembuh." ujar Vana membela pria yang berdiri di sampingnya.
Reno hanya mengangguk dengan ekspresi yang entahlah. Nathan sedikit bernafas lega, paling tidak apa yang sudah ia takutkan tidak akan terjadi, Namun ia memiliki insting yang kuat dan berharap Reno tidak akan menyakiti dirinya.
"Ayo kita pulang Nak, mommy, Vano dan Zidan sangat merindukan dirimu."
"Zidane?! mata Vana berbinar cerah "Apa adikku sudah pulang kerumah?!
Reno mengangguk. "Sudah sayang."
"Apa? jadi Zidane sudah selamat dari ancaman Genk kalajengking?"
Reno mengangguk lagi.
"Zidane..." hiks.. hiks.. kakak sangat rindu sama Zidane Dad, Zee merasa bersalah dan takut kehilangan Zidan."
"Semuanya sudah berakhir, sekarang ayo kita pulang." Reno merangkul pundak anak gadisnya.
"Tunggu Dad, bagaimana dengan Kak Nathan? tolong jangan sakiti kak Nathan." pinta Vana dengan tatapan memohon.
Reno menoleh kearah Nathan, lalu beralih kearah anak gadisnya. Senyuman manis tersungging di bibir Reno "Tentu saja, Daddy akan memberikan penghargaan untuk Nathan dan tidak akan pernah ia lupakan." ucap Reno yang membuat Vana tersenyum lebar.
"Terimakasih Dad, Daddy memang Ayah yang terbaik."
"Daddy sudah menyiapkan hotel untuk Nathan tinggal, lebih baik Daddy antarkan Zee pulang dulu, Nathan biar bersama anak buah Daddy ke hotel, nanti malam kita undang dia ke mansion." tukas Reno menatap Nathan penuh arti.
Vana terdiam lalu menoleh ke arah Nathan dan di anggukan oleh Pria tampan bertubuh atletis itu. "Pulang lah dulu bersama Daddy, nanti malam aku akan menjumpai mu. Seperti janji Daddy yang mengizinkan aku datang ke mansion." Nathan berbicara meyakinkan Vana agar ia tidak perlu khawatir pada dirinya.
"Kak Nathan tidak akan di apa-apaan kan Dad? tanya Vana lagi yang masih terlihat ragu.
"Tentu saja tidak! Reno mendekati Nathan dan merangkulnya. "Daddy akan menjaga Nathan dengan baik." kata Reno tersenyum misterius. Walau bagi Nathan ucapan Reno hanyalah sebuah kebohongan
"Baiklah kak, aku pulang duluan. Nanti temui aku di mansion." Vana berjalan mendekat dan berjabat tangan dengan Pria bermata biru itu "Terima kasih banyak kak, sudah memberi warna di kehidupan ku." ucap Vana setelah Reno melepas rangkulannya.
"Jaga dirimu baik-baik, Alea." ada binar kesedihan di wajah Nathan, tetapi Vana tidak dapat menangkap kesedihan dan kegelisahan yang Nathan rasakan. Pria pemberani itu mengusap kepala Vana penuh kasih sayang dan berkata "Pulanglah, aku akan baik-baik saja disini."
Vana mengangguk lalu melangkah pergi bersama sang Daddy dimana mobil sedan hitam terparkir. Reno membukakan pintu penumpang untuk Vana duduk "Sayang, kau pulang duluan bersama dua orang bodyguard, Daddy ingin berterima kasih pada Nathan."
Vana mengeryitkan keningnya dan menatap sang Daddy "Tapi, bukankah Daddy sudah tidak marah dengan kak Nathan? lalu kenapa tidak sekalian ajak kak Nathan ke mansion."
"Zee, kau tidak usah khawatir, Daddy tidak akan menyakiti Nathan, ada satu hal yang harus Daddy bicarakan dengannya dan ingin melupakan kejadian masa lalu."
"Benar kah Dad?! tanya Vana tak menyangka, ada binar bahagia di wajah cantiknya.
"Iya sayang, bagi Daddy kebahagiaan mu lebih dari segalanya."
Reno mengangguk "Tentu saja, Nak!
"Baiklah, Zee akan pulang lebih dulu." Vana masuk kedalam mobil, dua orang bodyguard orang kepercayaan Reno sudah berada di dalam mobil dan duduk di depan kemudi dan satunya di sampingnya.
"ingat, kalian jaga anakku sampai selamat di mansion!" perintah Reno
"Baik Bos!
Mobil melaju meninggalkan Lapangan terbang milik keluarga Mahesa. Vana duduk di belakang dengan perasaan was-was, walau ada jaminan dari sang Ayah kalau Nathan tidak akan apa-apa.
Setelah mobil Vana menjauh, Reno berjalan mendekat kearah Nathan dan...
"PLAKK!
"PLAKK!
"BRENGSEK KAU! BERANINYA BAWA KABUR ANAKKU!"
"BAGH!
"BUGH!
Pukulan bertubi-tubi Reno layangkan ke wajah Nathan, darah segar keluar dari hidung dan sudut bibir Nathan. Namun Nathan tidak melawan sedikit pun.
"BUGH!!
Sebuah tendangan bebas Reno layang kan perut Nathan, hingga tersungkur ke belakang. Reno mendekat dan berjongkok. Diraihnya wajah Nathan yang sudah babak belur "Berani sekali kau tampakkan wajah mu kehadapan ku, kau pikir aku akan menuruti perintah anakku untuk membebaskan mu! Reno tergelak "Bersiaplah untuk menyusul Ayahmu ke neraka, Nathan! kesalahan mu sudah sangat banyak, dan kini saatnya kau mati di hadapan ku, mungkin saat itu kau masih bisa selamat, tapi tidak hari ini!"
"CEPAT EKSEKUSI SEKARANG JUGA!!!
Reno berteriak didepan Nathan, dua orang algojo menarik kasar tubuh Nathan untuk berdiri dan mengikat kedua tangannya ke belakang.
"UCAPKAN KATA-KATA TERAKHIR MU!!
Nathan menatap wajah tegas Reno dan tersenyum "Saya tidak pernah menyesali menjadi anak dari Thomas Anderson! ucap Nathan lantang "Saya juga tidak pernah menyesal bertemu dengan anak mu Tuan Reno, karena takdir lah yang telah mempertemukan kami! saya tidak pernah menyesal mencintai Zevana Alea Mahesa, walaupun nyawa adalah taruhannya! teriak Nathan lantang dan tidak ada rasa takut sedikitpun, walau ia sudah tahu kalau Reno sedang bersandiwara di depan anaknya.
"BILA KEMATIAN KU MEMBUAT ANDA PUAS, MAKA LAKUKAN LAH! SATU PERMINTAAN KU, JAGA ALEA.. CINTA PERTAMA DAN TERAKHIR KU!
Nathan berbicara dengan tegas dan tenang, tidak ada airmata yang keluar dari sudut matanya, ia sudah pasrah dan ikhlas menerima takdirnya. Bila Tuhan menghendaki ia mati hari ini, lalu ia bisa apa?
Reno menatap lekat wajah Nathan, sungguh sebenarnya hati nurani Reno ikut merasakan sedih melihat pengorbanan Nathan untuk anak gadisnya. Namun ego telah merubah pendiriannya dan mengalahkan kebaikan. Tekad nya untuk menghukum Nathan yang telah membawa lari anak gadisnya, walau sebenarnya Vana terlihat baik-baik saja, tetapi ia harus bersikap tegas dan tidak ingin di bantah apa yang sudah menjadi ketentuan dan prinsip hidupnya.
"TERIMA KASIH TELAH MENOLONG ANAKKU ZEVANA, TETAPI KAU TIDAK BISA MENGINJAK HARGA DIRI KU SEBAGAI SEORANG AYAH!!!"
"ROCKY LAKUKAN SEKARANG!!!!
Salah satu pria itu menutup kepala Nathan dengan kain hitam dan menjatuhkan tubuh Nathan untuk berlutut ke aspal.
Nathan menutup matanya walau ia sudah merasa kan gelap di dalam kurungan kain hitam. segelintir cairan bening menetes dari sudut matanya.
"Mama.. jaga dirimu baik-baik, Terima kasih sudah menghadirkan diriku ke dunia ini. Aku akan menyusul Papa disana." batin Nathan berkata lirih, ia menarik nafas dalam-dalam walau pasukan udara sangat sedikit. "Selamat tinggal Alea, aku mencintaimu sampai akhir hayat ku." bibir Nathan terangkat menjadi sebuah senyuman.
💜💜💜💜
@Masih ada satu episode lagi ya All 🥰