Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Perdebatan dua sahabat


Detak jam dinding terdengar nyaring di dalam ruangan kamar berukuran 4x5, sebab malam itu suasana sangatlah hening, suara jangkrik dan kodok yang bisanya saling bersahutan kita tidak terdengar ditelinga Vana. Ia terbangun karena rasa haus yang begitu mendera, mata Vana menatap malas jam dinding yang menggantung di depannya.


"Sudah jam dua lewat 15 menit? ucapnya pelan "Berarti aku tidak sudah lewat dari lima jam." Vana menarik selimutnya dan turun dari ranjang, lalu berjalan ke pintu.


"Ceklek!


Pintu terbuka, dengan perlahan Vana berjalan kearah dapur, saat melewati ruangan tamu ia melihat pintu utama terbuka sedikit. Vana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang lampunya sudah di terganti remang-remang. Ya, sebelum penghuni rumah itu kembali kedalam kamar, sudah pasti semua lampu di ganti dengan yang lebih redup dan kecil watch nya.


"Apa kak Nathan lupa mengunci pintu ya? rasa penasaran membuat Vana melangkah kearah ruangan tamu dan benar saja, sayup-sayup ia mendengar suara orang sedang ngobrol di depan teras.


"Siapa yang masih mengobrol malam-malam di jam segini? Vana terus melangkah mendekat penuh hati-hati agar gerakan langkahnya tidak di curigai. ia sudah berdiri di samping pintu dan bisa mendengar jelas suara obrolan diluar teras.


"Jadi kau tetap ingin ikut mengantar wanita itu pulang?"


"Tentu saja, aku bertanggung jawab pada keselamatan Alea dan memastikan dengan mata kepalaku sendiri kalau Alea pulang dengan selamat."


"Apa kau tidak takut pada Ayah nya? bagaimana dia membencimu dan selalu ingin kau mati seperti Ayahmu Thomas di tembak mati ibu dari Alea."


"DEG!!


Apa maksud dari perkataan pria itu? Siapa dia?" Vana mengintip dari balik gorden dan terlihat dua orang pria sedang berbicara saling duduk berdampingan bersama dua cangkir kopi di atas meja "Siapa pria yang duduk di samping Kak Nathan? gumam Vana pelan. "Aku baru melihatnya, lalu kenapa ia menyatakan kalau ibuku adalah pembunuh ayahnya kak Nathan?


"Ya Tuhan! ada apakah dengan masa lalu keluarga ku dan ayahnya kak Nathan? Sampai sekarang Daddy dan Mommy tidak pernah menceritakan semuanya hingga kedatangan kak Nathan malam itu yang ingin balas dendam dan mau bunuh ke-dua orang tua ku." Vana teringat kembali kejadian malam dimana usianya baru saja menginjak 17 tahun dan melepaskan cinta nya pada Nathan, cinta pertamanya yang telah membuat nya jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Tunggu! aku menemukan foto mommy dan Ayahnya Nathan di dalam perpustakaan waktu itu. Tetapi kenapa kak Nathan juga terkejut melihat foto mesra mommy ku dan Ayahnya, sepertinya ia juga tidak tahu hubungan kedua orang tua kami sama dengan diriku." Vana mendesah panjang "Ya Tuhan, aku harus tahu semua rahasia tentang kelurga ku dan kak Nathan, aku harus mencari benang merahnya, hingga Daddy dan Mommy tidak seterusnya membenci kak Nathan. Bagaimana pun juga aku tidak tega melihat kak Nathan terus terancam nyawanya oleh orang-orang Daddy, meskipun aku percaya kak Nathan bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


"Kau harus pikirkan kembali sebelum menyesal nantinya. yang kau hadapi bukanlah manusia biasa, tetapi Tuan Reno adalah ketua geng cobra hitam yang sangat di takuti dan di segani di dunia hitam dan juga dunia pembisnis." pria itu mengambil kopi diatas meja dan menyeruput hingga sisa sedikit. "Kau masih ingat bukan? pria berwajah manis itu meneruskan ucapannya "Saat orang-orang tuan Reno membenamkan tubuhmu di dalam tanah hidup-hidup, kalau saja waktu itu aku terlambat datang dan tidak mengeluarkan mu dari dalam tanah, mungkin sampai saat ini kau sudah mati terkubur disana!


DEG!


"Dan betapa kau masih saja melindungi dan menjaga wanita mu, meskipun Tuan Reno mati-matian berusaha menghilangkan nyawa mu! kesal David yang melihat sahabatnya begitu mencintai Vana.


"Sudah cukup! kau tidak perlu lagi mengingat kan aku tentang itu semua Vid! seru Nathan yang tidak terima di ungkit lagi kejadian itu, seharusnya Nathan bersyukur hidupnya masih bisa selamat karena pengorbanan David padanya, namun cintanya yang begitu besar pada Vana, sanggup melupakan semua kejadian itu.


"KAU PRIA BODOH yang pernah aku kenal selama ini! gertak David emosi "Apa susahnya kau tinggalkan wanita itu! Apa kau tidak sayang dengan nyawa mu sendiri, hah! bahkan dengan mudahnya kau mendonorkan darahmu untuk menolong Alea, padahal kau sendiri juga terluka setelah membantu kedua kakak beradik itu dalam pertempuran dengan genk kalajengking!


"Ap-apa?! ja-di.. selama ini yang menolong aku dan kak Vano melawan Genk kalajengking kak Nat-han.." Vana tidak dapat meneruskan ucapannya sendiri, Ia membekap mulutnya bersamaan suara isak tangisannya yang tertahan. "Kak Nathan juga yang telah mendonorkan darahnya untuk ku." hiks...


"Sudah cukup David! Nathan berdiri dan menarik kerah baju sahabatnya "Apa hak mu menyuruh aku meninggalkan Alea!" teriak Nathan di depan wajah David. Dan mereka saling bersitatap penuh amarah. Mereka berdua tidak menyadari, kalau pertengkaran mereka sudah terdengar Vana.


David menghempaskan tangan Nathan dari kerah bajunya "Mencintai wanita itu sah-sah saja, tetapi bila cinta yang kau lakukan adalah obsesi dan akan menghancurkan hidupmu sendiri itu namanya BODOH! masih banyak wanita diluar sana yang menginginkan dirimu Nathan! sadarlah dan buka matamu, wanita itu tidak benar-benar mencintai mu dengan apa yang sudah kau lakukan dan perjuangkan selama ini! teriak David di depan wajah Nathan dengan tatapan kesal.


"Hiks.. hiks.. hiks..." Vana menangis terisak sambil terus menahan suaranya agar tidak terdengar. "Ma'afkan aku kak Nathan! ternyata cintamu benar-benar tulus padaku." Vana sudah tidak tahan lagi mendengarkan pertengkaran dua orang pria dewasa. Vana takut keberadaannya di ketahui mereka berdua dan tidak dapat mengontrol emosinya. Buru-buru ia melangkah pergi meninggalkan tempat persembunyiannya di balik pintu.


"Aaarrggghh!!!


Nathan menyugar rambutnya kasar dengan nafas turun-naik "Sekarang aku sudah tidak perduli dengan hidup ku! Alea mencintai ku atau tidak itu bukan urusan mu, kau bicara begitu karena kau tidak pernah berada di posisi ku! iya aku laki-laki BODOH yang hanya jatuh cinta pada satu wanita yaitu ALEA!


Suara teriakan Nathan masih terdengar di dalam kamar Vana, mungkin Nathan tidak menyadari suaranya malam itu terdengar nyaring dan mendominasi.


"Baiklah! itu terserah padamu! teriak David seraya menunjuk kearah Nathan "Mulai sekarang, aku tidak akan ikut campur urusan mu lagi! kau urus saja sendiri! Seru David yang terlihat kesal dengan sikap sahabat nya itu. Setelah berdebat dengan Nathan, David pergi meninggalkan villa itu tanpa berpamitan.


Suara mobil David terdengar semakin menjauh. Nathan menghirup udara dingin malam itu sebanyak mungkin hingga ia bernafas lega.


"Ya Tuhan, Apa yang harus aku lakukan sekarang!" Nathan mengusap kasar wajahnya.


💜💜💜💜