
Vano mengusap kasar wajahnya berulang-ulang. Rasa sesak dan kesal terus menghantuinya. Andai saja waktu itu dia tidak Pergi mencari Vana yang pergi tiba-tiba, sudah pasti Savira tidak akan mengalami trauma seberat ini.
"Aaarrggghhh!!!!!
Vano berteriak frustasi.
Tanpa Vano dan yang lainnya sadari, Savira sudah menaiki pagar pembatas dan siap terjun bebas ke bawah. Mata Vano terbelalak sempurna dan berteriak lantang.
"SAVIRA.....!!!!!!!
"TARR!
"TARR!
Suara petir menggelegar bersamaan turun hujan yang semakin deras membasahi bumi. Tubuh Savira sudah basah dengan air hujan, tubuhnya terlihat kaku, sebab suara petir telah mengagetkan dirinya. Vano melihat Savira hampir limbung ke bawah, dengan secepat kilat ia berlari ditengah hujan yang deras.
"SAVIRA!!!!!!!
Detik kemudian Vano berhasil menangkap tubuh Savira yang hampir terjatuh ke bawah. lalu mendekap tubuhnya dengan erat.
"Savira! ya Tuhan...! Vano menepuk-nepuk pipi Savira agar tersadar, Namun tubuhnya tak bereaksi sama sekali. Tubuhnya lunglai dalam dekapan Vano.
"Savira... bangun Dek! Vano terus berusaha menyadarkan Savira yang matanya masih terpejam. Air hujan yang berjatuhan tidak membuat Savira tersadar.
Vano semakin mendekap dan tanpa sadar menciumi wajah gadis cantik itu bertubi-tubi, seakan ia tak rela bila harus kehilangan wanita yang berada dalam pelukannya. Emosi Vano sudah tak terkontrol ia terus berteriak membangun kan kesadaran Savira yang tanpa bereaksi sama sekali.
"Savira, kakak mohon jangan tinggalkan kami semua. Ma'afkan kakak telah melukai mu selama ini." Airmata Vano berjatuhan bersama deras nya air hujan.
"Dek, kakak sangat menyayangimu, bahkan melebihi sayang kakak pada diri kakak sendiri. Siang-malam kak Vano selalu memikirkan mu. kakak tak sanggup bila harus kehilangan mu Dek! Vano terus mendekap erat tubuh Savira yang sudah dingin tertimpa derasnya air hujan. Tubuh mereka sama-sama sudah dingin, tetapi Vano enggan untuk pergi dan mencari aman.
Suara petir masih saja belum mau berhenti, bahkan semakin liar petir menyambar bersama angin kencang yang menerbangkan apa saja yang ada di sekitar. Bahkan pohon-pohon besar bertumbangan dan roboh oleh kilatan petir.
"Tuan! cepat kita pergi dari sini! seru Dokter Agung bersama dua orang sekuriti yang sudah ada disana. "Disini sangat berbahaya, Tuan muda dan Nona bisa tersambar petir."
Vano seperti baru terbangun dari kesadarannya, ia bangkit sambil menggendong tubuh Savira yang dingin. Saat di depan pintu, petugas medis sudah berada disana dengan membawa brangkar, tubuh Savira di letakan diatas brangkar, Dr Agung meletakkan selang oksigen ke hidung Savira, lalu membawa Savira keruangan UGD.
"Hey! lakukan yang terbaik untuk adikku! jangan sampai ia kenapa-napa, jika terjadi apa-apa dengan adikku, tunggu akibatnya!" ancam Vano seraya mengepalkan tangannya. Dr Agung hanya mengangguk tanpa mau membantah Tuan nya yang sedang emosi.
"Tuan, anda tidak apa-apa?! tanya Dr Irwan seraya memberikan handuk kecil pada Vano.
"Aku mau keruangan ku untuk ganti baju. Segera kau bantu Dr Agung untuk menolong Savira! perintah Vano yang tidak mau di bantah.
Dr Irwan mengangguk dan berjalan menuju lift untuk kerungan UGD.
Vano membuang nafas kasar dan mengatur nafasnya yang tersengal lalu berjalan kearah lift.
Vano membuka ruangan kerja milik Vana, gegas membuka seluruh pakaiannya yang sudah basah. Hanya lima belas menit di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dengan air hangat. ia mengambil pakaian di dalam lemari yang sudah ada. Vano memang menaruh pakaian bersih di dalam lemari bila sewaktu-waktu ia akan datang kesana dan mengganti pakaiannya. Disana juga ada beberapa pakaian Vana Yang tersimpan rapi di dalam lemari.
Tiba di ruangan ICU, Vano di kejutkan oleh beberapa dokter yang menangani Savira dengan terburu-buru. Dokter Irwan menaruh alat pembangkit jantung di tubuh Savira dan menghentak-hentakkan dada tengah nya dengan alat Defibrillator, suara mesin yang menghubungkan ke jantung terdengar lirih.
"Bagaimana kondisi Savira? tanya Vano panik pada tiga orang dokter yang menanganinya. Namun mereka belum memberikan penjelasan karena sedang menangani Safira yang tidak ada reaksi sama sekali.
"Maaf tuan, anda bisa tenang dulu? kami sedang berusaha membangunkan kesadaran nona Safira." Ujar Dr Irwan menenangkan Pria yang sedang kalut.
Vano hanya mengangguk pasrah dan berjalan keluar ruangan ICU untuk menenangkan diri.
"Astaga ya Tuhan, kenapa kami harus di hadapkan dengan kondisi yang sama? baru saja Vana bangun dari koma lalu menghilang. sekarang Savira mengalami hal yang sama. Dosa apa yang telah kami perbuat, Tuhan!" keluh Vano sambil duduk di sebuah kursi dengan lemah, ia berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar
"Vano!!
Vano mengangkat wajahnya dan menatap wanita yang memanggil namanya.
"Mommy..."
Vano berdiri dan langsung memeluk sang mommy yang berdiri mematung di tempatnya. suara nafas Vano terdengar kasar, seakan dadanya ikut sesak. Delena mengurai pelukan sang anak dan menatap raut wajah bingung.
"Ada apa dengan mu nak? Delena menangkup kedua pipi Vano dan berkata "Dimana Savira, mommy mau bertemu dengannya."
"Savira mom!" ucap Vano terbata dengan raut wajah sedih. "Sa-vi-ra...
"Ada apa dengan Savira?" tanya Delena dengan kening mengeryit
Vano menarik tangan sang mommy dan di bawahnya kesebuah bangku pengunjung yang berada di depan ICU.
"Duduklah mom!"
Delena mengikuti anaknya duduk, tangan Vano tak lepas menggenggam sang mommy, seakan meminta kekuatan dari wanita yang telah melahirkan nya kedunia.
"Mom, Savira sedang di tangani Dr Irwan, Dr Agung dan Dokter Nella. Sebenarnya tadi ada kejadian di ruangan rawat inap Savira."
"Kejadian? Kejadian apa?! tanya Delena tak paham, Sebab ia baru saja sampai rumah sakit, seperti janjinya akan datang berkunjung setelah selesai menemani Zidane belajar.
Vano menghela nafas panjang dan kembali menatap sang mommy yang sejak tadi menunggu cerita darinya. Genggaman tangan Vano semakin erat dan ia berbicara penuh hati-hati.
"Savira mendapatkan musibah. Saat di ruangannya ia mengamuk karena Dev sudah empat hari tidak datang mengunjungi nya."
Vano terkejut dengan ucapannya sendiri, dia belum memberitahu pada sang mommy tentang kepergian Dave, namun semuanya sudah terlanjur, cepat atau lambat sang mommy akan tahu juga.
"Masalah Dave nanti saja Vano ceritakan, yang penting Savira dalam kondisi tidak baik pasca kejadian di danau." Vano akhirnya menceritakan semuanya pada sang mommy, dari kepergian nya ke Jerman, hilangnya Zidane, Vana yang mengalami Koma juga Savira yang mendapat pelecehan hingga ia traumatis berkepanjangan dan berakhir kejadian Savira yang ingin bunuh diri di atas balkon rumah sakit.
Delena yang mendengarkan penuturan Vano, tidak dapat membendung air matanya, ia menangis terisak dengan tubuh gemetar. kini tabir rahasia yang selama ini terpendam dan sengaja di rahasiakan darinya akhirnya terbuka semua.
"Ini tidak bisa dibiarkan Van! mommy nggak mau Savira mengalami trauma dan akhirnya ia nekad bunuh diri, mommy nggak sanggup harus kehilangan Savira." hiks.. hiks..
"Sudah mom, sabar ya..." ujar Vano seraya mengusap lembut punggung sang mommy.
"Bagaimana mommy tidak stres dengan masalah yang datang bertubi-tubi. Setelah Zidane di culik, kini Vana yang di culik, sekarang Savira ingin bunuh diri. Perasaan ibu mana yang tidak sakit! Delena memukul dadanya yang terasa sesak.
Vano membuang nafas kasar untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. "Kita tunggu hasil Dokter Agung, mereka sedang menangani Savira. Semoga kekacauan ini segera berakhir."
"Van, kau hubungi Daddy mu. Tadi pagi mommy sempat ribut dengan Daddy. Bilang Savira hampir bunuh diri."
"Ya sudahlah Mom, jangan terus-terusan bertengkar dengan Daddy. kasihan Zidane, ia baru saja kembali pulang."
"Ya sudah mommy masuk kedalam ruangan ICU, setelah telpon Daddy mu, cepatlah temui mommy." tanpa menunggu jawaban dari Vano, Delena berdiri dan masuk kedalam ruangan ICU.
Ceklek!
Setelah masuk kedalam ruangan, Delena mengedarkan pandangannya dan menatap kearah brangkar dengan tiga orang dokter dan dua orang perawat yang sedang menangani Savira. Keringat dingin bercucuran dari dahi dokter Agung dan Dokter Irwan dengan alat Defibrillator di tangannya. Mereka berdua saling bersitatap dan gelengkan kepala tanda menyerah.
Delena berjalan kearah ranjang untuk melihat kondisi Savira. Saat sudah mendekat Delena menatap tubuh Savira yang sudah terbujur kaku dengan wajah pucat pasi dan bibir membiru. Tentu saja Delena terkejut melihat kondisi Savira yang mengenaskan.
"Sa-vi-ra...." ucap Delena terbata, sungguh ia tak menyangka anak angkatnya mengalami tragis. "Hiks.. hiks.." jatuh sudah butiran bening dari sudut mata Delena. ia menatap satu persatu tiga dokter didepan dan meminta penjelasan, Namun mereka hanya diam tanpa berani memberikan penjelasan.
"Bagaimana keadaan anakku?! tanya Delena tegas dengan airmata terus berjatuhan. Ia masih menatap wajah Savira yang sedang terpejam, lalu mengalihkan netra nya kembali pada tiga dokter tersebut.
"Kenapa kalian diam, Hah! bentak Delena menatap Dokter Agung, dokter senior yang sangat di percaya setelah menggantikan posisi Ayahnya yaitu dokter Iskandar.
Dokter Agung menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan, ia membuka kacamata minus nya dan menatap kearah nyonya pemilik rumah sakit pelita.
"Ma'afkan kami nyonya, tetapi kami..." Dr Agung menjedah ucapannya, bibirnya terasa kelu, pasokan udara di tenggorokan terasa tercekat. Dr Irwan menepuk pundak Dr Agung untuk memberikan kekuatan saat berbicara.
Dr Agung menarik nafas dalam dan kembali menjelaskan "Nona Savira sudah tidak bisa di selamatkan lagi, tubuhnya terkena aliran listrik saat ada petir, hingga jantungnya berhenti berdetak." ucap Dr Agung datar, suaranya terdengar serak menahan air mata. Ia tahu wanita di depannya pasti akan rapuh bila mengetahui kondisi anak gadisnya.
"Ap-apa?! Mata Delena membulat sempurna, sungguh ia sangat terkejut, satu tangannya menutup mulutnya yang terbuka. jantungnya hampir saja di tarik paksa. Delena kembali menatap wajah Savira dengan tatapan iba.
"SAVIRA.....!!! teriak Delena histeris.
"Tidak Savira, kau tidak boleh pergi.... !!
Vano yang sedang menghubungi sang Daddy di depan ruangan ICU, ikut terkejut saat mendengar teriakkan sang mommy. Ponselnya terlepas dari genggamannya dan berlari masuk kedalam ruangan ICU. Vano mendekat dan merangkul sang mommy.
"Savira... hiks, hiks..." Delena menahan getir di hatinya.
"Mommy....."
"Sa-vi-ra ... Vano___" Delena tak sanggup untuk meneruskan ucapannya, tangisannya semakin dalam, dadanya terasa sesak dan pundaknya terguncang turun-naik.
"Sa-vira.. tidak tertolong lagi, Savira sudah pergi!!" huhuhuhu.... ucapnya dengan deraian airmata.
"Savira..." ucap Vano datar, matanya menatap wajah Savira yang seperti orang tertidur, Namun terlihat pucat dan tidak ada aliran darahnya. vano mencoba menyentuh tangan Savira, terasa dingin bagai batu es.
"Tidak mom, itu tidak mungkin!!!!! seru Vano dengan nafas tersengal, sungguh ia tak sanggup bila harus mendengar kata-kata Savira sudah pergi. Vano belum rela kehilangan wanita yang sudah bertahta di hatinya, baginya belum terlambat untuk menyatakan perasaannya, Namun kini ia harus mendapatkan kenyataan dari mulut mommy nya.
"Apa yang terjadi dengan Savira! teriak vano di depan dokter Agung dan Dokter Irwan. Mereka hanya diam dan tak sanggup untuk bicara. Karena emosi Vano yang tak terkendali. Vano menarik kerah baju Dr agung dan mendorongnya ke dinding.
"Aku sudah bilang kan! selamatkan adikku, tapi apa?!.. teriak Vano dengan mata melotot, nafasnya memburu, dadanya turun-naik menahan perih.
"Tuan muda, tolong jangan lakukan ini pada dokter Agung, ia tidak bersalah, kami bertiga sudah berusaha, tapi takdir yang berkata lain! tukas Dr Irwan membela rekannya.
"Bedebah! tutup mulutmu BRENGSEK!!! maki Vano di depan wajah Dr Agung dan Dr Irwan. "kalian saja yang tidak becus mengobati adikku! teriak Vano, bersama airmatanya yang sudah berjatuhan.
"DUGH!
Vano meninju dinding di samping Dr Agung, amarahnya sudah tak kendali, Dr Agung yang terkejut hanya menutup mata pasrah.
"Yang dikatakan mommy tidak benarkan?! pekik Vano, tak habis-habisnya ia murka
"Tuan, Tolong hargai profesi kami! bila kami tidak becus menangani pasien dan menolong Nona Savira, kami siap di pecat! kini gantian Dr Irwan yang menantang.
"Aaarrggghhhh!!!!!!!
Vano berteriak frustasi dan melepas kerah kemeja Dr Agung dengan nafas tersengal.
💜💜💜
@BERSAMBUNG______"