
"Lakukan saja, dia itu teman mu, aku tidak ada hak melarang mu! setelah berkata begitu, Vana mengiring kursi roda dan masuk kedalam kamar.
Nathan yang melihat perubahan wajah Vana hanya menghela nafas panjang. Merasa sudah minta izin, gegas ia menemui suster Lena dan menitipkan Vana padanya.
Terdengar suara mobil Nathan yang menjauh. Vana hanya mengintip melalui jendela.
Vana mendorong kursi rodanya kedalam kamar mandi, ia hanya menggosok gigi dan membersihkan wajahnya dengan tissue basah sebab tangan Vana masih berbalut perban. selesai mengganti pakaian tidur Vana naik keatas ranjang yang bertumpu pada kedua tangannya, ia menyandarkan tubuhnya kepala ranjang dan mengambil remote untuk menyalakan siaran televisi.
**
"Bagaimana keadaan anakmu?" tanya Nathan saat sudah sampai di depan pintu.
"Panas nya semakin tinggi, aku takut anakku kenapa-napa."
"Ya sudah, Ayo kita berangkat."
Nathan membukakan pintu mobil depan untuk Ayu Dewi dan anaknya. Setelah menutup pintu ia masuk dan duduk di depan kemudi. Malam itu mobil Nathan melaju dengan kecepatan sedang menembus dingin nya malam yang sepi. Hanya menempuh perjalanan 15 menit, mobil sudah sampai di depan klinik. Nathan membukakan mobil untuk Ayu dan mengikuti langkah ayu masuk kedalam klinik besar yang memiliki banyak fasilitas.
Kedatangan Ayu langsung di tangani Dokter anak, Nathan hanya menunggu di kursi tunggu yang berada didepan ruangan perawatan Dokter anak.
**
Tok.. Tok.. Tok..
"Nona Alea, bisa buka pintunya sebentar." Suster Lena sudah berdiri di depan kamar.
"Ada apa sus?! seru Vana yang enggan membuka pintu kamar.
"Saya mendapat pesan dari tuan Nathan untuk memberikan pudding sebagai makanan penutup."
"Tidak usah sus, saya sudah kenyang."
Hening.. tidak ada lagi suara suster Lena di depan pintu. Vana mulai mematikan televisi dan merebahkan tubuhnya.
"Tok.. Tok.. Tok..
"Mau apa lagi...?! pekik Vana yang mulai kesal.
"Ada telepon dari tuan Nathan."
"Blang saja aku sudah tidur!
"Tetapi ini sangat penting Nona, tuan ingin bicara langsung."
"Ahh! Vana mendesah panjang "Sebentar! Vana menarik kursi rodanya yang berada di sisi ranjang, lalu duduk di kursi dan mendorong kearah pintu.
"Ceklek-ceklek!
Setelah Vana membuka pintu ia keluar dari kamar dan melihat suster Lena sedang duduk di sofa menerima telpon seseorang.
Melihat Vana berjalan mendekat, ia memutuskan sambungan telponnya lalu tersenyum tersenyum. "Saya pikir Nona tidak mau terima telponnya dari Tuan Nathan. Baru saja di matikan."
Vana hanya memutar bola mata malas "Ya sudah!! Vana bukan kembali kamar malah kedapur
"Nona mau kemana?
"Ambil minum."
"Biar saya ambilkan."
"Loh suster Anna bukan anda sudah minta mengundurkan diri? empat hari lalu anda minta izin pada kak Nathan untuk keluar kerja dari sini? kenapa sekarang balik lagi?" tanya Vana heran.
"Iya nona, saya keluar kerja karena mau ikut suami ke Pontianak. Saya disini kangen sama Lena dan menemani suster Lena sebelum berangkat."
"Ohh..." ucap Vana menatap curiga.
"Silakan Nona di cicipin pudding buatan saya." suster Anna menyodorkan satu potong pudding yang sudah di iris dan taruh vla vanila diatasnya.
"Ma'af, tapi saya tidak makan makan." tolak Vana lalu pergi, saat hampir melewati pintu yang menghubungkan dengan ruangan tamu, suster Lena menahan kursi roda depan kakinya lalu menendang-nendang kursi roda Vana hingga berputar kesana-kemari, seraya melipat kedua tangannya didada.
Vana yang melihat kelakuan suster Lena, merasa geram, kedua tangannya mengepal kuat menahan amarah.
"Sudah cukup! apa mau mu?! pekik Vana menatap tajam kearah suster Lena.
"Kau cukup ikuti kemauan ku! tangan suster Lena mendorong dengan kasar kursi roda Vana hingga menubruk dinding. Vana menahan sakit pada dengkulnya yang terpentuk ujung pintu. Kembali suster Lena menarik kursi roda Vana kembali dengan kasar dan mendorongnya hingga tepat meja makan.
"Dasar wanita lumpuh! mau secantik apapun wajah mu tetap saja kau wanita cacat dan tidak berguna sama sekali!" pekik suster Lena di telinga Vana, lalu ia terbahak.
"Hahahaha.....
"Apa tujuan mu di villa ini?! dari awal aku sudah tahu kalau kau bukan wanita baik-baik!"
PLAKK! satu tamparan mendarat di pipi Vana.
"Kau memang wanita tak tahu diri! sudah lumpuh selalu mencari perhatian pada Nathan!"
"Kau panggil Nathan nama?! Vana sempat berpikir sejenak dan ia baru menyadari sikap Lena yang selalu memakai pakaian seksi saat bekerja membantu dirinya. Tentu saja tujuannya untuk menggoda Nathan. "Apa hubungan mu dengan kak Nathan! tanya Vana yang sudah curiga pada suster Lena saat ia hilang dan tiba-tiba berada di pantai. Vana yakin semua itu adalah ulah suster Lena. Namun apa motif nya ia sampai melakukan itu? tanya Vana dalam benaknya
"Itu bukan urusan mu! bentak suster Lena
"Makan ini! bentak suster Lena dan menaruh piring di depan Vana."Ini hanya makanan penutup dan tidak mengenyangkan."
"Ayo silakan Nona di cicipi, tenang saja tidak ada racun di dalamnya." balas suster Anna tersenyum licik. Yang seperti tahu isi kepala Vana.
Suster Anna menarik satu kursi, lalu duduk di samping Vana sambil menikmati pudding di atas piring.
"Nona Alea, mungkin ini hidup mu yang terakhir, maka puas-puasain menikmati sepotong pudding ini. Aku janji akan membantumu pelan-pelan untuk pergi dari dunia ini! seru suster Lena, ia berdiri di samping Vana dan mulai memotong puding itu menjadi bagian kecil, lalu di arahkan ke mulut Vana dengan paksa.
"Sudah saya bilang berapa kali saya tidak mau! tepis Vana yang membuat sendok di tangan suster Lena terlempar. spontan suster Lena menjambak rambut Vana karena kesal. Vana yang selama ini diam dan harga dirinya terus di injak-injak, dengan kekuatan yang ia miliki, kini Vana balik menarik rambut pirang suster Lena dengan kedua tangannya dan membenturkan keningnya ke pinggiran meja makan.
"BRUKK!
"BRUKK!
"Awww... sakittttt!!!!!!!
Teriakan suster Lena memekik gendang telinga. "Anna... cepatan bantu Lepaskan dari cengkraman wanita gila ini! teriaknya, sambil keluar kata-kata sumpah serapah
"Kau yang sudah memulai duluan, aku tidak akan biarkan kau membunuh ku saat ini juga! seru Vana sambil terus membentur kan sekuat tenaga.
Suster Anna yang sedang makan pudding pun terlihat terkejut melihat Vana yang beringas membentur kepala suster Lena berkali-kali, ia sungguh tidak menyangka. Wanita cantik yang terlihat lemah-lembut itu mulai menunjukkan taringnya.
"Kau bukanlah lawan ku! teriak Vana seraya mendorong tubuh suster Lena ke lantai. Suster Lena memegang keningnya dan merasakan sakit yang luar biasa di keningnya. lalu ia berteriak saat melihat darah di tangannya.
💜💜💜💜