Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Kepulangan Vana


Pagi itu udara dingin masuk melalui celah jendela yang terbuka, sejak tadi Vana sudah terbangun dan mematikan Ac, ia masih termegah dan berdiri di depan jendela, menatap liar batu karang yang di terjang ombak. Vana masih bingung dengan perasaan nya saat ini, ia dihadapi dengan pilihan yang teramat sulit. Meninggalkan Nathan untuk selamanya dan kembali pada keluarga nya, Namun ia juga tidak bisa mengabaikan kebaikan dan pengorbanan Nathan pada dirinya, Yang sudah berkorban nyawa untuknya.


"Aku tak menyangka kalau Daddy dan Mommy bermusuhan dengan Ayahnya kak Nathan, kini kami anak-anak nya yang harus menjadi korban keegoisan mereka."


Tok, tok, tok...


"Non Vana anda ditunggu tuan Nathan di ruangan makan."


Vana menoleh ke arah pintu "Iya saya kesana." Vana merapikan riasan di wajahnya yang sembab dengan airmata, lalu ia berjalan kearah pintu.


Ceklek!


"Nona, apa ada barang bawaan anda? biar saya bawa kedalam mobil." kata seorang Pria muda yang bekerja di rumah Nathan.


Vana menggeleng "Tidak ada satupun barang saya disini, saya hanya membawa baju yang melekat di tubuh saya."


Pria itu mengangguk "Baiklah, Nona sudah di tunggu Tuan."


Celana jeans hitam di padu kemeja kotak-kotak berwarna biru dongker terlihat pas di tubuh Vana, wanita cantik bertubuh sintal itu memakai pakaian casual dengan sepatu kets putih. ia berjalan ke ruangan meja makan, sudah duduk Nathan di ruangan tersebut dan mengangkat kepalanya saat melihat Vana berjalan kearahnya.


Vana menarik satu kursi dan duduk di depan Nathan.


"Kita sarapan dulu, masih ada waktu 20 menit lagi untuk kita makan, sebentar lagi supir akan datang menjemput kita."


Vana hanya mengangguk sebagai respon tanpa membuka suara, sebab ia juga tahu kalau Nathan sedang tidak baik-baik saja saat perdebatan nya semalm dengan David sahabat sekaligus orang kepercayaan Nathan.


Hanya terdengar suara sendok dan garpu saling berdentingan dan mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Nathan memperhatikan Vana yang tidak menghabiskan makanan nya, bahkan ia terlihat murung


"Ehem.. Kenapa kau tidak habiskan makanannya, apa menurutmu masakan yang aku buat kurang berselera? tanya Nathan mulai membuka obrolan.


Vana terkejut dan menoleh kearah Nathan "Ti-dak, nasi goreng buatan mu sangat enak, terapi..."


"Tidak enak bukan? potong Nathan tersenyum tipis


"Jangan salah sangka kak, aku hanya sedang tidak enak badan jadi sedikit kurang nasf* makan." ujar Vana seraya mengusap tengkuknya.


Nathan beranjak dari duduknya dan meninggalkan Vana, ia berpikir Nathan marah padanya, tak berapa lama Nathan datang dengan membawa kotak obat "Kalau kau sedang tidak enak badan, minum obat dulu. ini resep yang biasa dokter Alvin berikan." Nathan memberikan dua butir obat dan air putih hangat yang Nathan tuangkan kedalam gelas.


Vana memang tidak berbohong, suhu badannya agak sedikit menghangat dan semalaman tidak bisa tidur setelah tahu kebenaran tentang Nathan dari David. Vana menerima obat pemberian Nathan dan di teguk nya berasa air putih.


"Kau sudah siap? mobil sudah datang. kita harus secepatnya ke bandara."


Vana menatap nanar wajah Nathan, ada perasaan iba saat ia akan pergi dan meninggalkan Nathan, Pria yang sudah menemaninya selama dua minggu dan akhirnya ia bisa berjalan.


"Kak NAD! boleh aku jujur? tanya Vana saat sedang berjalan kearah teras. Nathan berhenti dan menoleh kearah Vana.


"Apa yang ingin kau bicarakan?!


"Hmmm...." Vana agak ragu untuk berterus terang, tetapi Nathan sudah tidak sabar ingin mengetahui nya.


"Ayo katakan saja, waktu kita tinggal lima menit."


Vana mengangguk "Sebenarnya, yang membuat suster Lena dan suster Anna mengalami cidera hingga patah tulang, aku yang melakukannya, karena mereka berdua yang menyerang aku duluan dan ingin membunuh ku. Tak ingin tinggal diam saat mereka mulai bermain kasar, tiba-tiba kakiku bisa bergerak dan aku menghukum mereka."


Datar, begitu lah yang terlihat ekspresi wajah Nathan. Tidak ada keterkejutan atau amarah dari raut wajah tampan nya. "Aku sudah tahu itu pasti kau yang melakukannya. Apalagi kau seorang pendekar dan ahli dalam bertarung, tidak ada orang yang bisa melakukan itu selain dirimu." Nathan tersenyum tipis


Mata Vana terbelalak "Apa?! jadi kau sudah mengetahui semua itu?"


"Sudah lah, tidak ada yang perlu dibahas lagi, mereka berdua pantas mendapatkan nya." Nathan berjalan kearah mobil yang terparkir.


"Tapi kak, bukankah suster Lena kekasih mu?" gumam Vana yang tentu saja Nathan tidak mendengar nya.


"Ayo Alea, kenapa kau masih berdiri disana."


Vana berjalan cepat dan duduk di kursi penumpang bersama Nathan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan villa yang berada di daerah pantai Kuta. Tidak ada interaksi dari kedua, hanya terdengar helaaan nafas panjang yang keluar dari mulut Nathan.


"Alea..."


"Ma'afkan atas semua kesalahanku. Setelah aku kembalikan kau pada keluarga mu, Aku berjanji tidak akan pernah mengganggu atau menemui mu lagi, aku akan selamanya tinggal di Britania raya, Inggris."


"DEG!


Seketika dada Vana berdenyut nyeri, hatinya seakan tak rela bila harus terpisah dari Nathan, dan jantungnya berdetak kencang, ingin Vana mengatakan tidak ingin berpisah, Namun mulutnya tetap terkatup.


Nathan menoleh dan tersenyum lembut pada Vana yang hanya diam mematung "Hari ini terakhir untuk terakhir kalinya kita bertemu, setelah ini aku sudah tidak ada lagi di negara Indonesia. Setelah aku mengurus perusahaan di Britania, aku akan mengasingkan diri dari keramaian dan tinggal di suatu tempat yang nyaman."


"Tes!


Airmata Vana mulai berjatuhan, ia masih terdiam tanpa sanggup mengeluarkan satu katapun.


"Whay? Nathan mengeryitkan keningnya dan menatap bingung pada Vana. "Hey, kenapa kau menangis? apa yang membuat mu bersedih? bukankah ini tujuan mu? kembali pada keluarga mu dan hidup damai disana tanpa ada orang yang akan mengganggu mu lagi?"


"Cukup! aku bilang cukup....!! Vana berteriak seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hiks.. hiks..." tangisan Vana sudah tak dapat di bendung lagi, ia menangis terisak dan merasakan sesak di dadanya.


Nathan menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan, ia menyentuh pundak Vana "Alea, ma'afkan aku.." Vana tidak merespon ucapan Nathan, ia masih terus menangis dan tidak memperdulikan Nathan yang terus membujuk nya. Akhirnya Nathan menarik Vana kedalam pelukannya.


Supir yang sedang mengemudikan kendaraan pura-pura tidak tahu, ia memilih diam dan memakai handset untuk mendengar kan lagu favoritnya, karena mendengar dua orang yang sedang berdebat tidaklah baik, ia lebih baik tidak ikut campur urusan Tuan nya.


Vana melepas pelukan Nathan dan memalingkan wajahnya. "Apa keadaan mu sudah baikan? Nathan membuka segel botol berisi air mineral dan menyodorkan nya pada Vana, wanita cantik itu tidak menolak dan meneguk hingga separuh.


Satu jam kemudian, mobil sudah berhenti di bandara Gusti Ngurah Rai. Mereka berdua turun dari mobil dan masuk kedalam bandara. Di dalam Nathan sudah di sambut tiga orang bodyguard.


"Kalian sudah atur semuanya."


"Sudah Tuan, Pesawat yang kita sewa sebentar lagi akan Take-off dan mendarat di lapangan terbang milik keluarga Mahesa."


"Baiklah ayo kita berangkat."


Nathan mendekati Vana yang sedang duduk termenung dan menggandeng tangannya "Biarkan aku menggandeng tangan mu untuk terakhir kalinya, jangan pernah menolak." pinta Nathan penuh permohonannya. Vana tidak lagi menepis tangan Nathan dan mengikuti langkah Pria bermata biru sambil bergandengan.


Pesawat mulai take-off dan meninggalkan bandara Gusti Ngurah Rai. Didalam pesawat lagi-lagi Vana berperang dengan perasaan nya sendiri, ia mulai merasa takut kehilangan sosok pria yang sudah banyak menolong dan berkorban untuknya, Namun ego nya masih menguasai dirinya yang tidak ingin mengakui perasaannya.


Menuju Jakarta hanya menempuh dua jam perjalanan, Nathan mengusap lembut kepala Vana dan menepuk pundaknya pelan yang bersandar di bahu lebarnya.


"Sudah sampai, Ayo kita turun."


Vana mengerjabkan matanya seraya mengangkat kepalanya dari bahu Nathan. ia melihat dari jendela kalau pesawat sudah landing.


"Tuan, apa kami tetap disini menunggu anda? tanya sang bodyguard.


"Tidak perlu, kalian pulanglah."


Pria tinggi tegap itu berbisik agar suaranya tidak di dengan Vana. "Tetapi, diluar sana banyak orang-orang tuan Reno, saya tidak ingin nyawa tuan terancam. Saya di tugaskan oleh tuan David untuk menjaga Anda tuan."


Nathan tersenyum, rupanya David masih mengkhawatirkan dirinya "kau tenang saja aku bisa menjaga diriku baik-baik."


"Apa anda yakin? seperti yang saya dengar, Tuan Reno salah satu orang terkejam bila berhadapan dengan musuhnya."


"Saya sangat yakin akan baik-baik saja, bila saya mati hari ini, berarti itu sudah takdir saya." ucap Nathan enteng tanpa beban, seraya menarik tangan Vana dan melangkah menuju tangga.


Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga dengan perasaan yang entahlah. Mata Vana melihat dua buah mobil sedan yang terparkir tak jauh dari pesawat nya berhenti.


"Daddy! gumamnya saat melihat sosok Pria yang ia rindukan sedang menelpon seseorang, tanpa Reno sadari anak gadisnya sudah berdiri di aspal.


"Daddy....!!! teriak Vana.


Reno yang masih menelpon dan bersandar pada badan mobil menoleh, ia terkejut melihat anak gadisnya berdiri dengan kedua kakinya. "Zee...! seru Reno, seraya mematikan ponselnya dan berlari kearah sang anak gadisnya. Rasa rindu yang membuncah sudah tak tertahankan lagi, Reno menarik Vana kedalam pelukannya, mereka saling melepas rindu, suara isakan Vana terdengar lirih, Reno terus menciumi wajah anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.


Sementara Nathan masih berdiri tak jauh dari Vana dan Reno melepas rindu. Pesawat yang mereka tumpangi sudah take-off kembali dan meninggalkan kota Jakarta.


💜💜💜


@Maaf baru update, bab nya lebih panjang ya All.. besok episode nya sangat menegangkan dan Action kembali terjadi, tunggu di episode selanjutnya... 🥰🥰