Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Siapa sebenarnya Savira


"DUGH!


Vano meninju dinding di samping Dr Agung, amarahnya sudah tak kendali, Dr Agung yang terkejut hanya menutup mata pasrah.


"Yang dikatakan mommy tidak benarkan?! pekik Vano, tak habis-habisnya ia murka


"Tuan, Tolong hargai profesi kami! bila kami tidak becus menangani pasien dan menolong Nona Savira, kami siap di pecat! kini gantian Dr Irwan yang menantang.


"Aaarrggghhhh!!!!!!!


Vano berteriak frustasi dan melepas kerah kemeja Dr Agung dengan nafas tersengal.


"Vano... jaga amarah mu, jangan pernah menyalahkan orang lain. kita tidak pernah tahu takdir Tuhan seperti apa? imbuh Delena dengan suara terisak.


Vano yang sedang frustasi berjalan kearah ranjang, dimana Savira sedang terbujur kaku dengan mata terpejam. Vano menatap dalam wajah cantik Savira yang pucat pasi, hatinya berdenyut pedih, tenggorakan nya terasa kering, bahkan untuk bayaran salivanya saja sangat sulit. Air mata terus berjatuhan dari sudut mata Vano, nafasnya kembali tersengal dan gelengkan kepala berkali-kali seakan tak percaya Savira telah pergi. Vano meraih tangan Savira yang sudah dingin, lalu di genggamnya erat.


"Dek! kenapa kau lakukan semua ini, kenapa kau tidak marah saja padaku atau pukul saja kak Vano, karena telah mengecewakan mu." hiks... hiks... hiks... vano sudah kehabisan kata-kata, yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan menyesali dirinya sendiri.


"KENAPA KAU TINGGALKAN KAMI, DEK! teriak Vano, dan menjatuhkan wajahnya di atas kasur sambil terus meraung.


"Vano! Delena mengusap lembut punggung sang anak. Ia pun sangat syok dan tak pernah menyangka harus kehilangan anak angkatnya yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya.


"Savira...." hiks.. hiks.. kenapa kau tinggalkan mommy, padahal mommy sangat menyayangi mu sama seperti anak kandung mommy sendiri, walau kau tidak di lahirlah dari rahim ku, kau tetap anakku!" sakit, begitu lah yang Delena rasakan, ia menekan dadanya yang berdenyut pedih. Dulu Delena pernah berjanji pada kedua sahabatnya, akan menjaga Savira sampai ia menikah, Namun Tuhan berkehendak lain, sebelum Savira menikah, Tuhan lebih dulu mengambilnya "Andaikan saja mommy tidak pernah pergi ke Jerman, andaikan saja mommy tetap di rumah menemani kalian, sudah pasti semua ini tidak akan pernah terjadi." Delena menatap kembali wajah anak angkatnya "Seharusnya kau tidak akan pernah mengalami penderitaan ini, Ma'afkan mommy Nak.." hiks.. hiks...


Tiba-tiba kepala Delena terasa pusing, matanya mendadak gelap dan tubuhnya sudah tak kuat untuk menahan bebannya, seketika ia luruh dan hampir jatuh kelantai, untung saja Dokter Irwan menangkap tubuh Delena hingga tak sampai jatuh kelantai.


"Mommy...." pekik Vano yang terkejut melihat sang mommy pingsan.


"Lebih baik, Nyonya di bawa kerungan sebelah, mungkin ia mengalami tekanan." ujar Dr Irwan.


Vano mengendong tubuh sang mommy dan membawanya keruangan khusus milik keluarga nya. Setelah sampai di ruangan, Delena di baringkan di atas ranjang. Vano menatap iba wajah sang mommy yang begitu terlihat syok.


"Mommy, sadarlah." ucap Vano pelan seraya mengusap lembut kepala sang mommy.


Ceklek!


Dari arah pintu masuk dokter Nella bersama dua orang suster. "Bagaimana kondisi nyonya? tanya Dr Nella khawatir, ia langsung periksa detak jantung Delena dengan menaruh alat stetoskop di dadanya.


"Bagaimana sus, berapa tekanan darahnya."


"Sangat rendah Dok, 80/100." kata seorang suster yang baru saja selesai mengecek tensinya.


Dokter Nella membuang nafas panjang dan kini tatapannya beralih pada Vano "Nyonya Delena harus di infus untuk memulihkan stamina nya, darahnya rendah akibat sters.'


"Lakukan yang terbaik untuk mommy ku."


"Tentu saja tuan Vano, itu sudah pasti karena tugas kami menyembuhkan pasien."


"kalau begitu tolong titip mommy ku, aku akan ke ruangan Safira." ucap Vano lemah dengan ekspresi sedih.


Dokter Nella mengangguk "Baiklah!


Sebelum pergi, Vano mencium kening sang mommy dan berjalan keluar dengan langkah gontai.Vano berjalan melewati lorong rumah panjang dengan perasaan campur aduk, ia berusaha tegar walau sebenarnya hatinya telah rapuh. Langkah kaki Vano terasa berat, pandangan matanya kosong, Beberapa kali petugas medis dan suster membungkuk hormat dan menyapa pria tampan dengan ekspresi dingin itu, Namun Vano terus melangkah tanpa menoleh atau menyapa balik seperti biasa yang ia lakukan. Sungguh jiwanya sedang pergi entah kemana, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Vano dari belakang.


"Vano!


Vano terkejut seakan nyawanya hampir saja melayang, lamunannya di tarik paksa untuk melihat orang di belakang nya.


"Om frans!


Vano berhambur memeluk Om nya, hatinya yang sedang kalut seperti mendapatkan kekuatan dengan kehadiran Frans.


"Hey kenapa kau bersedih! Frans yang tampak bingung melihat keponakannya menangis, dan ia yang belum tahu apa yang sudah terjadi dengan Savira hanya menepuk-nepuk punggung nya.


"Ada apa Van? kenapa kau menangis? tanya Frans setelah mengurai pelukannya.


Vano sempat terdiam, sungguh ia terlihat sangat lemah, hal yang belum pernah ia lakukan selama ini. Vano menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan sesak nya.


"Van! Frans meraih bahu lebar Vano dan menatap nya dalam "kau tidak mungkin menangis secengeng ini bila tidak ada apa-apa, Om tahu kau pria tegas yang tidak mudah menangis."


"Sa...vira, di-a___"


"Tuan Vano, ada kelurga Nona Savira datang. Mereka berada di dalam ruangan." ujar seorang suster yang datang tiba-tiba.


"Apa maksud mu? kelurga Savira?! jangan ngada-ngada kau?! pekik Vano tak terima.


"Te-ta-pi____" wajah Suster berbalutkan putih-putih Itu terlihat tegang dengan suara gugup dan bibir gemetar melihat kemarahan pria bertubuh atletis itu.


"Sudahlah Van, sekarang kita ke ruangan Savira untuk melihat apa sudah yang terjadi. Om frans baru saja datang untuk menengok teman Om yang sedang dirawat disini, kebetulan sekali bertemu dengan mu."


Frans memang benar, ia belum tahu kejadian kelurga Reno yang sebenarnya. Entahlah apakah Reno sengaja menutupi semuanya dari keluarganya agar tidak khawatir, atau memang belum sempat memberitahu kan pada mereka.


Vano mengangguk dan melangkah beriringan dengan Frans. Hingga saat sampai di depan pintu Savira, hatinya berdebar-debar. Perasaannya mulai tak enak. Dengan gerakan cepat Vano membuka handle pintu dan ia di kejutkan oleh suara isak tangisan seseorang di samping ranjang Savira.


"Savira! pekik Vano, dan beberapa orang di sana menoleh kearah vano. Lagi-lagi vano di kejutkan oleh Pria berjas hitam yang tak lain adalah rekan bisnisnya.


"BUGH!


Vano terkejut, ia menyeka pelipisnya yang berdarah.


"Brengsek kau Kelvin! teriak Vano tak terima, kini gantian ia menarik jas Kelvin dan di dorongnya hingga terbentur dinding.


"Keparat kau!


"BUGH!


"BUGH!


Berkali-kali Vano meninju wajah Kelvin tanpa ampun. Kelvin yang tubuhnya sama atletis dan tinggi tegap dengan Vano, berusaha melawan dan berontak, namun Pria tampan itu kalah gesit kalau urusan bela diri.


"Sudah Vano hentikan! seru Frans, mencoba melerai dua pria itu dengan menarik tubuh keponakan yang sudah emosi.


Akhirnya mereka berdua terlepas, dengan wajah Kelvin penuh memar dan luka. Pelipis dan hidungnya mengeluarkan darah.


"Apa yang sudah kau lakukan pada cucuku! teriak seorang wanita sepuh yang di perkirakan usianya 70 tahun. Vano yang sudah menahan emosinya mati-matian di buat heran dengan kehadiran wanita paruh baya, Kelvin dan beberapa orang kerabatnya.


"Apa yang kalian lakukan disini! bentak Vano yang masih tersulut emosi.


"Kau tanya apa yang kami lakukan disini?! tentu saja kami mencari keponakan kami yang hilang bertahun-tahun lamanya!" tukas seorang pria yang di perkirakan berusia 50 tahun.


Vano menatap nanar wajah pria itu, lalu menggeleng cepat "Tidak mungkin! ini ruangan adikku, kalian pasti salah ruangan! vano terus terseru seakan tidak peduli dengan tatapan tajam mereka.


"Kau jangan pura-pura bodoh Van! kau tahu sendri beberapa kali aku mengunjungi Savira. Tetapi, karena aku sedang tugas bangun proyek di luar kota, tidak menemui nya sudah satu minggu, sungguh kami terkejut setelah mendengar dari orang kepercayaan kami, kalau Savira sudah tidak sadarkan diri! teriak Kelvin dengan nafas tersengal dan tatapan menghunus.


"Apa yang sudah terjadi dengan Savira, Hah! Kelvin kembali menarik kerah Vano, seakan ingin membalas sakit hatinya. Namun Frans melerainya.


"Tunggu! tolong jangan terus ribut disini. Ini rumah sakit, pasien yang lain akan merasa terganggu!" Frans mencoba mengambil jalan tengah agar tidak terjadi baku hantam.


"Kenapa kau malah melerainya! kau siapa? tidak perlu ikut campur urusan kami! Kelvin mendorong tubuh frans agar menjauh. Melihat Frans di perlakukan seperti itu, membuat Vano naik pitam kembali.


"BRENGSEK kau Kelvin, dia itu Om ku! kau tak berhak memaki apalagi mendorong nya! saat mereka berdua ingin adu jotos kembali, masing-masing memegang Kedua nya. Frans menarik tubuh Vano yang mulai keras agar menjauh. Pria paruh baya yang usianya hampir sama dengan Reno menarik Kelvin.


"Sudah Nak jangan di teruskan, kau lihat nenek mu sangat tertekan. kita harus secepatnya bawa Savira pergi dari sini!"


Vano yang mendengar ucapan pria paruh baya itu terkejut dan sorot matanya menggambarkan kekesalan yang teramat mendalam. Disaat genting seperti ini ada saja orang yang ingin membuatnya murka


"Apa yang tuan katakan tadi? ingin membawa Savira pergi dari sini! lagi-lagi Vano tersulut emosinya kembali.


"Sudah Vano, biar Om yang bicara padanya. Bila kalian ribut terus begini tidak akan selesai-selesai masalahnya! ucap Frans tegas.


Frans membuang nafas kasar, lalu berjalan mendekat untuk bicara pada keluarga Kelvin. "Ma'af, saya sebagai Om nya Vano, adik dari pemilik rumah sakit ini. Boleh saya bertanya?


Pria paruh baya itu mengangguk "Silakan!


"Maaf kalau boleh tahu, kalian semua siapa? dan ada kepentingan apa kalian datang keruangan keponakan saya? apalagi saya juga sangat syok melihat keponakan saya Savira dalam kondisi tidak baik." ujar Frans bijaksana.


"Perkenalkan nama saya Drs Rony Gunawan, kakak dari almarhum adik saya Robby." Frans mengangguk dan mendengarkan dengan seksama. Sementara Vano berdiri di samping ranjang Savira dengan tatapan pilu. ia terus berdoa dalam hatinya agar Tuhan memberikan keajaiban pada wanita yang selalu ceria dan lemah lembut. Sementara tiga dokter lainnya masih terus mengupayakan agar Savira tersadar, Walau mereka belum sepenuhnya yakin Savira telah pergi.


Kelvin menatap kesal pada Vano, terlihat ia sangat membenci pria itu dengan kedua tangan mengepal kuat. "Kau tidak berhak memiliki Savira, gadis itu milik keluarga kami!" pekiknya dalam hati.


"Beberapa tahun ini Kami kehilangan adik kandung kami Robby. Sebenarnya ada masalah keluarga kami dengan Robby. Adik saya menikah tanpa persetujuan Keluarga dan ia pergi dalam keadaan emosi. Sejak saat itu ia pergi dari rumah dan menghilang selama bertahun-tahun. Kami selalu mencari keberadaan Robby dan ia tidak pernah datang lagi kerumah kelurga. Hingga kabar mengejutkan datang dan membuat kami syok, adikku Robby meninggal tabrakan mobil bersama isteri dan anaknya. Dan info yang kami dengar ia meninggal satu kelurga bersama anak dan istrinya."


Frans menarik nafas dalam-dalam "Apa anda yakin kalau Savira anak dari adik Pak Rony?'


"Yakin 100%. kami penasaran dan terus mencari info dengan membayar detektif. Bertahun-tahun lamanya kami baru tahu kalau keponakan kami Savira masih hidup dan di asuh oleh keluarga Reno Mahesa. Yang kami sesalkan kenapa kelurga Reno tidak mengembalikan keponakan kami."


"Tunggu! itu tidak lah benar, setahu saya. kakak saya Delena adalah sahabat dari ibu dan Ayah nya Savira. Mereka sudah mencari kelurga Savira yang berada di Surabaya, Namun hasilnya nihil. Sedangkan dari keluarga ibunya Savira, orang tuanya sudah menetap dan tinggal di luar negeri. jadi jangan salahkan Keluarga kakak saya yang sudah banyak berkorban untuk Savira."


"Jadi kalian hitung-hitungan jasa pada sepupu ku! teriak Kelvin.


"Hey! tutup mulutmu! bentak Vano dengan rahang mengeras "jangan pernah menghakimi kelurga kami. Daddy dan Mommy ku tulus membesarkan Savira yang sudah kami anggap kelurga!


"Sudah! sabar dulu Kelvin, jangan terbawa emosi. Biar papa memberikan penjelasan pada keluarga Reno dan kita berhak untuk membawa Savira, karena kita kelurga terdekatnya, masih ada paman dan neneknya yang masih layak untuk menjaganya."


Vano tergelak, sepertinya dari tadi ia sedang mencerna cerita ayahnya Kelvin. "Ternyata selama ini kalian sudah menjebak kami! dan kau Kelvin! Vano menatap Nyalang pada pria yang berdiri di samping ayahnya. "Kau pura-pura bekerja sama dengan ku dan menaruh saham di perusahaan ku! hebat... bahkan aku saja tidak menyadari musuh dalam selimut.


"Itulah kebodohan mu! bahkan musuh di depan saja tidak menyadari! tetap saja kelurga mu bersalah karena telah membuat Savira trauma dan kesuciannya hampir terenggut. kelurga kami akan menuntut kalian dan satu lagi, Savira dalam kondisi mengenaskan." seru Kelvin yang sudah mengetahui tentang kondisi Savira dan kejadian yang berada di mansion.


Netra Vano membesar sempurna, ia lupa kalau Kelvin sudah melacak kehidupan keluarga besarnya, sudah pasti ancaman berpihak pada keluarganya yang memiliki rahasia besar tentang Genk mafia milik sang Daddy.


💜💜💜


@Special Ramadan bab nya lebih panjang 🥰


MARHABAN YA RAMADHAN...


SAYA BUNDA ENNY 76 MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA DI BULAN RAMADHAN, SEMOGA PUASA DAN AMAL IBADAH KITA DI TERIMA ALLAH SWT.


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN BILA ADA SALAH YANG DI SENGAJA MAUPUN YANG TIDAK DI SENGAJA. AAMIIN 🤲🙏🙏