
Nathan menutup matanya walau ia sudah merasa kan gelap di dalam kurungan kain hitam. segelintir cairan bening menetes dari sudut matanya.
"Mama.. jaga dirimu baik-baik, Terima kasih sudah menghadirkan diriku ke dunia ini. Aku akan menyusul Papa disana." batin Nathan berkata lirih, ia menarik nafas dalam-dalam walau pasukan udara sangat sedikit. "Selamat tinggal Alea, aku mencintaimu sampai akhir hayat ku." bibir Nathan terangkat menjadi sebuah senyuman.
Sebuah mocong pistol sudah berada di batok kepala Nathan, hingga satu tarikan pelatuk saja sudah mengantarkan Nathan dalam kematian.
"Sekarang! seru Reno.
"Klik!
"Klik!
"Ada apa? tanya Reno yang melihat buruannya belum jatuh ke tanah.
"Peluru nya habis!"
"Ahh sial! baiklah, cepat ambil di dalam mobil ku! perintah Reno dan di anggukan oleh pria tinggi besar yang statusnya sebagai kaki tangan Reno.
**
30 menit sebelumnya
Sementara itu di dalam mobil, Vana benar-benar terlihat gusar dan gelisah. Hatinya terus tertuju pada sosok Nathan yang belum lama ia tinggali, hingga tanpa sadar tangannya masuk kedalam kantong celana dan ia meyentuh sebuah kertas. Tangan Vana merogoh kertas itu yang sudah lecek, lalu membukanya.
[Alea, mungkin setelah kau membaca surat ini diriku sudah tak ada di dunia ini lagi!
Selamat tinggal, jaga dirimu baik-baik. Dari pria yang selalu mencintaimu]
"KAK NATHAN!!!!!
Vana berteriak, sontak mengagetkan dua orang bodyguard yang duduk di depan.
"Ada apa Nona?!
"Cepat kalian putar balik ke tempat penerbangan tadi! perintah Vana, Namun dua orang pria itu saling bersitatap seakan sudah tahu apa yang akan terjadi di lokasi penerbangan itu.
"Kita sudah berjalan terlalu jauh Nona, tidak mungkin kembali lagi!
"Aku tidak perduli, cepat kalian putar balik!!" seru Vana yang mulai tersulut emosi.
"Sudahlah Nona, lebih baik anda tentang dan beristirahat, kami akan antarkan Nona pada nyonya Delena, ia sangat menantikan Nona pulang."
Mendapat penolakan dari dua pria itu membuat Vana geram. "Sudah pasti dua pria ini sudah tahu apa yang akan Daddy lakukan pada Nathan, aku harus segera cari akal sebelum terlambat dan aku tidak ingin kecolongan lagi setelah Daddy membunuh kak Nathan dulu."
Vana melihat pistol terselip di pinggang Pria yang duduk di samping kemudi. Dengan gerakan cepat pistol sudah berpindah tempat di tangan Vana.
"CEPAT KALIAN PUTAR BALIK, SEBELUM PELURU INI MENEMBUS OTAK KALIAN!!! teriak Vana seraya menodongkan pistol ke kening si supir, membuat pria itu menelan salivanya dengan susah payah.
"Sabar No-na, jangan lakukan ini, lepaskan dulu pistolnya."
"TIDAK AKAN! SEBELUM KAU PUTAR BALIK! AKU TIDAK MAIN-MAIN!! bentak Vana dan semakin menekan moncong pistolnya.
Melihat temannya terdesak, pria satunya berusaha ingin merebut pistol itu dari tangan Vana, namun dengan cekatan Vana menyikut wajahnya hingga terpentuk kaca mobil, tangan Vana menodongkan pistol kearahnya dan membuat Pria itu angkat tangan.
"Kau ingin cepat mati, Hah!
"Ja-ngan Nona, saya masih ingin hidup." ucapnya tergagap.
"Cepat lakukan perintah ku! kini pistol itu Vana arahkan kembali ke kening si supir.
"Ba-ik Nona."
Si pengemudi itu melirik kearah temannya seakan memberikan kode, disaat Vana lengah si pengemudi itu mengerem mendadak hingga membuat Vana terkejut.
"Ma'af Nona, kami hanya menjalankan perintah Ayahmu!
Terjadi aksi saling menarik pistol dari tangan Vana, tentu saja Vana tidak tinggal diam dan dengan terpaksa menekan pelatuknya.
"DORR!!!
pria itu berteriak histeris sambil meraung. Vana hanya tersenyum sinis melihat kaki bodyguard ayahnya tertembak.
"CEPAT JALANKAN MOBIL INI! BILA TERJADI SESUATU PADA KAK NATHAN, PELURU INI AKAN TEMBUS KE KENING KALIAN!"
Mendengar amarah Vana dan terlihat tidak main-main, tanpa banyak bicara lagi, si pengemudi itu memutar balik dan melaju dengan kecepatan tinggi sesuai perintah Vana seraya menodongkan pistol ke ke keningnya. Sementara temannya masih terus meringis kesakitan dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi, darah segar mengucur dari betis nya yang tertembak.
Untung nya jalanan raya ibu kota siang hari, tidaklah macet seperti jam pulang kantor. Dengan kecepatan penuh dan leluasa pria itu terus melajukan mobilnya kearah lokasi penerbangan.
Gegas Vana turun dari mobil saat ia sudah sampai di lokasi dan melihat dari kejauhan aksi seorang bodyguard menodongkan pistol kebelakang batok kepala Nathan sambil kedua tangan Nathan terikat kebelakang dan bersimpuh di bawah. Vana melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri, ia terlihat sangat murka dan berlari sambil berteriak.
"SAATNYA KAU PINDAH KE ALAM BAKA!! seru bodyguard yang mulai eksekusi Nathan atas perintah Reno
"BERHENTIIIIIII....!!!!!!!
"DOOORRRRR!!!!!
"Nathan......!!
"Nathan......!!
"Papa....!!!
"Datang lah padaku, ikutlah bersama ku nak!
"Papa..? apa yang Papa lakukan disini? tanya Nathan bingung, sebab tidak ada orang lagi di dekatnya, semuanya begitu sunyi dan gelap, hanya terlihat sosok ayahnya yang berdiri.
"Papa datang untuk menjemput mu, sudah saatnya kau temani Papa disini. Papa sangat kesepian dan merindukan dirimu nak."
"Ayolah ikut Papa.."
Sang Ayah yang ternyata Thomas, mengulurkan tangannya pada Nathan, pria itu sempat ragu, tetapi ajakan dan bujukan ayahnya begitu meyakinkan.
"Papa kesepian nak, ayo ikut Papa, Papa berjanji tidak akan pergi lagi dan akan menemani mu seperti saat kau menahan Papa untuk pergi dari rumah."
Wajah Nathan berbinar cerah, lalu ia mengulurkan tangannya dan menerima uluran tangan sang Ayah. Thomas tersenyum sumringah dan memeluk tubuh Nathan.
"Ayo Nak kita pergi dari sini!
"KAK NATHAN TUNGGU!!!!!
Nathan yang sudah berjalan beberapa langkah berhenti dan menoleh ke belakang "ALEA, APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!
"PULANG LAH KAK! KAKAK BELUM WAKTUNYA PERGI, KAK NATHAN HARUS KEMBALI, INGAT JANJI KAK NATHAN PADAKU AKAN MENJAGA KU DAN MENCINTAI KU SELAMANYA!"
"Ayo Nak kita pergi dari sini, jangan hiraukan wanita itu! Thomas merangkul pundak sang anak. Seperti terkena hipnotis Nathan memutar tubuhnya dan mengikuti langkah Thomas.
"KAK NATHAN JANGAN PERGIIII!
Namun kali ini Nathan tidak perduli dengan teriakan Vana, ia terus dan menjauh. Vana seperti kehabisan akal dan tidak dapat membujuk Pria itu. Tidak ingin kehilangan pria yang sudah banyak menolong dirinya, akhirnya Vana mengungkapkan perasaan hatinya.
"KAK NATHAN AKU MENCINTAI MU!!!
"Gelegar!
Seperti di sambar petir mendengar perasaan Vana yang sesungguhnya. Nathan berhenti dan melepaskan tangan sang Ayah.
"Nathan, ayo nak. sebentar lagi kita akan sampai dan masuk kedalam gerbang itu." tunjuk Thomas, sebuah gerbang besar yang pintunya terbuat dari perak.
Nathan menggeleng cepat "Tidak Pah, Nathan akan kembali pada cinta sejati ku, dia sedang menunggu Nathan disana."
Nathan berjalan mundur dan meninggalkan sang Ayah yang terus berteriak untuk kembali padanya. Nathan memutar tubuhnya dan melangkah dengan cepat meninggalkan tempat asing baginya. Tubuhnya seperti ada yang menarik paksa hingga sebuah cahaya putih menerpa bola matanya.
"KAK NATHAN BANGUN KAK!! suara isakan tangisan Vana terdengar pilu di depan wajah Nathan. Pria tampan bermata biru itu dengan perlahan membuka matanya. Ia melihat wajah cantik wanita nya sedang menangis.
"ALEA...." Suara Nathan terdengar pelan nyaris tak terdengar, tenggorakan Nathan seakan tercekat dan sulit untuk berbicara.
"Kak Nathan, kau selamat! Vana berhambur memeluk tubuh Nathan yang masih berada di bawah aspal sambil terisak. Nathan pun tidak tersadar dari kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Yang ia tahu seseorang ingin menembak batok kepalanya, ia pikir dirinya sudah tidak ada di dunia lagi.
"AKU SANGAT MENCINTAI MU KAK, JANGAN PERNAH TINGGALKAN AKU! hiks..
Nathan mengusap lembut kepala Vana walaupun dengan susah payah, karena tubuhnya tiba-tiba terasa kaku. "AKUPUN SANGAT MENCINTAI MU ALEA..."
"Zee!!!!
Vana mendongakkan kepalanya dan menatap wajah sang Daddy penuh amarah, ia bangun dan mengurai dari pelukan Nathan.
"APA MAU DADDY SEKARANG! BILA INGIN MENGHABISI KAK NATHAN, HABISI JUGA AKU!!! teriak Vana menantang sang Daddy.
Kedua tangan Reno terkepal kuat dan tak percaya dengan sikap anak gadisnya yang membangkang. "BERANI KAU BICARA SEPERTI ITU PADA DADDY MU!" teriak Reno tak kalah sengit.
"DADDY YANG MEMULAI SEMUA INI! MANA JANJI DADDY UNTUK MEMAAFKAN DAN TIDAK AKAN MENYAKITI KAK NATHAN LAGI! TERNYATA DADDY SEORANG MUNAFIK!!
"CUKUP ZEE!!! bentak Reno yang amarahnya sudah meletup-letup.
Vana yang tidak ingin kecolongan lagi menarik pelatuknya dan mengarahkan pada sang Daddy "BIARKAN ZEE PERGI DAD! BIARKAN ZEE PERGI BERSAMA PRIA YANG ZEE CINTAI!!! Pekik Vana dengan nafas tersengal.
"TIDAK AKAN DADDY BIARKAN KAU PERGI, APALAGI BERSAMA ANAK DARI THOMAS!"
"BAIKLAH BERARTI DADDY MEMILIH AKU MENGAKHIRI HIDUP KU! PILIHAN DADDY HANYA ADA DUA! MEMBIARKAN AKU PERGI BERSAMA KAK NATHAN, ATAU AKU AKAN MENGAKHIRI HIDUP KU SENDIRI DI DEPAN DADDY! teriak Vana seraya menodongkan pistol ke kening nya sendiri.
Seketika mata Reno terbelalak sempurna saat melihat sendiri aksi nekad sang anak, demi membela pria yang sudah banyak berkorban untuknya.
๐๐๐๐
@Bagaimana melihat reaksi para readers setelah membaca kenekatan Vana demi sang kekasih dan berani menentang sang Daddy. Terus ikuti kelanjutan dan keseruan nya yang membuat jantung para readers berpacu seperti menaiki Rollercoaster๐๐๐
Bab nya lebih panjang, yuk dukung karya Bunda dengan cara LIKE, VOTE/GIFT, RATE BINTANG 5 DAN komentar kalian๐