
"Baiklah, cepat urus mereka berdua, mereka harus selamat biar kita bisa mengorek informasi dari mereka." ujar Nathan
Deg!
Vana yang tujuannya mau ke kamar mendengarkan percakapan Nathan dan Alvin. Vana merutuki dirinya sendiri, Bodohnya Ia melupakan sesuatu, bagaimana bila suster Anna dan suster Lena bangun dari pingsannya, sudah pasti ia akan membongkar semuanya dan dirinya akan ketahuan kalau dialah yang sudah menganiaya kedua suster tersebut.
Akhirnya Vana tersenyum licik "Baiklah, aku akan mendatangi mereka dan memberi sedikit ancaman bila mereka bersuara, salah sendri kenapa mereka membangun kan macan tidur. Tetapi ada bagusnya mereka membuat onar, karena mereka aku bisa berjalan lagi." Vana melanjutkan mendorong kursi roda dan masuk kedalam kamar. setelah Vana mengunci pintu dari dalam, ia melompat keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk.
Vana menatap langit-langit sambil berpikir "Baik lah Nathan, aku akan ikuti permainan mu. Bila saat nya tiba aku akan tunjukkan kalau aku sudah tidak lumpuh lagi! Vana menyeringai.
"Aku harus tahu, apa bener suster Lena punya hubungan spesial dengan Nathan! tapi sejak kapan? Apa saat belum datang kehadiran ku? Huft! Vana membuang nafas kasar
"Mommy, Daddy, Kak Vano, Savira, Zidan! sedang apa kalian di sana? aku sangat merindukan kalian." tak terasa butiran air menetes dari sudut matanya.
"Zidane! hiks.. hiks.. dimana sekarang kau Dek? sampai sekarang kakak belum tahu keberadaan mu, apakah kau baik-baik saja disana, atau..." Vana tak berani meneruskan ucapannya.
"Mommy, Daddy..." ma'afkan Vana, seringkali aku buat kalian kecewa. Sebenarnya aku takut pulang dan kalian akan marah padaku, karena aku lah penyebab adikku menghilang! hiks... hiks... Vana memiringkan tubuhnya, ia terus menangis terisak bersama tubuhnya yang terguncang.
"Kak Zee...."
Vana yang sedang berbaring menajamkan pendengarannya dan bangun terduduk.
"Kak Zee, Zidan disini! pekik bocah berusia 12 tahun itu.
"Zii! kau kah itu?! Vana bangun dari tidurnya dan berlari kearah jendela, lalu membuka gorden. Alangkah terkejutnya Vana, melihat sang adik berdiri diluar jendela seraya melambaikan tangannya.
"Kak Zee... ayo kita pulang, mommy, Daddy dan kak Vano merindukan kakak."
"Iya sayang kakak akan pulang! Vana mengangguk seraya mengusap airmatanya yang berjatuhan.
Vana membuka pintu kamar lalu berlari ke arah Pintu utama, tidak ada siapapun di villa itu, ia mencari keberadaan Nathan dan Alvin namun tidak ada batang hidungnya di ruangan itu.
Handle pintu sudah terbuka, wanita tinggi semampai itu berlari keluar villa dan melihat Zidan masih berdiri menunggu sang kakak datang.
"Zidane!!!! pekik Vana.
"Kak Zee!!!
Mereka berdua saling berpelukan, Vana menciumi sang adik bertubi-tubi. "Kakak sangat rindu padamu Dek! Vana mengurai pelukan nya dan menelisik tubuh sang adik dari atas sambil bawah.
"Sekarang kau kurusan dek, apa penjahat-penjahat itu tidak memberikan mu makan? tanya Vana prihatin.
Zidane bergeming tanpa berbicara, dari sorot matanya terlihat kesedihan yang mendalam.
"Kenapa kakak tidak pulang? kenapa kak Zee tinggalkan kami semua." ucap Zidan parau, terdengar suara isakan dari bibir Zidan.
Vana menatap Zidane sambil mengusap airmata sang adik "Ma'afkan kak Zee, Kak Zee pergi karena telah menyebabkan kau di culik, ma'afkan kakak!" hiks.. hiks.. Vana menarik Zidane dalam pelukannya.
"Ayo kak kita pulang! Zidane menarik tangan Vana.
"Kakak akan pulang, tapi tidak sekarang Dek. Bila sudah waktunya kakak pasti pulang."
"Kakak jahat! kenapa kak Zee nggak mau pulang! apa kakak nggak sayang sama mommy, Daddy, Kak Vano dan kak Vira!"
Vana gelengkan kepala "Kakak sangat sayang pada kalian, kakak pasti akan pulang."
"Kakak harus pulang sekarang! teriak Zidane, seraya menarik tangan Vana. Tak ingin mengecewakan sang adik akhirnya Vana mengikuti langkah Zidane.
Saat mereka berjalan menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu Pinus. Tiba-tiba seseorang menarik tangan Zidane. Sontak Zidane menjerit dan ketakutan.
"Kak Zee, tolong Zidane!!!
"Zidane!!!!!
"Kakak, jangan tinggalkan Zii...!!! teriak Zidan dan terus berontak, seseorang terus menarik kasar tangan Zidane hingga menjauh.
"Kak... Zee...!!
"Zidane tolong lepaskan adikku, jangan bawa adikku pergi!!! Vana berusaha ingin mengejar sang adik, namun sayang. kakinya tidak bisa di gerakan. Vana berusaha melangkah tetapi tubuhnya terjatuh.
"BRUKK!!!
"ZIDANE!!!!!
"Alea...!!
Nathan dan Alvin yang sudah mendobrak pintu kamar, terkejut saat melihat Vana terjatuh di lantai.
"Lea! kau tidak apa-apa? buru-buru Nathan mengangkat tubuh Vana dan membaringkan nya diatas ranjang dengan hati-hati.
"Apa ada yang sakit, hmm.." tanya Nathan
Alih-alih bertanya, Vana terus menangis terisak "Hiks.. hiks.. hiks... Zidane!!!
"Hah.." Nathan menghembuskan nafas lega.
"Ya sudah aku keluar dulu, kalau ada apa-apa bilang saja." ujar Alvin melangkah pergi
Nathan mengangguk, lalu duduk di samping Vana yang sedang terduduk "Kau tadi berteriak-teriak, aku takut terjadi apa-apa dengan mu. Maaf, Aku dan Alvin mendobrak pintu kamar." ucap Nathan, namun Vana tidak merespon nya, ia terus menangis terisak.
"Alea..." Nathan mengusap lembut telapak tangan wanita di sampingnya. "Tadi kau mengigau, apa tadi kau sedang bermimpi?" tanya Nathan lagi, ia begitu penasaran.
Vana menatap kedepan dengan tatapan kosong, mengalihkan pandangannya pada Nathan dan menatap tajam bersamaan air mata yang terus berjatuhan.
"Semua ini karena mu!!! teriak Vana seraya menarik tangannya dari genggaman Nathan. "Apa belum puas kau menyakiti ku? nafas Vana tersengal, dadanya turun naik. "Kenapa kau tega memisahkan aku dari keluargaku!" bentak Vana, tidak ada lagi perasan dan tatapan cinta yang dulu pernah Vana rasakan. Hatinya begitu sakit, bahkan semua kebaikan dan pengorbanan Nathan tiada artinya.
Nathan mengangguk dengan mata berembun "Kau benar, aku telah banyak menyakiti mu. Aku pria brengsek yang terus menyusahkan dirimu." Nathan menarik nafas dalam dan menghirup nya sebanyak mungkin.
"Semua ini salahku. Aku tahu sudah tidak ada lagi rasa cinta yang pernah kau berikan dulu. Aku tahu Alea kau sudah pergi terlalu jauh, hingga aku tak bisa menggapainya. Percuma aku pertahankan bila kau tersakiti." Nathan mendongakkan wajahnya ke langit-langit agar airmatanya tidak jatuh. Ia tidak ingin harga dirinya jatuh di depan Vana dengan meneteskan airmata dan takut kehilangannya. Ia akui kalau dirinya terlalu bucin hingga ia berani menculik wanita yang selalu ia rindukan, dan ia berharap Vana akan kembali padanya menjalin hubungan lebih serius
Nathan beranjak dari duduknya dan berdiri dengan kedua tangan di lipat. Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan agar rasa sakitnya berkurang.
"Baiklah Alea, bila kau ingin pulang, aku akan kembali kan dirimu pada mommy dan Daddy mu. Aku sendiri yang akan mengantarkan pulang."
Vana menoleh kearah Nathan dan menatap haru, entahlah kenapa sekarang dirinya begitu sakit mendengar Nathan akan melepaskan dirinya, bukankah seharusnya ia senang dan bisa kembali lagi pada keluarga nya.
"Kau tidak perlu mengantarkan ku pada mommy dan Daddy, cukup kembalikan aku pada mamiku Davina dan papiku Robert."
Nathan menggeleng cepat "Tidak! aku yang bertanggung jawab pada keluargamu. Aku yang telah menculikmu dan membuat kekacauan ini. Aku sendiri akan kembalikan dirimu. Aku bukanlah laki-laki pengecut sekalipun Ayahmu nanti akan membunuhku! ucap Nathan tegas, tidak ada lagi kata-kata lembut yang biasa ia ucapkan.
"Tadinya aku berniat kembalikan dirimu saat kau sudah bisa berjalan, dan kehadiran ku sebagai penyemangat hidup mu, tetapi nyatanya tidak! Aku yang terlalu percaya diri dan menilai mu akan senang berada di sisiku. seharusnya kita saling melengkapi bukan saling menyakiti."
Vana bergeming, hatinya bagai di hantam batu karang yang berat. Lalu ia bertanya pada dirinya sendiri "Apakah sikapnya selama ini salah? padahal Nathan sudah banyak berkorban dan bersikap baik padanya, selama di villa, tidak sedikitpun ia marah apa lagi berbuat kasar.
"Sekali lagi aku minta maaf karena telah menyakiti dan melukai hatimu. Besok akan aku siapkan keberangkatan ke Jakarta."
Deg!
Hati Vana berdenyut nyeri, ia hanya bisa terdiam tanpa keluar satu Katapun. Sehingga Nathan melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.
"Hiks.. hiks.. Vana menangis setelah kepergian Nathan dan punggung lebar Nya menghilang dari pandangannya. Vana membenamkan wajahnya di lutut.
"Kak Nathan ma'afkan aku?' hiks.. hiks..
💜💜💜💜