Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Mengambil keputusan


Itulah kebodohan mu! bahkan musuh di depan saja tidak menyadari! tetap saja kelurga mu bersalah karena telah membuat Savira trauma dan kesuciannya hampir terenggut. kelurga kami akan menuntut kalian dan satu lagi, Savira dalam kondisi mengenaskan." seru Kelvin yang sudah mengetahui tentang kondisi Savira dan kejadian yang berada di mansion.


Netra Vano membesar sempurna, ia lupa kalau Kelvin sudah melacak kehidupan keluarga besarnya, sudah pasti ancaman berpihak pada keluarganya yang memiliki rahasia besar tentang Genk mafia milik sang Daddy.


"Tidak semudah itu kalian ingin menuntut kami! kami sudah melakukan yang terbaik untuk Savira, dengan menjadikan nya adik angkat dan kedua orang tua kami tidak pernah membedakan kasih sayangnya pada kami berempat." hardik Vano tak terima.


Jeglek!


Suara pintu terbuka lebar masuk seorang suster mendorong kursi roda yang diatasnya duduk wanita berwajah cantik meskipun di usianya tak yang terlihat muda lagi, Namun kharisma di wajahnya menggambarkan sosok wanita yang lembut dan penyayang.


"Mommy..?"


Vano berjalan cepat dan menghampiri sang mommy yang berada di kursi roda. "Kenapa mommy kesini, bukankah tadi mommy pingsan."


Mommy tidak tega meninggalkan Savira. Mommy tidak ingin jauh darinya."


"Delena..."


Seorang wanita sudah sepuh memanggil namanya dengan suara bergetar. Delena menoleh kearah suara itu, alangkah terkejutnya Delena saat melihat sosok wanita tua yang sebagian rambutnya berubah putih. ia beranjak dari kursi roda dan berjalan mendekati wanita paruh baya itu.


"Ibu...?! panggil Delena dengan suara tercekat.


"Kau benar Delena?" wanita itu meraba-raba Wajah Delena dengan tatapan nanar, Delena mengangguk "Iya bu, saya Delena, sahabatnya Robby dan Alisya, kedua orang tua Savira."


"De-le-na.." hiks.. hiks..


Mereka saling berpelukan dan menangis haru di saksikan orang-orang yang berada di dalam ruangan. Suara tangisan wanita sepuh itu terdengar lirih. Tak henti-hentinya wanita sepuh itu menangis dan memanggil nama sang anak yang sudah meninggal.


Setelah puas saling berpelukan, mereka mengurai pelukannya, Delena duduk di samping wanita tua itu yang tak lain ibu kandung Robby.


"Bagaimana ibu bisa ada disini?! tanya Delena bingung. Apalagi wanita sepuh itu ingatannya masih kuat pada Delena yang pernah di ajak Robby kerumah nya saat kuliah di Surabaya. Delena tahu kalau Robby bukan dari kelurga biasa-biasa saja, yang Delena tahu ayahnya pemilik perusahaan batu bara di Kalimantan.


"Ceritanya panjang nak, bertahun-tahun ibu mencari cucuku anak kandung Robby, sekarang ibu tahu kalau kau yang sudah menjaga Savira."


"Tetap saja kelurga mereka bersalah Nek, selama bertahun-tahun tidak membiarkan Savira mengetahui kelurganya. Mereka benar-benar keterlaluan, sekarang lihat! Savira terkapar di ranjang tanpa bisa apa-apa!" Kelvin mulai membuka suara kembali, dan menyudutkan kelurga Reno.


"Hey! hati-hati kalau bicara! kau jangan seenaknya asal ngomong! kau pikir keluarga kami kriminal, mommy dan Daddy sudah berusaha mencari kelurga Savira, namun tidak ada kabar sampai sekarang, baru saja ada yang mengakui hari ini! sindir Vano, langsung menatap tajam pada Kelvin.


"Brengsek! kau pikir kami berbohong! Kelvin yang mulai ingin mendekati Vano, di tarik tangannya oleh Ayah Kelvin. "Sudah Nak, jangan ribut lagi!" bisik sang ayah.


"Heh! kau bisa lihat sendiri, ibumu saja kenal dengan nenek ku! kau masih tidak percaya?!


"Kalau kau sudah tahu Savira bukan kelurga kami, kenapa dulu kau berpura-pura untuk bekerja sama dengan perusahaan ku, kau tidak jujur dari awal, kalau memang Savira masih kelurga mu kenapa tidak berterus terang saja!"


"Kau memang licik Kelvin! mencari kesalahan pada Keluarga kami!"


"Semua itu benar bukan? kenapa kalian tidak mau mengakui kesalahan! sadar kelurga egois!!"


Vano mulai terbakar emosi kembali, dengan cepat menarik kerah baju Kelvin "Kau dari tadi selalu menguji kesabaran ku berengsek!" teriak Vano, saat ingin memukul wajah Kelvin Delena berteriak.


"Hentikan Vano!


"Sudah cukup! pekik Delena


Vano bergeming dengan tangan mengepal kuat yang sudah di depan wajah Kelvin dan siap merontokkan giginya.


Frans menepuk pundak Vano, untuk melepaskan Kelvin. Vano akhirnya melepaskan kerah baju Kelvin yang hampir tercekik lehernya. "Hari ini kau bebas karena mommy ku, lain kali tidak akan aku biarkan kau lepas." ancamnya dengan tatapan menghunus.


"Sekarang kita selesaikan masalah ini, kalau kita berdebat terus tidak akan ada habisnya. kasihan ibu saya yang sudah tua." Ronny mulai bersuara.


"Baiklah, kita selesaikan masalah Savira Sekarang. untuk urusan Savira sebaiknya kita serahkan pada kakak ipar ku kak Delena, dia yang berhak memutuskan, karena selama ini kak Delena lah yang merawat Savira sejak usia 12 tahun sampai usia Savira 20 tahun." ujar Frans bijaksana.


Ronny mengangguk dan beralih pada ibu kandungnya "Bagaimana bu? apa sebaiknya kita bicarakan baik-baik dulu pada Mbak Delena, karena beliau juga sudah berjasa menjaga Savira." ucap Ronny ingin mengakhiri perdebatan.


Ibu Marni, orang tua dari Robby dan Ronny hanya mengangguk setuju.


"Sekarang ibu bicara dengan Mbak Delena, kita harus nunggu keputusan dari Mbak Delena."


Bu Marni menggenggam tangan Delena dan mengusap punggung tangannya lembut "Nak, kau tahu bukan? ibu sangat menyayangi Robby, anak bungsu yang manja sama ibunya. Sekarang anak dan mantu ku telah pergi untuk selamanya." Bu Marni mengusap airmatanya yang terus berjatuhan "Semua ini salah ibu dan Papanya Robby yang menentang menikahi Alisya. Papanya ingin Robby meneruskan sekolah S2 nya di London, agar bisa meneruskan perusahaan papa nya yang sedang berkembang, Tetapi Robby memilih pergi dari rumah dan menikahi Alisya sahabatnya sendiri."


"Ma'afkan aku bu, Dena juga tidak tahu kalau akhirnya Robby menikah dengan Alissya. kami putus komunikasi setalah aku menikah dan mengurus anak kembar ku. Tanpa sengaja kami bertemu lagi di akun sosmed dan akhirnya aku tahu kalau Robby dan Alissya sudah menikah dan memiliki satu anak gadis, yaitu Savira. Setelah berbincang di telepon, mereka yang tinggal di luar daerah mengunjungi aku di Jakarta." Delena menarik nafasnya dalam, ia mulai meneteskan airmata dan teringat kejadian yang akhirnya merengut nyawa kedua sahabatnya. "Mereka menginap dirumah ku dua malam. Dan ternyata dua hari itu hari terakhir perpisahan kami. Sebelum masuk kedalam mobil, malam naas itu Alissya berkata "Jaga anakku Savira, Savira anak mu juga. Sama halnya Vano dan Vana anak-anak ku." setelah itu kami berpelukan untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak tahu kalau itu sebuah firasat, kalau kedua sahabat ku akan pergi untuk selamanya." hiks.. hiks.. Delena tertunduk sedih dengan airmata terus berjatuhan. Bu Marni ikut menangis terisak, Ronny memeluk sang ibu yang terlihat rapuh. penyesalan selalu datang terlambat.


"Mommy tidak apa-apa? tanya Vano yang sudah berdiri di samping sang mommy seraya mengusap punggungnya.


"Sudah Bu jangan di ingatkan lagi, ini sudah takdir Robby, dia sudah memilih jalannya. Sekarang ada Savira cucu ibu yang akan meneruskan perusahaan milik Robby. sesuai surat wasiat Papa yang terakhir sebelum meninggal."


"Tetapi Savira...." hiks.. hiks... "Keadaannya juga sangat memprihatinkan."


"Ma'afkan kelurga kami Bu, sungguh kami tidak pernah tahu akhirnya akan seperti ini kejadiannya. Kami semua sangat menyayangi Savira."


"Bohong! sudahi sandiwara kalian! kalau kalian menyayangi Savira, tidak akan membuatnya menderita dan sampai ingin bunuh diri!" pekik Kelvin masih terus tersulut emosi.


Vano yang mulai habis kesabaran, ingin kembali mendekat, namun Delena menarik tangan anaknya, lalu gelengkan kepala dan menatap Vano, seakan memberikan isyarat agar tak usah meladeni.


"Kau selalu saja membuat keributan dan ingin mencari gara-gara. Lebih baik kau keluar saja bersama ku! Frans mulai terlihat geram dengan sikap Kelvin yang arogan. Dengan cepat ia menarik tangan Kelvin untuk keluar dari ruangan itu. "Kau teruskan bicara dengan kakak ipar ku, anakmu biar bersama ku! seru Frans dan melangkah pergi sambil menarik kasar tangan Kelvin.


"Jangan seenaknya main tarik-tarik saja, kau pikir aku tambang!" seru Kelvin dan menghilang di balik pintu bersama Frans.


Setelah drama Kelvin, Bu Marni kembali menatap Delena dan berkata "Delena, ibu mohon padamu. untuk membawa Savira pulang, sebagai ganti anakku Robby yang sudah tiada."


Deg! seketika hati Vano menclos.


Delena tampak syok dan langsung bergeming. Hatinya berdenyut kencang, terdengar nafasnya yang mulai tidak teratur, satu tangannya menekan dadanya yang terasa nyeri. Melihat kondisi sang mommy yang tidak baik-baik saja. Vano merangkulnya.


"Mommy? apa ada yang sakit?!" tanya Vano khawatir. Akhirnya Delena menarik nafas sebanyak mungkin dan gelengkan kepala "Mommy tidak apa-apa sayang. hanya sedikit lelah." keluh nya seraya memijit keningnya yang berdenyut-denyut.


"Bagaimana nak, ibu mohon padamu. Ibu tahu kau yang telah menyelamatkan Savira dan membesarkan nya. Tetapi kami adalah kelurga kandung Savira, kami berhak mengambil kembali cucu ibu."


"Tolong bu, jangan tekan mommy. Kelurga kami sedang mengalami musibah dan banyak masalah." setelah berbicara, Vano membuang nafas kasar.


"Tapi Nak, saya ini nenek nya Savira yang sudah bertahun-tahun mencari nya."


Ceklek!


Suara pintu terbuka, masuk seorang pria yang sejak tadi di tunggu kedatangannya.


"Daddy! sapa Vano berjalan kearah pria gagah didepannya dan mencium punggung tangannya.


Delena menoleh sang suami, lalu mengalihkan pandangan nya. Reno berjalan kearah sofa dan duduk di samping sang istri.


"Ada apa Vano menghubungi ku? tanyanya pada sang istri. Namun Delena masih bungkam. Reno menatap satu persatu yang berada di ruangan tersebut "Kenapa kalian semua terdiam?" tanya Reno mengeryitkan keningnya.


"Hmm.. Dad! perkenalkan ini Bu Marni, nenek nya Savira dan ini pak Ronny Paman nya Savira." kata Vano mulai mengenal kan dua orang di depannya.


Wajah Reno berubah masam dan kening nya semakin banyak kerutan "Apa yang kau katakan benar? atau mereka hanya mengaku-ngaku saja." tukas Reno tak percaya.


"Khm! maaf saya angkat bicara. Saya Ronny kakak kandung dari Robby, ayahnya Savira. kebetulan sekali saya bertemu dengan Tuan Reno selaku Ayah angkat dari Savira. Jadi saya datang kemari ingin membawa keponakan saya pulang seperti yang sudah saya sampaikan pada Mbak Delena. Dan saya juga membawa pengacara saya untuk menjembatani antara kelurga saya dengan kelurga Tuan Reno." ucap Ronny dengan rasa hormat, Sebab ia juga seorang pengusaha, dan tahu betul siapa Reno Mahesa.


Reno menarik nafas dalam-dalam dan mendengarkan dengan seksama, Namun wajah dinginnya tidak bisa di baca. Reno belum memberikan keputusan ada jawaban apa-apa, ia beranjak dari duduknya dan berjalan kearah ranjang Savira. Menatap wajah anak angkatnya dan mengusap lembut kepala Savira "Nak, ada apa dengan dirimu? kenapa kau berbuat nekad? sungguh Daddy sangat sedih melihat kondisi mu seperti ini." Reno berbicara hanya dalam hati, netra nya berembun, Reno menahan sesak di dadanya. Rupanya Reno sudah tahu nasib Savira dari Dokter Agung, hingga Savira nekad ingin bunuh diri, sebab kehilangan sosok Dev.


"Apa kondisi Savira bisa kembali normal?! tanyanya pada Dr Agung yang masih berada di samping ranjang Savira. Dr Agung dan Dr Irwan masih memasang alat-alat medis di seluruh tubuhnya.


Kini Bu Marni dan Ronny ikut mendekat, di susul Delena dan Vano. Mereka masih ingin melihat kondisi Savira yang belum sadarkan juga.


"Dokter Agung, bicara lah tentang kondisi Savira. Kami akan mendengar dan mencari seluosi untuk kesembuhan Savira." ucap Reno tegas.


Dokter Agung mengangguk "Baiklah, karena semua kelurga sudah berkumpul, saya akan mulai menerangkan. Perkenalkan nama saya Dr Agung Prasetyo selaku dokter yang menangani Nona Savira. dan sobat di samping saya Dr Irwan Prayitno juga ikut menangani kondisi Savira." Dr Agung membetulkan kacamata nya yang di rasa kurang pas.


"Setelah kami periksa keseluruhan kondisi Savira. Kecil kemungkinan hidupnya akan bertahan lebih lama."


"Apa?! Bu Marni terkejut sambil membekap mulutnya tak percaya.


"Nona Savira masih bisa bertahan hanya tinggal 20%, kecil harapan untuk kembali normal. Ia masih bisa bertahan saat ini karena di bantu dengan alat-alat medis yang canggih. Namun bisa saja keajaiban itu akan datang. Karena saya hanya seorang Dokter yang melihat dan menangani langsung kondisi pasien, dan selebihnya urusan Allah."


Bu Marni menangis sesenggukan, Ronny pun ikut meneteskan airmata dan memeluk sang ibu untuk memberikan kekuatan. Sementara Delena dan Vano sudah tahu tentang kondisi Savira sebelum Marni dan Ronny. Delena ikut menangis dalam pelukan Vano.


Reno yang melihat sang istri dalam kondisi syok, menarik tubuh Delena dari pelukan Vano, lalu memberikan pelukan hangat dan kekuatan. "Sabar ya sayang, kelurga kita sedang di uji. kita pasti bisa melewati ini semua." ucap Reno lembut seraya mengusap kepala sang istri dan mencium nya.


"Hiks.. hiks... Aku tidak mau kehilangan Savira, dia anak yang baik dan lugu. Aku akan merasa bersalah pada Robby dan Alissya." Delena menangis terisak di dada bidang suaminya. Reno mendongak kan kepalanya agar airmatanya tidak terjatuh, seraya menahan sesak di dadanya. kini pelukan Reno semakin erat, memberikan kekuatan pada sang istri.


(Bunda bocorin, besok episode Nathan dan Vana.. Terus dukung karya Bunda ya sayang 🥰🥰🥰)


💜💜💜


BERSAMBUNG_____"