Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Kepergian Savira


Reno yang melihat sang istri dalam kondisi syok, menarik tubuh Delena dari pelukan Vano, lalu memberikan pelukan hangat dan kekuatan. "Sabar ya sayang, kelurga kita sedang di uji. kita pasti bisa melewati ini semua." ucap Reno lembut seraya mengusap kepala sang istri dan mencium nya.


"Hiks.. hiks... Aku tidak mau kehilangan Savira, dia anak yang baik dan lugu. Aku akan merasa bersalah pada Robby dan Alissya." Delena menangis terisak di dada bidang suaminya. Reno mendongak kan kepalanya agar airmatanya tidak terjatuh, seraya menahan sesak di dadanya. kini pelukan Reno semakin erat, memberikan kekuatan pada sang istri.


"Kami tetap akan membawa keponakan kami Savira pulang." suara Ronny memecah keheningan yang sempat tercipta di ruangan kamar Savira.


Antesi Reno beralih pada Pria tinggi kurus di samping ranjang dan masih merangkul sang ibu yang terlihat syok.


Reno mengurai pelukannya dan mengusap air mata Delena yang masih berjatuhan. "Sudah cukup tangisannya, kasihan anak-anak kita bila kedua orang tuanya bersedih."


Delena menarik nafas dalam-dalam, dan menahan getir di hatinya.


"Kami sebagai kelurga besar Robby sangat berterima kasih pada Mba Delena dan Tuan Reno yang telah mengurus dan membesarkan keponakan saya dengan baik. Biarlah sekarang tugas kami yang mengurus anak dari adik saya yang sudah meninggal. Hanyalah Savira sebagai penerus ayahnya Robby."


Reno menatap dalam manik mata Ronny "Apa kau yakin bisa menyembuhkan kondisi Savira saat ini? kau sudah dengar dari Dokter Agung bukan? kalau Savira masih bisa bertahan hanya 20%. selebihnya kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti."


"Izinkan saya membawa cucu saya pulang, nak? biar lah ibu yang akan mengurus Savira. Masalah hidup dan mati seseorang adalah urusan Tuhan, kami selaku kelurga nya hanya ingin dekat dengan cucu saya." Bu Marni mengusap-usap wajahnya yang terus menetes kan airmata.


Reno yang melihat wanita sepuh itu merasa iba. Delena menatap sang suami seakan meminta jawaban atas keinginan mereka. Mereka saling bersitatap, Reno mengangguk kecil pada sang istri sebagai jawabannya.


Delena menghempaskan nafas kasar dan berjalan mendekat kearah wanita tua itu, lalu di genggam nya dengan lembut "Apa ibu yakin ingin membawa Savira pulang? sementara keadaanya sedang tidak baik-baik saja. Jujur saya merasa sangat bersalah bila membawa Savira pulang dalam kondisi memprihatinkan."


"Justru ibu yang berterima kasih, karena kau telah membesarkan dan merawat Savira sampai saat ini. Ibu tidak akan menuntut apa-apa, yang ibu inginkan hanya dekat dengan cucu ibu setiap hari."


Delena memahami perasaan ibu dari Robby. Sudah pasti ia sangat merindukan cucu yang telah lama menghilang. Kehilangan Robby telah membuatnya frustasi, kini masih ada Savira pengganti sang Ayah. Namun sayang Marni menemukan sang cucu dalam kondisi yang memprihatinkan.


"Baiklah aku dan suamiku izin kan ibu membawa pulang Savira, tetapi kami akan tetap meminta satu ruangan khusus untuk perawatan Savira, karena ia masih bisa bertahan dengan alat-alat medis. Setiap hari akan ada dokter yang datang untuk melihat perkembangan Savira dan saya juga akan menaruh dua orang perawat untuk menjaga Savira."


Ronny dan Bu Marini mengangguk setuju, ada binar kebahagiaan di raut wajah sendu itu. Sementara Vano yang mendengar keputusan mommy dan Daddynya hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.


"Baiklah, kami akan persiapkan segalanya untuk membawa Savira kerumah ibu." tutur Delena, walau ia berkata dengan berat hati dan tak rela. Bagaimana tidak? 9 tahun Savira hidup bersama keluarga nya, dan berbagi suka maupun duka. Hari ini Delena harus melepaskan Savira, gadis cantik yang penurut dan kembali pada kelurganya.


"Terima kasih banyak Nak, ibu berhutang budi padamu." Bu Marni memeluk kembali Delena, lalu mengurai pelukannya.


Delena mendekati ranjang Savira dan menetapkan dengan airmata yang kembali berderai. Reno merangkul sang istri dan mengusap lembut punggung nya.


"Savira, ma'afkan mommy.. hiks.. hiks.. mommy sayang padamu Nak. mommy harap kau kembali pulih di tengah-tengah keluarga mu." sekali lagi Delena menciumi kening dan kedua pipi Savira, seakan tidak rela harus berpisah.


"Sudah ya sayang. kau perlu istirahat. kondisi tubuhnya mu juga sedang tidak baik." Reno memapah Delena keluar dari ruangan Savira untuk menuju ruangan private setelah berpamitan pada Bu Marni dan Ronny.


Vano berusaha tegar dan tidak meneteskan air mata, dikala potongan-potongan puzzle tentang gadis manja itu berseliweran di kepalanya. "Dek, ma'afkan kak Vano, telah membuat mu terluka dengan sikap kakak selama ini. Kakak sengaja melakukan itu semua agar kita tidak terjerumus terlalu dalam dengan pusaran cinta. kakak menjauhi mu karena tidak ingin sekolah mu terganggu, kala kau masih duduk di bangku SMA. Kakak telah berusaha membunuh perasaan kakak sendiri, agar tidak terlalu jauh mencintai mu dengan cara tidak perduli padamu dan bersikap acuh, dengan harapan kau akan membenci ku, dan itu berhasil. Aku telah melukai mu dan kau balik membenciku" Vano mengusap airmatanya yang mulai berjatuhan


"Savira... Aku sangat mencintaimu." ucapnya dalam hati, ya .. Vano mengatakan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Menggenggam erat tangan Savira sebagai perpisahan terakhir. Vano membuang nafas panjang "Kau harus kuat dek. sesungguhnya kakak tidak rela harus berpisah dengan mu, Namun demi kebaikan mu dan keputusan mommy dan Daddy, aku tidak berhak menahan mu. Tapi percayalah, di dalam hati." Vano menekan dadanya seakan Savira melihatnya "Hanya ada namamu Dek, berjanjilah padaku untuk bangkit dan berjuang. Aku akan selalu menunggu mu kembali." Vano menarik nafas dalam-dalam setelah hatinya lega. Mencium kening Savira sedang penuh Cinta.


"Ahh, Apakah selama ini Vano bodoh telah menyakiti wanita yang ia cintai dengan cara menghadirkan bela dalam hidupnya. Dan apakah Savira mendengar kata-kata Cinta yang Vano ucapkan?


Pintu kamar terbuka lebar, beberapa petugas medis masuk membawa brankar bersama dua Dokter proporsional. Dokter yang ahli di bidangnya dan sudah terbukti kualitas kerjanya, Dokter Agung dan Irwan adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit PELITA, sudah banyak dokter-dokter disana memberikan kehidupan baru setelah pasien mengalami drop atau koma.


"Tuan muda!" sapa Dr Agung, ia menepuk pundak Vano, Vano yang masih terdiam di samping Savira, hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap wajah gadis didepannya, dan berharap Savira bangun sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.


"Sudah saatnya kami harus membawa Savira kediaman keluarga Pak Ronny." Dr Agung mengingatkan.


Vano mengangguk "Persiapkan segala kebutuhan nya, jangan sampai adikku tidak nyaman saat berada di tempat orang asing."


Dokter Agung hanya mengangguk sebagai respon dan memulai aktivitasnya untuk memindahkan Savira kedalam ambulans. Tubuh lemah itu sudah berpindah diatas brankar dengan berbagai macam alat-alat medis yang menghubungkan ke tubuh Savira.


Beberapa petugas medis atau disebut perawat laki-laki mendorong brankar kearah lobby rumah sakit. Delena dan Reno sudah menunggu di depan ambulans. Sebelum brankar dinaikkan ke atas mobil, Delena dan Reno menciumi kening dan pipi anak angkatnya bergantian. Rasa haru dan tangisan tidak bisa Delena pendam walau Reno sudah berkali-kali mengingatkan. Suara isakan Delena terdengar lirih, bagaimana pun juga ia seorang ibu yang sudah mengurus Savira 9 tahun lamanya. Vano membantu petugas media mengangkat brankar kedalam ambulans.


Setelah selesai dimasukkan, pintu ambulans di tutup rapat. Tadinya Vano ingin ikut bersama keluarga Ronny untuk mengantarkan Savira kediamannya, namun Frans melarangnya, ia takut Vano akan bertengkar lagi dengan Kelvin.


"Delena, ibu ucapkan banyak terima kasih nak, ibu tidak akan pernah melupakan kebaikan mu dan suamimu yang telah membesarkan Savira. Pintu rumah ibu selalu terbuka untuk mu, datanglah bila kalian rindu pada Savira."


Delena tersenyum lembut dan memeluk wanita sepuh itu dengan rasa haru "Tolong jaga Savira bu, aku pasti akan datang mengunjunginya."


Ronny dan Bu Marni menjabat tangan Reno, Delena dan Vano sebagai perpisahan nya di rumah sakit. Sementara Kelvin sudah berada di dalam mobil Pajero hitam miliknya tanpa mau berpamitan pada kelurga Reno.


Mobil ambulance dan mobil keluarga Ronny berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit PELITA.


"Sayang, ayo kita pulang.." Reno merangkul pundak sang istri yang di anggukan oleh Delena, lalu masuk kedalam mobil sedan mewah Reno. Sementara Vano masih terdiam di tempatnya berdiri.


Reno membunyikan klakson mobil, membuat Vano terkejut dan menarik paksa lamunannya.


"Hey Van! apa kau masih mau terus berdiri disana!" pekik Reno saat melewati Vano, lalu kembali melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit.


@Untuk episode Nathan dan Vana akan hadir di bab berikutnya ya All.. kita selesaikan dulu kisah Savira. Nanti malam akan update lagi.


BERSAMBUNG_____""