Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Penyerangan


"Seeettttttt!!!


"Aaahhhkkkk!


Suster Lena terkejut dan berteriak saat benda tajam itu mengenai tangannya dan darahnya berceceran. Saat suster Lena tersadar, Vana sudah tidak ada di depannya.


"Kemana wanita itu?! teriak suster Lena.


Tampa mereka sadari Vana sebenarnya bersembunyi di kolong meja. Vana masih mengatur nafasnya yang tersengal.


"Dimana wanita itu! tanya Suster Lena pada Anna.


"Ssstttttt! suster Anna menaruh satu telunjuknya dan menunjuk kearah bawah kolong meja. Suster Lena menyeringai dan memutar meja makan berbetuk persegi panjang itu sambil memegang pisau di tangannya.


"Nona Alea.... keluarlah dari persembunyian, aku tidak akan melukai mu."


"Kau mau keluar sendiri atau aku yang menarik mu keluar dari persembunyian mu! seru wanita yang sudah di bakar emosi, sebab luka yang Vana berikan di keningnya.


"Anna ambilkan hansaplas, lihat jidat ku masih mengeluarkan darah!"


"Apa itu sakit! tunjuk Suster Anna.


"Bodoh! pakai tanya lagi, tentu saja sangat sakit, sampai kepalaku cenat-cenut, kalau gak percaya sini aku jedotin jidat mu yang lebar itu!" omelnya.


"Hehehe... jangan donk! bentar aku ambilkan hansaplas dulu!" suster Anna gegas keluar dari ruangan meja makan. Tak lama ia kembali lagi dengan membawa kotak obat.'


"Ini, kau bersihkanlah dulu luka mu sebelum di tempel hansaplas."


"Bantu aku obatin!


Suster Anna mulai membersihkan luka kening suster Lena dengan air hangat, lalu membalut kan dengan banyak Hansaplas di kening wanita berusia 30 tahun itu.


"Sudah selesai! tukas Suster Anna menempelkan satu Hansaplas terakhir.


"Aaawwww! ini sangat sakit! pekik suster Lena. "Aku akan habisi wanita lumpuh itu! wanita sialan itu sudah buat wajah cantik ku cacad! makinya.


Suster Lena berjongkok dan melihat ke bawah kolong meja "Kena kau! disini rupanya kau bersembunyi! teriak suster Lena, lalu menarik kaki Vana agar keluar dari persembunyiannya. "Anna, cepat bantu aku keluarkan wanita ini dari sini!"


Suster Anna mengikuti perintah temannya dan menarik paksa Vana keluar dari kolong meja makan. Vana berontak saat dua wanita itu menyeretnya keluar.


"Kini saatnya kau mampus! teriak suster Lena. Vana sudah terlentang Karena tak berdaya di pegangin tangannya dengan kedua wanita iblis itu. Suster Lena yang sudah kalap itu menindih tubuh Vana hingga tak bisa bergerak, tangannya mulai mengarahkan pisau nya kearah Vana "Kau telah hadir di kehidupan kami, sampai Nathan meninggalkan ku demi wanita lumpuh ini! mampus kau!!!"


Wanita itu mengarahkan pisau ke jantung Vana, Namun dengan cepat Vana menahannya dengan satu tangan, sedang satu tangannya di tekan suster Anna. Aksi dorong mendorong pisau terus terjadi.


"Daddy....!!!


Teriak Vana dan spontan tangan nya terlepas dari tekanan suster Anna.


"BUGH!


"BUGH!


Vana berhasil menonjok wajah suster Lena, hingga pisau nya terlempar ke lantai, tanpa ia sadari vana bisa menggerakkan kakinya dan spontan menendang perut suster Lena hingga tersungkur ke belakang.


Melihat aksi Vana suster Anna terkejut. sebelum ia beranjak dari duduknya dan ingin menghindar, Vana berhasil menarik tangannya dan menjambak rambutnya kuat lalu Vana hantam kan wajahnya ke lantai keramik, suara jeritan kesakitan tidak membuat Vana berhenti.


"DUGH!


"DUGH!


"AM-PUNNNNN!!!!! teriak suster Anna berulang kali, bukannya berhenti Vana semakin kalap seakan musuh di hadapannya harus di basmi.


"Kau sudah membantu wanita ular itu untuk membunuh ku, salah apa aku padamu, Hah! teriak Vana. Darah segar sudah mengucur deras dari dahi suster Anna.


Aam-pun..." suara suster Anna sudah hampir habis dan memohon pengampunan.


"Asal kalian tahu saja, aku adalah wanita berdarah dingin! mudah bagiku untuk membunuh kalian berdua! tatapan vana menghunus pada suster Lena.


"Lepaskan Anna! kau bisa membuatnya mati!!" pekik suster Lena.


"Ternyata nyali mu hanya segitu! kau pun takut mati! Vana terpekik seraya melepaskan jambakkan Suster Anna dan melemparnya ke lantai. Tubuh suster Anna ambruk di lantai dan tak sadarkan diri.


Kini tatapan Vana beralih pada suster Lena yang masih terduduk, melihat wajah Vana yang menyeringai dan tanda-tanda akan menghancurkan dirinya, buru-buru ia berdiri dan ingin mengambil pisau yang tak jauh dari tempat Vana duduk. Vana masih meregang kan otot-otot kakinya yang mulai terasa ngilu.


"Apakah kaki ku sudah normal, kenapa tadi aku bisa menendang wanita sialan itu! gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba Suster Lena melompat dan berhasil meraih pisau itu, Vana tidak tinggal diam, ia ikut meraih pisau itu juga, kini mereka saling merebutkan pisau tajam itu.


(Segini dulu ya All.. nanti di sambung lagi, akan lebih seru dan menegangkan. sabar ya All masih seputar action. bunda ikutin permintaan para readers yang minta kisah Nathan dan Vana, So...kita awali dulu yang tegang-tegang baru kisah romantis nya)


💜💜💜💜


@BERSAMBUNG......"