
Suara derit pintu terbuka perlahan takut membangunkan pasien yang sedang tertidur, wanita itu menutup kembali dengan rapat penuh hati-hati.
"Sayang, kau sudah datang." senyuman mengembang di bibir tipis bervolume itu, ia menatap sang kekasih berjalan mendekat lalu di genggaman tangan sang kekasih penuh haru saat sudah duduk di tepi ranjang.
"Terima kasih sudah menemaniku sampai saat ini." di ciumnya tangan putih mulus itu bertubi-tubi."
"Aku tidak akan pernah pergi kemana-mana dan akan terus bersamamu disini."
"Terimakasih my honey, aku tidak pernah salah mencintai dan menyayangimu hingga saat ini."
"Kak Nadh sudah banyak berkorban untuk ku, bahkan nyawa pun jadi taruhan nya, aku berhutang nyawa pada kakak."
"Sssttttt! Nathan menaruh satu telunjuk nya ke bibir Vana "Kau tidak boleh bicara begitu, kau adalah batu permata yang harus aku jaga seumur hidupku."
Seketika airmata Vana menetes, ia begitu terharu mendengar perkataan Nathan yang benar-benar tulus mencintai nya.
"Jangan menangis honey." Nathan mengusap lembut airmata Vana yang terus berjatuhan di pipi mulusnya "Air matamu terlalu berharga."
"Hiks.. hiks..." Vana masuk kedalam pelukan Nathan, Pria itu bersandar pada kepala ranjang "Terimakasih atas cintamu yang tulus, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan dan pergi dari hidupmu." tangan kekar itu mengusap lembut rambut Vana. Vana mengangkat wajahnya dan mengangguk, kini mereka saling bersitatap.
"Berjanji lah tidak akan pernah lagi meneteskan airmata, aku hanya ingin melihat senyuman mu yang terbit di bibir merah ranum mu, honey." Nathan menyentuh bibir wanita yang sudah membuatnya candu, di raih nya dagu itu, hingga sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Vana. Aliran darah Zevana berdesir sampai ke ubun-ubun, kini Ia merasakan cinta yang sesungguhnya, cinta tulus dan murni yang benar-benar tumbuh dari hati.
krekkk...
"Ehem..."
Mereka berdua terkejut dan melepas ciuman itu, tentu saja suara deheman seseorang mengganggu mereka, Kedua nya menoleh kearah seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu sambil senyum-senyum sendiri.
"Dasar pengganggu! kenapa nggak ketuk pintu dulu kalau mau masuk!" kesal Nathan melempar bantal kearah Pria yang masih berdiri tanpa merasa bersalah.
"CK! gitu ajah pake ngambek!
"Ada apa?! tanya Nathan dengan suara ketus.
"Besok kau sudah di bolehkah pulang!"
Nathan bernafas lega "Syukurlah akhirnya aku bisa kembali pulang. kalau begitu kau urus sekarang, aku dan Zee akan pulang hari ini juga.'
"Tapi_
"Dokter bilang kau masih sehari lagi di rawat."
"Membatah perintah ku sama saja kau minta di pecat David!" sungut Nathan
"Ish selalu saja ngancam, ya sudah aku kerungan dokter dulu." David mencabik, dan meninggalkan ruangan rawat inap Nathan.
"Kau jangan terlalu keras dengan kak David, kasihan kena omel terus, padahal kak David sudah banyak menolong kak Nadt."
"Aku tidak serius memarahinya, aku juga tidak ingin kehilangan satu-satunya sahabat ku yang sudah banyak berkorban untuk nyawaku. David sudah bagian dalam hidupku, juga diri mu sayang, kalian berdua adalah kekuatan ku untuk bangkit dari keterpurukan."
Vana mengangguk dan tersenyum.
Sejam kepada David datang kembali kerungan inap Nathan, dan mempersiapkan segala nya untuk kepulangan Nathan dan Vana ke villanya kembali.
"Sayang, duduk lah di kursi roda. Suster akan mengantarkan mu sampai lobby."
"Tidak, aku masih kuat untuk jalan sendiri. seharusnya kau saja yang pakai kursi roda."
"Aku sudah kuat dan sehat untuk berjalan sayang."
"Ya sudah kalau gitu kita jalan bersama-sama, karena kita berdua tidak butuh kursi roda yang akan melemahkan diri kita sendiri."
Vana tersenyum "Baiklah kak, Ayo kita pulang." mereka bergandengan tangan dan berjalan kearah lobby di ikuti David dan empat orang bodyguard-nya.
Mobil sedan putih meninggalkan rumah sakit menuju sebuah villa, tempat tinggal keluarga Nathan. perjalanan menuju vila menempuh satu setengah jam perjalanan, hingga mobil masuk kedalam sebuah villa yang berdiri kokoh diatas tanah dataran tinggi, mobil masuk kedalam perkarangan luas dan terparkir sempurna.
Dua orang bodyguard membukakan pintu untuk Nathan dan Vana. Sepasang kekasih itu berjalan kearah pintu yang sudah David buka.
"Kenapa kau bawa anak gadis pembunuh itu, Nathan!" bentak seorang wanita yang sudah berdiri didepannya dengan tiba-tiba sambil melipat tangannya di dada.
"Mama!!!
🥰🥰🥰
@Bersambung