
Reno menendang pintu mobil saat sudah kehilangan jejak sang anak. "Sial! kenapa begitu cepat Zee menghilang!"
Drett, drett, drett...
Getaran ponsel Reno menghentikan amarahnya, pandangannya beralih pada ponsel di saku celananya, lalu ia menggeser tombol hijau kesamping
"Iya sayang..."
"Dimana Vana, Mas? aku sudah menunggunya sejak tadi, namun tak nampak datang ke mansion."
Terdengar helaan nafas kasar yang keluar dari bibir Reno "Nanti akan Mas jelaskan di rumah."
"Maksud Mas gimana? bukankah Vana sudah kembali? dan Vana berada dengan Mas kan? begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan Delena
Reno terus berpikir dan ia sedang mencari alasan agar sang istri tidak curiga.
"Ya sudah, Mas sedang berada di jalan, nanti aku jelaskan di rumah saja."
"Jelaskan apa Mas?!
klik!
Telpon langsung terputus, Reno sengaja cepat mengakhiri panggilan telepon dari sang istri agar tidak banyak pertanyaan dari wanita yang berstatus istrinya. Gegas Rena masuk ke dalam mobil dan menyuruh Jack untuk melajukan mobilnya ke arah mansion.
Sementara Vano masih berkutat di depan laptop. perasaannya sedang kalut saat ini, kadang ia tidak konsentrasi saat mengerjakan pekerjaan yang menumpuk. semenjak Savira dan keluarga nya pergi tanpa ia ketahui keberadaannya, membuat Vano frustasi. Ia sudah berusaha mencari info dan membayar detektif untuk mencari keberadaan Savira dan keluarga nya.
Tok, tok, tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Vano tentang adik angkatnya. "Masuk!
"Ceklek!
"Maaf Pak, ada Pak Steve ingin bertemu."
"Steve? ahh... iya suruh dia masuk.'
Sekertaris Vano mengangguk dan menutup pintu kembali. Tak berapa lama masuk Steve kedalam ruangan Vano.
"Sore Pak!"
"Steve?! masuklah.."
Vano berdiri dan berjalan kearah Steve yang baru saja masuk, mereka saling berjabat tangan dan duduk di sebuah Sofa yang berada di dalam ruangan kerja Vano.
"Ada Steve?
"Saya datang ke mari atas perintah Paman Reno.. ehh maksud saya tuan Reno." ralat Steve sedikit grogi. Steve menyerahkan file ke tangan Vano. Lalu Pria cool itu menghela nafas panjang saat membaca file yang Steve berikan. jujur di benaknya masih ada perasaan sedih karena kehilangan sahabatnya Dave, Namun ia tidak bisa protes dengan keputusan sang Daddy.
"Baiklah Steve, kau boleh menempati ruangan kerja asisten Dave. Sekertaris Susan akan mengantarkan kesana."
"Terimakasih pak, kalau begitu saya akan kerungan asisten dan merubah struktur ruangan tersebut."
Vano mengangguk "Tolong kau jangan membuang atau memindahkan barang milik sahabat ku, biarkan saja tetap di tempat nya. untuk yang lainnya silakan kau rubah agar suasananya lebih nyaman."
"Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik!" ucap Vano sebelum Steve melangkah pergi.
Steve mengangguk dan meninggalkan ruangan Vano.
Vano membuang nafas kasar dan kembali duduk di singgasana nya. "Dave dimana sekarang kau berada?! aku rindu dengan kebersamaan kita selama ini, aku ingin curhat dan berbagi cerita dengan mu." gumam Vano pelan seraya menyandarkan punggungnya ke belakang.
***
"Tuan Dave, saya sudah menemukan nyonya Elsa, ibu anda."
Suara pria di ujung telpon membuat pria yang sedang menerima panggilan telpon berbinar cerah, selama beberapa bulan pencarian sang ibu kandung, akhirnya ia mendapat berita yang menggembirakan dari detektif bayaran."
"Dimana ibu ku sekarang?!
"Di rumah sakit jiwa!"
"Apa! Dave tanpa sadar berteriak lantang "Tunjukkan alamat nya, aku akan datang sekarang juga!"
"Baik Tuan!
Sambungan telpon terputus, tak berapa lama masuk notif pesan dari sang detektif memberikan alamat rumah sakit jiwa. Gegas Dave mengambil kunci mobil dan meninggalkan apartemen yang sudah ia tempati selama ini.
Rasa sakit hati dan dendam yang pernah Dave rasakan seketika menguap begitu saja setelah tahu sang ibu mengalami gangguan jiwa, dan yang lebih parahnya Bagaskara suami dari ibunya pergi meninggalkan sang ibu bersama anak-anak nya keluar negeri. Sampai saat ini Dave tidak pernah tahu apa yang membuat ibunya mengalami gangguan jiwa dan di tinggalkan oleh suami dan anak-anaknya.
Dave membelok kan mobilnya saat ia membaca plang di depan rumah sakit "Harapan kita" setelah mobil terparkir dengan sempurna ia keluar dari mobil.
Di depan lobby Dave sudah di sambut oleh dua orang pria yang bertugas sebagai detektif. "Dimana ruangan ibu ku?"
"Ayo ikut kami tuan!"
Dave mengikuti langkah dua orang pria itu melewati lorong-lorong rumah sakit yang terlihat legang. Hingga di ujung lorong mereka berhenti dan berbicara dengan petugas di depan pintu.
"Maaf, kalian ingin bertemu dengan siapa?
"Kami dari keluarga pasien bernama ibu Elsa."
"Baik, tolong Bapak temui ibu Merry selaku kepala ruangan, karena atas perintah beliau bisa bertemu dengan pasien atau tidak."
"Baik, dimana ruangan ibu Merry."
"Di sebelah sana Pak! lurus saja nanti ada tulisan kepala ruangan."
Mereka mengagguk dan melangkah ketempat yang petugas itu tunjukkan. Saat di depan pintu salah satu dari mereka mengetuk pintu kepala ruangan
"Silakan masuk!
Mereka bertiga masuk setelah mendapat perintah dari izin. Wanita paruh baya mempersilahkan ketiganya untuk duduk.
"Maaf bu, saya pak Hendrik yang dua hari lalu datang kemari untuk menanyakan kondisi wanita yang di ketahui bernama ibu Elsa.
"Ohh wanita kurus itu." Bu Merry mengangguk-anggukkan kepala
"Bagaimana kondisi ibu saya. Boleh saya bertemu dengannya?"
Bu Merry menoleh kearah Dave dan menatap lekat "Jadi kau anak dari wanita itu?! kenapa kau tega tinggalkan ibumu di jalanan, padahal ia sedang stres dan kondisinya sangat memprihatikan." tukasnya menyalahkan Dave.
"Se-benarnya saya__"
"Biar saya saja yang menjelaskan Bu." potong detektif bernama Hendrik.
"Jadi Nak Dev ini sudah sangat lama mencari sang ibu yang menghilang dari rumah nya dan memperkejakan kami untuk mencari Nyonya Elsa." Detektif itu menyampaikan apa yang pernah Dave sampaikan tentang ibunya. Setelah mendapat keterangan tentang Elsa, Bu Merry mengangguk.
"Bisa di ceritakan bagaimana ibu saya bisa sampai sini? tanya Dave prihatin.
Wanita paruh baya itu menarik nafas dalam-dalam "Wanita itu ada yang mengantar nya ke rumah sakit ini, Saat kami berinteraksi dengan nya ia hanya mengatakan mencari anaknya yang hilang."
"Apa ibu tahu siapa yang membawa ibu ku kesini? saya tanpa sengaja pernah bertemu ibuku beberapa bulan yang lalu dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, tetapi saat itu ibu ku masih waras dan terkejut saat saya memanggil namanya, lalu dia kabur dan menghilang."
"Seorang pria pria kaya yang membawanya kemari. kalau tidak salah dia berprofesi sebagai pengacara.'
Dave melebarkan matanya dengan dahi berkerut. "Seorang pengacara?!
"Ibu tahu namanya?!
"Tentu saja, ia seorang pengacara terkenal.
"Siapa bu? tanya Dev penasaran.
"Tuan Bagaskara."
Seketika Dave mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras "Berengsek! ternyata suaminya sendiri yang telah memasukkan ibuku ke rumah sakit jiwa." umpatnya dalam hati.
"Boleh aku melihat kondisi ibuku?"
"Tentu saja! mari ikut saya kerungan nya."
Mereka bertiga melangkah pergi mengikuti langkah Ibu Merry menuju ruangan Elsa.
💜💜💜💜
@Biar cerita di novel ini jelas, kita Juga bahas kisah Deve hingga dia tahu siapa Ayah kandung nya, jangan di skip biar kalian tahu alurnya, karena semua cerita ada benang merahnya. Kalau di tanya kapan bahagianya Vana dan Nathan? berarti novel ini selesai dan tamat donk dan penyelesaiannya terlalu di paksakan. Novel ini baru beberapa episode, tolong sabar ya All... nanti di selesaikan satu-persatu.
@BERSAMBUNG!!!!