Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Balas dendam Dave


"Siapa bu? tanya Dev penasaran.


"Tuan Bagaskara."


Seketika Dave mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras "Berengsek! ternyata suaminya sendiri yang telah memasukkan ibuku ke rumah sakit jiwa." umpatnya dalam hati.


"Boleh aku melihat kondisi ibuku?"


"Tentu saja! mari ikut saya kerungan nya."


Mereka bertiga melangkah pergi mengikuti langkah Ibu Merry menuju ruangan Elsa.


Sebuah pintu dibuka setelah melewati petugas yang berjaga. Rumah sakit jiwa itu memang memiliki fasilitas yang memadai. Seorang wanita berkulit putih dengan rambut panjang tergerai. Wanita paruh baya itu sedang duduk diatas ranjang, tatapan nya kosong memandang luar jendela.


"Ibu Elsa..." sapa Bu Merry lembut, ia mengusap punggungnya, wanita itu menoleh kearah Bu Merry dan menatap dengan pandangan kosong.


"Ada yang ingin bertemu dengan ibu." ucapnya seraya menoleh kearah Dave yang berdiri diambang pintu. Hanya Dave dan ibu kepala ruangan yang masuk kedalam kamar, sementara dua orang detektif menunggu didepan ruangan.


Dave berjalan mendekat, ada rona kesedihan di matanya. Bola matanya mulai memanas saat melihat kondisi tubuh kurus ibunya yang memprihatinkan. Tidak ada lagi binar keceriaan dan wajah cantik sang ibu yang dulu pernah Dave lihat.


Elsa menoleh kearah Dave dengan kening berkerut-kerut. "Siapa dia? tanya Elsa pada Merry.


"Dia..."


"Ibu..." panggil Dave, pria itu meraih jemari sang ibu dan mencium punggung tangannya. Dave tidak bisa menyimpan rasa harunya, airmata mengalir bebas hingga membasahi punggung tangan Elsa. Dave bersimpuh di depan sang ibu "Ini aku Dave, anak ibu."


"Anak ku? Elsa mengeryitkan keningnya, dengan spontan Elsa menarik lengannya yang di pegang Dave "Sana pergi, anakku sudah lama mati! ayahnya pergi dan tak bertanggung jawab!" teriak Elsa tiba-tiba.


"Bu, ini aku Dave anak ibu.."


"Pergiiiii!!! aku benci laki-laki penghianat! Elsa bangkit dan memukuli punggung Dave yang masih duduk bersila di depan Elsa.


"Bu, jangan seperti ini! seru bu Merry, menarik tangan Elsa yang masih memukul Dave. Dave pun tidak melawan sama sekali, ia membiarkan sang ibu meluapkan amarah pada dirinya.


"Ibu.. sabarlah bu, apa yang membuat ibu seperti ini." Dave berusaha menenangkan sang ibu yang sudah kalap.


Elsa yang sudah tak terkendali, membuat bu Merry khawatir. ia keluar dari ruangan dan memanggil petugas yang berjaga di depan ruangan. Dua orang petugas berhasil mengamankan Elsa dan mengikat kedua tangannya dengan tali. Tak berapa lama dua orang suster datang dan memberikan suntikan penenang pada Elsa.


"Lebih baik nak Dave keluar dulu, biarkan bu Elsa rehat dan tenangkan kondisinya."


Dave mengangguk, di ikuti Bu Mery yang keluar dari ruangan Elsa.


"Sejak kapan ibu ku seperti ini kondisi nya?


"Semenjak pria pengacara kondang itu membawa nya kemari, ibu Elsa terus menyerang dirinya dan berteriak penghianat."


Ada binar kekecewaan dari raut wajah Dave "Aku akan mencari tahu tentang Bagaskara, sepertinya ibu ku mengalami trauma yang membuatnya stres sampai ia membenci suaminya." Dave menarik nafas dalam-dalam dan mulai menyusun rangkaian peristiwa di otaknya "Aku akan selidiki Pria yang sudah menjadi suami ibuku dan memiliki dua orang anak dari hasil pernikahan mereka." gumam Dave dalam hati.


"Apa laki-laki pengacara itu sering datang menjenguk?


"Seingat ku baru sekali datang selama ibu Elsa di rawat disini. sudah lima bulan yang lalu."


Dave mengepalkan tangannya, ada rasa tak rela saat mengetahui perbuatan Bagaskara yang mengabaikan kondisi ibunya. "Baik lah Bu Merry, kalau begitu saya permisi dulu, tolong jaga kondisi ibuku, aku akan membayar biaya pengobatan d rumah sakit ini."


"Sudah di bayarkan oleh Tuan Bagas."


Dave hanya mengangguk dan melangkah pergi bersama dua orang dektektif.


"Tolong kalian selidiki Pengacara kondang bernama Bagaskara, kenapa ibuku menjadi stres dan mendapat tekanan mental."


"Baik, akan saya kabari secepatnya.


***


Esoknya...


Suara dering ponsel menjerit-jerit, membuat aktivitas Dave yang sedang fitness berhenti. ia meraih ponsel dari saku celana pendeknya.


"Hello..."


"Tuan Dave, saya sudah mendapatkan informasi tentang pengacara Bagaskara."


"katakan..."


"Tuan Bagaskara sudah pindah di Melbourne Australia, bersama anak-anak nya dan istri barunya."


Dave membelalakkan matanya "Istri baru? atau jangan-jangan.. karena Bagaskara menikah lagi hingga ibuku mengalami kejiwaan."


"Apa yang anda pikirkan benar tuan. Nyonya Elsa mengalami perubahan setelah melihat perselingkuhan suaminya dan bahkan Bagas menikah lagi tanpa sepengetahuan ibu Elsa. Dari info yang saya terima, ibu Elsa sering mendapatkan kekerasan fisik, hingga mentalnya terganggu."


Nafas Dave mulai memburu, bahkan ia meninju dinding di depannya dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?"


"Dimana posisi Bagaskara sekarang?


"Kebetulan dia masih berada di Jakarta untuk mengurus klien nya yang masih memakai jasanya."


"Kirimkan alamat kantor nya."


"Siap Tuan!


"Terima kasih atas infonya, nanti saya hubungi lagi."


Sambungan telepon terputus, Dave menajamkan mata dan menatap foto Bagaskara yang tersimpan di galeri "Bagas! kau harus membayar semua kesakitan ibuku!! pekik Dave dengan tangan mengepal kuat.


Setelah mengetahui keberadaan kantor Bagaskara, gegas Dave keluar dari area fitnes dan melajukan mobilnya dengan cepat. Satu jam kemudian ia sudah berhenti di depan kantor Lawyer yang berada di jantung kota. Dave memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk kedalam perkantoran itu.


"Maaf ada yang bisa saya bantu? tanya seorang repsesionis setelah Dave berdiri di depannya.


"Tolong pertemukan saya dengan Pak Bagaskara."


"Apa anda sudah buat janji?"


"Baiklah tunggu sebentar."


Repsesionis itu menghubungi ke Line yang tersambung ke lawyer Bagaskara.


"Dengan Tuan siapa? tanya wanita itu sambil menutup lubang telpon.


Dave terdiam, tidak mungkin ia berterus terang nama aslinya "Zevano! ucapnya spontan.


Wanita repsesionis itu melanjutkan pembicaraan, tak lama ia mengakhiri nya.


"Silakan Tuan, Anda bisa menemui lawyer Bagaskara di lantai tiga."


"Terimakasih! ucapnya seraya berjalan kearah lift dan menghilang di balik pintu.


Derap langkah sepatu kets terasa ringan saat memasuki ruangan ber-AC dan elit di koridor yang menghubungkan dengan ruangan seorang pengacara kondang dan banyak di pakai jasanya.


Tok, tok, tok..


"Masuk! seru seseorang di dalam ruangan.


Ceklek!


Dave membuka handle pintu dan melihat seorang pria paruh baya memakai kacamata minus sedang berbicara bersama teman sejawatnya. Masih ingat di otak Dave, wajah Pria yang pernah ia panggil Paman dan sering memaki bahkan memukul dirinya bila melakukan kesalahan yang tidak Dave sengaja. Rasa nyeri yang Bagaskara toreh kan beberapa tahun silam, saat ia masih duduk di bangku SMP, kini terasa kembali.


"Silakan Tuan." sebuah senyuman terukir di bibir Pria yang bergetar lawyer itu.


"Ternyata ia tidak mengenal diriku! gumam Dave tersenyum samar.


Bagaskara mulai berjabat tangan dan mempersilahkan Dave untuk duduk. "Selamat datang Tuan Zevano, apa ada yang anda butuhkan?"


"Saya membutuhkan tuan Bagaskara untuk membantu saya menangani kasus ibu saya yang di khianati oleh suaminya." sindir Dave menatap lekat kearah pria yang duduk di depannya. Tidak ada rasa takut sedikitpun dari ucapan Dave, dulu Dave terus teraniaya oleh sikap dan perlakuan Bagas saat tinggal di rumahnya, Namun hari ini Dave akan membalaskan perlakuan Bagas.


"Ohh.. bukan masalah sengketa tanah? tanya Bagas mengeryitkan keningnya.


"Saya tidak jadi urusan tanah. Anda seorang pengacara hebat, apa tidak bisa menangani kasus ibu ku."


"Tentu saja bisa." Bagas terlihat gusar, ia membetulkan kacamata minusnya. "Jadi apa masalah ibu anda, bisa anda ceritakan."


"Bisa! Dave menyilang kan kakinya "ibu saya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari suaminya setelah mengetahui penghianatan dan perselingkuhan suaminya dengan seorang wanita!"


"Deg! seketika jantung Bagas berdebar cepat, ia seperti tersindir dengan pengakuan Dave.


"Apa ada pasal yang menjerat perselingkuhan dan penganiayaan?


Bagas mulai mengambil tissue dan mengusap dahinya yang berkeringat, padahal di dalam ruangan nya ber-AC.


"Ada! Bagas menjelaskan. "Pasal perselingkuhan dan penganiayaan terpisah. Pasal 355 KUHP adalah penganiayaan berat yang direncanakan dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara. Kemudian Pasal 354 dengan sengaja melajukan penganiayaan ancaman maksimal 8 tahun. Selain itu Pasal 353 terkait penganiayaan yang direncanakan mengakibatkan luka berat."


Dave tersenyum puas saat mendengarkan penuturan lawyer kondang itu.


"Lalu bagaimana dengan kondisi ibu anda."


Dave memajukan tubuhnya agar bisa berbicara lebih dekat dengan pria yang sudah menorehkan luka di hatinya.


"Dengar baik-baik, Kondisi ibu saya mengalami trauma yang mendalam, hingga ia di lempar suaminya sendiri kerumah sakit jiwa! pekik Dave dengan tatapan membunuh.


Seketika Bagas terkejut dan menatap lekat wajah tampan Dave yang tentu saja sudah berubah 180 derajat, tubuh atletis dengan penampilan yang coll.


"Siapa kau,?! tanyanya gugup dengan raut muka pias.


"Apa paman Lupa? Dave berdiri seraya melipat tangannya didada "Pria bodoh yang telah kau aniaya dan hina karena keberadaan ku yang anda anggap sampah!


"Dave! pekik Bagas seraya berdiri dan menatap tak percaya pria di depannya.


"Hallo...!! apa kabar Paman! senyuman mengembangkan di bibir Dave "Sepuluh tahun sudah kita tak berjumpa. kau usir aku saat usia ku 15 tahun, setelah mengetahui aku anak kandung dari Elsa! miris.." Dave tergelak.


"Untuk apa kau datang kemari, Hah!


Dave menatap tajam manik hitam Bagas "Tentu saja meminta pertanggungjawaban mu atas kejiwaan ibu kandungku! kau telah tega berhianat bahkan berselingkuh dengan wanita jala*g di belakang ibuku! gertak Dave "Manusia macam apa kau! teriak Dave menunjuk wajah Bagas.


"BRENGSEK! apa urusannya dengan mu. Aku sudah menceraikan ibu yang gila itu!"


"BRAKK! Dave meninju sebuah meja.


"Berani kau menghina ibuku! wanita yang kau sebut gila, sudah mati-matian mengabdi dan membela mu, bahkan ia rela tidak mengaku aku sebagai anak kandungnya karena ibuku sangat mencintaimu, bangs*t!


"BUGH!


"BUGH!


"BUGH!


Dengan penuh amarah dan emosi yang sudah meletup-letup, Dave memukul wajah Bagas bertubi-tubi. Hingga perkelahian tidak dapat di hindari.


BRAKK! pintu di buka kasar


"Berhenti! teriak lawyer lainnya yang mendengar pertengkaran di dalam ruangan Bagas. Mereka memisahkan perkelahian dua orang pria berbeda generasi itu.


Wajah Bagas sudah babak belur, tentu saja staminanya tidak sekuat Dave yang sering fitness dan menguasai ilmu bela diri. Darah segar keluar dari bibir dan hidungnya, kelopak mata Bagas juga membiru. Dave begitu puas bisa membalaskan dendamnya, yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun.


"Kau akan mendapatkan pasal penganiayaan dan membekam di penjara! teriak Bagas.


Dave mengangguk "Akupun akan melakukan hal yang sama, demi ibuku yang telah kau sakiti hati dan fisiknya! aku tidak ingin hancur sendirian! teriak Dave mengancam, membuat Bagas bungkam.


💜💜💜💜


@All.. Bunda buat karya baru, karena mendapat tantangan dari salah satu editor yang kisahnya tentang rumah tangga. Yuk ikuti kisahnya yang buat kalian baperrrrr..