
Saat Vana sedang menangis terisak dan terus memaki dirinya sendiri. Tiba-tiba ada yang menggoyangkannya mobil nya, awalnya pelan lama-lama semakin kuat membuat Vana ingin muntah dan pusing.
"Hentikan siapa kalian! seru Vana menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada siapa-siapa, tetapi mobil itu semakin cepat guncangan nya.
"Kak Nathan....!!!!! teriak Vana yang mulai panik dan emosinya terpancing.
Entahlah kenapa Vana jadi wanita yang lemah pasca mengalami kelumpuhan, tidak setegar dan segarang dulu. Sifat pemberani nya tiba-tiba hilang begitu saja, kini yang ada hanyalah sosok Vana yang tak berdaya.
"Aku harus keluar dari mobil ini, sebelum isi perut ku keluar semua." Vana mulai membuka handle pintu dan mendorongnya kuat, ia sudah tak perduli dengan kakinya yang tidak bisa di gerakan. Saat pintu terbuka lebar Vana terjatuh ke aspal karena tidak ada keseimbangan.
"Aaawww!
Kedua telapak tangan nya menyentuh aspal hitam yang keras, sebagaian sudah ada yang terluka dan sudah berdarah. Perut Vana seperti sedang diaduk-aduk dan ia langsung memuntahkan cairan kental dari mulutnya.
Huek... huek...
Belum selesai rasa mual nya, tiba-tiba ia kejutkan dengan laki-laki asing dengan memakai pakaian Hanoman, wajahnya di penuhi coretan putih dan tubuhnya membungkuk seakan ingin menyerang Vana.
Vana yang masih merasakan sakit di kedua tangannya serta mual yang belum juga reda, memundurkan bokongnya kebelakang Dengan perlahan, Vana sudah tak perduli dengan rasa sakit pada kedua telapak tangannya, yang ia gunakan untuk menopang tubuh yang ia seret ke aspal.
"Mau apa kau?! sana pergi.." teriak Vana masih terus berusaha menghindar.
"Andaikan kakiku tidak mengalami kelumpuhan, sudah pasti aku hajar orang itu hingga babak belur." umpat Vana dalam hati.
"Apa yang kau cari dari ku! aku hanyalah wanita lumpuh! seru Vana masih menggeser bokong nya kebelakang. Laki-laki bertubuh besar itu menyeringai dan menatap tajam kearah Vana. Vana berusaha gerakan kakinya sekuat tenaga, namun nihil tidak bisa di gerakan, tetapi ia merasakan kakinya sakit saat bergesekan dengan aspal, hal yang baru Vana rasakan, biasanya ia tidak merasakan sakit sama sekali saat kakinya terpentuk atau sengaja ia pukul-pukul dengan tangan.
Vana mengambil sebuah batu yang berada di dekatnya lalu melempar kearah laki-laki itu yang bertelanjang dada.
plak!
Batu itu mengenai kepalanya, pria semakin menatap marah dan menyerang Vana. spontan Vana berteriak dan berontak dengan memukul wajahnya kearah Pria asing itu.
"BRAKK!
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menarik laki-laki berkulit hitam itu dan membantingnya ke aspal. Pria itu memukulinya dengan membabi buta hingga Seketika laki-laki itu ambruk ke aspal.
"Alea, kau tidak apa-apa?!
Nathan yang melihat Vana terisak merasa bersalah, ia merengkuh tubuh Vana, namun dengan kasar Vana mendorong nya.
"Jangan sentuh aku! kau hanya membawa aku dalam penderitaan! lebih kau tinggalkan aku disini sendri! pekik Vana dengan tatapan benci, wajahnya memerah menahan amarah dan airmata yang terus menetes.
"Alea.. Maaf, aku__"
"Sudah cukup! potong Vana "Aku benci dengan keadaan ku sekarang, wanita lumpuh dan hanya menyusahkan orang! kenapa kau tega memisahkan aku dengan keluarga ku!!! teriak Vana di tengah heningnya malam, ada beberapa motor yang melintas, namun mereka tidak peduli pertengkaran sepasang kekasih yang di anggapnya sudah lumrah.
Nathan tercekat, ia sudah tidak tahu lagi harus dengan apa merayu Vana agar tidak terus-terusan emosi. tenggorakan terasa kering, hanya perasaan bersalah yang kini ia rasakan. Andaikan saja tadi ia tidak bertemu Ayu Dewi teman sekolahnya yang sama-sama sedang mengantri obat di apotek, dan saling bertukar cerita. sudah pasti Vana tidak akan mengalami kejadian yang menyakitkan.
Beberapa orang berlarian kearah pria yang terkapar di aspal. Nathan berdiri dan berbicara pada orang-orang itu dengan bahasa Bali. Akhirnya mereka membawa Pria itu pergi setelah Nathan memberikan sejumlah uang yang berada dalam dompet nya. Nathan kembali mendekat dan menggendong tubuh Vana, berkali-kali Vana berontak dan memukuli dada bidang pria bermata biru itu. namun Nathan tidak perduli dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Apa ini sakit? tanya Nathan saat melihat kedua telapak tangan Vana yang terluka dan ada bercak darah.
Vana malah membuang wajahnya kesamping tanpa mau perduli dengan pertanyaan Nathan. Helaan nafas panjang lolos keluar dari bibir Nathan. Tak ingin ada perdebatan, Nathan melajukan mobilnya membelah jalanan sepi menuju villa.
Setengah jam kemudian mobil sudah terparkir sempurna di halaman Villa. Nathan membuka pintu samping dan mengangkat tubuh Vana yang sedang tertidur. Ia menatap iba wajah gadis cantik di depannya. "Ma'afkan aku sayang.." Nathan mencium pipi Vana penuh sayang, lalu mengangkat tubuh wanita yang masih membuatnya candu dengan perlahan.
Nathan menekan bel yang berada di samping pintu utama, tak berapa lama muncul suster Lena membuka pintu. Nathan langsung nerobos masuk setelah pintu terbuka. saat sudah didalam ruangan Vana menggeliat dan ia terkejut saat berada dalam gendongan Pria yang pernah ia cintai.
"Turunkan! pekik Vana, mencabik.
Nathan menaruh Vana di atas sofa. "Kau diam saja dulu aku akan mengompres mu."
"Tuan, apa anda dan Nona Alea mau makan sekarang? akan saya persiapkan." tukas Lena, kini pakaiannya tidak seronok kemaren, setelah mendapat teguran dari Nathan.
"Nanti saja dulu Aku ingin mengobati luka Alea."
"Lena, tolong ambilkan air hangat dan obat luka di kotak obat." perintah Nathan.
"Baik Tuan."
"Apa kau ingin cuci muka dulu sebelum di obati." tanya Nathan.
"Tidak usah biar aku obati luka ku sendiri." cetus Vana.
Suster Lena datang membawa air hangat dan kotak obat permintaan Nathan. Nathan menggulung lengan panjang nya hingga sampai siku, terlihat tangan kekar dan berbulu halus. Tanpa Nathan sadari, Lena yang masih berdiri menelan salivanya. Baginya Nathan terlihat sangat seksi dan hot dengan dada bidang berbulu dan perut datar six-pack. Tentunya Lena sudah melihat bentuk tubuh Nathan, tanpa Pria itu menyadarinya karena obat tidur yang di berikan suster Lena. Hingga sampai saat ini keberadaan Lena masih aman, sebab di cctv wanita ular ini tidak terekam sama sekali.
"Nathan, andaikan saja kau tidak pergi meninggalkan ku demi wanita lumpuh ini, sudah pasti kita masih bersama." bisiknya dalam hati
Penuh hati-hati Nathan membersihkan luka Vana dengan air hangat dan membalurkan salep luka pada kedua tangannya, lalu membalutnya dengan perban. Suster Lena masih terus menatap keduanya, tentu saja ia cemburu melihat perhatian Nathan yang begitu besar pada Vana. Kedua tangannya mengepal menahan amarah yang terpendam.
"Lena siapkan makan untuk kami berdua."
Seketika suster Lena merubah wajahnya terlihat manis, yang tadinya penuh amarah kita terlihat biasa saja. Vana yang melihat perubahan Suster Lena, sedikit curiga dengan sikapnya yang berubah-ubah.
"Suster Lena, apa kau dengar?!
"De-ngar Tuan, maaf saya tadi sedang tidak fokus. Saya akan siapkan segera." tukasnya lalu berjalan kearah ruangan makan.
"Aku gendong kerungan meja makan ya?" Nathan benar-benar ingin memberikan Vana kenyamanan dan perhatiannya, sebab dalam kondisi seperti ini ia butuh orang yang berada di sampingnya.
Lagi-lagi Vana gelengkan kepala. Nathan hanya membuang nafas kasar lalu beranjak dari hadapan Vana dan berjalan kearah ruangan makan. Vana meregangkan otot-otot lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, hingga tanpa sadar ia terlelap lagi.
Nathan kembali dengan piring di tangannya dan beberapa lauk juga sayur. Melihat vana tertidur pulas, Nathan membangunkannya dengan pelan, Sebab ia tahu vana belum makan sejak sore, ia tidak ingin kekasihnya sakit.
"Hampir saja piring nya jatuh!
"Kau membuat ku kaget Kak! timpal Vana
"Ys sudah Ayo makan, aku tidak ingin kau bertambah sakit, karena sekarang kau adalah tanggung jawab ku."
Sebenarnya Vana juga sudah sangat lapar, Apalagi tadi ia sempat muntah dan mengeluarkan isi perutnya, namun ada rasa gengsi untuk memintanya.
Nathan menyendok nasi dan lauk nya, lalu menyodorkan ke mulut Vana. "Tidak usah disuapin aku bisa masak sendiri!
"kedua tanganmu terluka dan sedang diperban. sudahlah Dek jangan keras kepala Ayo makanlah."
karena tidak ingin berdebat lagi, akhirnya Vana mengalah dan menerima suapan itu dari tangan Nathan. Sekilas terukir senyuman di bibir Nathan.
'"Sudah, aku sudah kenyang." Vana menolak pemberian Nathan yang tinggal beberapa sendok lagi. Tidak ingin memaksa, Nathan menyudahi nya dan memberikan gelas berisi air putih.
"Siapa pria tadi?! tanya Vana seraya memberikan gelas kosong pada Nathan.
"Pria itu__"
"Kenapa diam? apa kau mengenalnya atau kau memang punya rencana untuk menakutiku dan membuat aku semakin lemah."
"Kau jangan buruk sangka dulu padaku Alea. baru aku akan menjelaskannya."
Vana mencabik seraya melipat tangannya di dada.
"Pria itu tidak waras, ia kabur dari rumah sakit jiwa dan keberadaannya bisa menyakiti orang. Tadi yang datang kerabatnya dan aku meminta maaf karena sudah membuatnya babak belur. Aku juga ceritakan semuanya kalau dia menyakitimu, untungnya mereka mengerti dan tidak menuntut, sebagai rasa prihatin aku memberikan sejumlah uang untuk mengobati pria itu."
Vana menarik nafas lega "Aku hampir saja mati kalau kau tidak buru-buru datang! kau juga Kenapa lama sekali mengambil obat di apotek! keluh Vana kesal.
Nathan terdiam, ia tidak ingin berterus-terang kalau tadi bertemu teman sekolahnya dan asyik mengobrol, hingga melupakan keberadaan Vana.
"Kenapa diam? Vana mendengus kesal "Padahal aku lihat, apotek itu tidak terlalu ramai, aku benar-benar syok, andaikan saja aku tidak lumpuh ini tidak akan terjadi dengan ku!"
"Alea, aku minta Maaf telah membawamu ke situasi seperti ini. Aku tadi tak sengaja bertemu teman ku di apotek dan kami berbincang sambil menunggu obat yang sedang di racik apoteker." ujar Nathan berterus-terang, dan berharap tidak marah lagi.
Vana menarik nafas panjang seraya menghembuskan nya perlahan "Aku ingin istirahat, biar aku kekamar sendiri."
"Aku antarkan!
"Tidak usah, sekarang kamar ku berada di bawah jadi tidak ada yang perlu kau khawatir kan!"
Ya, semenjak kejadian tiga hari yang lalu saat Vana menghilang, dan tiba-tiba sudah berada di pantai, Nathan mulai posesif lalu memindahkan kekasihnya ke kamar tamu yang sama besarnya dengan kamar pribadi Nathan.
Nathan mengambil kursi roda dan menaruh di depan Vana, saat ia ingin memindahkan Vana ke kursi roda, terdengar suara dering ponsel dari saku celananya. Dengan cepat Nathan merogoh ponsel dalam sakunya dan melihat nama di penelpon di layar datar.
"Ayu Dewi?! Nathan mengeryitkan alisnya, baru saja tadi ia bertemu dan ngobrol panjang lebar, lalu berakhir dengan saling menukar nomor telepon. Vana yang duduk di depan Nathan, melihat perubahan wajah Pria itu.
"Hallo yu.."
["Tan, tolong datang kerumah ku. Anakku demamnya semakin tinggi, aku butuh orang untuk membawa anakku kerumah sakit."]
["Apa?! Nathan sempat terkejut, ia sudah tahu kalau anaknya Ayu sedang sakit dan tadi sama-sama menebus obat, tetapi Nathan tidak tahu kenapa tiba-tiba Ayu Dewi menelponnya dan meminta bantuan.]
["Tetapi.." Nathan menoleh kearah Vana yang sedang menatap dirinya. entahlah apakah Vana sedang cemburu mendengar seorang wanita menelpon Nathan, atau Vana memang terkesan cuek dan masa bodo. Tatapannya sulit di artikan.]
["Please Tan, aku butuh kamu sekarang, anakku dalam keadaan tak sadarkan diri."]
["Apa tidak ada orang di rumah mu? Atau tetangga mu bisa kau mintakan tolong."]
["Aku hanya berdua dengan anakku dan satu pembantu. Aku tidak berani bawa mobil saat kondisi ku seperti ini, aku takut kenapa-napa di jalan, tetangga ku samping kanan dan kiri banyakan pendatang dan orang bule. Mereka sangat tertutup."]
"Huft! Nathan membuang nafas kasar
["Bila kau tidak mau bantu, ya sudah!" saat panggilan telpon ingin dimatikan Nathan menahannya.]
["Tunggu! baiklah demi kemanusiaan, aku akan kerumah mu. Kirimkan share look nya sekarang."]
["Okeh Tan, terima kasih banyak."]
Sambungan telpon terputus, Nathan ingin mengangkat tubuh Vana, namun wanita itu menolaknya, ia berusaha memindahkan tubuhnya sendiri ke kursi roda, dan berhasil. Nathan melihat takjub, ternyata Vana sudah ada perkembangan sedikit demi sedikit, entah faktor apa yang membuat Vana ingin cepat sembuh dan bisa berjalan normal lagi.'
Tanpa berpamitan Vana mendorong kursinya sendri kearah kamar. Saat Pintu kamar sudah terbuka, Nathan berseru.
"Alea sebentar! ia berjalan mendekat dan memutar kursi rodanya kerahnya. Nathan berjongkok dan mensejajarkan dengan Vana.
"Aku harus pergi sebentar, teman ku membutuhkan bantuan, anaknya sakit dan tidak sadarkan diri, Kau tidak apa-apa kan aku tinggal? aku akan menyuruh suster Lena menemani mu dan tidak usah pulang malam ini."
Vana menatap dalam netra Nathan, lalu membuang wajahnya "Bukankah wanita itu yang hampir membuat aku celaka, karena sudah berbincang di apotik dengan Nathan dan hampir melupakan diriku!" gumam Vana dalam hati.
"Lakukan saja, dia itu teman mu, aku tidak ada hak melarang mu! setelah berkata begitu, Vana mengiring kursi roda dan masuk kedalam kamar.
Nathan yang melihat perubahan wajah Vana hanya menghela nafas panjang. Merasa sudah minta izin, gegas ia menemui suster Lena dan menitipkan Vana padanya.
Terdengar suara mobil Nathan yang menjauh. Vana hanya menguntip melalui jendela.
(Bsb nya lebih banyak All, lebih dari 2k, biar kalian puas bacanya 😂, jangan lupa dukung karya Bunda donk, dengan cara kirimkan: Vote/gift, like, Rate bintang 5 DAN Komennya)
💜💜💜💜💜💜💜
@BERSAMBUNG______"