
Suara langkah kaki telanjang melewati anak tangga menuju lantai atas. Desiran ombak di sore hari terdengar hingga kedalam ruangan. Ya, sebuah Villa yang berada di tepi pantai, terlihat kokoh menjulang diantara rumah-rumah adat Bali.
"Alea.."
Suara lembut laki-laki itu selalu ia dengar setiap hari, menemani hidupnya yang terbujur kaku diatas kursi roda. Gadis itu sama sekali tidak menoleh atau pun menyahut, ia tetap bergeming di tempatnya duduk. Suara ombak dilautan lepas sudah menjadi temannya sepanjang hari. Dulu, Vana paling suka main ke pantai dan berenang bebas tanpa batas. Gadis cantik berbody semampai itu sangat menyukai lautan, suasananya yang nyaman juga keindahan alam lautan yang begitu mempesona. Bahkan ia bisa berlama-lama di dalam lautan dan turun ke dasar laut hanya untuk melihat keindahan dan kehidupan di bawah permukaan.
"Apa kau rindu berenang? tanya Nathan, membuyarkan lamunan Vana.
Vana menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar "Kenapa kau menanyakan sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan lagi!" ucap Vana menohok.
Nathan melelan salivanya, ternyata ia salah memilih kata dan membuat gadis itu terlihat kecewa, seraya pandangan matanya terus menatap lautan lepas di depannya.
"Ma'af! bila perkataan ku membuatmu terluka." Nathan merasa bersalah, ia tahu wanita yang kini bersama nya bukan lah Alea yang dulu, saat gadis itu berusia 17 tahun, gadis berparas cantik yang sangat manis tutur katanya serta lemah lembut, sungguh ia sangat mengagumi sosok Vana kala itu, gadis smart, tidak cengeng, dan pemberani. Tetapi saat ini, ia melihat perubahan pada diri Vana, mudah emosi dan putus asa, Namun, semua itu tidak mengurangi kadar cinta Nathan pada gadis berbulu mata lebat itu.
"Ayo kita masuk, hari sudah mulai gelap. Angin balkon sangat kencang. Suster Lena sudah menuangkan air hangat kedalam bathtub." Tanpa menunggu jawaban dari Vana, Nathan mendorong kursi roda dan berjalan kearah kamar.
"Stop! Kau tidak usah masuk! aku bisa kedalam kamar sendiri." Vana perintahkan Nathan untuk berhenti di depan pintu tanpa membolehkan ia masuk ke dalam kamar.
"Siapa yang akan mengangkat mu keatas ranjang?
"Apa kau juga ingin melihat aku membuka pakaian?! seru Vana seraya menatap tajam kearah Nathan yang sudah berdiri di depannya. Nathan gelengkan kepala bersamaan membuang nafas kasar.
"Aku hanya ingin membantumu bukan untuk mencari kesempatan. jangan punya pikiran yang tidak-tidak terhadap ku!" Nathan memilih pergi dan meninggalkan Vana yang masih keras kepala dengan sikap arogan nya.
"Ya Tuhan! apakah sikap ku terlalu kasar padanya? entahlah, aku hanya tidak ingin di pandang hina atau di remehkan orang, karena kaki ku lumpuh!" Vana membuang nafas kasar, lalu mendorong pintu di depannya dan masuk kedalam kamar mengunakan kedua tangannya yang bertumpu pada roda.
Tok, tok, tok...
"Nona, apa aku boleh masuk?'
"Masuklah! perintah Vana yang berada di dalam kamar.
Suara pintu dibuka, masuk Seorang wanita cantik memakai pakaian putih-putih dan tersenyum lembut pada Vana.
"Sudah saatnya mandi Nona, saya sudah menyiapkan air hangat."
Vana mengangguk "Terima kasih Suster Lena."
"Tidak usah sungkan Nona, saya di bayar oleh Tuan Nathan untuk mengurus kebutuhan anda."
Vana sudah melepas seluruh pakaiannya, suster Lena mendorong kursi roda dan membawa kedalam kamar mandi.
"Sruufffff!
Dokter Alvin menyeruput kopi panas buatan sahabatnya.
"Bagaimana rasanya?
"Sangat enak dan pas susunya, tidak terlalu manis."
Nathan menghempaskan bokongnya di samping Alvin yang masih menikmati kopi tubruk di tangannya.
"Bagaimana perkembangan Alea ku, apa belum ada hasil? dia sudah tinggal bersama ku hampiri satu minggu."
"Sembuh itu, terganggu dari dalam dirinya sendiri, kalau Alea memiliki semangat untuk sembuh dan mengikuti saran doktet, itu pasti bisa terjadi, sebab, apa yang kita sugesti kan akan benar-benar jadi kenyataan." Alvin membuang nafas kasar "Sepertinya semngat hidup gadis itu mulai hilang."
"Siapa orang yang telah menolong mu?
Nathan tersenyum misterius "Kau tidak perlu tahu siapa dia, yang terpenting ia sangat berarti buat hidup ku."
"Ma'af Tuan, Nona cantik sudah selesai mandi. Apa makan malam nya sekarang?" tanya suster Lena yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Nathan.
"Makan malamnya biar nanti sama saya saja, bila sudah selesai silakan pulang."
"Baik Tuan, terima kasih." wanita berusia 30 tahun itu melangkahkan pergi menuju pintu keluar.
"Ya sudah aku mau menemui Alea dulu."
Alvin mengangguk seraya menghabiskan kopi yang sisa sedikit.
Ceklek!
Nathan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, namun tidak menemukan Vana disana, ia terlihat gusar dan mencari keberadaan Vana di kamar mandi dan balkon, Namun tidak menemukan sosoknya.
"Dimana Alea? pergi kemana dia dia? tidak mungkin, bukankah ia tidak bisa berjalan." Nathan keluar dari kamar dan mencari keberadaan Vana. ia membuka beberapa pintu ruangan yang berada di lantai atas, Namun tidak melihat sosok Vana. Hingga ia berdiri di salah satu pintu yang jarang ia gunakan, tempat perpustakaan yang menyimpan banyak kenangan masa kecilnya. Nathan membuka handle pintu dengan perlahan dan mendorong pintu hingga terbuka lebar, ia terus mengedarkan pandangannya, lalu berjalan masuk kedalam ruangan yang pengap dan lembab, menyalakan saklar lampu di dinding sebelah kiri. Begitu banyak bingkai foto yang menghias ruangan perpustakaan yang berukuran 5x6 meter itu. Banyak tersusun rapi di tempatnya foto-foto masa kecil Nathan bersama sang ibu dan Ayah nya Thomas.
Tersungging senyuman samar di bibir Nathan saat memandang foto dirinya saat di gendong sang ayah yang begitu tampan. Nathan berjalan mendekat dan memandangi foto itu lekat, ada perasaan sedih saat menatap dirinya yang berusia Lima tahun. Nathan harus kehilangan sosok sang Daddy di usianya 10 tahun. Ayahnya yang begitu tegas dalam bersikap sangat menyayangi dirinya dan banyak belajar ilmu merakit berbagai bom, Namun ia tidak tahu kalau ayahnya memiliki isteri lain dan kenyataannya ibu nya adalah hanya isteri siri.
Nathan tertawa untuk menertawakan dirinya sendiri yang bodoh, mencintai wanita yang membunuh ayah kandungnya. Tawanya semakin keras bersama butiran airmata yang mengalir begitu saja. Itu lebih menyakitkan bukan? Ayahnya di tembak mati oleh ibu dari wanita yang ia cintai. Terapi, cinta Nathan mengalahkan segalanya. Bahkan dendamnya sudah terkubur beberapa tahun lalu saat ia melihat sosok Alea yang cantik dan lembut di usianya 12 tahun. Bukankah itu cinta buta namanya?
Prank!!
Tiba-tiba Nathan di kejutkan oleh suara pecahan di ujung lorong yang terhalang bufet rak buku-buku milik ayahnya dulu. Ia berjalan mendekat dan ingin mengetahui pecahan benda apa, yang begitu berbunyi nyaring. Bola mata Nathan membulat saat melihat Vana berada di sudut ruangan dengan kursi rodanya. Di bawah kakinya ada pecahan bingkai yang sudah berserakan pecahan kacanya. Nathan berjalan mendekat dan menatap wajah Vana yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan di ruangan perpustakaan ini? tanya Nathan menatap curiga. Vana bergeming tanpa berani menatap wajah pria tampan bermata biru. "Aku mencari mu sejak tadi untuk makan malam, lalu kenapa tiba-tiba kau berada di sini? apa yang kau cari?!
Kata-kata Nathan begitu menusuk di gendang telinga Vana, seakan ada rahasia yang belum ia ketahui dan rahasia yang tidak ingin di ketahui oleh orang lain. Wajah Vana masih menunduk dan memandangi bingkai foto yang terjatuh di lantai.
Nathan seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Vana, ia berjongkok dan memungut foto berukuran 4x5 yang terbalik. Lalu ia mengangkatnya dan membalikkan foto. Terlihat foto sepesang kekasih sedang berpelukan. Nathan mengeryitkan keningnya dengan bibir terbuka saking terkejutnya. sungguh ia baru melihat foto itu selama bertahun-tahun terkubur di dalam ruangan perpustakaan milik sang Ayah.
Airmata Vana berjatuhan dengan rasa sesak di dadanya. "Ada hubungan apa mommy ku dengan foto Pria itu?! laki-laki di foto itu sangat mirip dengan mu "Apakah dia ayah mu?!
Nathan bergeming, bahkan untuk menelan salivanya saja sangat sulit. ia kembali menatap wajah kedua foto itu yang terlihat sangat mesra.
"Jawab aku! apa dia Ayahmu?!
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap wanita di depannya, lalu mengangguk "Ia, pria dalam foto ini adalah Ayahku!"
Hiks... hiks... Tangisan Vana tidak dapat di bendung lagi, tangisannya semakin kencang terdengar "Kenapa mommy tega berkhianat pada Daddy dan foto itu...." Vana tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Ya Tuhan, benar ini wajah foto Tante Delena, sedang berpelukan erat dengan Ayahku. Kenapa Ayah begitu tega mengkhianati ibu." batin Nathan, hatinya begitu sakit melihat kenyataan pahit yang baru saja ia tahu, kejadian beberapa tahun yang lalu, bahkan saat ia masih kecil "Bukan kah Ayah mati di tembak oleh Tante Delena? apakah ini cinta segitiga? Antara Ayah, Om Reno dan Tante Delena?! lalu Tante Delena memilih Om Reno dan membunuh Ayahku?! begitu banyak pertanyaan yang belum Nathan dan Vana ketahui tentang kebenaran kisah orang tuanya.
"Hah! Nathan membuang nafas kasar untuk melepas rasa sesak nya yang menghimpit dada Kedua tangannya terkepal erat, hatinya mulai terbakar kembali.
💜💜💜
@Terimakasih Sayang... support nya🙏 BUNDA sangat terhura... ehh terharu 🤭. Terus dukung karya Bunda Sayang... Yang dukung dan kasih Like, Vote/ gift, rate bintang 5.. Bunda do'akan semoga panjang umur, di beri kesehatan, banyak rezeki dan lancar usahanya. Aamiin 🤲