
PRANKK!!!!
Seketika kedua saudara kembar yang berprofesi sebagai Detektif kelas internasional, terkejut saat melihat kemarahan Reno.
Johan beranjak dari duduknya dan menepuk pelan bahu Reno "Maaf Tuan, lebih baik kita selesaikan masalah ini baik-baik."
"Kau belum tahu siapa pria itu! Dia juga berani masuk ke kamar kami untuk membunuh istriku! kejadian malam itu tidak akan pernah aku melupakannya dan membuat ku murka! seru Reno dengan air muka merah padam menahan amarah yang sebenarnya sudah meledak-ledak sejak tadi setelah ia tahu anak gadisnya di culik Nathan dengan aksi balas dendam.
CEGLEG!
Handle pintu terbuka lebar, masuk Pria muda berusia 25 tahun dan menatap bingung sang Daddy, matanya melihat pecahan vas bunga di lantai.
"Dad apa yang terjadi?! tanya Vano dengan kedua dahi berkerut.
Reno membuang nafas kasar lalu berjalan kearah kursi presdir seraya menghempas kan bokong nya ke kursi.
"Tuan muda, selamat datang?' sapa Johan dan Jhony membungkuk hormat.
"Mr Johan dan Mr Jhony, senang bertemu dengan kalian kembali." ujar Vano seraya berjabat tangan pada dua Pria berkebangsaan Inggris itu.
"Bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? tanya Vano seraya melirik pada sang Daddy yang terlihat murka.
"Silakan duduk tuan muda, Kami akan menjelaskannya." Vano duduk di samping Mr Johan, tanpa meminta persetujuan dari sang Daddy, Vano terus mendengarkan kronologi yang baru saja membuat sang Macam Asia murka.
"Jadi adikku di culik oleh pria bernama Nathan?! tanya Vano seraya menatap wajah tampan Nathan yang berada di layar laptop.
"Lalu bagaimana cara mengambil adikku, sedangkan Vana dalam kondisi lumpuh dan tidak bisa apa-apa." ucap Vano dengan sorot mata khawatir.
"Kami sudah berbicara dengan Asisten dari Tuan Nathan. David bersedia kembalikan Nona Vana diantar oleh Tuan Nathan sendiri. Tetapi dengan syarat tidak adanya kekerasan dan penganiayaan apalagi sampai terjadi pembunuhan. Begitu isi dari sebuah perjanjian yang di kirim melalui email."
"Penculik, tetaplah penculik! aku tidak akan biarkan Pria berengsek itu lepas begitu saja!" geram Reno dengan rahang mengeras. Kini Vano sudah paham, kenapa sang Daddy sejak tadi terlihat murka.
Vano beranjak dari duduknya dan menghampiri sang Daddy. "Dad! ma'af bukan Vano ingin membantah pemikiran Daddy, ada baiknya kita ikuti kemauan mereka dulu." Seketika Reno menoleh kearah sang anak dengan tatapan tajam.
"Jadi kau ingin mengorbankan adikmu yang sudah diculik oleh Pria sialan itu! asal kau tahu Van, pria sialan itu yang hampir saja membunuh mommy mu!"
Vano menghela nafas panjang, sebab saat kejadian itu ia tidak berada di Jakarta, melainkan sedang sekolah di Jerman. Tetapi Vano tahu semua kejadian malam itu yang membuat Vana syok pada sosok Nathan.
"Jadi mau Daddy gimana? tetap melakukan tindakan kekerasan? justru mereka tidak akan melepaskan Zee, Dad! tolong Dad, buanglah sifat ego Daddy demi Zee, biarkan pria itu membawa Zee kembali pada keluarga kita." Vano memberikan penjelasan dengan sang Daddy, agar Reno mau sedikit berdamai dan tidak mengedepankan ego nya.
"Kau terlalu cerdas untuk ceramahi Daddy! sindir Reno tersenyum masam. "Tentu saja Daddy tidak sebodoh yang kau pikirkan!"
Vano menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskannya perlahan, ia sudah tidak ingin berdebat dengan sang Daddy yang ujungnya malah menjadi kesalahpahaman antara anak dan Ayah.
"Baiklah, kalau begitu terserah Daddy saja. percuma juga kasih pendapat bila akhirnya tidak akan di dengar." sindir Vano, membuat Reno menatap sang putra dengan marah.
"Aku pergi dulu Dad, masih ada urusan di luar!" Vano menatap segan wajah sang Ayah, lalu berpamitan pada dua orang detektif dan melangkah keluar.
Vano memasuki lift khusus CEO dan tamu penting. Saat pintu terbuka lebar, terdengar suara dering ponsel dari saku celananya. Vano melangkahkan kakinya keluar dari lift dan menerima panggilan telpon dari sang Mommy.
"Iya Mom!
"Van, kenapa nomor telepon Bu Marni, Oma nya Savira tidak aktif? perasaan mommy jadi nggak enak sejak tadi."
"Apa benar Mom? atau mungkin sedang di cash jadi lupa aktifkan."ujar Vano berpikir positif.
"Tapi nomor nya tidak aktif dari kemaren loh Van, makanya mommy tanya sama kamu."
"Ya sudah gini ajah mom, Vano akan coba hubungin pak Roni dan berkunjung ke rumahnya untuk melihat keadaan Safira. Sudah hampir seminggu Vano belum menemuinya."
"Iya mom, kalau gitu Vano langsung kesana."
Vano membuka pintu mobil dan duduk di depan kemudi. Sebelum melajukan mobilnya, Vano menghubungi Ronny pamannya Savira. Namun sayang, nomor nya pun sudah tidak aktif atau diluar jangkauan. Vano sangat kesal dan terus memaki "Sialan, kenapa ponselnya tidak aktif? Biasanya om Rony cepat menerima panggilan telpon dariku. Atau jangan-jangan...? Vano sangat takut bila pikirannya selama ini benar, kalau kelurga Kelvin akan menjauhkan Savira dari Keluarganya yang telah membesarkan nya.
Gegas Vano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan perusahaan milik sang Daddy. Perasaannya mulai kacau dan pikirannya mulai tak tenang. Sungguh Vano sangat merindukan sosok Safira yang baru empat hari lalu menengoknya di kediaman Pamannya. Selama bertahun-tahun Savira berada di mansion, sosoknya sangat Delena dan Vano rindukan. kenangan indah bersama gadis cantik dan manja itu tidak akan pernah Vano lupakan. Kini Vano mati-matian menahan perasaannya yang sudah mengunung.
"Bangunlah Dek, kakak selalu ada disini di dekatmu." ucap Vano kala ia menengok Savira dan menggenggam erat jemari tangannya dan mencium lembut keningnya. Savira hanya diam membatu dengan selang oksigen di hidung dan beberapa alat-alat medis di tubuhnya yang di hubungkan ke layar monitor.
Satu jam menempuh perjalanan dan memasuki sebuah kompleks perumahan elit yang berada di tengah kota. Mobil Vano berhenti di depan gerbang bercat hitam, ia langsung keluar dan membanting pintu mobil. Vano menatap rumah mewah berlantai tiga, Namun keadaannya begitu sepi tanpa ada satu mobil pun yang terparkir di halaman.
TEEEETTTTTT!!!
TEEETTTTTTTT!!!
Vano menekan tombol yang berada di depan pagar, berkali-kali menekan tombol tidak ads satupun orang yang keluar, bahkan pos penjagaan tampak sepi. Tiba-tiba dari rumah sebrang milik Pamannya Savira ayah dari Kelvin, seorang satpam berteriak
"Cari siapa Mas?!
Vano menoleh ke belakang dan melihat seorang satpam berdiri di depan pintu pagar milik majikannya.
"Kemana pemilik rumah ini pak? kenapa keadaannya tampak sepi."
"Ohh Pak Ronny? dia sudah pindah mas."
"Apa...? bagai disambar petir di siang bolong Vano terkejut dengan mata membola.
"Sejak kapan?!
"Dua hari yang lalu Mas!
Vano berjalan mendekat kearah sang satpam, ia sangat penasaran dengan cerita sekuriti di sebrang rumah Ronny. "Kau tahu kemana kelurga Rony pindah?! tanya Vano, berharap jawaban yang diberikan oleh security itu tidak membuatnya syok.
Kalau kepindahan Pak Rony sendiri saya tidak tahu ia pergi kemana, karena dia memang orangnya sangat tertutup. Tetapi kata security penjaga rumah Pak Roni, dua hari yang lalu saat berpamitan pada saya, kang Asep cerita, kalau keluarga Pak Ronny pindah ke luar negeri.
"What! mereka pindah keluar negeri?! jantung Vano hampir saja loncat dari tempatnya.
"BRENGSEK kau Ronny! umpat Vano dalam hati dengan tangan terkepal kuat.
"Apa kau yakin?!
"Saya juga kurang tahu, kang Asep sendiri yang bilang ke saya begitu Mas."
"kalau begitu Boleh saya minta nomor kang Asep."
"Boleh! Pria yang di perkirakan berusia 35 tahun itu mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomor kontak kang Asep pada Vano.
Vano mengambil dompet dari saku belakang dan memberikan lima lembaran berwarna merah pada satpam penjaga itu "Ambil lah, Terima kasih banyak atas informasinya.
"Wah, ini banyak sekali Mas."
"Tidak apa-apa. oke kalau begitu saya permisi dulu."
"Baik Mas, Terima kasih banyak ya."
Gegas Vano masuk kedalam mobil dan meninggalkan kediaman Ronny dengan perasaan kesal dan campur aduk.
💜💜💜💜