
"Aku sudah dewasa dan harus bisa memilih jalan hidup ku sendiri, aku tidak ingin terus-menerus di setir oleh Daddy dan kelurga ku." tegas Vana sambil terus merangkul pinggang Nathan.
Nathan hanya menghela nafas datar, pasrah dengan keputusan anak sang Macan Asia dan mengikuti semua keinginan kekasihnya. Sekarang ia tidak tahu, apakah harus senang atau bersedih melihat Vana lebih memilih dirinya ketimbang Ayah dan keluarga nya sendiri.
Mereka berdua berjalan kearah mobil yang terparkir. "Cepatlah kau keluar dari mobil! seru Vana pada pria yang betisnya tertembak. ia membuka kasar pintu mobil dan menariknya keluar.
"Dan kau, berikan kunci mobil itu padaku!
"Ta-pi nona..."
"Cepat berikan atau aku tembak kepala mu!" bentak Vana tak main-main. Pria itu dengan terpaksa memberikan kunci mobilnya pada Vana.
"Ayok kak masuklah! Nathan mengangguk dan masuk kedalam mobil. Vana membuka pintu mobil dan duduk di depan kemudi.
"ZEE BERHENTI!!! teriak Reno "KAU JANGAN NEKAD NAK! INGAT, KAMI SEMUA SANGAT MENYAYANGI MU!!" Reno sudah berada di samping mobil sambil terus mengetuk kaca mobil.
"SEMUA INI SALAH DADDY! KENAPA DADDY SANGAT EGOIS!! ZEE LELAH DENGAN SEMUA INI, BIARKAN ZEE PERGI DAD!!"
Vana sudah tidak menghiraukan panggilan sang Daddy, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"ZEE!!!!!
Reno menoleh ke belakang dan menatap para bodyguard nya satu-persatu
"Cepat kalian kejar anakku, tunggu apalagi?!"
Salah satu bodyguard masuk kedalam mobil dan berhenti di depan Reno. Gegas Reno masuk kedalam mobil dengan membanting pintu dengan keras. Mobil yang di tumpangi Reno melaju dengan kecepatan tinggi, di dalam mobil Reno juga menghubungi orang-orangnya untuk mencari keberadaan Vana dan Nathan melalui jejak yang mereka ikuti.
Sementara di dalam mobil, Vana terus melajukan mobilnya tanpa tujuan.
"Lea.. kenapa kau berbuat nekad dengan melawan pada Daddy mu."
Vana menoleh sejenak lalu mengalihkan pandangannya kedepan "Jadi mau kak Nathan gimana?! apa aku harus membiarkan kakak di bunuh kembali oleh Daddy? andaikan saja aku telat datang sedikit saja, kak Nadth sudah pindah ke alam baka." seru Vana seraya memindahkan prosneling dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Helaan nafas panjang terdengar lirih dari bibir Nathan. Vana benar, seandainya ia telat datang sedikit saja, sudah pasti nyawanya akan melayang.
"Sial! Daddy mengejar kita!" Vana menambah kecepatan lajunya yang kini berada di jalan tol.
"Lea berhati-hati lah! Nathan memperingati, sebab Vana baru saja sembuh dari lumpuh, ia tidak ingin wanita itu mendapatkan musibah lagi.
"Kakak tenang saja, aku sudah biasa membawa mobil dengan kecepatan penuh."
Nathan gelengkan kepala "Kau baru saja sembuh, jangan di paksakan Lea!
"Apa kakak ingin tertangkap Daddy? lalu kak Nath akan di bawa oleh Daddy tanpa aku ketahui! bahkan aku tidak akan bisa menolong kakak lagi bila terjadi sesuatu dengan kak Nadh! aku tahu pasti sifat Daddy yang arogan dan tidak akan mau melepaskan mangsanya!"
Nathan lagi-lagi terdiam dan hanya menghembuskan nafas kasar "Baiklah, sekarang kita akan pergi kemana?"
"Aku juga tidak tahu dan tempat mana yang akan kita tuju? Yang penting kita selamat dari kejaran Daddy."
Nathan mengangguk dan mengikuti saran Vana demi keselamatan nya, percuma juga seandainya ia membawa Vana pulang dan menyerahkan diri pada Reno, belum tentu Reno akan terima dan memaafkannya, yang ada nyawanya akan menjadi taruhan lagi, lebih baik menghindar dan menghilang dulu untuk sementara.
Sebenarnya Vana tidak tega melihat Nathan yang terluka dan terus menerus mengeluarkan darah di bagian tengkuk nya, ia menyerahkan tissue pada Nathan. "Kak! Ambi ini dan bersihkan darahnya yang terus mengalir."
Nathan tersenyum dan mengambil tissue itu untuk di letakkan di belakang tengkuk nya dan mengusap darah nya. "Terima kasih Lea."
"Kita harus secepatnya kerumah sakit, tetapi aku takut Daddy tahu dan akan membawa kak Nathan pergi." Vana masih was-was dan di liputi rasa takut dengan sikap Daddynya yang masih membenci Nathan.
Mobil sudah keluar dari jalan tol, untuk menghindar dari kejaran sang Daddy, Vana merubah jalurnya menuju arah perbukitan yang ternyata mereka sudah berada di luar perbatasan kota. Vana terus menyusuri jalanan liar tanpa arah tujuan.
"Kita berada dimana sekarang? jalur yang kau tempuh sangat asing."
Vana menghentikan mobilnya dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, ia menoleh ke belakang dan tidak melihat apapun disana. "Syukurlah mobil Daddy sudah tidak terlihat lagi, kita sudah terhindar dari kejaran Daddy."
Vana menatap wajah Pria di sampingnya, wajah tampan itu terlihat pucat karena banyak mengeluarkan darah. Vana gelengkan kepala "Apa saat kak Nathan menolong aku berkali-kali, ada rasa penyesalan?
Nathan tersenyum lembut dan di raihlah kepala Vana untuk di cium keningnya, tidak ada penolakan sama sekali dari gadis cantik berkulit putih itu "Tentu saja tidak, aku ikhlas menolong mu."
"Bila kau bertanya hal yang sama, jawaban ku pun sama, tidak pernah menyesali apa yang sudah aku lakukan untuk kak Nath! berarti kita impas bukan?
Nathan terkekeh dan merasa bahagia bisa melihat Vana tersenyum kembali, tidak canggung dan jutek saat tinggal bersamanya di Bali, kini mereka berdua sudah lebih rileks dan nyaman.
Vana kembali melajukan mobilnya dan seakan muter-muter di sekitar tempat itu.
"Kenapa sejak tadi kita tidak keluar dari tempat ini, kita seperti berputar-putar di tempat tadi." Vana bergumam seakan ragu saat mencari jalan keluar.
"Kau benar Lea, aku perhatikan kita hanya berputar-putar di tempat ini tanpa ada celah atau titik jalan keluar. Apa kau masih ingat saat masuk kedalam sini?"
Mereka berdua saling bersitatap dan mengedarkan pandangannya keseluruhan tempat tersebut, banyak pepohonan rindang yang menjulang dan rerumputan yang tidak terawat, suara kicauan burung dan suara orang utan saling bersahutan.
"Sepertinya kita tersesat! ucap Vana pelan
"Sekarang ini kita sedang berada di dalam hutan! Nathan mulai peka dan mengetahui tempat yang sedang mereka lalui.
"Kalau begitu kita harus turun dan mencari perumahan penduduk, kebetulan aku juga sangat haus." Vana membuka pintu mobil dan ingin keluar, dengan cepat Nathan menarik tangannya.
"Tunggu Alea, kau jangan pergi kemana-mana. Kita tidak tahu daerah ini."
"Apa kita akan diam disini saja Kak?"
"Kita harus pergi bersama-sama."
"Kak Nathan sedang terluka, aku akan mencari bantuan untuk mengobati lukamu."
"Aku tidak ingin kau kenapa-napa, sekarang ini kau sudah menjadi tanggung jawab ku."
Akhirnya mereka berdua turun dari mobil. "Sebentar Kak! Vana mengambil gunting dari dalam mobil dan menggunting bagian lengan nya, lalu di belah menjadi dua bagian untuk menutupi luka di kepala Nathan yang masih mengeluarkan darah walau tidak banyak.
"Begini lebih baik bukan? aku takut darah kak Nathan yang berceceran akan mengundang binatang liar yang berada di hutan."
"Terima kasih Lea, kau memang pantas menjadi seorang dokter."
"Simpan dulu terima kasih mu. Ayo secepatnya kita cari rumah penduduk, aku juga sangat lapar."
"Ma'afkan aku telah membuat mu susah."
"Tidak kak, jangan bicara seperti itu. Bukankah kita sedang sama-sama berjuang?"
"Untuk hidup bersama." balas Nathan dan di anggukan oleh Vana.
Nathan menarik Vana kedalam pelukannya dan mencium pucuk kepalanya "Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkan aku dan kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan restu dari mommy dan Daddy mu."
"AKU SANGAT MENCINTAI MU ALEA."
Vana mengurai pelukannya dan menatap netra biru di depannya, ada binar bahagia di mata Nathan dan tidak ada kebohongan sama sekali. "AKU JUGA SANGAT MENCINTAI MU KAK! Vana meneteskan airmata yang sudah terlanjur jatuh "TERIMA KASIH MASIH SETIA MENUNGGU KU."
Nathan mengusap lembut airmata kekasihnya "Jangan bersedih lagi, sudah ada aku di dekatmu. Sekarang saatnya kita hadapi dunia bersama-sama." Nathan menarik nafas lega
"Berjanjilah kita akan terus bersama."
Vana mengangguk dan tersenyum sumringah, Sekali lagi mereka saling berpelukan untuk melepas rasa rindu yang sudah menggunung. kini Vana sadar, kalau ia masih mencintai sosok Nathan, walaupun jarak harus memisahkan mereka berdua, namun takdir mempertemukan mereka kembali dengan caranya.
💜💜💜💜
@Bunda minta tolong dengan para readers, setelah membaca karya Bunda, Tolong bantu LIKE ya sayang... saling membantu dan mendukung karya Bunda, biar Bunda nya semakin semangat untuk update 🙏🥰