Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Kedatangan seseorang


"Zevana!


"Apa yang sudah terjadi dengan mu nak!" Robert menatap iba wajah keponakannya dan mengusap lembut kepalanya "Cepat kalian bawa anakku ke ruangan rawat VVIP!" perintah Robert dan membuat Suster dan lainnya di buat bingung.


"Kenapa kalian diam semua! cepat bawa anakku kerungan VVIP! dia juga pemilik rumah sakit ini!"


"Ba-ik Dok! mereka mengangguk dan melangkah keruangan VVIP di ikuti langkah Robert di belakang nya."


Satu jam telah berlalu, seorang suster mengetuk pintu ruangan Robert.


"Masuk!


KREKK....


"Maaf Dok, pasien bernama Nona Zevana sudah siuman."


Robert mengangkat wajahnya dan menatap suster yang masih berdiri didepan pintu. "Dia keponakan ku, aku akan menemui nya sekarang!"


"Baik Dok, permisi."


Robert mematikan laptop di depannya dan berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan, tempat aktivitasnya sehari-hari. Tak Berapa lama langkahnya berhenti di sebuah ruangan VVIP.


Ceklek!


"Zevana?! Robert berjalan dengan langkah cepat menghampiri Vana yang masih berbaring di atas brankar.


Vana menoleh kearah sumber suara dan terkejut saat melihat Robert sudah berada di ruangan.


"Papi?!


"Sayang, kau sudah bangun Nak."


Vana yang sedang berbaring berusaha untuk bangun dan dibantu oleh Robert, lalu mereka saling berpelukan "Papi.." hiks. hiks..


Robert mengusap punggung nya penuh kasih sayang "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu nak Kenapa kau berada di Bali?"


Vana mengurai pelukannya dan mengalihkan pandangnya ke lantai. Robert duduk di tepi ranjang samping Vana "Ceritakan pada papi apa yang sudah terjadi? Vana masih bergeming tanpa mengeluarkan satu kata pun, wajahnya tertunduk sedih.


"kalau kamu belum siap mengatakannya, Ya sudah tidak apa-apa Nanti saja ceritanya kalau kau sudah baikan." ujar Robert seraya mengusap kepala keponakannya.


"Apa papi sudah memberitahu Daddy tentang keberadaan ku di sini?


Kening Robert mengeryit "kenapa memangnya? apa papi tidak boleh memberitahu Daddy?


Vana menggeleng "Jangan beritahu dulu tentang keberadaan ku di Bali."


"Dengan keberadaan mu disini, apa ada hubungannya dengan Daddy?!


Vana mengangguk dengan wajah tertunduk.


Robert merangkul keponakan yang sudah seperti anak kandungnya sendiri, ia tidak pernah membedakan Chika anaknya dengan anak-anak Reno, sahabat sekaligus adik iparnya. "Bila kau ingin bercerita katakanlah, agar beban mu lebih ringan. Papi janji akan memegang rahasia mu."


Vana mengangkat wajahnya dan mulai bercerita. Sesekali ia menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan perlahan. Ada perasaan getir dari setiap ucapannya. Tanpa terasa cairan bening mengalir dari sudut matanya. Berkali-kali Vana mengusap kristal bening yang terus berjatuhan.


Robert terus menyimak dan mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir Vana. berkali-kali Robert mengusap punggung gadis yang sudah beranjak dewasa itu untuk memberikan ketenangan.


"Sudah.. sudah, jangan menangis lagi. Ada papi disini."


"Apa papi ingin membantuku? jangan dulu memberitahu mommy dan Daddy tentang keberadaanku di sini sekarang? Vana menatap pria yang sudah seperti ayahnya penuh harap.


Robert mengangguk "Baiklah, Papi akan merahasiakan keberadaanmu di sini."


"Juga dari mami Davina." potong Vana.


"Kenapa mami tidak boleh tahu?


"Vana hanya takut mami memberitahu pada mommy tentang keberadaan ku dan Nathan. Vana tidak ingin Nathan mendapatkan masalah lagi, sudah cukup ia menderita karena aku Pih!" hiks.. hiks... Vana sesenggukan sambil menangis di dada Robert.


Dari pintu yang tertutup terdengar suara orang membuka pintu "Ceklek!


"Nona Vana?


Vana mengangkat wajahnya dan menoleh pada pria yang memanggilnya "kak David!


"Ma'af mengganggu Dok." David menganggukkan kepala sebagai hormat.


"Saya hanya ingin memberitahu Nona Vana, kalau Nathan sudah siuman."


"Apa? Kak Nathan sudah siuman? mata Vana berbinar cerah, ia berusaha ingin bangkit. Melihat Vana Ingin turun dari ranjangnya Robert perintahkan seorang suster untuk mengambil kursi roda.


"Kau tidak usah turun dari ranjang, pakai kursi roda saja untuk menemui Nathan."


"Vana masih kuat berjalan pih!


"Tidak nak, kondisi mu masih sangat lemah."


Tak berapa lama Suster datang membawa kursi roda, dengan sigap Robert mengangkat tubuh Vana ke atas kursi roda lalu mendorongnya keluar dari ruangan VIP bersama David yang mengikutinya dari belakang. Mereka berhenti tepat di depan ruangan Nathan yang tak jauh dari ruangan inap Vana.


Ceklek! krekkk..." David membuka pintu sampai lebar dan memberi jalan untuk Robert dan Vana masuk kedalam.


"Kak Nathan! seru Vana yang langsung berseru saat melihat sang kekasihnya sudah siuman, namun masih banyak selang infus di pergelangan tangannya dan selang oksigen di hidungnya. Nathan menoleh dan tersenyum saat melihat wanita yang ia rindukan datang menemuinya.


"Ale-a.." suara Nathan tercekat saat wanitanya mendekat dan Robert mendorong kursi roda Vana hingga ke tepi ranjang.


"Kak Natd! Vana menyentuh tangan Nathan, Nathan membalasnya dengan genggaman erat "Akhirnya kita terbebas dari ular buas itu." ucapnya pelan.


Vana mengangguk tak terasa butiran bening berjatuhan di pipinya, melihat kekasihnya menangis dalam diam, membuat Nathan terharu. Iya berusaha ingin bangkit dari tidurnya, namun Dokter Robert menahannya.


"Jangan dulu bangun bila kau masih sakit."


"Tidak Dok, saya harus sehat demi bisa terus bersama dengan kekasih ku Alea."


David mendekat dan membantu Nathan duduk dengan punggung bersandar pada divan. "Jangan menangis Alea, aku akan merasa bersalah bila kau terus bersedih." ucap Nathan merasa bersalah.


Buru-buru Vana mengusap air matanya, kini mata Vana menoleh kebelakang, dimana Robert masih berdiri disana. "Ohiya Pih, ini Nathan. Dia sudah banyak menolong Vana dalam kesulitan dan papi sudah mendengar cerita tentang Nathan tadi."


Robert mengangguk lalu berjalan mendekat. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Nathan menyambut nya dengan senang. "Saya om nya Zevana dan sudah menganggap keponakan ku seperti anak kandung saya sendiri."


"Saya Nathan Om. kekasih dari Alea." Nathan tersenyum seraya melirik kearah kekasihnya.


"Bagaimana kondisi mu? apa sudah lebih baik? tanya Robert seakan sudah akrab.


"Sudah Om, badan sedikit-sedikit mulai bisa di gerakin walaupun masih ada rasa ngilu."


"Nggak apa-apa, sebentar juga baikan, jangan telat minum obatnya ya."


Nathan mengangguk "Iya Om!"


Robert yang melihat Nathan begitu sopan dan santun menepuk pundaknya "Om sangat bangga padamu, demi untuk menyelematkan Zee kau berani melawan ular ganas itu. Beruntung kalian berdua selamat dan Om sangat berterima kasih mewakili kedua orang tua Zee."


"Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga dan melindungi Alea. Sungguh saya sangat mencintai nya."


Vana beranjak dari kursi roda dan berdiri di samping ranjang Nathan. Melihat keseriusan dan ketulusan dari seorang Nathan, membuat Robert terharu. lalu ia meraih tangan Vana dan tangan Nathan untuk disatukan.


"Papi merestui kalian berdua, semoga kalian selalu terus bersama dan tidak pernah saling meninggalkan."


Nathan terharu, kaca-kaca mulai terlihat di bola mata birunya, sungguh ia sangat bahagia hari itu. Mendengar Robert merestuinya walau bukan Ayah kandung Vana, tetapi ia begitu lega mendapatkan restu dari Robert.


"Terima kasih Om! tutur Natha tersenyum lebar.


"Papi, makasih atas doa dan restu nya." Vana memeluk dan menangis di dada Robert. "Tapi bagaimana dengan mommy dan Daddy? mereka masih belum mau merestui kami berdua." Robert yang mengerti kegelisahan keponakannya, mengusap lembut kepala Vana "Kau tenang saja, Papi nanti yang akan menjelaskannya pada mommy dan Daddy."


"Lalu bagaimana bila Daddy tetap tidak merestui kami berdua?" kalau mommy saja masih bisa melunak hatinya, tetapi Daddy begitu sulit untuk menaklukkan hatinya. Papi tau sendiri bukan? Daddy orang nya sangat tegas dan tidak ingin di bantah keinginannya."


"kau tak usah khawatir, pasti Daddy ada sisi lemahnya. Batu yang keras saja akan cair bila di tetesi air terus-menerus. Dan begitu juga hati Daddy mu akan lunak nantinya bila melihat kebaikan dari Nathan. pesan papi jangan putus berdoa dan terus berusaha menyakinkan Daddy mu."


Vana mengangguk paham "Terima kasih pih!


"JEGLEK!


"Nathan!


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berjalan cepat kearah Nathan, wajahnya terlihat cemas dan khawatir. Nathan mengalihkan pandangannya dan menatap wanita itu


"Mama!!


💜💜💜💜💜


BUNDA cuma mau bilang.. Ma'af ya readers qu 🙏, kalau Bunda belum bisa konsisten 😢 tapi bunda akan berusaha sampai cerita ini TAMAT. Terimakasih banyak untuk kalian yang masih dengan setia menunggu 🥰🥰